
"Mba… ada Pak Mahesa di depan."
Kepala Sika menyembul di pintu penghubung antara dapur dengan meja kasir.
Bianca seketika menoleh lalu mengangguk, "oke. Sebentar lagi Mba ke depan. Ada meja kosong nggak disana? Sekalian tolong buatin kopi kalau kamu nggak sibuk, Ka," pintanya sembari melepas celemek.
"Pak Mahesa udah duduk kok, Mba. Barusan juga pesan kopi sama croissant," tutur Sika.
Gadis itu segera berlalu setelah Bianca mengacungkan jempol sebagai jawabannya.
Selepas kepergian Sika, atensi Bianca beralih ke Meta.
"Met, red velvet pesanan Bu Agustina bisa kamu handle?" tanya Bianca.
Meta yang baru memasukkan brownies ke panggangan, lekas mengangguk.
"Bisa Mba. Kebetulan aku juga baru selesai bikin brownies pesanan Pak Bintang."
Jawaban Sika membuat Bianca tersenyum cerah. Wanita itu gegas merapikan penampilannya dan menemui Mahesa.
"Eh iya. Jangan lupa, toppingnya tipis-tipis aja ya Met," tutur Bianca sebelum meninggalkan dapur.
Meta mengangguk. "Beres Mba."
*****
"Hai Bi…"
Mahesa langsung berdiri menyambut Bianca dan menarik kursi kosong di sampingnya. Dia merentangkan kedua tangannya, hendak memeluk Bianca tetapi gagal karena wanita itu langsung duduk dan tak menyadari kode tangan Mahesa.
Mahesa segera melipat tangannya dan menggaruk tengkuknya – malu. Sementara Sika dan Latan yang kebetulan melihatnya – tak sanggup menahan tawa mereka dari balik meja kasir.
"Gimana keadaan Om Brama?" tanya Bianca setelah mereka duduk bersampingan. Dia sempat mengernyit melihat Mahesa duduk dengan canggung.
Mahesa seketika tersenyum cerah, "Papi udah bisa kasih respon. Walau baru sekedar gerakan tangan…. Tapi menurut dokter, progress Papi udah termasuk signifikan."
"Alhamdulillah. Maafin aku ya, Sa. Belum jenguk kesana lagi," Bianca berucap lirih.
Sudah lima hari Brama dirawat di rumah sakit, tetapi baru 2 kali Bianca sempat menjenguknya.
Mahesa menggeleng cepat seraya mengusap tangan Bianca. "Kenapa kamu minta maaf, Bi? Lagian disana Papi nggak sendirian kok. Banyak yang jagain."
Pandangan Mahesa lalu mengedar memperhatikan interior toko kue milik kekasihnya.
"Ini cuma perasaanku, atau toko kamu jadi berubah ya?"
Bianca ikutan memandang sekelilingnya, lalu menggendikkan bahu. "Perasaan kamu aja kali, ah. Enggak ada yang berubah kok."
Mahesa nampak berpikir lalu menggigit croissant, "oh. Yang berubah rasa kuenya Bi. Croissantnya jadi manis."
Bianca mengerjap kaget, "serius? Padahal dari tadi banyak yang beli croissant, kenapa belum ada yang komplain ya? Bentar, aku ambil satu dulu di display."
Bianca hendak berdiri tetapi ditahan Mahesa.
"Ngapain jauh-jauh kesana," ujar Mahesa sembari memotong sedikit roti berbentuk seperti bulan sabit itu, dan menyuapkannya ke mulut Bianca.
Bianca mengunyahnya sejenak lalu memukul lengan Mahesa, "mana ada manis-manisnya? Ini gurih, Sa!" sergahnya.
Mahesa mengernyit, "masa sih? Coba aku yang makan," Mahesa mengambil seiris kecil lalu kembali mengernyit. "Ah, ini masih manis."
Bianca menggeleng cepat. "Itu gurih Mahesa! Lidah kamu bermasalah ya?" tanya Bianca bingung. "Apa kamu lagi nggak enak badan?"
Mahesa menggendikkan bahu. "Mungkin. Dari tadi semua yang aku makan berasa manis semua. Kopi ini juga rasanya manis," ujarnya sambil mengangkat sedikit cangkir kopinya.
Bianca menatap cemas kekasihnya, "Mau periksa ke dokter? Mungkin kamu sakit, Sa."
Mahesa berpikir sesaat lalu menggeleng lesu. "Nggak perlu. Percuma, Bi. Kayaknya dokter nggak akan bisa sembuhin, soalnya — "
Mahesa sengaja tak meneruskan kalimatnya. Dia memandang lekat Bianca yang tengah menatapnya dengan pandangan khawatir. Sejurus kemudian pria itu tersenyum jahil.
"Soalnya setiap ada kamu, hidup aku jadi berasa manis terus.. Hehehe..." cengir Mahesa.
Bianca tercenung. Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna gombalan Mahesa.
"Mahesa!!! Kamu tuh…ih!!" sungut Bianca seraya menghujani pinggang Mahesa dengan cubitan kecil bertubi-tubi.
"Aduh...ampun Bi. Hahahaha…" Tubuh Mahesa menggeliat kesana kemari menghindari cubitan Bianca.
"Ngeselin. Aku kagetnya double loh. Masalah croissant sama lidah kamu. Aku pikir tuh kamu sakit!!" Bianca menekuk bibirnya – kesal, lantaran dikerjain Mahesa.
Mahesa nyengir seraya menggusap pinggangnya yang kebas, "maaf deh Sayang. Jangan ngambek ya. Aku cuma bercanda," rayu Mahesa.
"Jangan gitu lagi. Aku khawatir beneran kalau kamu sakit," peringat Bianca.
"Siap,bos!" sahut Mahesa cepat.
Bianca hanya berdecak.
"Ngomong-ngomong, kamu jadi bawa mereka berdua ketemu, sore ini?" tanya Mahesa.
Bianca mengangguk.
Sebelumnya Bianca sudah berkonsultasi dengan Mahesa perihal keinginannya untuk mempertemukan Ganeeta dengan Farrel.
Beruntung, Mahesa tak melarangnya. Hanya saja pria itu mengingatkan Bianca untuk selalu berhati-hati dan tak terlalu dalam mencampuri urusan Farrel.
"Sudah ada tempatnya?" tanya Mahesa lagi.
"Disini aja. Pas jam tutup toko." Bianca mengedarkan pandangannya, memindai toko kue miliknya yang perlahan-lahan menjelma menjadi cafe kecil.
Kening Mahesa berkerut. "Kok disini Bi? Aku nggak setuju," Mahesa menggeleng keras.
"Ocean Corner Cake's nggak boleh digunakan untuk membahas masa lalu kalian! Aku takut ada tamu nggak diundang, yang tiba-tiba muncul!" tegas Mahesa.
Bianca yang paham maksud perkataan Mahesa segera menenangkannya.
"Tenang aja. Kak Neta juga nggak akan bawa dia kok. Lagian aku belum bilang soal Farrel ke Kak Neta. Mungkin dia mikir, aku ada perlu beneran sama dia."
Mahesa kembali menggeleng. Matanya menatap ponsel sementara tangannya sibuk mengetik.
"Pokoknya enggak. Mungkin aja dia tahu rencana kalian terus diam-diam mengikuti Neta. Maaf Sayang, aku nggak mau ambil resiko kehilangan kamu." Sejurus kemudian, dia tersenyum cerah.
"Aku udah pesan tempat di LaPizz atas namamu. Kalian bertiga tinggal datang kesana. Terus aku juga siapin supir buat antar kamu. Nanti pulangnya aku jemput," papar Mahesa panjang lebar. Dia segera menempelkan telunjuknya di bibir Bianca ketika wanita itu bersiap ingin protes.
"Jangan membantah, Bi. Tolong ikuti kata-kataku. Jangan buat aku khawatir."
Bianca pun mengangguk pasrah.
"Ngomong-ngomong kamu sama Neta gimana? Apa kalian udah baik – Eh …. maksudku.. emm…" Mahesa menggaruk pelipisnya. Dia tampak sungkan melanjutkan pertanyaannya.
"Mau mu gimana?"
Mahesa menarik napas panjang, "mauku ya… kalian berteman lagi seperti dulu. Aku baru ingat, dulu Neta pernah cerita punya teman perempuan yang dia anggap seperti adiknya. Dia antusias banget pengen kenalin perempuan itu ke Mama dan Papi. Perempuan yang dia maksud itu kamu, kan?" tanyanya.
Raut muka Bianca seketika berubah datar. Dia terdiam dan kelihatan enggan untuk menjawab.
Mahesa yang menyadarinya, lekas menyahut cepat.
"Lupakan pertanyaanku tadi," tukasnya sambil meneguk kopi.
Bianca mendesah gusar. Meski Bianca sudah memaafkan Ganeeta, nyatanya tetap sulit baginya untuk bisa kembali bersikap seperti dulu.
"Maaf…." cicit Bianca pelan.
Mahesa menggeleng, "lupakan Bi. Aku yang salah. Harusnya aku lebih peka," sahut Mahesa sambil menyelipkan anak rambut Bianca ke belakang telinga.
Bianca mengulum senyum tipis.
"Kamu beneran nggak mau nemenin Kak Neta?" tanya Bianca setelah Mahesa menghabiskan croissant dan kopinya.
"Enggak. Itu masalah Neta. Dia juga udah dewasa. Sebagai Kakak, aku cukup mengawasinya dari jauh. Walau sebenarnya aku marah sama kelakuan Neta. Tapi mau bagaimana lagi? Semua udah terjadi. Justru aku sedikit bersyukur, dengan Neta menjadikan Dewa sebagai suaminya, Dewa melepaskanmu. Hanya aja, aku cuma takut, jika seandainya Neta dan Farrel bersatu. Dan Dewa ngajak kamu balikan? Apa kamu mau menerimanya?"
Pertanyaan Mahesa membuat Bianca langsung menggeleng tegas.
"Kisahku bersama Dewa sudah selesai. Nggak ada lagi perasaan yang tertinggal untuknya. Seharusnya kamu lebih paham tentang itu dari siapa pun," jawab Bianca.
Mahesa menarik napas lega seraya mengucap syukur. Jujur saja, sejak semalam dia didera rasa gelisah. Ketakutan memikirkan Bianca akan berpaling dan kembali bersama Dewa menghantuinya seharian ini.
Melihat gelagat Dewa yang masih berusaha mengejar Bianca, bukan tak mungkin jika Bianca luluh dan memilihnya lagi.
"Maafin aku Bi. Bukannya aku nggak percaya sama kamu tapi ngeliat gigihnya Dewa mengejar kamu, ditambah fakta kalau sebenarnya Dewa nggak pernah selingkuh, aku takut kamu berpaling dan ninggalin aku," ujar Mahesa dengan suara lirih.
"Maafkan aku Bi, kalau aku terlalu mencintaimu..."
Ungkapan dari Mahesa membuat Bianca terpaku. Wanita mana yang tak terharu mendengarnya, apalagi ditatap dengan pandangan penuh cinta seperti yang dilakukan Mahesa.
Ah.. Andai mereka tak berada di toko kuenya, sudah pasti Bianca akan menghambur memeluk Mahesa. Dan menyakinkan pria itu bahwa Bianca tak akan pernah meninggalkannya.
"Aku udah memilihmu, Mahesa. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu kecuali kamu sendiri yang membuatku pergi. Jadi tolong diingat, sekali kamu membagi cinta.... Selamanya kamu akan kehilanganku."