Second Chance

Second Chance
Enam Belas : Terungkap



Maya menghentikan mobilnya di depan rumahku. Dia mengantarku pulang dari rumah sakit.



“Menurutmu apa yang harus kukatakan kepada Mama kalau bertemu dengannya?” tanyaku pada Maya. Aku baru saja menceritakan kembali perkataan Tante Ratna barusan, bahwa Mama menyayangiku.



 “Aku tidak peduli tentang isi percakapan kalian, Ra.” Maya menepuk punggung tanganku, menyemangati. “Aku hanya mau bilang bahwa happy endingseperti ini selalu menyenangkan. Manis, kan? Mengetahui kalian sebenarnya saling mencintai. Bahwa kebencian itu sebenarnya hanya kesalahpahaman. Ini lebih mengharukan daripada peristiwa bangunnya putri salju atau pertemuan kembali boneka si hidung panjang dan Tuan Gepetto.” 



Itu  perumpamaan yang berlebihan. “Aku berdebar\-debar.” Aku meletakkan tangan di dada kiri. Merasakan jantungku yang memompa darah lebih cepat daripada biasa.



Maya mengerling kocak. “Seperti sedang jatuh cinta?”



“Lebay!” sungutku. Aku tidak benar\-benar kesal kepadanya. Aku sedang bahagia sekarang. Aku memang belum bicara dengan Mama, tetapi mengetahui Mama menyayangiku, rasanya aku seperti tidak menapak tanah.



“Lebay itu manusiawi, Ra. Semua orang suka majas hiperbola.”



“Tapi tidak ada yang lebih menyukainya daripada kamu.”



“Ini bukan waktu untuk berdebat tentang majas.” Maya menarik tanganku. “Selesaikan urusan dengan mamamu supaya semua orang bisa tidur nyenyak malam ini.”



Maya meninggalkanku di depan pagar dan langsung memutar mobilnya menjauh. Aku mengikutinya dengan tatapan sebelum mengayunkan langkah menuju rumah yang tampak benderang. 



Aku merasa debaran jantungku semakin kencang. Adrenalinku jelas meningkat drastis. Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku sekarang. Berbagai emosi bercampur aduk dalam hati. Haru, senang, sedih, berkumpul jadi satu. Setelah saling menjaga jarak sekian lama, aku dan Mama akan menghancurkan semua tembok yang membatasi kami. 



Mama yang sedang duduk di sofa ruang tamu segera berdiri saat melihatku masuk. Langkahku terhenti. Pandangan kami bertaut dan terkunci di sana. Ini saat di mana kata\-kata kehilangan makna karena kami dapat mengerti satu sama lain dengan baik hanya dengan saling menatap. Kami mematung cukup lama sebelum Mama menyongsongku lebih dulu.



“Rara, kita harus bicara, Nak.” Tangan Mama terulur meraih tanganku dan menggenggamnya erat. “Ada banyak hal yang harus kita bicarakan.” Dia mengarahkan langkahku menuju ke sofa. Kami lalu duduk bersisian masih dengan tangan bertaut.



Kurasa Mama sama bingungnya denganku, karena keran kata\-katanya seolah tersumbat setelah dua kalimat pembukanya terlontar. Ini persis seperti salah satu simulasi yang tadi kumainkan dalam benak. Canggung.



“Aku tadi bicara dengan Tante Ratna,” aku mencoba memancing. Dari bahasa tubuh Mama, aku dapat menduga pembicaraan ini tidak nyaman juga untuknya.



“Iya,” Mama terdengar gugup. “Sejujurnya, Mama sudah memikirkan percakapan ini sejak bertahun\-tahun lalu, saat Mama merasa kamu sudah cukup dewasa untuk menerimanya. Setelah beratus\-ratus kali membayangkannya, Mama pikir akan lebih mudah melakukannya saat kita akhirnya berhadapan seperti ini.” Mama tersenyum kikuk sambil mengusap air mata yang mulai membasahi pipinya. “Namun, ini ternyata jauh lebih sulit.”



Entah mengapa aku merasa apa yang akan kami bicarakan jauh lebih besar daripada sekadar perbedaan sikap Mama kepadaku dibandingkan dengan adik\-adikku. Ada sesuatu yang gelap di belakangnya.



“Apa yang akan  Mama ceritakan tidak akan menjadi pembenaran karena telah memperlakukanmu  berbeda dengan adik\-adikmu.” Mama seperti bisa membaca pikiranku. “Mama salah karena bersikap seperti itu. Apa pun yang terjadi sebelumnya, kamu tidak pantas mendapatkan sikap buruk Mama. Mama minta maaf. Kamu pasti sangat membenci Mama.”



Tangis Mama dengan cepat menulariku. “Aku tidak pernah membenci Mama,” ujarku lirih. “Kupikir Mama yang membenciku.”



“Ada saatnya Mama pernah merasa tidak menginginkanmu.” Mama mengusap pipiku. “Maafkan Mama.”



Aku merasa mulai dapat meraba arah percakapan kami. Dulu aku pernah memikirkan kemungkinan ini setelah melihat akta nikah orangtuaku. Aku lahir hanya lima bulan setelah pernikahan mereka. Mama dan Papa terpaksa menikah karena Mama telanjur hamil. Aku adalah kesalahan masa muda mereka.



“Waktu itu Mama masih terlalu muda.” Mama menggeleng. “Sebenarnya bukan soal usia. Tidak ada orang yang pantas diperlakukan seperti itu berapa pun usia mereka.” Mama kembali terdiam. Seperti mencoba mengumpulkan keberanian yang kembali bercerai\-berai. “Mama diperkosa, Ra.”



Ucapan lirih Mama terdengar seperti dentuman bom di telingaku. Perkiraanku meleset. Aku bukan kesalahan Mama. Aku kesalahan Papa. Pantas saja Papa memperlakukanku seperti seorang putri untuk menggantikan kasih sayang yang sulit diberikan Mama yang dihantui trauma. Aku beberapa kali pernah melakukan visum kepada korban perkosaan. Trauma menyebabkan mereka menutup diri dan sulit diajak berkomunikasi. 



“Mama tahu dia tidak merencanakan perkosaan itu,” Mama melanjutkan sebelum aku pulih dari keterkejutan. “Mama hanya sial karena berada di tempat dan waktu yang salah. Dia melakukannya karena mabuk. Kejadian itu mengerikan, Ra.” Genggaman tangan Mama makin kuat. 



“Mama hamil… aku?” Aku sudah tahu, tetapi merasa harus tetap menanyakannya.




Aku mengerti sekarang. Hamil di luar nikah saja sudah menakutkan, apalagi hamil karena perkosaan. Wajar kalau Mama trauma. Dan aku adalah bukti hidup yang mengingatkan Mama pada traumanya. Aku kini paham mengapa Mama melihatku berbeda dibandingkan adik\-adikku.



“Aku tidak menyangka kalau Papa dulu suka mabuk.” Papa yang kukenal tidak pernah berurusan dengan alkohol. Tidak sekalipun. Mungkin dia tobat setelah peristiwa itu.



“Orang yang memerkosa Mama bukan papamu.”



Dentuman bom itu terdengar lebih keras daripada sebelumnya. Bagaimana mungkin Mama mengaku hamil aku, tetapi aku bukan anak Papa? Itu tidak masuk akal. Aku lebih mudah percaya kalau Mama mengatakan aku bukan anak kandungnya meskipun kami sangat mirip, ketimbang menyebut Papa yang menyayangiku sepenuh hati ternyata tidak menyumbang kromosom yang menyusun tubuhku. Mustahil.



“Aku… aku bukan anak Papa?” aku merasa hatiku berderak mendengar kalimat yang keluar dari mulutku sendiri.



“Mama tahu ini akan mengejutkanmu.”



Aku tidak terkejut, aku syok.



“Jadi siapa orang itu?” Aku enggan menyebut kata ayah kandung. Rasanya seperti mengkhianati Papa.



“Dia adik papamu.” Mama kembali mengusap pipi. Tangisnya kembali pecah. “Waktu itu keadaan sangat kacau. Kakek mengamuk dan berencana menuntut orang itu. Mama harus mengemis meminta Kakek tidak melakukannya karena malu, Ra. Kesepakatan kemudian dibuat, Mama dipaksa menikah dengan orang itu. Setidaknya sampai kamu lahir, untuk menghindari pergunjingaan orang. Apalagi keluarga kita dan keluarga papamu cukup terpandang di Makassar.”



Pasti ada yang salah dengan cerita Mama. Papa tidak punya adik. Tidak pernah ada yang menyinggung soal adik papa dalam percakapan keluarga yang kuikuti di rumah Nenek.



“Tetapi….”



“Persiapan pernikahan sudah dilakukan saat orang itu, laki\-laki yang seharusnya menikah dengan Mama meninggal karena kecelakaan,” Mama memotong kalimatku. “Dan papamu lah yang terpaksa harus menggantikannya.”



“Papa sangat mencintaiku,” aku mengatakan itu untuk diriku sendiri. Aku masih sulit percaya dia bukan ayah kandungku. Orang yang meninggalkan apa pun yang sedang dikerjakannya saat aku memanggilnya tidak punya hubungan darah secara langsung denganku. Orang yang memilihkan bintang untuk kuberi nama ternyata menikahi Mama setelah aku hadir dalam rahim Mama. Rasanya mustahil.



“Papa memang sangat mencintaimu, Ra,” tegas Mama. “Dia tidak pernah bosan mengulangnya. Bahkan saat akan berpulang, dia membuat Mama berjanji untuk menyayangi kamu seperti yang dia mengasihimu, karena kamu berhak mendapat cinta Mama.”



Tangisku benar\-benar pecah. Aku tidak terisak, aku meraung dan meneriakkan nama Papa. Setelah mendengar semua ini, ketulusan cinta Papa semakin terasa. Aku tahu pasti berat baginya menikah tanpa cinta dengan perempuan yang dihamili adiknya, tetapi dia tetap melakukannya. Dan dia menganggapku seperti anak kandungnya sendiri. Tidak, Papa lebih menyayangi aku dibandingkan anak kandungnya sendiri, adik\-adikku.



Aku membutuhkan waktu beberapa saat untuk tenang. Menerima semua kenyataan ini tidak mudah, tetapi harus, karena aku tidak punya pilihan.



“Maafkan Mama, Ra,” bisik Mama sambil memelukku setelah dia juga lebih tenang. “Mama benar\-benar minta maaf karena membuatmu merasa tidak diinginkan.”



Kurasa aku yang seharusnya meminta maaf. Sudah berpikiran buruk tanpa tahu apa yang sudah Mama lalui. Namun, aku tidak bisa mengatakan apa\-apa. Kami terus berpelukan sambil bertangisan. Seolah ingin menebus semua kesalahpahaman yang telah membelah kami selama puluhan tahun. Menebus semua rindu. Menumpahkannya hingga tidak bersisa. Mama akhirnya melepas dan menarikku duduk di sofa. Tanganku yang terus digenggamnya diletakkan di atas pangkuannya.



“Mama tidak tahu bagaimana cara mendapatkanmu kembali saat menyadari kamu semakin jauh dari Mama, dan hanya menjadikan papamu sebagai sandaran,” lanjut Mama. “Itu menyakiti hati Mama karena merasa kamu tidak butuh Mama untuk menjalani hidupmu dengan baik.”



Aku mengusap mata. Aku bukan orang yang gampang mengungkapkan perasaan, tetapi aku harus mengakui apa yang rasakan kepada Mama. Kami butuh ini untuk mulai saling mengenal dan memahami. “Itu tidak benar, Ma. Aku selalu berharap Mama menyayangiku. Andai aku tahu perasaan Mama….”



“Mama hanya menyesali peristiwa itu di awal, Ra. Meskipun sempat menyebabkan trauma dan harus menjalani terapi, tetapi peristiwa itu membawa Mama kepada papamu. Dia orang paling tulus yang pernah Mama temui. Tidak sulit mencintainya. Dia membuat Mama merasa berharga dan dicintai.”



Aku tahu Papa sangat mencintai Mama. Aku dulu masih kecil, tetapi bisa melihatnya dengan jelas. Sama sekali tak pernah terpikir jika mereka sebenarnya memulai hubungan dari cara yang sama sekali tidak biasa, apalagi romantis.



“Aku sayang Mama,” hanya itu yang ingin kuucapkan.



“Mama juga sangat menyayangimu, Ra.” Itu kalimat yang paling ingin kudengar seumur hidup. Dan aku mendengarnya sekarang. Tidak ada yang lebih penting daripada itu. Untaian kalimat itu lebih merdu daripada lagu pengantar tidur mana pun yang pernah kudengar.