
Di meja makan Alesia , Ryoshi dan Jullian sedang menikmati makan malam mereka. Namun Alesia merasa tidak nyaman dengan atmosfir diantara Ryoshi dan Jullian . Tapi ia juga bingung harus melakukan apa untuk membuat suasana tidak terlalu berat.
" ian apa kau sudah memutuskan untuk tinggal lama atau berencana untuk pergi lagi ? " tanya Alesia membuka pembicaraan diantara mereka.
" aku sekarang akan tinggal disini dan bekerja" jawabnya.
" bagus lah , aku kan khawatir dan kau juga tidak pernah menghubungi siapa pun kan "
" tenang saja kali ini aku tidak akan pergi " tangan Jullian mengusap kepala Alesia. Alesia melirik Ryoshi karena takut ia marah sebab ia tahu bahwa sifat pencemburu Ryoshi sangat tidak masuk akal, ia takut Ryoshi cemburu pada Jullian yang merupakan kakaknya. Namun ia merasa lega bahwa melihat Ryoshi tidak menunjukan perubahaan pada ekspresinya dan menatap Alesia kembali dengan wajah datar seperti biasanya. Alesia tersenyum membalas tatapan Ryoshi .
" kudengar Laura sekarang berada di rumah sakit "
" oh ya? kenapa ? apa Anna yang memberitahumu " Alesia sedikit terkejut.
" iya , sekarang ia juga masih di sana .Anna tidak menjelaskan secara rinci apa yang terjadi dia juga melarang kita untuk menjenguknya ". jelas Jullian.
" begitukah ? " Alesia berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi.
' apa dulu Laura juga masuk rumah sakit ? sepertinya tidak' Alesia berusaha mengingat-ngingat kembali.
" jangan khawatir bukan masalah serius " ujar Ryoshi menghibur Alesia. Ia pikir Alesia khawatir tentang keadaan sahabatnya Laura.
" ah iya, tapi bagaimana kamu yakin itu bukan hal yang serius " tanya Alesia heran.
" sekertaris kin memberitahu jika Laura tidak bisa masuk kerja karena kecelakaan kecil di rumahnya"
" kecelakaan ?"
" tepatnya ia jatuh dikamar mandi " tegas Ryoshi. Sebenarnya ia sengaja berbohong tentang apa yang terjadi pada Laura.
" hmm" Alesia hanya menggumam dan kembali terdiam .
" tidak usah terlalu khawatir sia " sambung Jullian.
Alesia hanya tersenyum sebab tidak tahu harus berkata apa. Ia bukannya mengkhawatirkan Laura tapi ia merasa banyak hal yang terjadi tidak sama seperti dulu. Apakah perubahannya kini memberikan dampak yang berbeda. Tapi itu mungkin saja terjadi mengingat jika banyak hal yang ia ubah pasti akan memberikan hasil yang berbeda pula.
" habiskan makananmu " perintah Ryoshi di jawab anggukan oleh Alesia.
" ini " Jullian meletakan lauk kesukaan Alesia di piringnya.
" terima ka..., ehh " Ryoshi mengambil kembali dan menaruh di piringnya, Alesia hanya menatap heran.
" ini aku ambilkan lagi " Namun sebelum julian sempat Ryoshi dengan cepat melakukannya .
" ini " Ryoshi tersenyum pada Alesia merasa puas .
' apa lagi ini , sungguh kekanakan ' batin Alesia.
______
Setelah satu minggu penuh Laura di rawat hari ini ia sudah di ijinkan untuk pulang. Selama itu Vino selalu mendampingi Laura tak lupa Anna yang sesekali menjenguk mereka.
" gimana keadaan Laura ? ko udah mo balik , emang gak papa?" tanya Anna pada Vino.
" it's oke, seperti yang lo tau lukanya sih udah sembuh tapi mentalnya dia gue masih gak yakin"
" makanya .. emang gak papa kalo dia balik sekarang "
" gak masalah sih, disini juga bukan tempat yang bagus buat nenangin pikiran "
" urusan ? Alesia ? " tanya Vino
" iya siapa lagi, lo tau kan pion penting kita sekarang udah balik gara-gara kejadian kaya gini rencana kita malah ketunda " Anna menyinggung kejadian yang menimpa Laura.
" Apa Maksud LO ?" Vino marah mendengar ucapan Anna yang seolah menyalahkan Laura.
" udah ya gak usah ngegas , gue udah sabar selama seminggu ini bantuin lo ngurus Laura waktu gue terbuang sia-sia karena kalian berdua " celoteh Anna.
" ANNA !!! " bentak Vino.
"husshhh diem , setelah Laura balik lo jangan lupa lakuin apa yang jadi tugas lo setidaknya jika pacar lo gak bisa lo yang harus lakuin kan? inget hutang pacar lo sama gue kalian sendiri yang bilangkan kalo kalian bakal balas budi ke gue" jawab Anna gak memperdulikan bentakan Vino.
" inget ya kalian janji buat bantuin gue supaya bisa jadi nyonya di kediaman Ryoshi dan balas dendam ke Alesia kan . Gue gak ingin berlama -lama bukannya kalian juga begitu " jelas Anna membuat Vino makin geram.
" cewek sinting " maki Vino.
" terseerah lo, gue pergi sekarang " Ucapnya lalu meninggalkan Vino dalam keadaan kesal. Vino hanya menatap kepergiaan Anna dengan kesal. ' dasar cewek gila ' oceh Vino . Sementara itu Laura yang tadinya tertidur terbangun dan mendengarkan percakapan antara Vino dan Anna.
" vin " ucap Laura setelah merasa yakin Anna sudah pergi.
" Laura kamu sudah bangun ? sejak kapan ? " Vino kaget karena ia takut Laura mendengar obrolannya tadi dengan Anna.
" iya , sudah cukup lama " jawab Laura.
" begitu ya " Vino merasa canggung karena ia sadar bahwa Anna mendengar perkataan Anna yang gak berguna itu.
" iya , soal ucapan Anna tadi,,, "
" gak. usah dibahas sekarang biarkan saja dia berkoar semaunya yang penting kesembuhan mu dulu " potong Vino.
" aku baik-baik saja Vin, lihat !" Laura memperlihatkan bekas sayatan ditangannya.
" kamu tau kan bukan itu yang ku maksud " Laura hanya menunduk mengerti maksud Vino. Karena memang benar keadaan mentalnya masih belum baik . kenangan buruk yang sudah susah payah di lupakan kini membayanginya lagi. Laura kemudian teringat kembali hari itu , seorang pria mengikutinya setelah ia kembali dari tempat Anna. Saat itu hujan sama persis seperti Tahun itu . Pria tersebut mengikuti Laura sampai ke kediamannya dan tanpa diduga sebelum Laura masuk kerumah , pria itu menarik tangannya membuat Laura menoleh dan melihat sosok pria tersebut.
"Laura " panggil vino mengagetkannya.
" apa yang kau pikirkan sampai gemetaran begitu ?" tanya Vino. Laura hanya diam dan melihat tangannya yang kini sedang gemetar. Kenangan buruknya kini kembali lagi dan membuatnya ketakutan. Vino memeluk Laura untuk menenangkannya.
" tenanglah ada aku disini" Laura membalas pelukannya dengan erat sambil menangis.
Anna yang pergi meninggalkan rumah sakit lalu pergi ke sebuah kompleks perumahaan . Dia memarkirkan mobilnya tepat di sebuah rumah besar di kawasan x. Dan tanpa ragu ia langsung masuk seolah ia adalah pemilik tempat tersebut. Saat masuk ia tak mendapati siapapun di rumah itu membuat Anna marah dan membanting beberapa benda di sekitar nya.
" prrannggg " suara benda pecah yang berjatuhan.
" sialan kemana sih tu orang gue cari-cari gak ada padahal ini tempat terakhir yang gue tau"
" ARGHH " teriaknya sambil uring-uringan tidak jelas. Anna meninggalkan rumah tersebut dengan tangan kosong.
" sial, sial, sial sial " ia memukul mukul setir mobilnya
" hah sepertinya bajing@n itu sengaja " ucapnya. Anna sekarang sedang gelisah setelah apa yang terjadi pada Laura terakhir kali. Dia takut kebusukannya terbongkar sebelum rencananya berhasil.
" awas aja kalo dia berani ganggu gue lagi "
" gue gak akan biarin rencana yang udah gue susun bertahun-tahun rusak gara-gara cecunguk macam dia" tak bisa di pungkiri Anna benar-benar kesal kali ini.