Second Chance

Second Chance
Chapter 36. Akhir dari Pertempuran



Sebuah portal telah terbentuk sempurna. Sesuai keinginan Xiao Jin, Yong harus memanggil beberapa spiritual beast terkuat yang akan membantu pasukan Pangeran Lu Qin Chen yang sedang menuju ke sana.


Sebelum pasukan Lu Qin Chen tiba, spiritual beast telah siap dan bergerak menuju ke gerbang kota. Jerit histeris penduduk kota terdengar seiring kedatangan para spiritual beast. Mereka ketakutan melihat wujud menyeramkan spiritual beast dengan tubuh besarnya.


Yong berdiri di atas punggung spiritual beast terbesar dan memberi aba-aba ke mana mereka harus bergerak.


Bukan hanya penduduk kota saja, pasukan pemberontak pun terlihat ketakutan. Mereka bersikap waspada melihat binatang-binatang aneh itu muncul dengan tiba-tiba.


Pangeran Lu Qin Chen menarik tali pengikat kudanya untuk menghentikan langkah mereka. Tangan kanannya terangkat memberi isyarat pada pasukannya untuk berhenti. Pembawa panji-panji meneruskan perintah itu dengan mengibarkan bendera kecilnya.


Suasana hening. Hanya sesekali kuda mereka meringkik dan bergerak memutar.


"Yang Mulia! Apakah binatang-binatang itu cukup berbahaya? Sebagian orang memburu mereka untuk meningkatkan kekuatannya. Kita bisa menakhlukkan mereka setelah mengalahkan para pemberontak yang menduduki kota." Pengawal pribadi Lu Qin Chen terlihat bersemangat.


"Mimpimu terlalu besar anak muda. Kita harus ingat tujuan kita. Lihatlah, di atas spiritual beast itu ada seseorang yang mengendalikannya."


Pengawal Lu Qin Chen meletakkan tangan kanannya di keningnya agar bisa melihat jarak yang jauh. Suasana pagi itu belum begitu terang sehingga butuh kejelian untuk melihat sesuatu di kejauhan.


"Aku juga melihatnya, Yang Mulia. Sepertinya pria itu juga sedang menyerang pasukan pemberontak. Mungkin dia juga memiliki tujuan yang sama dengan kita." Pengawal itu mencoba menerka-nerka.


"Kita tidak tahu. Sebaiknya kita kembali bergerak. Kita hancurkan para pemberontak itu. Setelah itu baru kita pikirkan spiritual beast yang ada di sana."


Pangeran Lu Qin Chen kembali memberi aba-aba. Dia memerintahkan seluruh anggotanya untuk kembali maju menyerang pemberontak.


Pinggiran Kota Qiong terlihat hancur. Pertarungan antara spiritual beast dan pasukan pemberontak menimbulkan banyak sekali kerusakan. Tidak sedikit bangunan yang berada di sekitar pertarungan hangus terbakar.


Banyak sekali pasukan pemberontak yang telah mati terbunuh, tetapi tidak sedikit pula pasukan spiritual beast yang terluka. Perbedaan dimensi kehidupan di alam manusia dan alam mereka membuatnya harus beradaptasi. Namun, spiritual beast unggul dalam hal kekuatannya. Mereka mampu memberikan serangan api dan lemparan energi yang dilakukan secara terus-menerus.


Spiritual beast berkulit keras mampu menahan serangan panah dan lemparan tombak atau senjata tajam lainnya. Tetapi sebagian dari mereka memiliki kulit yang lunak seperti manusia yang mudah tergores.


Pasukan Pangeran Lu Qin Chen memanfaatkan keadaan untuk melakukan serangan pada pasukan pemberontak. Namun, mereka masih terlihat waspada dengan keberadaan spiritual beast yang mungkin saja juga mengancam mereka.


"Tetap waspada. Jangan terlalu dekat dengan spiritual beast itu." Lu Qin Chen memperingatkan pasukannya di sela-sela pertarungannya.


Selama pertarungan, spiritual beast sama sekali tidak menyentuh pasukan Lu Qin Chen. Bahkan beberapa kali mereka menolong pasukan Lu Qin Chen yang sedang terdesak oleh pasukan pemberontak. Alhasil, pertarungan ini membawa kemenangan bagi pasukan Lu Qin Chen meskipun jumlah mereka tidak sebanding.


Yong terlihat khawatir. Spiritual beast tidak bisa bertahan dalam waktu lama di dunia manusia. Mereka akan menghilang dan kembali ke hutan misteri dengan sendirinya ketika waktu mereka habis.


"Yang Mulia!" panggil Yong pada Xiao Jin dengan suara hatinya.


"Aku mendengarmu, Yong. Terimakasih telah membantu pasukan kerajaan ku. Mereka hampir menyelesaikan peperangan dengan kemenangan berkat bantuan kalian." Xiao Jin terlihat senang.


Gerak spiritual beast semakin melambat. Hawa tubuh mereka mulai memudar dan berada di ambang kenyataan. Lambat laun tubuhnya itu menjadi transparan seperti sebuah bayangan lalu menghilang.


Xiao Jin terkejut dan merasa panik. Dia tidak tahu jika menghilang yang dimaksud Yong adalah kembali ke hutan misteri. Wajahnya terlihat sedih seperti kehilangan keluarganya.


"Cepat kemari, Yong! Datanglah ke hadapanku segera!" pekik Xiao Jin tanpa pikir panjang.


Kecemasan membuat akal sehatnya menghilang. Pikirannya sangat kacau dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi juga pada Yong.


Xiao Jin berjalan mondar-mandir di dalam ruangan itu. Tangan kanannya memegang kipas langit dan mengetuk-ngetukannya pada telapak tangan kirinya. Dia menoleh ke arah pintu dan berharap Yong akan segera muncul.


Setelah spiritual beast yang dikendarai oleh Yong menghilang. Dia turun dan berjalan di tanah seperti layaknya seorang manusia. Kekuatannya telah memudar sehingga dia tidak bisa lagi berteleportasi untuk datang ke hadapan Xiao Jin.


Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang melihat atau mengikutinya. Di hadapannya ada beberapa orang prajurit yang terluka, hatinya merasa iba karena tidak bisa menolong mereka. Yong menyelinap melewati jalanan sepi dia tidak menyadari jika seseorang sedang mengikutinya di belakang.


Yong berjalan dengan cepat menuju ke tempat persembunyian Xiao Jin yang berada di tengah kota. Sebelum masuk dia memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya.


"Yong!" pekik Xiao Jin saat melihat kedatangannya.


"Bagaimana keadaanmu? Aku sangat bersedih atas kematian teman-temanmu. Semoga mereka bahagia di alam lain." Xiao Jin tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Mati? Sepertinya Yang Mulia salah paham. Tidak ada yang mati. Sebagian mereka memang terluka tetapi masih bisa diobati," jelas Yong.


Xiao Jin memiringkan kepalanya dan menatap Yong dengan tatapan tak mengerti. Sebelumnya dia bilang jika pasukannya telah menghilang, rasanya sulit untuk percaya jika mereka masih hidup.


"Apa maksudmu, Yong? Kamu tidak perlu berbohong jika hanya ingin menenangkanku saja. Aku tidak senang kamu melakukannya." Xiao Jin memutar tubuhnya membelakangi Yong dengan perasaan dongkol. Namun, dia lebih terkejut lagi saat melihat seseorang tengah berdiri di hadapannya dan menatapnya.


Tidak ada kesempatan lagi baginya untuk kabur. Tempat orang itu berdiri adalah satu-satunya jalan keluar dari ruangan itu. Tubuh Xiao Jin terasa seperti membeku, detak jantungnya memacu lebih cepat hingga membuat kedua telapak tangannya terasa dingin


"Yang Mulia, sepertinya tubuhku juga akan segera menghilang. Kami tidak mati tetapi kami kembali ke hutan misteri." Yong berbicara kepada Xiao Jin sesaat sebelum tubuhnya menghilang.


"Jadi kalian menghilang ke sana. Baiklah!" Xiao Jin menoleh ke arah Yong sesaat sebelum dia menghilang.


"Kamu benar-benar meninggalkanku sendiri, Yong." Tangan Xiao Jin meraih bayangan Yong yang perlahan menghilang.


Pria yang berdiri di depan pintu itu berjalan memasuki pintu dan bergerak mendekati Xiao Jin.


"Xiao Jin, apakah kau membenciku?" ucapnya dengan mata yang sayu.


****


Bersambung ....