Second Chance

Second Chance
Chapter 40. Pria Misterius



Kaisar Lu dan Lu Qin Chen yang melihat ke arah pintu melihat bayangan seseorang yang sedang berdiri di luar ruang. Tidak terlihat siapa orang itu. Melihat sikap diam para pengawal pribadi Lu Qin Chen, tentu dia adalah orang penting kekaisaran.


Lu Qin Chen dan ayahnya saling berpandangan. Mereka saling memberi kode dengan gerakan isyarat.


Kaisar Lu meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya agar Permaisuri Lu dan Xiao Jin terdiam. Sementara itu, Lu Qin Chen berjalan mengendap-endap mendekati pintu dan mengintip dari celah yang ada.


Aroma parfum yang sangat dia kenal begitu menusuk hidung. Lu Qin Chen tidak lagi penasaran dengan pengintip itu.


"Mengapa tidak masuk ke dalam, Xiao Yue? Sampai kapan kamu akan berdiri di situ."


Kemunculan Lu Qin Chen yang tiba-tiba membuat Xiao Yue tersentak. Kali ini dia tidak bisa lagi memegang benda di tangannya dengan benar. Beberapa kue dan minuman jatuh berhamburan di lantai.


"Ma-maaf, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya ... saya ... em ...." Xiao Yue terlihat bingung untuk mencari alasan.


"Pelayan! Bereskan kekacauan ini!" pinta Lu Qin Chen sembari berjalan meninggalkan Xiao Yue yang terlihat salah tingkah karena terpergok sedang menguping mereka.


Sudah kepalang tanggung, dia pun akhirnya masuk ke dalam ruangan Lu Qin Chen. Langkahnya tampak pelan karena dia berjalan dengan gugup.


'Aku tidak boleh salah dalam bersikap. Saingan utamaku telah kembali. Sekali aku berbuat kesalahan maka habislah aku.' Xiao Yue tetap bersikap seolah dirinya baik-baik saja di hadapan mertuanya.


Dengan sikap yang terkesan dibuat-buat semanis mungkin dia memberi hormat kepada mertua dan suaminya. Mereka membalas penghormatan Xiao Yue dengan ucapan yang baik. Terakhir, dia memberi salam pada adik tirinya, Xiao Jin.


"Jin'er, apakah ayah dan ibu sudah tahu akan kedatanganmu? Mereka sangat merindukanmu. Setelah kamu menghilang tanpa kabar, mereka merasa sangat sedih dan kehilangan." Xiao Yue berpura-pura peduli.


"Saat ini aku adalah pengawal pribadi, Putra mahkota. Tanpa seijinnya maka aku tidak bisa kemana-mana. Semoga keluarga kita selalu diliputi kebahagiaan dan keselamatan." Xiao Jin tersenyum tulus pada Xiao Yue.


'Aku telah menciptakan sifat kamu licik seperti ular, Xiao Yue. Kamu pikir aku percaya padamu, jawabannya adalah tidak. Semua sikap manismu ini adalah palsu.' Xiao Jin tidak memperlihatkan aura kebenciannya. Hanya ayahnya saja yang bersikap tulus padanya.


Permaisuri Lu tahu jika putranya tidak menyukai Xiao Yue. Pernikahannya terjadi akibat desakan Perdana Menteri Xiao Long yang melamarnya hingga beberapa kali. Demi menjaga nama baik dan kehormatannya akhirnya Lu Qin Chen setuju untuk mengambil Xiao Yue sebagai selir.


"Kemarilah, Yue'er! Apakah yang membawamu kemari? Seharusnya Lu Qin Chen yang mengunjungimu," ucap Permaisuri Lu lembut.


"Kamu dengar itu! Bersabarlah menunggu di tempatmu! Bukankah di sana kamu tidak kekurangan sesuatu apapun?" Lu Qin Lang berbicara dengan kesal. Sejak semalam Xiao Yue terus saja mengganggunya.


Xiao Yue menunduk malu. Semakin menjawab maka dia akan terlihat semakin bersalah. Meskipun hatinya bergejolak, dia berusaha untuk tenang.


Sebagai bentuk penghargaan Lu Qin Chen pada Perdana Menteri Xiao Long, dia pun segera memanggil pengawal untuk mengantarkan Xiao Yue ke istana selir. Awalnya dia menolak untuk pergi dan ingin menunjukkan bakat dan kemampuannya. Dia sangat ingin bersaing bersama Xiao Jin.


Bersamaan dengan keluarnya Xiao Yue, Xiao Jin pun berpamitan untuk kembali bertugas. Banyak hal yang belum dia ketahui tentang apa saja yang harus dilakukan. Dia harus mendengarkan para seniornya mengarahkannya.


Di ruangan Lu Qin Chen tinggal dirinya dan kedua orang tuanya saja. Mereka terlibat pembicaraan yang serius saat membahas tentang pemberontakan yang marak terjadi. Dengan kekalahan pemberontak di kota Qiong, untuk sementara pasti mereka merasa jera.


Kaisar Lu, ingin Lu Qin Chen menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu sebelum memikirkan urusan pribadinya. Itu juga yang menjadi pikirannya sebelum ayahnya bicara padanya. Dengan kata lain, pernikahan


antara dirinya dan Xiao Jin baru akan terjadi setelah negerinya benar-benar aman dan terhindar dari rongrongan kaum pemberontak.


Kabar kembalinya Xiao Jin begitu cepat tersiar. Entah siapa yang lebih dahulu membawanya keluar. Dalam waktu kurang dari sehari berita kepulangannya telah diketahui oleh seluruh penghuni istana.


Bukan itu saja, kedatangan spiritual beast di kota Qiong juga menjadi rumor yang meresahkan. Masing-masing orang beropini dengan pemikiran mereka sendiri-sendiri. Berita simpang siur terus berkembang di lingkungan istana.


Seseorang terlihat gusar setelah mendapatkan laporan dari orang terpercaya yang menyelinap diam-diam ke dalam istana kekaisaran. Wajahnya tampak menahan marah dengan kedua tangan yang mengepal kuat-kuat.


"Aku sangat yakin spiritual beast yang datang erat kaitannya dengan Xiao Jin. Mereka tidak mungkin muncul tanpa ada yang mengendalikannya dan hanya pemilik tanda kipas langit yang memiliki kekuasaan atas mereka." Pria misterius itu menduga-duga.


Wajah pria yang melapor terlihat pucat. Dia takut jika tuannya memintanya untuk menghabisi Xiao Jin untuknya. Sebelumnya dia terbiasa mengemban tugas yang berat. Namun, untuk melawan spiritual beast adalah hal yang tidak mungkin dia lakukan seorang diri.


Pria misterius itu terlihat sedang berpikir. Dia berjalan mondar-mandir sambil terus mencari cara bagaimana cara untuk mencelakai Xiao Jin tanpa ketahuan. Untuk memulai aksinya dia harus melibatkan banyak pihak yang mau bekerja sama dengannya.


Pria misterius itu kembali meminta utusannya itu untuk menyampaikan pesan rahasianya pada para sekutunya yang tinggal di istana Kekaisaran Bulan Perak. Pria pembawa berita itu tampak lega. Dia tidak menjalankan tugas seperti yang ada di dalam bayangannya.


Pria misterius itu memiliki peran yang penting dalam usaha penggulingan kekuasaan Kaisar Lu. Dia adalah seorang pemimpin cabang yang memata-matai dari dekat aktifitas pasukan inti. Dengan komandonya, ribuan pasukan akan meninggalkan kesetiaannya pada pemimpin pasukan sebelumnya dan memilih taat padanya.


Setelah utusannya pergi, pria misterius itu melemparkan pisau kecil miliknya pada sebuah papan target. Dia membayangkan jika papan itu adalah Xiao Jin. Cerita palsu yang dia buat tentang kutukan pada simbol kipas langit tidak lagi berguna. Lu Qin Chen dan keluarganya telah melakukan perlindungan khusus pada Xiao Jin.


"Xiao Jin adalah penghalang besar dalam agenda pemberontakan ini. Aku harus mencari cara untuk menyingkirkan tanpa meninggalkan jejak. Namun, aku tetap harus meminta pertimbangan pada anggota yang aku pimpin. Tanpa mereka aku tidak akan sanggup bertindak."


****


Bersambung ....