Second Chance

Second Chance
Dua Puluh Sembilan



Aku yakin Angga sudah tahu alasanku melipat wajah, tapi dia tidak mengatakan apa pun. Dengan santai dia malah mengulurkan buku menu. 



“Mau makan apa?” tanyanya sambil membaca daftar menunya sendiri, padahal aku sudah tahu ujung\-ujungnya dia akan pesan ikan bakar. Dia bersikap seolah kami datang ke tempat ini hanya untuk mengisi perut.



Aku mendiamkannya sepanjang perjalanan ke sini tadi, tapi Angga tidak terlihat terganggu. Malah sibuk bersenandung mengikuti lagu\-lagu yang diputar station radio. Seolah suaranya merdu saja.



“Kak Angga tidak ingin mengatakan sesuatu?” Aku akhirnya tidak tahan lagi. Menunggu dia membuka pembicaraan butuh waktu lama, karena tidak ada gelagat yang menunjukkan dia ingin melakukan percakapan serius denganku.



“Mengatakan apa?” Angga malah balik bertanya.



Lihat, ekspresinya seperti orang yang tidak tahu apa\-apa. Waduh, bisa\-bisanya aku jatuh cinta kepada makhluk seperti ini. Wajahnya baru kaya ekspresi saat cemburu dan ngomel soal Dio. Sisanya datar. Mirip papan setrikaan. Aku sudah bisa menduga kalau kami kelak bertengkar tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan Dio, Angga pasti akan membiarkanku ribut sendirian. Apa enaknya ngomel kalau tidak ada lawannya? Ngomel kan baru seru kalau ada yang menyahut dan memanasi. Dan Angga jelas tidak termasuk kategori orang yang akan jadi lawan ngomel yang baik.



Aku mengembuskan napas pelan\-pelan lewat mulut. Menarik urat leher tidak akan banyak gunanya untuk menghadapi Angga. “Kata Mama, Kak Angga bicara kepadanya.”



“Iya,” Angga menjawab enteng.



Iya? Begitu saja? “Lalu?” Aku memancingnya.



“Lalu,” Angga mengulang, “kapan keluargaku boleh ke rumahmu? Mamamu sudah menentukan waktunya?”



Bukan itu maksudku saat mengucapkan kata ‘lalu’ tadi. “La\-lu,” aku kini mengeja kata itu. “Kenapa Kak Angga tidak membicarakannya dulu denganku? Hal sebesar itu seharusnya menjadi keputusan kita berdua sebelum dibawa ke keluarga.” 



Kali ini Mata Angga terfokus padaku. “Aku sengaja, Ra. Karena aku sudah tahu jawabanmu kalau membahas hubungan kita berdua. Kamu pasti akan bilang bahwa hubungan yang baru dimulai belum layak dibawa ke pernikahan. Dan aku tidak mau mendengar itu.”



Angga memang bisa membacaku dengan baik. “Tapi tetap saja….”



“Ra,” Angga memotong ucapanku. “Kita bukan remaja lagi. Kita menjalin hubungan bukan sekadar untuk senang\-senang. Aku juga tidak suka bolak\-balik ke rumahmu dengan status seperti sekarang. Aku lebih suka mengunjungi calon istri daripada kekasihku. Kalau hubungan kita sudah diresmikan, orang\-orang akan tahu kamu milikku. Ada orang\-orang yang memilih harapannya merimbun sebelum dipangkas dengan sengaja.”



Aku mengarahkan bola mataku ke atas. “Langsung sebut saja, Kak. Dio, kan? Tidak usah pakai kata orang\-orang.”



Tuh, kan, ekspresinya baru berubah kesal saat nama Dio disebut.



“Ya, barangkali ada orang lain juga yang masih berharap selain dia,” dengus Angga.



Aku mendelik. “Kak Angga bikin aku terdengar seperti orang yang suka tebar pesona ke mana\-mana.”



“Kamu tidak perlu tebar pesona, Ra. Kamu memesona dengan pembawaan yang seperti itu.”



Kali ini aku tidak bisa menahan senyum. “Maksud Kak Angga, aku memesona karena… galak? Astaga, aku bahkan tidak yakin itu terdengar seperti pujian.”



Angga ikut tersenyum. “Kalau kamu tidak galak, aku mungkin tidak tertarik padamu. Tidak setiap hari aku menemukan gadis menyebalkan yang konsisten memelotot kepadaku. Seolah\-olah aku pernah sengaja menaruh kecoak mati dalam makananmu.”



“Hei!” protesku tidak terima. “Aku begitu karena sikap Kak Angga dulu lebih menyebalkan. Sudah sombong, sok kecakepan….”




Aku memelotot melihatnya nyengir. “Menyebalkan!”



“Nah, tuh memelotot lagi, kan? Jangan keseringan memelotot di tempat umum, Ra. Bikin gemes. Aku kan tidak bisa mencium biar kamu merem.” Tawa Angga lantas pecah saat merasa berhasil menggodaku.



“Itu pikiran atau lumpur?” sambutku kesal. “Kotor.”



“Kalau begitu, bukan hanya pikiranku yang kotor dong, Ra. Pikiranmu juga pasti kotor, karena kamu juga menikmati kalau kita ciuman, kan? Sampai merem\-melek.”



Aku melemparkan tisu yang kupegang padanya. “Siapa bilang?” Wajahku pasti merah padam. Ini kok malah bahas ciuman di rumah makan.



“Aku yang bilang, Ra. Kan aku yang cium. Aku yang merasakan kamu balas cium, dan aku yang menatapmu saat kita ciuman.”



“Sssttt!” Aku makin melotot saat seorang pelayan berjalan di dekat meja kami. Kami terdengar seperti orang mesum membicarakan hal seperti itu di tempat umum.



“Makanya kita harus buru\-buru nikah, Ra.” Angga terlihat serius sekarang. “Ciuman kan enak. Siapa yang bisa menjamin kalau tanganku tidak piknik ke mana\-mana sambil ciuman. Rasanya pasti lebih enak, dan kita bisa kebablasan. Kamu yang rugi, kan?”



Mau tidak mau pikiranku melayang pada obrolan absurdku dengan Maya. Obrolan soal kolor itu. Astaga, mengerikan saat membayangkan diriku membantu menurunkan kolor Angga saat kami belum menikah. Bencana. Benar\-benar musibah!



Aku menepuk\-nepuk pipiku yang seperti terbakar.



“Mukamu merah, Ra. Pasti pikiranmu jauh lebih kotor sekarang. Kamu tidak sedang membayangkan kita melakukan hal yang lebih daripada sekadar ciuman, kan?”



Ya ampun, aku ingin mencekik laki\-laki tampan di depanku ini. Aku tidak terima dipermalukan seperti ini. Harga diriku seperti berceceran. “Hentikan!” desisku.



“Aku sih lebih suka melakukannya langsung daripada sekadar membayangkan, Ra. Mimpi saja enak. Apalagi dilakukan dengan sadar. Makanya kita harus segera menikah. Biar tidak stres karena hanya bisa membayangkannya.”



“Ini lamaran paling aneh,” gerutuku. “Bukannya dikasih cincin berlian, malah dibujuk dengan \*\*\*\* setelah pernikahan.”



“Namanya diganti ibadah kalau sudah nikah, Ra.” Tawa Angga kembali terdengar. Dia kelihatan benar\-benar puas bisa menggodaku habis\-habisan. “Tapi kamu beneran mau cincin berlian? Kalau begitu aku harus menjual mobil. Tapi harga mobilku pasti hanya bisa membeli berlian yang besarnya harus dilihat pake mikroskop, Ra. Boleh aku kasih cincinnya dulu? Bongkahan berliannya nanti setelah pekerjaanku stabil, ya? Setelah lulus, aku akan kerja keras untuk berlianmu.”



Nada Angga masih setengah bercanda, tapi aku menangkap keseriusannya. Dan hatiku terasa hangat.



“Aku tidak terlalu suka berlian, kok,” kataku terharu. “Bling\-blingnya bikin silau.”



Angga meraih tanganku. Membungkusnya dalam genggaman. “Jadi kamu mau menikah denganku, kan?”



Aku mengangguk. Mama dan Maya benar. Aku mungkin akan menyesal kalau terlalu banyak menimbang dan akhirnya melepas Angga. Ada hal\-hal yang hanya perlu dijalani setelah diyakini. “Aku mau.”



“Terima kasih, Ra. Kamu tetap akan mendapatkan berlianmu nanti setelah kita mapan. Itu janji.”