Second Chance

Second Chance
Bab 31. Pencarian dengan Tubuh yang Salah



Tanpa disadari Ernest meneteskan air mata. Hatinya sakit bercampur rasa marah mengetahui ada noda darah di kamar Hanna. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada putrinya.


Dalam keadaan marah itu, Ernest memejamkan mata sambil mengepalkan kedua tangannya. Emosi yang ada dalam dirinya kembali hidup. Tubuhnya memanas menahan amarah. Tiba-tiba tubuh itu melesat tanpa direncanakan.


Ernest terkejut mendapati dirinya berada di tepi pantai. Kemudian dia menyadari bahwa dirinya bisa berpindah tempat setiap kali memejamkan matanya.


“Heggh!” Ernest menggeram sambil memejamkan mata dan memfokuskan pikirannya.


Setelah memejamkan beberapa saat dia membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya. Namun ternyata dia masih di tempat yang sama. Itu artinya dia gagal menggunakan kekuatannya.


Dia mencobanya kembali, namun tidak berhasil.


“Sebenarnya kekuatan apa sih yang aku punya? Aku tidak tahu cara menggunakannya. Dasar tak berguna!" gerutu Ernest dengan marah.


Ernest langsung berlari menuju gudang persembunyian Gerald dan kawan-kawannya.


Dia mencoba berlari sangat cepat, dia tidak ingin memikirkan apapun tentang bagaimana menggunakan kekuatan dirinya.


“Saat ini yang terpenting adalah aku harus segera menyelamatkan adikku dan putriku, Hanna,” ujarnya.


ZLAAAP!!!


Ernest bergerak bagaikan kilatan cahaya.


BRUUG!


Tubuh Ernest menabrak dinding dalam gedung itu.


ARGH …


Ernest terkapar di lantai sambil mengerang kesakitan memegangi bahunya.


“Sungguh sial, aku tidak bisa menggunakan kekuatan ini dengan benar!” Ernest memaki pada dirinya sendiri.


“Hahaha, tidak terlalu buruk,” tiba-tiba sang Penjemput mengomentarinya sambil tertawa.


Ernest segera bangkit. Dia mengabaikan komentar dari sang Penjemput yang akan menguras emosinya saja kelak. Ernest melihat ke sekelilingnya dan tidak melihat apapun. Ruangan itu tampak sepi dan tidak terlihat jejak apapun.


“Apakah Gerald tidak disini?” gumam Ernest.


“Tidak,”


“Lalu di mana? Tolong beri tahu aku,” Ernest memohon kepada sang Penjemput.


“Tugasku hanya mengawasi kamu, bukan Gerald. Tapi … ”


“Ah, kamu memang tidak berguna!” gerutu Ernest.


"Hei! Sejak kapan manusia seperti kamu mengejek keberadaanku! Jam pasirmu bisa saja aku pecahkan. Tapi aku bukan iblis yang punya sifat suka ingkar janji, aku adalah Sang Penjemput!"


"Ya… Ya… Ya…" sahut Ernest sambil menggerakkan kepalanya.


Ernest berlari lagi, kini dia menuju ke kantor Kesatuan Pasukan Khusus.


ZLAAP!!!


Seperti sebelumnya, ternyata Ernest berhasil tiba di kantor Pasukan Khusus dengan selamat. Kini dia bisa memilih tempat perhentiannya.


“Aku bisa memilih tempat perhentianku, mungkin karena aku tahu dan hafal bangunan ini,” gumam Ernest.


Gubrak!


Gebruk!


Suara gaduh dari dalam toilet menarik perhatian seseorang yang sedang mengepel lantai.


TOK TOK TOK


“Halo? Ada orang di dalam?” seseorang mengetuk pintu toilet yang di dalamnya ada Ernest.


Ernest membuka pintunya dan keluar dari toilet dengan tertatih-tatih. Ternyata yang baru saja mengetuk pintunya adalah petugas kebersihan toilet. Petugas itu menatap Ernest dengan perasaan heran, karena ini pertama kalinya dia melihat ernest di gedung itu.


“Hei, kamu siapa? Aku baru melihatmu kali ini. Kenapa kamu ada di gedung ini?” Tanya petugas itu, namun Ernest mengabaikannya. Dia terus berjalan dengan tertatih-tatih. Seluruh tubuhnya terasa sakit semua.


“Apakah kamu baik-baik saja, Bung?” tanya petugas itu lagi sambil mengikuti Ernest. Dia curiga pada Ernest saat melihat kondisinya yang tak biasa.


“Semoga tubuh ini tidak bermasalah, dan aaah…” Ernest jatuh pingsan. Untung petugas toilet tersebut mengikutinya dari belakang, sehingga ketika Ernest jatuh tak sadarkan diri, dia bisa segera menangkap tubuh Ernest.


Saat kesadaran Ernest belum sepenuhnya hilang, Ernest mendengar petugas itu berteriak.


“Tolong, tolong! Ada orang disini butuh bantuan!” seru petugas itu.


“Saya tidak tahu, Tuan. Dia baru keluar dari toilet dengan jalan terhuyung-huyung. Lalu dia jatuh tak sadarkan diri, “ sahut orang yang dipanggil Fred.


“Apakah kamu mengenalnya? Apa dia temanmu?”


“Bukan, Tuan. Saya tidak mengenalnya. Saya kira dia tamu di kantor ini. Saya baru pertama kali melihatnya disini,”


“Baiklah kalau begitu, kita bawa saja ke rumah sakit. Sepertinya tubuhnya bermasalah, seperti habis mengalami sesuatu yang berat,”


Ernest ingin sekali bersuara, namun setelah itu dia tidak bisa ingat apa-apa lagi.


Ernest membuka matanya, dia menyadari bahwa dirinya kini dia berada di rumah sakit. Dia melihat Sang Penjemput berada disisi ranjang tempat dia berbaring. Sang Penjemput itu tersenyum kepadanya.


"Jam pasirnya terus berjalan, tapi apa yang kamu hasilkan sampai sekarang?" tegur Sang Penjemput.


Ernest merasa kesal mendengar teguran itu. Bahkan dia menganggapnya itu sebuah ejekan.


"Sudah berapa jam aku disini?" tanya Ernest pada Sang Penjemput.


Namun seorang Perawat yang melintas Tidak jauh darinya malah menoleh ke arahnya, dia mengira Ernest sedang berbicara dengannya.


"Halo, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Perawat itu dengan ramah.


"Oh, eh iya. Saya hanya ingin tahu, sudah berapa lama saya disini?" tanya Ernest dengan gugup.


"Sebentar," kemudian Perawat itu memeriksa catatan yang tergantung di ranjang Ernest bagian bawah kakinya.


"Anda sudah 3 hari berada disini, dan… hei, Anda baru saja siuman ya? Maaf saya sudah tidak memperhatikan Anda tadi. tunggu sebentar saya akan memanggilkan Dokter untuk Anda," kata Perawat itu, dia bergegas memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Ernest.


"Apa? saya sudah 3 hari disini? Hei tunggu, Perawat!" namun usahanya sia-sia saja, Perawat itu sudah pergi menjauh darinya dan tidak mungkin mendengar perkataannya.


"Huh, sebaiknya aku pergi," Ernest mulai menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, dia juga mencabut selang infus dan masih meninggalkan jarumnya di tangannya.


Ernest memaksakan dirinya untuk bangun dari ranjangnya, dan mencari apa saja yang bisa menutup aliran darahnya yang keluar dari jarum infusnya.


Ketika ingin turun dari ranjangnya, tanpa disengaja dia melihat berita di televisi tentang sebuah penemuan kasus.


Betapa terkejutnya dia Ketika mengetahui ada penemuan yang diduga itu adalah gadis kecil korban penculikan, dan benda-benda miliknya yang dikubur telah ditemukan para petugas Pasukan Khusus.


Sayangnya tubuh gadis kecil itu tidak ditemukan. Dan barang-barang yang ditemukan itu ditampilkan di televisi.


Ernest melihatnya, dan menduga itu adalah milik putrinya, Hanna. Dia sangat hafal dengan barang-barang Milik putrinya. Dia pun menjadi sangat panik. Ernest mengira ini adalah salahnya karena tidak bergerak cepat.


"Kamu mau ke mana?" tanya sang Penjemput.


"Aku akan mencari kabar tentang putriku," sahut Ernest.


"Ke mana? Yang hilang itu tiga orang. Kawan dan adikmu tidak ada dalam berita itu, apakah kamu yakin itu putrimu? Mengapa putrimu yang ditemukan? Mengapa putrimu tidak bersama kawan dan adikmu?" tanya Sang Penjemput lagi.


"Jangan mencoba-coba membuat aku bingung dengan pertanyaan kamu yang konyol. Aku mengurus Hanna sejak kecil, aku hafal dengan barang-barang miliknya," gerutu Ernest. Matanya terus menatap ke arah televisi meskipun sudah tidak disiarkan lagi berita tentang penemuan itu. Lalu dia mencoba untuk menjauh dari ranjangnya. Sebelum dia bisa melangkah lebih jauh lagi, hal itu diketahui oleh Dokter dan beberapa perawatnya yang sedang menuju ke ranjang Ernest.


"Anda tidak boleh pergi dulu, Tuan. Karena anda harus melalui serangkaian pemeriksaan lagi," cegah Dokter saat mengetahui Ernest akan meninggalkan ranjangnya.


"Pemeriksaan apa, Dokter? Saya hanya pingsan saja," bantah Ernest.


"Anda pingsan karena beberapa tulang-tulang di dalam tubuh Anda mengalami dislokasi, itu perlu perhatian khusus, Tuan," Dokter dan Perawat berusaha menahan kepergian Ernest.


Tapi pikiran Ernest sudah terlanjur kacau balau. Dia gelisah memikirkan adik perempuannya dan putrinya. Sehingga ketika ditahan untuk tidak pergi meninggalkan ranjangnya, Ernest terus saja melawan para petugas medis.


"Pasien menolak untuk bekerja sama, Dok. Kami tidak bisa kalau harus melawannya dengan memaksa karena…" petugas itu terus berusaha menghalangi Ernest untuk pergi.


Dokter malah menyarankan agar Ernest diberi penenang, supaya tidak melawan para petugas medis dan bisa membahayakan dirinya sendiri ketika terus meronta.


"Beri dia penenang, saya takut kondisi pergeseran tulangnya akan semakin parah jika dia berbuat seperti ini terus,"


"Baik, Dok,"


Ernest merasakan amarah yang sangat kuat ketika dia mengetahui dirinya harus ditenangkan. Tapi dia tidak berdaya, karena pada akhirnya dia harus tertidur lagi.


"Saya heran dengan pasien ini. Apa yang membuatnya bisa terus bergerak seperti tidak merasakan sakit. Padahal tubuhnya seperti habis terhimpit alat berat," ujar salah satu Perawat saat meletakkan Ernest diatas ranjangnya dengan hati-hati.


"Saya kasihan dengan dia, mungkin semangat hidupnya lebih besar dari kondisi tubuhnya," sahut Perawat lainnya sambil menyelimuti Ernest.


"Kalian siapkan untuk pemeriksaan ulang kondisi tubuhnya. Jika memungkinkan kita akan langsung melakukan tindakan. Coba cek bagian administrasi, apakah mereka berhasil menghubungi keluarganya?" perintah sang Dokter.


"Baik, Dok!" Sahut para Perawat itu bersamaan.


Mereka pun meninggalkan Ernest yang tertidur dengan tenang.


"Aaah, dia malah tertidur lagi. Sekarang kalau seperti ini, keluar dari tubuh ini dan pindah ke tubuh lain pun dia tidak akan sanggup. Seharusnya dia tidak meronta saat mereka melarangnya dan berpura-pura menurut saja. Betul-betul merepotkan saja," gerutu sang Penjemput sambil tersenyum menatap Ernest.