
Kegiatan Ocean Corner Cake's berjalan seperti biasanya. Pagi hari sebelum toko dibuka, Latan bertugas membersihkan area depan dan mengelap kaca showcase. Sika menyiapkan mesin kasir baru setelah itu membantu Meta menyiapkan kue serta roti yang akan dijual.
Sementara Bianca sendiri sibuk menghias pesanan cake salah satu pelanggannya.
Setelah semua dirasa siap, Latan menggeser pintu rolling door lalu membalikkan tempelan di pintu dari 'CLOSE' menjadi 'OPEN'.
************
"Mba, Bu Lastri nggak bisa ngambil pesanannya. Dia minta dianterin. Apa kita gojekin, atau gimana?" tanya Meta sesaat setelah membaca pesan dari ponselnya.
Bianca berpikir sejenak. Jarak dari toko ke tempat tujuan lumayan jauh. Memikirkan kue-kue itu akan dibawa kurir online, sedikit membuatnya ketar ketir.
Matanya kemudian menyapu area dapur lalu berjalan ke depan, memeriksa isi showcase. Setelahnya, ia beranjak kembali ke dapur.
"Kita anterin aja. Kalau digojekin takut berantakan kuenya. Di depan juga masih belum perlu ditambah, jadi aman lah kalau ditinggal sebentar," putusnya kemudian.
"Oke. Berarti aku sama Mba yang pergi?" tanya Meta yang langsung diangguki Bianca. "Tunggu Sean pulang sekolah ya Mba."
Bianca mengacungkan jempol sebagai jawabannya. Sambil menunggu kepulangan Sean, Bianca mengirim pesan pada Mahesa.
Bianca
Aku mau nganterin kue ke Senopati bareng Meta sama Sean.
Hanya butuh beberapa detik pesan itu berubah menjadi centang biru dua dan sedetik kemudian Mahesa membalasnya.
Mahesa
Sharelock.
Bianca langsung mengirimkan tautan lokasi tujuannya.
Mahesa
Oke. Hati-hati. Love you.
^^^Bianca^^^
^^^Love you too.^^^
Bianca menarik napas gusar seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sejak tahu Om Ben mengintainya, Mahesa bersikap lebih protektif ketimbang sebelumnya. Dia bahkan mewajibkan Bianca untuk selalu mengabarinya tiap ingin keluar rumah atau toko.
Sesuai permintaan Mahesa pula, Bianca akhirnya memblokir nomor telepon Farrel. Tak hanya Farrel, nomor Sulis pun ikut ia blokir.
"Kenapa Sulis juga?" tanya Bianca.
"Aku curiga Sulis itu mata-matanya Daniel." Mahesa memang sudah menyimpan curiga sejak Bianca menceritakan bagaimana sosok suster Farrel tersebut.
"Serius? Kasihan Koh Farrel… Padahal dia udah percaya banget ke Sulis."
Mahesa menghela napas pendek, "memang kasihan, tapi kita bisa apa? Itu urusan keluarga mereka. Kamu jangan ikutan ya, Baby…"
"Bundaaaa……"
Pekikan nyaring Sean menarik kesadaran Bianca. Wanita itu berjongkok seraya merentangkan tangan menyambut Sean yang menghambur ke pelukannya.
"Ayo, ganti baju. Ikut Mama sama Bunda nganterin kue." Meta mengambil tas Sean dari pundak anaknya lalu menaiki tangga.
Tanpa bertanya lagi, Sean langsung berlari menapaki tangga menyusul sang Ibu.
************
"Hufftt…."
Bianca menarik napas panjang. Tangannya terasa sedikit gemetar. Dia melirik kaca spion.
Ting.
Bianca baru ingin menyalakan mesin mobil ketika mendengar bunyi notifikasi pesan masuk.
Mahesa
Nggak usah cemas. Orang suruhanku selalu stand by di dekat kamu. Jangan khawatir, semua akan baik-baik aja. Keep my promise. Love you, Baby.
Bianca tersenyum. Pesan panjang dari Mahesa seketika menguapkan rasa cemasnya. Entah bagaimana Mahesa bisa tahu perasaannya saat ini.
Jika kemarin Bianca takut menghadapi Mahesa, justru sekarang ia bersyukur.
Kehadiran Mahesa membuatnya merasa aman.
Bianca jadi bergidik membayangkan bagaimana ia akan mampu menghadapi Om Benjamin tanpa Mahesa. Pria paruh baya itu bukan lah Dewa yang bisa ia bentak atau hindari sesuka hati.
"Udah semua kan, Met?" Bianca melirik Meta yang duduk di kursi penumpang belakang.
"Udah Mba," jawab Meta tersenyum.
"Ayo Bunda! Let's go!!!!" seru Sean seraya mengepalkan tangan mungilnya ke udara.
"Oke. Bilang apa dulu hayoo…." Bianca mengunci seatbelt Sean lalu menjawil hidung mancung bocah itu.
"Bismillahirrahmanirrahim…." ujar Sean sambil menengadahkan tangan kemudian mengusapkan ke wajahnya.
"Bagus," Bianca mengulum senyum bangga sambil menyalakan mesin mobilnya.
Bohong jika Bianca bilang dirinya baik-baik saja karena nyatanya sepanjang jalan dia terus melirik kaca spion luar. Bahkan otaknya kerap berpikiran buruk ketika melihat ada mobil di belakangnya.
"Mba, are you okay?" bisik Meta tertahan ketika menyadari wajah tegang Bianca.
Posisi duduknya yang berada di belakang Sean, memungkinkan wanita itu leluasa memperhatikan Bianca.
Bianca melirik sekilas ke belakang. "I'm good," ujarnya seraya tersenyum kecil.
Meta hanya mengangguk samar. Ia tahu Bianca berbohong. Tapi wanita itu memutuskan untuk tak lagi bertanya. Bianca membutuhkan privasi. Namun yang pasti, Meta akan selalu siap membantu jika kelak Bianca membutuhkan bantuannya.
Sesampainya di kediaman Bu Lastri, Bianca dan Meta langsung menyusun cake dan kue basah di tempat yang sudah disiapkan Bu Lastri.
Pelanggan tetap Bianca itu nampak puas dan berterimakasih sambil meminta maaf karena tak bisa mengambil pesanannya sendiri.
Setelah semua beres, Bianca tak bisa langsung kembali ke toko. Sean merengek ingin pergi ke mall. Alhasil, Bianca pun memutar mobilnya menuju mall terdekat.
"Gini lah Mba kalau manjain Sean," gerutu Meta gemas. "Apa-apa jadinya mesti diturutin."
"Tapi kan nggak tiap hari Sean pergi ke mallnya," tampik Bianca.
"Iya sih, emang nggak tiap hari. Tapi kalau tiap ke mall belanja mainan mulu, apa nggak jebol? Mana mainan Sean mahal-mahal semua harganya." Keluh Meta.
Bianca meringis menampakkan wajah bersalah. Dia terlanjur menghujani Sean dengan barang-barang berkualitas bagus semenjak bocah itu masih berusia 2 bulan. Meski tak berasal dari brand mewah, tetapi harganya masih terbilang mahal untuk ukuran dompet Meta.
"Yauda, besok-besok Mba beliin-nya di pasar aja deh. Sesuai keinginan kamu dulu," kekeh Bianca.
Meta mendelik, "telat ya Mba sadarnya. Sean itu sekarang udah ngerti barang bagus," sahutnya pasrah.
Semoga pas gede nanti, kamu nggak minta Mama beliin motor sport ya Nak, harap Meta dalam hati.
************
Sementara itu Mahesa tengah diliputi tanda tanya besar. Baru saja orang suruhannya melaporkan bahwa mata-mata Om Ben masih membuntuti Bianca.
Padahal Bianca udah nggak ada komunikasi lagi dengan Farrel. Kenapa Om Ben masih ngikutin Bianca? Kayaknya gue mesti nanya ke Papi kenapa Om Ben sampai bersikap begini.
Mahesa hendak memeriksa lagi laporan perusahaannya saat ponselnya kembali bergetar. Netranya membola begitu membaca pesan dari orang suruhannya.
"Sialan! Om Ben benar-benar keterlaluan!!"
************
"Bunda…. Yang ini, boleh?" Sean menunjuk action figure Iron Man.
Bianca tak langsung menjawab. Dia melirik dulu ke arah Meta. Meminta pendapat wanita itu sebelum membelikannya. Bianca sadar, jika selama ini ia sering mengabaikan pendapat Meta.
Meta yang tadinya berdiri di belakang Bianca, langsung maju ke depan. Badannya sedikit membungkuk untuk memeriksa sesuatu, lalu tak lama matanya melotot lebar. "Mahal! Jangan ya Nak. Kamu pilih mainan yang lain aja," sahutnya setelah melihat nominal harganya.
Sean berenggut. Bocah itu menggembungkan pipi, "tapi kan bukan Mama yang beliin!"
"Iya, tahu. Lagian sejak kapan Sean suka mainan model begini? Bukannya kamu sukanya hot wheels sama lego?" tanya Meta bingung.
"Aku suka,kok! Mama aja yang nggak tahu!"
"Makanya Mama nanya, sejak kapan?"
"Emm….." Sean berpikir sejenak. Mata bocah itu bergerak tak tentu arah. Bibirnya manyun, memikirkan alasannya.
"Key bilang, anak laki-laki yang main ini keren," jawabnya jujur.
"Ya ampun Sean…. Cuma gara-gara itu? Jadi bukan karena kemauan Sean?" Meta berucap gemas menahan geli.
Bianca segera beringsut menjauh memberikan privasi. Melihat gelagat Meta yang sudah mengambil posisi jongkok, bisa dipastikan Meta akan memberikan semacam wejangan kepada anak semata wayangnya.
Bianca memilih menunggu di luar toko mainan. Sebelumnya ia sudah memberikan salah satu kartu debitnya ke Meta. Biarlah kali ini Meta sendiri yang memilihkan untuk Sean.
Mahesa
Kamu kenapa di luar?
Alis Bianca berkerut membaca pesan Mahesa. Namun sedetik kemudian dia menepuk jidatnya. Untuk sesaat dia lupa ada orang suruhan kiriman Mahesa di dekatnya.
Mahesa
Jangan senyum-senyum sendirian, Baby.. Bahaya…..
Oke, ini sudah kelewatan!
Bianca berengut kesal. Mahesa pernah bilang, orang suruhannya wajib melaporkan setiap kali Bianca berada di luar. Tapi ini keterlaluan.
Masa senyum aja dilaporin?
Baru saja hendak membalas pesan Mahesa, pundak Bianca ditepuk seseorang dari belakang.
Bianca berjengit kaget dan refleks berbalik badan.
"Babe!!" seru Bianca. "Kamu kok….."
Bianca tak menuntaskan pertanyaannya. Hanya ada satu alasan mengapa Mahesa menemuinya di saat jam kerja.
"Daniel disini?" tanya Bianca cemas.
Mahesa mengeram kecil. "Om Ben," tukasnya sambil diam-diam mengamati penjuru area mall.
Iris cokelat Bianca sontak membola lebar. Jantungnya mendadak bergemuruh kencang. Bianca meneguk ludah, merasa ketakutan dan juga panik.
Menyadari pias pucat Bianca, Mahesa segera mendekap sang kekasih.
"Tenang Baby, selama ada aku, nggak akan aku biarin Om Ben nyakitin kamu!" bisik Mahesa sambil menyelipkan jarinya di sela-sela jemari Bianca yang terasa cukup dingin.
"Tapi…."
"Sstt!" sela Mahesa lirih. Jarinya semakin meremas lembut. "Sekarang kita jemput Sean dan juga Meta. Aku anterin kalian pulang. Biar orang suruhanku yang bawa mobilmu."
Bianca hanya bisa pasrah membiarkan Mahesa menggandengnya masuk ke toko mainan.
Ibu dan anak itu sempat terkejut melihat kedatangan Mahesa. Tetapi kemudian Sean berseru gembira. Sayangnya antusias bocah kecil itu seketika menguap ketika Mahesa membawa mereka ke basement.
"Kita mau pulang, Om?" tanya Sean bingung. Dia pikir, Mahesa akan mengajaknya ke tempat bermain yang ada di area mall, seperti biasanya.
"Iya. Kita pulang dulu ya, boy. Kasihan Bundamu capek," jawab Mahesa sambil membukakan pintu penumpang.
"Bunda capek?" bola mata Sean menatap Bianca meminta kepastian. Detik berikutnya, bibir kecilnya menekuk kecewa melihat Bianca mengangguk.
Kekecewaan Sean tak berlangsung lama sebab Mahesa mengarahkan mobilnya menuju jalur drive-thru di gerai fast food favoritnya dan membebaskan Sean untuk memilih sepuasnya.
"Ya Allah, nggak Mba Bian, gak Pak Mahesa….sama aja ternyata," keluh Meta seraya menarik napas panjang – pasrah melihat Sean berseru heboh menunjuk semua menu yang diinginkannya.