Second Chance

Second Chance
S.C Rahasia Farrel



Farrel duduk di tepi kasur kamar hotelnya dengan perasaan tak menentu. Tangannya menggenggam erat ponsel pintar berwarna putih yang dibelinya secara diam-diam semenjak ingatannya kembali pulih.


Menghela napas gusar, Farrel beranjak tertatih menuju kamar mandi dengan bantuan tongkat jalan. Matanya melirik sekilas pintu connecting room yang masih tertutup rapat. Kamar hotel di sampingnya itu ditempati oleh Sulis – suster pribadinya yang sudah hampir 3 tahun bekerja dengannya.


Setelah mengunci pintu kamar mandi sebanyak 2 kali, Farrel menyalakan keran wastafel dan pancuran bathtub. 


Lelaki itu menarik napas lelah. Berjalan menggunakan tongkat terasa amat menyiksa.


Brak.


Dengan raut datar Farrel membanting tongkatnya ke marmer kamar mandi yang dingin. Dia mendecih kesal.


Dibanding berjalan menggunakan tongkat, berpura-pura lumpuh jauh berkali-kali lipat lebih menyiksanya.


Dengan langkah tegap, ia menuju kloset tuk menuntaskan hajatnya. Lalu setelah itu ia melepaskan pakaian yang melekat di badan dan beranjak masuk ke bathtub. 


Farrel mengerang pelan ketika tubuhnya berada sepenuhnya di dasar bathtub. Sensasi air hangat seolah mewaraskan jiwanya kembali. 


Kalau bukan demi mengambil simpati Kakak tirinya, tak sudi Farrel bertindak sampai sejauh ini. Dia lebih memilih kembali ke Indonesia dan hidup bersama Ganeeta beserta putra kecil mereka – Brandon.


Dewa sialan!!


Farrel memukul air di dalam bathtub sehingga menimbulkan percikan keras. 


Mantan sahabatnya itu benar-benar mematik emosinya. Bisa-bisanya dia menikahi Ganeeta!! Apa Dewa sebodoh itu sehingga salah menafsirkan perkataannya?


Dia bilang titip Neta, bukan menikahinya!!!


Farrel mengusap kasar wajahnya. Menjambak rambutnya sendiri untuk melampiaskan emosinya. Setelah merasa sedikit lega, Farrel melanjutkan sesi mandinya yang tenang tanpa perlu mengkhawatirkan Daniel atau pun Benjamin.


************


"Kakak?" Farrel terkejut mendapati Daniel berada di kamar hotelnya. Untung dia tak melupakan tongkatnya. Padahal tadi ia sempat tergoda berjalan normal lantaran Sulis mengirimkan pesan kalau gadis itu sedang berada di minimarket.


Wajah Daniel yang semula kesal langsung berubah melihat Farrel yang nampak kesusahan berjalan keluar dari kamar mandi.


"Kenapa kabur sih!" Daniel menghampiri adiknya lalu membantunya duduk di sofa.


Farrel meringis. "Habis gimana, aku kangen Neta…" cicitnya parau.


Daniel menarik napas panjang. "Apa gak bisa kamu sabar dulu?" keluhnya menahan kesal.


"Aku udah cukup sabar selama lima tahun, mau berapa lama lagi aku nunggu, Kak?" protes Farrel.


"Sampai hak kepemilikan perusahaan jatuh ke tangan Kakak. Tinggal sedikit lagi…"


"Lalu setelah itu apa?" sela Farrel. "Mau Kakak atau pun Papi yang jadi komisaris utamanya, hidupku tetap gini-gini aja," gerutunya disertai dengkusan pelan.


Daniel mengulas senyum tipis. Lalu beranjak duduk di samping Farrel.


"Semua akan berubah. Kakak udah masukin namamu ke daftar warisan pembagian saham."


Mata Farrel membola lebar, "serius Kak?"


Daniel mengangguk. Tertawa kecil melihat raut gembira sang Adik.


"Tapi … apa orang-orang gak curiga? Maksudku — di perusahaan itu 'kan banyak orang-orangnya Papi."


Daniel menyeringai membuat Farrel sempat bergidik takut. Lelaki itu kembali mengingatkan dirinya sendiri agar tak terlalu jauh mengelabui sang Kakak.


"Kamu pikir selama puluhan tahun bekerja di bawah nama Papi, Kakakmu sebodoh itu sampai gak punya orang kepercayaan?"


Mulut Farrel membulat kecil. Dalam hatinya, ia tertawa remeh. Ya, kamu memang bodoh Kak. Bisa-bisanya ketipu adik sendiri!!


"Tambang batu bara, satu hotel dan satu mall di Orchard, serta resort dan mansion di Bali akan Kakak serahin sama kamu. Lalu pembagian dividen laba saham 10% dari perusahaan induk per 1 tahun sekali. Apa segitu cukup?" tanya Daniel.


Mendengar rentetan aset keluarganya yang akan diserahkan untuknya membuat Farrel tanpa sadar meneguk ludah.


Bayangan uang milyaran rupiah yang akan mengalir ke rekeningnya langsung menghiasi kepalanya.


"Kurang?" Daniel bertanya lagi karena Farrel hanya diam.


"Nggak Kak. Segitu udah cukup," jawab Farrel dengan ekspresi yang dibuat setenang mungkin. "Tapi Papi —"


Daniel mengangkat sebelah tangannya, "itu urusan Kakak. Udah cukup selama ini kamu menderita dan kesusahan seorang diri," Daniel menjeda kalimatnya. Manik coklatnya menatap lekat adik satu-satunya itu.


"Maafin Kakak yang dulu nggak pernah peduli sama keadaan kamu. Kamu nggak salah apa-apa tapi Kakak benci dan bahkan mengucilkan kamu. Nggak ada anak yang bisa memilih orang tuanya. Seharusnya Kakak mikir seperti ini dari dulu. Sekali lagi maafin Kakak ya, Rel," ungkap Daniel tulus. 


Tapi kemudian, ia tersenyum getir ketika menyadari sesuatu.


Seandainya aku nggak berpura-pura lumpuh, apa kata maafmu akan terucap, Kak?


"Ngomong-ngomong, Kakak mau ngomong serius sama kamu!" sentakan Daniel menyadarkan Farrel dari lamunannya.


Lelaki itu kebingungan karena Daniel tiba-tiba mengambil posisi duduk sembari bersedekap di sofa tunggal. 


"Ada apa Kak?" cicit Farrel takut. Jantungnya mulai berdegup kencang. Terlebih mata Daniel tengah mengunci tajam iris cokelatnya seolah ingin menghunusnya.


Mampus lah gue! Jangan bilang Kak Daniel udah tahu soal kaki gue yang normal? Sial, gue mesti bikin alasan apa? Apa gue nga —


"Apa kamu tahu kalau sekarang Papi ada disini juga?"


Pertanyaan Daniel membuat hiruk pikuk di kepala Farrel berhenti begitu saja. Lelaki itu mengangkat kepalanya dan tertegun memandang sang Kakak.


"Kamu beneran nggak tahu?" Tanya Daniel saat menangkap raut bingung yang tercetak jelas di wajah adiknya. "Ck! Makanya Kakak bilang sabar dulu!" gerutunya.


Daniel menyugar kasar rambutnya. "Gara-gara kamu nyamperin Bianca, sekarang dia jadi incaran Papi!"


Netra Farrel melotot lebar. "Ka – kakak serius? Terus gimana keadaan Bian sekarang? Apa Papi nyakitin dia?" serunya cemas. Wajahnya pucat pasi memikirkan keselamatan Bianca. 


Pantas Bianca memblokir nomornya. Rasa bersalah semakin menelungkup hatinya. Lelaki itu tahu bagaimana watak bengis sang Ayah. 


Farrel akan mengutuk dirinya sendiri jika sampai Bianca jadi terluka karena ulahnya.


"Temanmu — si Bianca itu, pacarnya Mahesa?" tebak Daniel. 


Farrel mengangguk.


Mulut Daniel membulat kecil, "ooo.. baguslah. Kita bisa tenang kalau gitu. Papi mesti mikir ribuan kali kalau berniat celakain Bianca." Daniel merogoh ponselnya dari kantong celana lalu menatap foto Bianca yang ia ambil secara diam-diam.


"Cantik…" gumamnya lirih yang terdengar juga di kuping Farrel.


Alis Farrel mengernyit melihat Daniel tersenyum kecil sembari menatap layar ponselnya.


"Ngomong-ngomong, gimana perkembangan terapi mu? Belum ada kemajuan juga?" tanya Daniel bingung. "Ini udah lumayan lama, loh," tambahnya seraya memperhatikan kaki jenjang Farrel.


Farrel terkesiap. Lelaki itu buru-buru berdeham, mengalihkan pandangan Daniel agar tak terpaku menatap ke bawah.


"Lumayan Kak. Menurut dokter, yah sekitar 55% lah," jawab Farrel sambil memasang ekspresi sendu. Dia melirik ke arah sang Kakak. Mengamati sekilas raut wajah Daniel yang sulit ia artikan.


"Tapi seenggaknya aku bisa lah jalan dikit-dikit. Nggak kaku banget kayak dulu," cengirnya senang. Ia berusaha keras menghilangkan rasa gugup mengingat kebohongannya bisa terbongkar kapan saja.


Daniel hanya terdiam, memandang Farrel dengan tatapan dalam, baru kemudian beranjak berdiri.


"Kakak balik ke kamar dulu." Daniel menahan bahu Farrel agar tetap duduk di tempatnya. "Enggak usah diantar. Nanti malam kita bahas lagi rencanamu. Apa kamu masih pengen disini atau pulang ke rumah kita."


Mendengar kata 'rumah', tanpa sadar Farrel tersenyum smirk.


Rumah kita? Cih, itu rumah kalian, bukan rumah gue!!


"Kalau kamu masih mau tinggal disini, Kakak temani. Atau kalau perlu kita datangi Neta secara baik-baik. Kakak kangen juga sama anak itu. Entah, apa dia masih ingat Kakak atau enggak…" Daniel mengenang kenangan masa kecilnya, di saat dulu Benjamin masih menjalin hubungan dengan Cassandra. 


Kala itu, Cassandra kerap membawa Ganeeta kecil ke lokasi syuting. Daniel yang sangat menginginkan seorang adik perempuan — tentu sangat mendukung hubungan Ayahnya.  


Sayangnya, hubungan tersebut tidak berjalan lancar dan berakhir dengan kepulangan Cassandra ke Indonesia bersama Ganeeta.


"Kamar Kakak ada di seberang kamarmu. Kalau butuh apa-apa, kabarin Kakak." 


Farrel hanya mengangguk, mengamati punggung sang Kakak yang perlahan menjauh.


Tetapi di ambang pintu, tiba-tiba Daniel berbalik. Farrel mengernyit bingung.


"Kamu tahu Rel? Kalau waktu bisa diputar, Kakak ingin kembali ke masa remaja kita. Kakak mau kita main bola bareng, main game bareng. Ngajarin kamu main gitar… Maybe, ngerasain juga jadi Kakak laki-laki yang bisa kamu ceritakan dengan bangga di depan teman-teman sekolahmu," ujar Daniel sambil tersenyum seraya menutup pintu.


Deg.


Mendadak, tubuh Farrel menegang. Ada gelanyar aneh yang tiba-tiba mengetuk sanubarinya.


Walau sedetik dan hanya sekilas, tetapi Farrel dapat merasakan senyum hangat dari seorang Kakak yang selama ini hanya bisa dibayangkan olehnya.