
Bianca menepuk-nepuk pipinya. Lalu mematut wajahnya di cermin wastafel. Hembusan nafasnya terdengar seiring gerakan pernapasan yang sedang ia lakukan.
Exhale. Inhale.
Bianca lalu merogoh dalam tasnya dan mengambil lipstik berwarna nude lalu memoles bibirnya sedikit. Setelah memastikan penampilannya oke, Bianca gegas keluar menuju taman belakang.
Disana sudah ada Cassandra. Wanita paruh baya itu tersenyum menyambut Bianca.
"Ayo duduk, Bian. Tante sudah nyiapin teh bunga. Mahesa pernah ngasih tahu Tante, kalau kamu suka teh bunga." Cassandra membawa Bianca duduk di salah sofa yang ada di ruang kaca taman belakang.
Bianca menggangguk kikuk. "Tapi saya juga suka minum teh biasa kok Tan. Jadi ngerepotin Tante kalau gini," ujarnya sungkan.
Cassandra mengibaskan tangan ke udara. "Nggak kok. Ini emang udah ada di dapur. Sebenernya dari dulu Tante penasaran gimana rasanya teh bunga. Sampai bela-belain beli. Cuma berhubung si Om nggak suka teh, jadi maju mundur terus mau nyoba. Mana enak kan nge-teh sendirian?" ujar Cassandra geli.
Bianca tertawa. Tapi kemudian wanita itu nampak panik ketika Cassandra menyeduh teh untuknya. "Biar saya aja Tan."
Cassandra menggeleng, "jangan dong. Kamu cukup liatin Tante. Sekalian ajarin Tante gimana cara seduh yang benar," sergahnya lembut.
Bianca tak mampu berkata apa-apa lagi dan membiarkan Cassandra membuat sendiri racikan blossom tea. Meski tersenyum, nyatanya Bianca sedang sibuk memaki Mahesa di dalam hatinya.
Pria itu sungguh keterlaluan. Tiba-tiba mengajak ke rumah orang tuanya, membawanya duduk di sofa ruang tamu, lalu memanggil Cassandra dan kemudian melenggang pergi bersama Daniel. Semuanya terjadi begitu cepat. Saking cepatnya, otak Bianca bahkan tak sempat tuk memproses.
Ini memang bukan kali pertama Bianca bertemu Cassandra. Tetapi saat itu situasinya berbeda, ada Mahesa yang menemaninya.
Bukan seperti sekarang.
Dimana Cassandra menatapnya dengan pandangan intens dan ekspresi antusias.
Cassandra sedang menunggu penilaian Bianca layaknya finalis MasterChef.
Tatapan penuh Cassandra terasa menembus kerongkongan Bianca sehingga membuatnya kesulitan meneguk.
Glek.
Setelah penuh perjuangan dan lidahnya berhasil merasai, Bianca lantas tersenyum. Ibu jarinya otomatis terangkat ke atas.
"Enak Tan. Rasio tehnya seimbang. Manisnya juga pas." Puji Bianca jujur.
Cassandra mengerjap. "Beneran enak? Hmm.. Kamu muji Tante bukan karena mau nyenengin aja, kan?" tanyanya ragu.
"Enggak kok Tan. Racikan yang Tante bikin sama kayak yang biasa saya buat juga."
Cassandra tersenyum. Dia ikut mencicipi teh buatannya. Lalu mengangguk setuju.
Setelahnya, obrolan ringan pun mengalir di antara keduanya. Selama mengobrol, diam-diam Cassandra memperhatikan gerak gerik Bianca. Apalagi ketika dia sengaja membahas sedikit persoalan Ganeeta dan Dewa.
Cassandra hanya ingin memastikan jika Bianca sudah tak lagi menyimpan dendam kepada anak dan menantunya.
"Sepertinya Bianca baik-baik aja. Dari tadi dia nggak keganggu sama omonganku. Syukurlah. Aku jadi tenang merestui hubungan mereka," batin Cassandra lega.
************
"Nah, kalau ini jaman Mahesa sekolah. Pernah suatu waktu dia kecelakaan motor. Sampai patah tulangnya. Tante kira bakalan kapok naik motor. Eh begitu gips-nya dilepas, turun lagi ke jalan. Ampun deh." Cassandra berdecak gemas sambil menggelengkan kepala. Teringat kebandelan khas anak remaja yang pernah dilakukan Mahesa.
Bianca tertawa kecil seraya memperhatikan lagi foto-foto Mahesa. Ada dua album foto yang dikeluarkan Cassandra. Wanita paruh baya itu nampak antusias bercerita. Sementara Bianca mendengarkan dengan penuh minat.
Interaksi keduanya rupanya diamati Mahesa yang sejak semenit tadi bersembunyi di balik guci-guci besar milik Ibunya.
Mahesa mengulum senyum dan membiarkan Cassandra mengoceh. Namun begitu sang Ibu mulai menyerempet ke arah Ganeeta, Mahesa buru-buru keluar dari persembunyiannya.
"Seru banget kayaknya.." ledek Mahesa geli sambil berjalan mendekati Cassandra. "Ngobrolin apa sih?"
Cassandra terkejut namun sedetik kemudian, ia melotot kesal. "Bener-bener ya kamu, Sa. Dari mana sih kamu?! Main pergi gitu aja! Mana Bianca-nya kamu tinggalin. Kalau tadi nggak ada Mama di rumah, gimana coba?" Cassandra meluapkan kekesalannya yang sejak tadi ditahannya.
Padahal Cassandra sudah berjanji tidak akan mengoceh di depan Bianca. Dia ingin memberikan image yang bagus. Tetapi melihat wajah putra sambungnya yang datang tanpa rasa bersalah, membuatnya lupa akan niatnya.
Cassandra sudah menyukai Bianca. Dia menginginkan Bianca jadi menantunya. Dan tindakan Mahesa barusan dianggapnya sangat keterlaluan.
Bianca yang duduk di samping Cassandra, ikut mengangguk-angguk setuju. Wanita itu bahkan berengut dan memberikan tatapan kesal.
Awas kamu ya Babe. Aku bakalan ngambek 3 hari 3 malam.
Mahesa nyengir. Sebenarnya tadi Mahesa memang ingin mengajak serta Bianca menemui Daniel. Tapi saat melihat gelagat Daniel, dia urung melakukannya.
Sebagai pria dewasa, Mahesa paham makna tersembunyi dari tatapan Daniel pada Bianca.
Mirip seperti mata Dewa.
Mahesa gelisah menyadari banyaknya lalat di sekitar Bianca.
Ck. Susah banget punya calon istri banyak yang naksir. Kayaknya harus buru-buru dihalalin.
"Malah bengong! Kamu dengerin Mama nggak sih?" sentakan Cassandra mengejutkan Mahesa. Ditambah colekan berbalut cubitan kecil yang sukses mengundang kegaduhan dari bibir Mahesa.
"Aduh. Iya Mah iya… Lain kali Mahes nggak gitu lagi. Mahes bakal bawa Bianca kemana-mana. Eh tapi kalau Mahes mau tidur gimana? Mahes boleh bawa ke …. Aww!!"
Kali ini giliran tangan Bianca yang mencubit pinggangnya.
************
"Baby….."
Bianca menengok acuh. Dia melirik Mahesa tanpa berniat membuka mulutnya.
"Baby. Maafin aku dong. Jangan kelamaan ngambeknya. Aku kan udah jelasin tadi kenapa ninggalin kamu sama Mama. Beneran deh, aku udah niatan bawa kamu cuma ya itu…." keluh Mahesa frustasi.
Bianca mencebik. Lalu memalingkan wajah ke jendela di sisi kirinya. Alasan Mahesa belum bisa diterimanya.
Memangnya secantik apa dia sampai Daniel bisa terpesona dengannya?
"Baby….." tak pantang menyerah, Mahesa terus merayu Bianca.
Jengah, Bianca akhirnya menyahut. "Apaaa?"
"Nonton yuk. Sekalian ngedate." Alis Mahesa naik turun menggoda Bianca.
"Nggak bisa. Aku besok ada orderan cake. Kamu minta temenin Liam gih."
Liam adalah asisten Mahesa sekaligus orang kepercayaan Mahesa. Bianca baru mengenalnya sepekan lalu. Itu pun setelah Liam mengantarkan kiriman Mahesa ke tokonya.
Mahesa berengut. "Tega banget nyuruh aku nonton sama Liam."
Bianca tertawa kecil.
"Babe, kenapa?" tawa Bianca seketika memudar melihat wajah tegang Mahesa. Bianca pun menengok ke belakang karena Mahesa terlihat gelisah sambil terus melirik kaca spion.
"Kita diikutin," ujar Bianca cemas.
Mahesa mengangguk dan mengumpat pelan. Sejak keluar dari jalan Senopati, Mahesa menyadari ada mobil SUV putih yang mengikutinya.
"Baby, tolong hubungi Liam dari ponselku," pinta Mahesa yang gegas dilakukan Bianca.
"Iya, Pak." Suara Liam langsung terdengar begitu Bianca menekan tombol dial.
"Saya di Tubagus Angke. Ada mobil yang dari tadi ngikutin saya. Catat platnya B 12345 CD. Rush, warna putih," papar Mahesa. "Sekarang saya jalan ke arah markas. Suruh anak-anak cegat mobil itu di tugu."
"Siap. Hati-hati Pak. Saya otw ke markas juga."
Klik.
Sambungan pun terputus bersamaan dengan kernyitan di dahi Bianca.
Markas? Anak-anak? Apa maksudnya?
"Baby, aku boleh minta tolong sekali lagi?" Mahesa melirik Bianca. Lalu mengusap puncak kepala Bianca dengan tangan kirinya.
"A-apa Babe?" Bianca merasa jantungnya berdebar. Bukan karena sentuhan Mahesa melainkan karena firasatnya yang mendadak gelisah.
"Tolong tutup mata kamu. Jangan buka sebelum aku suruh."
"Mak - maksudmu?"
"Kamu percaya aku kan?"
Bianca mengangguk.
Mahesa mengulum senyum lalu mengecup jemari Bianca.
"So please, close your eyes…"