Second Chance

Second Chance
Chap 44



Bian berbalik menghadap Yerim “sekali saja kau menyentuh keluargaku, maka kau akan merasakan apa yang mereka rasakan, bahkan berkali-kali lipat lebih menyakitkan” ujarnya 


Yerim terkekeh sisnis, gadis itu maju selangkah untuk semakin dekat dengan Bian, ia berjinjit untuk kemudian berbisik tepat disamping telinga Bian “apa kau pikir aku akan takut Oppa? Aku adalah Lee Yerim, aku selalu mendapatkan apapun yang aku mau. Aku tidak peduli bagaimanapun caranya dan apapun resikonya”


Tangan Bian semakin terkepal erat, sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran Yerim. Gadis itu benar-benar sudah gila. Saat Bian akan menjawab Yerim pintu lift sudah lebih dulu terbuka dan Yerim pun segera keluar untuk menuju ruang divisi mereka. 


Siang ini Bian dan Yerim serta beberapa anggota dari divisi lain mengikuti meeting bersama atasan mereka yang tak lain adalah paman dari Yerim, mereka sedang membahas tentang kerjasama yang diajukan salah satu buyer yang akan bekerjasama dengan mereka


“Bian-ssi, setelah ini pergilah temui Tuan Shim untuk membahas tentang konsep seperti apa yang mereka inginkan untuk produk minuman ini. Dia meminta untuk bertemu di luar” pinta Lee Sajangnim


“Nde Sajangnim” jawab Bian


“Dan ajak Yerim ikut serta bersamamu”  tambah Lee Sajangnim


Bian membulatkan matanya. Apa apaan ini, kenapa Lee Sajangnim memintanya untuk pergi bersama Yerim, padal hal tersebut bukan tugas dari Yerim. Untuk masalah seperti ini bukankah seharusnya ia pergi bersama salah satu anggota dari divisi pemasaran? Tapi kenapa ia juga harus mengajak Yerim. 


“Tapi Sajangnim…” baru saja Bian akan melayangkan keberatannya, tapi Lee Sajangnim lebih dulu memotong


“Yerim anggota baru, jadi dia harus banyak belajar dan kau adalah orang yang tepat untuk mendampingi dan mengajari Yerim” tukas Lee Sajangnim


Inginnya Bian membalas permintaan Lee Sajangnim, namun hal itu harus ia telan kembali saat ia menyadari bahwa kini bukan hanya mereka yang ada di ruangan tersebut.


“Nde Sajangnim” jawab Bian


Yerim mengembangkan senyumnya mendapati jawaban dari Bian, dan semua itu tak lepas dari pandangan Bian.


Siang ini Karina sudah bersiap untuk menjemput Hana, ia berencana mengajak Hana untuk makan es krim setelah pulang sekolah. Beberapa hari lalu putri kecilnya itu meminta untuk makan makanan dingin berbahan susu itu, Karina tidak langsung mengiyakan permintaan Hana karena memang belum saatnya bagi Hana untuk makan Es krim, dan dikarenakan hari ini sudah lebih dari satu minggu Hana tidak makan Es krim maka Karina berencana untuk mengabulkan permintaan sederhana dari gadis kecilnya itu


“Yeoboseyo, Eodigga?” Tanya Karian pada seseorang di seberang sana


“Aku sedang berada di restoran untuk makan siang dengan rekan kerjaku. Kau sendiri dimana?” Tanya Bian


“Aku sedang dalam perjalanan untuk makan siang. Aku baru saja menjemput Hana, aku pikir kau belum makan siang jadi aku berencana untuk mengajakmu makan siang bersama anak-anak. Aku berencana untuk mengajak Hana makan Es Krim” jelas Karina


“Mian” balas Bian ia merasa buruk saat menolak ajakan Karina untuk makan siang bersama


“Gwaenchanha. Ya sudah aku tutup dulu, aku dan anak-anak sudah sampai”ujar Karina


“Em, bila sempat aku akan menjemput kalian” ujar Bian


“Tidak perlu Bian-ah, aku dan anak-anak akan mampir ke taman dulu sebelum pulang”


“Eoh, kalau begitu hati-hati saat pulang nanti. Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu Arraseo?” pesan Bian


“Arra, kalau begitu aku tutup dulu” ujar Karina


“Nde Saranghae Karina-ya” 


“Nado” setelahnya Karian benar-benar mengakhiri panggilan tersebut


Sementara itu kini Bian sedang berada di salah satu restoran spaghetti bersama Yerim, Bian tidak tahu kalau kliennya itu meminta untuk bertemu di restoran. Setelah semua meeting tersebut selesai Tuan Shim dan anggotanya kembali ke kantor begitu juga dengan anggota dari divisi pemasaran. Inginnya Bian juga begitu segera kembali ke kantor setelah segala urusannya selesai, tapi hal itu urung ia lakukan ketika Yerim menhannya disana. Gadis itu mengatakan ingin membicarakan hal penting jadi mau tidak mau ia harus mengikuti keinginan Yerim kali ini.


“Ye” jawab Bian singkat


“Appa” panggil Hana saat mendapati Bian dari seberang Café yang mereka kunjungi


Karina menoleh setelah mendengar panggilan Hana, ia mengikuti arah pandang Hana. Dan setelah mendapatkannya dahi Karina mengernyit, siapa wanita yang bersama Bian saat ini. Apakah wanita itu adalah rekan kerja yang Bian maksud? Tapi kalau rekan kerja mengapa wanita itu mengusap-usap lengan Bian? Kin berbagai pertanyaan menghinggapi pikirannya


“Eomma siapa yang bersama Appa?kenapa dia memegang lengan Appa?”Tanya Hana dengan polosnya


Karian terdiam tidak tahu harus menjawab apa, karena saat ini ia juga belum tahu siapa wanita itu. 


“Dia rekan kerja Appa sayang. Dia mengusap lengan Appa mungkin karena ada kotoran disana” jelas Karina


Hana mengangguk mendapati jawaban dari Eommanya itu, ia kemudian mengalihkan pembicaraan


“Hana-ya, Kajja kita masuk. Bukannya tadi kau bilang ingin segera makan Es krim” hibur Karina saat melihat wajah sendu Hana masih menatap Appa nya


Mendengar kata Es krim wajah gadis kecil itu kembali berbinar, ia mengangguk antusias


Karian kembali menoleh pada Bian sebelum menuntun Hana untuk masuk ke dalam Cafe


‘Bian-ah, semoga apa yang aku pikirkan ini tidaklah benar’ batin Karian   


Sementara itu, Bian mulai jenuh dengan keheningan Yerim, setelah tadi gadis itu dengan kurang ajar mengusap lengannya dengan alasan membersihkan kotoran yang ada disana


"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku akan pergi sekarang" ujar Bian bersiap untuk bangkit dari kursinya


Yerim menahan tangan Bian "Oppa, kau mau kemana?" Tanyanya


Bian melepaskan tanga Yerim "aku akan menyusul anak dan istriku. Aku akan makan bersama mereka" ujarnya


Yerim meradang mendengar jawaban Bian "kau tidak boleh pergi Oppa. Tetap disini dan temani aku makan" ujarnya tegas


Bian menatap Yerim datar "wae? Kau bukan siapa-siapa yang bisa mengaturku. Ingat kau hanya sebatas rekan kerjaku, tidak lebih baik itu sekarang, nanti dan selamanya" ujarnya. Bian beranjak dan pergi dari sana, namun langkahnya harus terhenti ketika ia mendengar suara Yerim


Yerim semakin meradang "berhenti kubilang Oppa. Sekali lagi kau melangkah maka, aku tidak akan segan untuk melukai keluargamu" ujarnya


Bian menoleh "lakukanlah, kau pikir aku takut. Lakukan semaumu, dan aku pun akan melakukan segala cara untuk melindungi mereka. Aku juga tidak akan segan-segan untuk melukaimu" setelahnya laki-laki benar-benar pergi meninggalkan Yerim


.


.


.


TBC


See you next Chapture😊