Second Chance

Second Chance
Dua Puluh Delapan



 


Kupikir penjelasan panjang lebarku kepada Angga tentang hubunganku dengan Dio sudah dimengertinya dengan baik. Ternyata aku salah. Ekspresi kesalnya tetap dapat kutangkap saat  mendapati Dio berada di rumahku ketika dia datang. Sekarang tidak jelas siapa yang lebih kekanakan di antara mereka berdua.


“Mengapa dia harus selalu ke sini?” tanyanya ketika kami hanya berdua.


Mana aku tahu? Memangnya aku bisa masuk dalam pikiran Dio?


“Kalau dia bosan di rumahnya,” Angga melanjutkan, “dia bisa ke rumah temannya yang lain, atau ke mal, atau entahlah. Ada banyak tempat lain yang bisa dia datangi selain rumah ini.”


Aku bukan orang paling sabar di dunia. Sejujurnya, emosiku gampang sekali terpancing. “Bagaimana kalau aku menyuruhnya memindahkan rumahnya ke Mars? Dengan begitu dia akan sulit main ke sini. Sepertinya jaraknya Mars dan rumah ini cukup jauh.”


Angga menatapku sebal. “Aku serius, Ra.”


“Aku juga tidak main\-main, Kak. Kupikir Kak Angga sudah move ondari topik Dio. Dia tidak lebih daripada sekadar masa lalu. Kita sudah membicarakannya. Kita tidak perlu mengulangi pembicaraan soal Dio setiap minggu, kan? Dia tidak sepenting itu untuk hubungan kita.”


“Dia mantanmu, Ra. Terlihat sama sekali tidak berniat melepasmu. Dan meskipun tidak ingin, itu membuatku khawatir. Kamu lebih sering bertemu dengannya daripada denganku.. Karang yang kokoh saja bisa berlubang bila terus\-menerus diempas ombak.”


Kekhawatiran Angga berarti bahwa dia mencintaiku. Namun, juga berarti dia tidak cukup percaya kepadaku. Dan itu menyebalkan. Tidak nyaman menghabiskan pertemuan untuk membahas kecemburuannya pada Dio.


“Aku tidak bisa pergi ke masa lalu dan menghapus bagian Dio dalam hidupku, Kak. Aku harap aku bisa supaya kita tidak perlu ribut soal dia. Tapi aku tidak bisa. Tidak bisakah Kak Angga percaya kepadaku saja? Itu akan lebih mudah untuk hubungan kita.”


Kalau sudah begitu Angga akan menarikku dalam pelukannya. “Aku benar\-benar minta maaf, Ra. Aku hanya tidak suka kepadanya.”


Dan aku akan segera melupakan kekesalanku. “Aku akan menanyakan pada Dio, apakah dia mau bunuh diri supaya tidak akan membuatmu cemburu lagi.”


 “Hidupku akan lebih mudah kalau aku tidak jatuh cinta padamu,” gerutu Angga. “Aku tidak suka merasa cemburu dan waswas seperti ini, tapi aku juga tidak bisa membayangkan hidup tanpa kalimat sarkasmu.”


Aku tidak tahan untuk menggodanya. “Belum terlambat untuk melepaskan diri. Aku yakin ada banyak gadis lain yang akan mengantre untuk Kak Angga pilih.”


“Enak saja. Jangan pernah berpikir bisa melepaskan diri dariku, ya. Kamu tahu apa hukuman untuk gadis yang sudah membuatku jatuh cinta? Dia akan terjebak bersamaku. Selamanya. Tidak ada jalan keluar. Jadi, jangan mimpi bisa lepas dariku.”



Mama berkali\-kali melihatku di antara suapannya. Mencurigakan. Mama tidak pernah seperti itu.


“Ada apa, Ma?” tanyaku akhirnya. Aku tidak bisa menahan penasaran lebih lama.


Mama akhirnya menyingkirkan piringnya ke samping. Wajahnya tampak serius. “Angga ingin tahu kapan keluarganya bisa datang bertemu keluarga kita.”


Aku ikut melepas sendok. “Kak Angga bicara sama Mama? Kapan?” Aku tidak ingat Angga pernah menghabiskan waktu untuk bicara serius dengan Mama.


“Kemarin saat kamu mandi. Sebelum kalian keluar.”


Angga tidak pernah bicara soal pertemuan keluarga kepadaku. “Kami belum membicarakannya,” kataku ragu. Pacaran itu satu hal. Mempertemukan keluarga adalah hal yang lain. Itu menuju komitmen seumur hidup. Bukan hal yang bisa dibuat main\-main. Setidaknya, aku melihatnya begitu.


Harus kuakui, itu langkah pintar. Angga tahu aku lebih sulit mendebat Mama daripada dia.


“Hubungan kami baru saja dimulai, Ma.” Aku yakin mencintai Angga. Hanya saja, usia  hubungan kami belum cukup umur untuk naik tahap ke pernikahan.


Mama mengulurkan tangan ke seberang meja untuk menggenggam tanganku. “Kamu tahu, Ra, usia hubungan sebelum memasuki pernikahan tidak ada kaitannya dengan kelanggengan. Yang penting adalah orang yang menjalaninya. Angga terlihat yakin kepadamu. Itu cukup.”


“Tapi, Ma….”


“Kamu menerima Angga karena mencintainya juga, kan? Itu jauh lebih baik. Menemukan orang yang mencintai dan bersedia menjagamu seumur hidup bukan hal mudah. Cinta menggebu mungkin akan kehilangan pendar dalam perjalanan hidup, tapi rasa sayang yang muncul dari tanggung jawab akan bertahan. Tanggung jawab, itu yang Mama lihat ada pada Angga. Mama bukan cenayang yang bisa membaca takdirmu, Ra, tapi Mama percaya Angga takkan mengecewakan kepercayaan yang kamu berikan kepadanya.”


“Tapi, Ma….” Aku masih ingin bertahan.


“Mama sama sekali tidak mengenal papamu ketika menikah dengannya. Dia terpaksa menikahi Mama menggantikan adiknya. Tanpa cinta. Itu benar\-benar hubungan yang sulit pada awalnya. Tapi dia bertanggung jawab. Pasti tidak mudah baginya memulai rumah tangga dengan  seorang perempuan hamil yang kejiwaannya labil. Tapi papamu tidak pergi. Dia bertahan, meskipun Mama tidak pernah bersikap ramah padanya. Dia tidak beranjak sedikit pun ketika Mama berusaha keras membuatnya pergi.” Mama terdiam sejenak. Pandangannya menerawang. Ada air di sudut matanya. Ada rasa cinta yang bisa kutangkap. “Bagaimana Mama tidak jatuh cinta kepadanya? Dia bahkan tidak butuh alasan untuk mencintaimu saat Mama bahkan menjaga jarak denganmu. Kita perempuan, Ra. Selalu gampang luluh oleh perhatian dan tanggung jawab. Mama melihat Angga seperti itu. Jadi, jangan meminta dia menunda untuk menjadi laki\-laki dalam hidupmu.”


Melihat Mama membicarakan Papa seperti ini, aku dapat menduga betapa dalam perasaannya kepada Papa. Ini sisi lain dari Mama yang baru aku tahu. Sepanjang ingatanku, Mama lebih banyak diam dan dingin. Papa yang selalu harus bicara lebih dulu. Papa yang selalu tertawa dan menggoda untuk memancing senyum Mama.


“Aku belum siap, Ma,” aku mengutarakan ketakutanku. Itu benar. Pacaran dan menikah itu sangat berbeda.


“Bayangkan kondisi Mama saat itu, Ra. Hal terakhir yang Mama inginkan adalah menikah dengan pria dari antah berantah karena Mama hamil. Tapi Mama dan Papa bisa mengatasinya. Itu pelajaran penting. Jadi Mama mohon, jangan mendorong kebahagiaanmu menjauh.”


Aku memikirkan kembali percakapan dengan Mama menjelang tidur. Tidak bisa kumungkiri kalau Mama benar dalam banyak hal. Hubunganku dengan Angga memang belum lama. Namun, aku sudah cukup mengenalnya sejak pertemuan kami. Dia orang yang bertanggung jawab. Fokus kepadaku. Hal yang tidak mungkin dilakukannya adalah menebar pesona ke mana\-mana karena dia menciptakan jarak yang jelas untuk orang yang tidak diinginkannya mendekat. Aku sudah pernah merasakannya sendiri.


Namun, merasa takut juga alami. Kalau aku mengizinkan Angga melamarku, maka dalam waktu singkat kami akan menikah. Itu langkah besar. Aku butuh persiapan mental. Aku aku belum siap. Tidak dalam waktu dekat. Hubunganku dengan Angga jelas lebih mudah daripada hubungan Mama dan Papa, tapi tetap saja… arrggh, ini membingungkan.


Aku memutuskan menghubungi Maya sebelum membicarakannya dengan Angga. Aku butuh pendapat orang\-orang yang dekat denganku.


“Apa masalahmu?” potong Maya pada penjelasanku. “Apa yang harus dipikirkan? Dengan profesinya, kalian jelas tidak akan kelaparan. Dengan tampang seperti itu, dijamin kamu tidak akan bosan menatapnya. Badannya benar\-benar mengundang minta dipanjat. Dan hanya kamu yang diizinkan menggerayanginya. Kalau otakmu cukup besar, kamu akan tahu kalau dia orang yang tidak bisa ditolak. Seberapa sulit mengucapkan kata ‘iya’ pada ajakannya menikah?”


Ternyata aku salah memilih orang untuk membicarakan Angga. Perbedaan pendapat Mama dan Maya hanya pada bagian kalimat mesum saja.


“Ini keputusan seumur hidup.” Aku berusaha mengembalikan fokus Maya.


“Karena itu keputusan seumur hidup, maka kamu harus menerimanya. Tidak setiap hari seseorang seperti Angga berlutut dan memintamu menurunkan kolornya.”


Aku mendesah dan memutar bola mata. “Dia memintaku menikah, May, bukan menurunkan kolornya. Dia sudah menurunkan kolornya sendiri selama tiga puluh tahun, aku yakin dia sudah sangat ahli. Dia tidak butuh seseorang untuk membantunya menurunkan kolor.”


“Itu intinya dia memintamu menikah, Ra. Supaya dia tidak perlu menurunkan kolornya sendiri. Dia pasti sudah capek melakukannya selama tiga puluh tahun. Dia akan senang sekali kalau kamu bisa membantu melakukannya.”


Ya ampun!