
Ganeeta keluar dari kantor Dewa dengan perasaan tak menentu. Sedih, kecewa dan sakit hati bercampur merajai hatinya.
Baru semenit lalu ia berkeinginan mempertahankan rumah tangganya, tetapi nampaknya hal itu semakin sulit ia gapai.
Dewa meninggalkannya di tengah perbincangan mereka. Dewa pergi karena seseorang mengirimkan foto Bianca dan Mahesa beserta pesan bahwa Mahesa hendak menikahi Bianca.
Sakit? Tentu.
Ganeeta bahkan ingin menangis dan menahan Dewa, jika saja tak ingat lelaki itu akan semakin membencinya.
Sambil mengusap matanya yang berair, Ganeeta mengemudikan mobilnya menuju butik miliknya.
************
Sementara itu Dewa berjibaku membelah jalanan ibukota yang ramai. Dia terburu-buru dan mulai tidak sabaran.
Sumpah serapah dan bunyi klakson menjadi teman perjalanannya sepanjang sore itu.
Sesampainya di toko kue Bianca, lelaki itu bergegas turun. Sebelum masuk, ia mengamati area parkir terlebih dulu. Ketika mendapati mobil Bianca berada disana, Dewa bergegas mendorong pintu masuk toko berbahan material kaca transparan.
"Selamat datang," sapa Latan ramah.
Dewa hanya mengangguk. Lalu menyebutkan pesanannya.
"Hot Americano dan Choco Muffin 1."
"Makan disini, Pak?" tanya Latan.
Dewa memindai toko sejenak dan melihat ada satu meja yang kosong. Dia pun lekas mengangguk.
"Bianca ada?" tanya Dewa sambil memperhatikan Latan.
Latan yang tengah mengambilkan pesanan Dewa, seketika menghentikan aktivitasnya lalu mengangguk takzim, "ada Pak."
"Bisa tolong panggilkan?"
Latan mengamati Dewa sejenak. Matanya memincing. Dia pernah melihat pelanggan ini sebelumnya.
Tapi pria ini kan bukan pelanggan tetap, kenapa ingin ketemu Mba Bianca?
Menyadari tatapan kecurigaan Latan, Dewa menghela napas pendek.
"Saya —" Dewa menjeda sedetik, "mantan suaminya," imbuhnya dengan nada penuh keyakinan.
Latan sontak melotot lebar. Remaja beranjak dewasa itu gegas mengangguk dan beranjak ke dapur setelah menyelesaikan pesanan Dewa.
"Mba….." panggil Latan. "Eh, Mba Bianca maksudnya," Latan menggaruk pelipisnya karena melihat Meta, Sika dan Bianca kompak menoleh berbarengan.
"Kebiasaan! Kalau manggil tuh yang lengkap!" sungut Sika sembari beranjak ke depan.
Latan hanya nyengir.
"Kenapa, Tan?" tanya Bianca. Wanita itu sibuk membentuk adonan kulit pastry. Tangannya belepotan tepung. Pun fokusnya sedang terbagi antara adonan kulit dan oven yang menyala.
"Itu di depan ada mantan suami Mba Bian."
"Ha?" alih-alih Bianca, justru Meta yang terkejut. Wanita itu memandang intens Latan guna memastikan pendengarannya tak bermasalah.
"Mantan suami Mba Bian?" ulang Meta.
Latan mengangguk, "iya, kalau gak salah, dulu sempat kesini juga. Pas toko mau tutup, bener nggak Mba Bian?" tanya Latan pada Bianca.
Bianca mendesah pelan. Ingatan Latan memang patut di acungi jempol, padahal kejadian itu sudah cukup lama berlalu.
"Dia sendirian?" tanya Bianca. Wanita itu masih berdiri di depan meja kerjanya, belum berniat melepas apron atau bergeser dari tempatnya.
Lagi-lagi Latan mengangguk.
Bianca terdiam sesaat. Namun detik berikutnya dia melepas apronnya lalu mengibaskan noda tepung yang kebetulan menempel di wajahnya, sebelum akhirnya melangkah ke depan.
************
Kening Bianca berkerut mendengar ucapan Dewa. Dia nampak bingung namun dengan cepat menormalkan kembali raut wajahnya.
"Itu urusanku mau menikahi siapa. Mas udah gak punya hak untuk ikut campur!" tegas Bianca, "kita udah lama bercerai, kalau kamu lupa."
Dewa mendesah. "Mas tahu, tapi kenapa mesti secepat ini Bi? Kalian baru aja kenal. Seenggaknya kamu pahami dulu watak dan sifatnya. Belum tentu setahun kemudian, sifatnya tetep sama. Bukannya Mas bermaksud jelekin Kak Mahesa, tapi Mas takut kamu kecewa."
Bianca tertawa sinis mendengarnya, "bener juga katamu, Mas. Yang udah kenal selama 4 tahun aja, masih bisa kecolongan," sindir Bianca. "Anyway makasih buat sarannya. Tapi aku yakin, Mahesa gak akan kayak gitu. Dan kalau pun iya, biar itu jadi resiko ku. Mas tenang aja, kali ini mentalku udah teruji sekuat baja," sarkasnya.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Bianca bangkit dari duduknya.
"Aku sibuk. Lain kali tolong jangan datang sesuka hati begini, Mas. Bersikaplah selayaknya pelanggan biasa. Aku nggak mau calon suamiku nanti salah paham," peringat Bianca tegas.
Dewa tertegun di kursinya. Lidahnya seakan kelu. Mendengar semua perkataan Bianca barusan, semakin menipiskan harapannya tuk dapat meraih Bianca lagi.
Dewa tersenyum miris membayangkan Bianca akan menikahi kakak iparnya.
Hah.
Apa takdir harus sebercanda ini?
************
Adzan Magrib berkumandang dari tv layar datar yang ada di lantai 2. Sean bergegas merapikan mainannya yang berserakan di karpet.
Bocah itu sudah dididik untuk berhenti bermain ketika adzan Maghrib terdengar. Setelah rapi, dia beranjak ke kamar mandi lalu ikut melaksanakan sholat berjamaah bersama Meta dan Bianca.
Tring.
Bianca baru melipat mukenanya saat ponselnya berbunyi. Dia membacanya kemudian bergegas turun.
Kunci pintu kaca ia buka, lalu folding door ia dorong sedikit hingga memungkinkan akses masuk seukuran orang dewasa. Nampak Mahesa sudah berdiri dengan seulas senyum lebar.
"Padahal tadinya aku mau masak loh," Bianca mengerling menatap kedua tangan Mahesa yang penuh kantong plastik putih.
Bianca hanya mengangguk. Hidungnya menghidu aroma harum rempah-rempah. Rasa lapar seketika menggelitik perutnya. Wanita itu lekas membawa Mahesa ke dapur.
"Kamu duduk aja Babe," cegah Bianca ketika Mahesa hendak membantunya menyusun makanan yang dibawanya.
Mahesa menggeleng, "biar ku bantu. Kamu bakalan repot. Soalnya banyak yang ku beli."
Bianca hanya tertawa dan membiarkan Mahesa membantunya menyusun makanan di atas piring dan mangkok.
Mahesa tak berbohong ketika mengatakan 'banyak yang ia beli', sebab dalam sekejap meja pantry dipenuhi aneka macam hidangan Chinese food.
"Astaga.. Babe. Kamu mau buka restoran?" tanya Bianca begitu menyadari penuhnya isi meja.
"Om Mahesa!!!" pekikan Sean dibarengi hentakan kaki kecilnya yang menuruni anak tangga terdengar sampai ke telinga Mahesa serta Bianca.
"Hati-hati, boy." Mahesa bergidik ngeri melihat kelakuan Sean. Bagaimana tidak ngeri, di akhir tangga, Sean melompati dua undakan sekaligus.
"Sean!!" Di belakang Sean, ada Meta yang juga menampakkan wajah khawatir menahan greget. "Udah mama bilangin, kalau turun tangga tuh satu-satu. Nanti kalau kamu jatuh, gimana?!" omelnya.
Sean tak mengindahkan ocehan sang Ibu dan berlari menghampiri Bianca. Mahesa membantu Sean naik ke salah satu stool bar.
"Woah, banyak makanan!" Sean berseru seraya bertepuk tangan mendapati makanan yang melimpah di atas meja. "Ini apa, Om?" tunjuknya.
"Ini ayam kung pao, ini fuyunghai, mapo tahu, udang goreng mentega. Terus ini buncis saus tiram, sapi lada hitam, capcay, baby kailan, gurame cabe bawang, lumpia goreng," Mahesa menyebutkan nama-nama makanan yang dibawanya. Lalu telunjuknya bergeser ke sebuah mangkok putih, "nah, kalau yang itu kesukaannya Bunda, namanya sup wonton."
"Widih... Pak Mahesa mau ngadain hajatan?" sindir Meta terkikik geli. Dia ikut terperangah melihat aneka makanan di atas meja.
Mahesa tertawa kecil, "saya gak tahu kalian sukanya apa. Takutnya ada hidangan tertentu yang gak kalian suka, sekalian aja saya kasih banyak pilihan."
Jawaban Mahesa justru membuat Meta semakin iseng menggodanya.
"Kalau misalkan gak suka semua, gimana tuh Pak?" timpal Meta.
Mahesa menyahut santai, " ya saya beliin makanan lain. Kenapa Met? Jangan-jangan kamu sama Sean nggak suka Chinese food ya? Saya pesenin menu lain ya?" Raut wajah Mahesa berubah cemas. Lelaki itu bahkan mengambil ponselnya dan bersiap memesan menu di aplikasi online.
"Eh gak Pak... Gak. Saya cuma bercanda. Hehehe…" Meta buru-buru menyanggah dengan nada canggung. Tak menyangka candaannya akan ditanggapi serius Mahesa.
Meta baru menarik napas lega setelah melihat Mahesa menaruh lagi ponselnya ke atas meja.
************
"Nikah?"
Makan (besar) malam itu akhirnya berakhir dengan beberapa sajian menu yang tak tersentuh dan akhirnya disimpan Bianca di kulkas.
Meta dan Sean sudah beranjak kembali ke lantai 2. Menyisakan Bianca dan Mahesa di pantry dapur.
"Iya. Dia tahu-tahu datang dan nanyain soal itu," Bianca menjerang air panas lalu menyeduh 2 cangkir teh bunga chamomile. "Apa kamu ada bilang sesuatu sama dia?" tanyanya seraya menambahkan madu dan perasan jeruk lemon.
"Thanks." Mahesa menerima teh racikan Bianca, lalu menggeleng bingung.
"Abis Papi sadar, aku belum pernah ketemu Dewa. Gak ada komunikasi juga. Palingan cuma ketemu Neta, itu juga cuma sebentar di rumah," ungkap Mahesa.
Kening Bianca mengernyit dalam. Seperti memikirkan sesuatu. Dia mengaduk-aduk teh nya tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Melihat sikap Bianca, Mahesa merasa tersentil.
Lelaki itu menegakkan punggung. Entah kenapa ia sedikit kesal.
"Memangnya kenapa Baby? Kamu keberatan kalau Dewa mikir kita mau nikah?"
Bianca menyadari intonasi suara Mahesa berubah. Wanita itu mendongak dan mendapati Mahesa tengah menatapnya gusar.
"Memangnya ada aku bilang keberatan?" balas Bianca.
Mahesa membungkam mulutnya.
Tak ada.
Bianca tak mengatakan apa-apa. Mahesa lah yang berpikiran seperti itu.
"Sori…" lirih Mahesa. "Aku cuma…." Mahesa menghela napas pendek.
"Aku masih keganggu tiap kali kamu cerita tentang Dewa."
Bianca mengerjap kemudian tersenyum tipis. Wanita itu lantas berdiri, memutari meja bar pantry tuk menghampiri Mahesa.
"Hei…" Bianca memegang pergelangan tangan Mahesa, meminta lelaki itu tuk menghadap ke arahnya.
Mahesa menurut.
Sekarang mereka berdua saling bersitatap dengan posisi Mahesa yang masih duduk di stool bar. Tinggi badan Mahesa yang menjulang membuat Bianca harus sedikit mendongak meski wanita itu sudah berdiri di depannya.
Bianca menangkup wajah Mahesa. Mengusap rahang kekasihnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Aku sayang kamu.." ujar Bianca lembut.
Hanya kalimat sederhana, namun mampu membuat Mahesa berdebar. Lelaki itu menelisik wajah kekasihnya dan mendapati pendar cinta di balik matanya.
Ah, Mahesa.
Kenapa kamu selalu mencemaskan hal yang sama? Bianca sudah menentukan hatinya. Dia memilihmu.
Kamu.
Bukan Dewa.
"Aku juga sayang kamu…"