Second Chance

Second Chance
Dua Puluh Lima : Resmi



“Dia bilang dia mencintaiku,” kataku pada Maya yang sibuk mengunyah kacang garing sambil menonton TV.



“Angga?” Maya tidak mengalihkan pandangan dari layar, seolah aku hanya membicarakan cuaca. Menyebalkan. “Aku sudah pernah bilang kepadamu, kan? Kamu saja yang pura\-pura bodoh.”



“Jadi bagaimana?” tanyaku. Aku benar\-benar perlu mendengar pendapatnya, meskipun aku sudah menduga kalau dia akan mendorongku mendekati Angga.



“Bagaimana apanya?” Maya balik bertanya. Dia benar\-benar tidak terlihat antusias.



Aku mengguncang lengannya kesal. Kalau kami pemeran film kartun, aku pasti sudah menamparnya bolak\-balik untuk mendapatkan perhatianku. “Kamu mendengarku tidak, sih? Kubilang Kak Angga menyatakan perasaannya kepadaku!”



Kali ini Maya melepaskan kacang garingnya. Dia mencibir. “Aku mendengarmu, Ra. Kak Angga\-mu bilang cinta, kan? Itu bukan kejutan. Semua yang pernah lihat kalian berinteraksi juga tahu. Jadi, jangan berharap aku akan pura\-pura kaget.”



“Jadi, bagaimana?” Aku mengulang pertanyaanku sambil mencebik.



“Bagaimana apanya?” Maya juga menjawab dengan kalimat yang sama. Kami seperti bermain berbalas kalimat tanya.



“Aku harus menjawabnya bagaimana? Aku minta pendapatmu, jangan berlagak bodoh.”



Maya melemparku dengan kulit kacang dalam genggamannya. “Kamu yang bodoh, Ra. Dia bertanya kepadamu dan kamu malah menanyakan jawabannya kepadaku? Memangnya ini pesan cinta berantai?”



Aku mendesah. “Aku bingung,” kataku terus terang.



“Aku bisa memberikan pendapat kalau masalahnya bukan jawaban atas pernyataan cinta, Ra. Kalau itu, sih, hanya kamu sendiri yang tahu persis jawabannya. Aku yakin Kak Angga\-mu itu ingin mendengar jawaban dari lubuk hatimu, bukan nyontek jawabanku.”



Aku berdecak. “Kamu sama sekali tidak membantu.” Itu bukan jawaban yang ingin kudengar. Biasanya Maya semangat bicara soalmove onkepadaku.



Maya berbalik. Mengangkat kedua kakinya di sofa sehingga kami berhadapan. “Kamu sungguh mau dengar pendapatku?” Dia akhirnya waras juga.



Aku mengangguk cepat.



“Baiklah, sekarang kita menganalisis perasaanmu dulu.”



Keningku kembali berkerut. “Memangnya perasaan bisa dianalisis?”



Maya memukulku dengan bantalan kursi. “Tentu saja. Kamu tahu kenapa banyak hubungan tidak berhasil? Karena mereka menganggap cinta itu absurd. Padahal….”



“Memang cinta itu tak berwujud, kan?” potongku. “Bukan sesuatu yang bisa dilihat atau dipegang.”



Bantalan kursi itu lagi\-lagi mendarat di tubuhku. Temanku yang satu ini memang barbar. Penyuka kekerasan. “Kamu mau dibantu tidak, sih? Kalau mau, dengarkan dan berhenti memotong ucapanku.”



“Baiklah.” Aku mengatupkan mulut, membuat gerakan mengunci.



“Kamu nyaman dengan dia, kan? Aku harus mendengarmu mengakuinya, meskipun aku sudah melihat bahasa tubuhmu saat berada di dekatnya.”



Aku serius menanyakan soal ini pada Maya, jadi aku harus jujur. Aku mengangguk. Angga memang membuatku nyaman.



“Kamu berdebar\-debar saat dia menatapmu dan kamu tidak bisa balas menatapnya lebih lama?” Maya memutar bola mata saat melihatku mengangguk. “Ini menjijikkan, memangnya kita ini anak ABG labil sampai harus membahas tanda\-tanda paling dasar saat jatuh cinta?”



“Bukan begitu, May, aku….”



“Kalau begitu, terima saja dia.” Maya berbalik dan meraih kembali kacang garingnya.



“Begitu saja?” protesku tidak terima. Dia tadi menggunakan kata analisis sehingga aku membayangkan akan membahas cinta secara ilmiah. Bukan menyuruhku menerima cinta Angga setelah melontarkan dua pertanyaan bodoh.



Maya mengangguk gagah. Tegas. Tanpa menoleh. “Sesederhana itu.”



Aku mengerang, menjatuhkan tubuh pada tumpukan bantalan sofa. “Ya Tuhan, apa yang tadi kupikirkan saat menanyakan ini kepadamu, ya?” Maya sama sekali tidak membantu.



“Cinta memang sederhana, Ra. Orang\-orang yang terlibat di dalamnya yang membuatnya rumit.”



“Bagaimana kalau dia…” Aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. “Maksudku, Dio saja….”



“Hei, kamu tahu apa keajaiban cinta? Dia bisa saja menghancurkanmu berkali\-kali. Membuatmu menangis untuk waktu lama, tapi selalu bisa membuatmu tertawa kembali. Orang yang membawa cinta datang dan pergi dalam hidup. Itu alami. Perjalanan hidup, sampai kamu menemukan orang yang tinggal dan bukan hanya sekadar mampir. Dio, anggap saja dia hanya singgah.”



Maya membuatnya terdengar mudah. Tentu saja, putus cinta tidak pernah menghancurkannya. Tidak seperti aku yang hanya pernah pacaran dengan Dio, kehidupan cinta Maya lebih berwarna.



“Bagaimana kalau Kak Angga juga sekadar singgah?” tanyaku ragu. Kemungkinan itu selalu ada, kan?



“Kamu tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya, kan?”



“Kalau tidak berhasil?” kejarku.



“Kamu akan menemukan yang lain.”



Maya membuatnya terdengar sangat sederhana.



Aku menggeleng. Aku tidak akan bermain trial and error dalam hubungan asmara. Taruhannya hatiku. Terlalu berisiko. “Aku tidak yakin hatiku sanggup menerima satu luka lagi.”



“Jangan khawatir soal luka, Ra. Semua luka, pada akhirnya akan sembuh. Beri hatimu kesempatan.”



\*\*



Bertemu Angga setelah peristiwa ciuman yang memalukan itu sedikit canggung. Tidak sepertiku, dia terlihat biasa saja. Seolah pertemuan bibir itu tidak pernah terjadi. Mau tidak mau, itu membuatku bertanya\-tanya. Apakah itu bukan sesuatu yang istimewa baginya? Apakah mencium gadis\-gadis sudah menjadi kebiasaannya sehingga dia bersikap seperti itu? Penampilannya memang sama sekali tidak mengesankan kalau dia seorang badboy. Namun, penampilan luar sering kali menipu, kan? Memikirkan itu ada rasa tidak nyaman menyusup dalam hati. Kalau benar Angga seorang player, bukankah itu sama saja sengaja masuk dalam kandang singa? Menyerahkan diri sukarela untuk dicabik hidup\-hidup? Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak sebodoh itu.




Aku buru\-buru menggeleng. “Ini belum dingin, kok.” Aku mulai mengorek\-ngorek iga bersaus kacang itu dengan sendok dan garpu yang kupegang. Pikiranku tentang bibir Angga yang bisa saja sudah hinggap ke mana\-mana membuat selera makanku lenyap. Meskipun sudah berusaha memaksa, aku hanya sanggup memasukkan beberapa sendok nasi dan sepotong iga konro\-ku ke dalam mulut.



“Kamu sudah makan di rumah?” Angga meraih piring yang kudorong ke tengah ke hadapannya dan mulai menyuap. Makanannya memang sudah habis. Namun, aku merasa tidak enak melihatnya makan sisaku. “Aku kelaparan.” Dia seperti bisa membaca pikiranku.



“Kenapa tidak makan di rumah sakit?” Instalasi gizi rumah sakit menyediakan makanan untuk dokter jaga. Kalau tidak mau makan di situ, juga ada kantin.



“Sengaja. Biar punya alasan mengajakmu keluar.” Dia mengucapkannya biasa saja, tapi aku merasa jantungku hampir melompat dari rongganya. Norak.



“Itu namanya cari penyakit.” Aku menekan wajahku yang menghangat dengan kedua tangan. Berharap Angga tidak menyadari rona yang muncul di situ.



“Aku tidak mungkin sakit hanya karena melewatkan satu kali jam makan, tapi kalau benaran sampai sakit, kamu akan merawatku, kan?” Angga menatapku sambil tersenyum.



Sial, dia tahu betul bagaimana cara membuatku terlihat seperti kepiting rebus. Aku mencebik, berusaha terlihat tidak peduli, tetapi kurasa aku malah terlihat kekanakan. “Kak Angga dokter. Bisa meresepkan obat untuk diri sendiri. Tidak masuk akal ada residen yang minta dirawat dokter umum.”



“Dirawat dengan pengobatan medis dengan kasih sayang kan beda, Ra. Lihat kamu menatapku lembut setelah terbiasa memelotot pasti menyenangkan.”



Astaga, itu benar dia yang mengucapkannya? Ke mana laki\-laki sombong sok coolyang menganggapku tembus pandang dulu, ya?



“Tidak lucu!”sentakku sebal.



“Aku memang tidak bermakud melucu dengan perasaanku,” suaranya kini terdengar serius. Piring konro\-ku yang sudah dihabiskannya, didorong menjauh. “Aku serius saat mengatakan mencintaimu. Kalau kamu siap, Ra, kamu bisa naik ke perahuku dan kita berlayar bersama. Aku mungkin bukan nakhoda yang baik karena minim pengalaman, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga menjaga supaya perahu kita tidak karam. Kamu bisa pegang kata\-kataku.” Ini pembicaraan yang terlalu berat untuk dilakukan di rumah makan. Aku terdiam. “Tapi kalau kamu belum yakin,” Angga melanjutkan. “Aku bisa menunggu, tapi jangan terlalu lama, ya. Adikku sudah punya anak, sedangkan aku masih sibuk mengejar gadis yang membiarkanku mengambang seperti layang\-layang. Kamu memegang tali layang\-layang itu, Ra. Kamu yang memutuskan kapan harus menarik dan mengembalikan aku ke tanganmu.”



“Kalau aku memutuskan untuk melepaskannya?” tanyaku. Angga tahu kemungkinan itu juga ada, kan?



Angga menatapku lekat. Punggungnya kini bersandar di kursi. “Kamu tidak akan melakukannya.”



Mau tidak mau aku merasa kesal. “Kak Angga terlalu percaya diri. Aku belum memutuskan. Aku….”



“Seorang dokter harus punya kepercayaan diri, Ra. Kamu tahu itu. Kita tidak bisa ragu\-ragu saat melakukan diagnosis. Kita tidak mau coba\-coba dan main\-main dengan nyawa orang. Aku juga harus yakin saat akan masuk dalam ruang operasi. Terlepas aku berhasil melakukan tugasku dengan baik atau tidak, itu masalah lain. Bukan aku yang memutuskan seseorang masih hidup atau harus berpulang. Tapi, optimis harus jadi nama tengah seorang dokter.”



Sial, dia benar.



“Tapi perasaan tidak sama dengan mendiagnosis pasien.”



“Tidak jauh berbeda, Ra.”



Aku memutar bola mata. “Yang benar saja!”



“Berikan tanganmu.” Angga mengulurkan tangan. Tubuhnya kini condong ke arahku.



“Apa?” Aku tidak bisa meraba arah percakapan ini. Biasanya aku tidak sebebal ini.



“Tanganmu, Ra.” Kali ini dia tidak menunggu. Tanganku yang bertumpu di atas meja diraihnya. Jemarinya melingkar di pergelangan tanganku. Membuat gerakan menghitung nadi.



Aku kini tahu maksudnya. Astaga, dia benar\-benar mengerjaiku!



“Nadimu di atas normal. Jantungmu memompa darah lebih cepat. Karena kamu sehat, jadi pengaruh adrenalin ini karena aku, kan?” Sebelah tangannya yang lain menunjuk wajahku. “Mukamu juga memerah. Kamu tidak sedang marah, jadi itu juga karena aku, kan?”



“Kak Angga terlalu percaya diri!” ulangku sambil berusaha menarik tanganku.



Angga tertawa dan melepaskan tanganku. “Sudah kubilang tubuhmu menyukaiku. Kamu hanya berusaha mengingkarinya. Mencari alasan untuk tidak mengakuinya. Jangan lakukan itu. Setidaknya, biarkan kita mencobanya dulu. Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa bersamaku, kamu tidak perlu takut kutinggalkan.”



Aku benci harus mengakui bahwa apa yang dikatakannya benar!



Aku masih terus memikirkan percakapan di rumah makan tadi saat dalam perjalanan pulang ke rumah. Angga membiarkan dan tidak mengajakku bicara. Kesunyian di antara kami hanya diisi lagu\-lagu yang mengalun dari radio yang diputar Angga.



Aku masih duduk dalam mobil ketika kami sudah sampai di depan rumah.



“Kalau aku memutuskan menerima Kak Angga,” mulaiku ragu\-ragu. “Kak Angga bisa menjamin tidak akan meninggalkanku?”



Angga melepas sabuk pengaman dan membalikkan tubuh kepadaku. Dia terlihat serius. Tatapannya dalam dan intens. “Kalau kita sepakat dengan hubungan ini, Ra. Kita akan mengusahakannya berdua. Ini hubungan timbal balik. Tidak akan berhasil kalau hanya salah satu dari kita yang berusaha. Keberhasilan dan kegagalannya tergantung kita berdua. Aku yakin dengan apa yang kurasakan. Kamu yang masih ragu. Tapi itu tidak masalah. Kita masih punya waktu untuk memperbaikinya.”



“Aku takut.” Itu benar. Aku takut apa yang terjadi pada hubunganku dengan Dio akan terulang. Dan ketakutan bukan seperti tumpahan air di lantai, bisa bersih dengan sekali usap.



“Kamu takut pada apa yang kamu pikirkan. Apa yang kamu ciptakan dalam angan.” Angga meraih tanganku. Menggenggamnya erat. “Dengarkan aku, Ra, setiap orang punya ketakutannya sendiri. Tapi tidak seharusnya itu menyurutkan langkah. Kelak kalau kita benar\-benar bisa bersama, hubungan kita juga tidak akan sempurna. Akan ada saat\-saat aku akan membuatmu marah. Aku juga akan menemukan alasan untuk kesal kepadamu. Selalu akan seperti itu saat kita belajar saling memahami. Tapi aku janji tidak akan pergi saat kita sedang menyebalkan pada satu sama lain.”



Aku merasakan kesungguhannya. Ketulusannya. Hatiku terasa hangat. Aku menyukai apa yang kurasakan sekarang. Mungkin aku memang harus memberi kesempatan pada hatiku. “Kak Angga akan pergi,” kataku, berusaha mencairkan suasana dengan candaan. “Kak Angga bisa saja meninggalkanku saat aku sedang marah.”



Angga menatapku tajam. Genggamannya makin erat. “Dari mana kamu tahu?”



“Tentu saja aku tahu. Nanti saat kita bertengkar dan Kak Angga mendapat telepon untuk operasi mendadak, Kak Angga pasti akan meninggalkanku di tengah pertengkaran.”



Raut Angga lantas melunak. Dia menangkap gurauanku. Tangannya berpindah di kepalaku. “Kita tidak akan sering bertengkar selama kamu tidak terlalu dekat dengan Dio lagi. Aku akan membiarkanmu menang setiap kali kita berbeda pendapat. Kalau aku pergi saat kita sedang bertengkar, itu pasti karena aku harus mencari uang untuk meyakinkan aku bisa memberimu kehidupan yang nyaman.”



“Benarkah?” Jantungku yang genit itu mulai bertingkah lagi. Angga mungkin bahkan bisa mendengar debarannya. Ini benar\-benar memalukan.



“Itu janji, Ra. Jadi apa aku sudah bisa mencium pacarku sekarang?”



Hah? Ya ampun!