
You just my attention. I knew from the start. You're just making sure. I'm never gettin' over you.
(Charlie Puth - Attention)
********
Alunan suara khas penyanyi yang pernah mengisi soundtrack film favorit Bianca, mengusir keheningan di mobil yang sedang dikendarai Mahesa.
Bianca memalingkan muka, menatap keluar jendela mobil. Dari pantulan jendela, Bianca bisa melihat muka Mahesa yang tengah tertekuk.
Pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu, sedang dalam mode merajuk.
Bianca tak mengerti kenapa Mahesa mendadak jadi kesal.
Apa Bianca melakukan kesalahan? Tapi apa? Perasaan saat menjemputnya di restoran tadi, Mahesa masih dalam mode ceria.
Atau karena permintaan maaf yang diterimanya dari Farrel?
Lelaki bermata sipit itu, akhirnya bertatap muka langsung dengan Mahesa. Setelah tiga tahun menjalani hubungan dengan Ganeeta, baru tadi Farrel dan Mahesa sempat berkenalan.
Tak tahan didiamkan seperti ini, Bianca memutuskan untuk bertanya.
"Sa..." panggil Bianca hati-hati.
"Hmm…"
Bianca terdiam. Oh, rupanya muka tertekuk-nya itu karena dirinya. Lha, memangnya Bianca melakukan kesalahan apa?
"Kamu kenapa?"
"Kenapa apanya?" Mahesa balik bertanya.
"Kenapa diem aja dari tadi? Aku ada salah sama kamu? Kalau aku ada salah tuh ngomong. Jangan diem begini, aku nggak suka."
Bianca jadi ikutan kesal. Kenapa Mahesa malah jadi balik bertanya sih?
Dari samping, Bianca bisa melihat raut terkejut Mahesa. Pria itu mungkin tak menyangka Bianca akan ikut-ikutan marah juga.
"Eh, bentar Bi. Kok kamu marah?"
"Lho, kamu duluan yang marah. Aku kan ngikutin kamu," balas Bianca cuek seraya membuang muka, menatap keluar jendela mobil kembali.
Terdengar helaan napas panjang Mahesa. Pria itu lantas menepikan mobil dan mematikan mesinnya.
"Aku kesal…" ujar Mahesa lirih.
"Gara-gara aku?" todong Bianca. Dia memalingkan muka, memandang lekat Mahesa.
Mahesa tak menjawab, namun pandangannya lurus menatap Bianca.
"Bukan gara-gara kamu juga sih, tapi – ah...," Mahesa menggaruk pelipisnya.
"Maksudnya gimana sih? Jadi kenapa kamu di —"
"Kenapa cuma 'Sa'?" potong Mahesa.
Melihat kerutan di kening Bianca, Mahesa meringis. Pastilah kekasihnya itu tak mengerti maksud pertanyaannya.
"Aku kesal." Mahesa menyembunyikan wajah pada lengannya yang terlipat di setir. Menutupi rasa malu yang tiba-tiba menyergapnya.
Ayolah Mahesa, kamu kesal hanya gara-gara ini?
Pemikiran itu terlintas begitu saja setelah dirinya merasa konyol mendiamkan Bianca beberapa menit sebelumnya.
"Ya, kamu kesal kenapa?" Bianca menarik napas panjang, sebal karena Mahesa terkesan bertele-tele.
"Apa nggak bisa kamu panggil aku dengan sebutan lain? Farrel, kamu panggil 'Koh.' Lalu Dewa, kamu panggil 'Mas.' Kenapa aku cuma 'Sa'?" tanya Mahesa, nyaris seperti bergumam pada diri sendiri.
Bianca terperangah. Dia tidak salah dengar kan? Jadi dari tadi Mahesa kesal hanya karena nama panggilan?
Bianca mengigit bibir menahan tawa yang ingin lolos. Apalagi melihat semburat merah di telinga Mahesa. Pasti pria itu sedang merasa malu dengan pertanyaannya sendiri.
"Maaf, aku pikir kamu nggak bakal suka kalau aku panggil Mas."
"Kalau itu memang aku nggak mau! Yang lain. Yang spesial."
Bianca menggaruk pelipisnya. Seumur-umur Bianca cuma memiliki 1 mantan pacar dan itu pun berakhir di pelaminan. Jadi bisa dibilang, dia minim pengalaman untuk urusan semacam ini.
Tiba-tiba ia teringat Sika. Gadis itu pernah berpacaran dengan salah satu pegawai cafe di sebelah ruko. Kalau tidak salah, saat itu Sika memanggil pacarnya dengan sebutan…..
"Ba – be?" mulut Bianca sedikit kesusahan mengucapkannya.
Detik berikutnya reaksi Mahesa persis seperti dugaannya. Pria itu langsung mengangkat wajahnya.
"Coba ulangi…..." pintanya sumringah.
Bianca nampak ragu membuka mulutnya. Ada perasaan geli, tapi segera ditepisnya.
"Babe…" panggil Bianca.
Mahesa terkekeh geli, "lebay ya?" akunya bergidik. "Tiba-tiba aku ngerasa, kayaknya usiaku udah nggak pantes untuk memperdebatkan hal macam gini. Udah tua."
Bianca merespon dengan gelengan kecil.
"Enggak kok. Umurmu masih 30 lho. Belum tua - tua banget itu, lagi pula romantis itu nggak mandang tua atau muda, kan? Apa jangan-jangan, pas kita tua nanti, kamu bakalan jutekin aku. Ngaku...."
Mahesa menggeleng cepat, "bukan gitu maksudku!" sanggahnya. Pria itu menatap lekat Bianca. Sudut bibirnya melengkung ke atas.
"Aku kira, kamu tadi bakal ngetawain aku. Makasih, Baby. Aku tahu kamu belum terbiasa. Jadi kita lakuin pelan-pelan aja, oke Baby?"
Belum juga Bianca menjawab, Mahesa bertanya lagi.
"Eh, kamu nggak keberatan aku panggil 'Baby' kan? Atau menurutmu alay?"
Mahesa tersenyum lebar. Jawaban Bianca membuatnya senang.
"Oke Baby, let's go home."
"Enggak Sa eh – Babe." Bianca meringis menyadari lidahnya yang masih kaku. "Tolong anterin ke toko aja. Mobilku masih ada disana."
Mahesa mendesah. "Apa nggak bisa malam ini kamu tinggalin disana? Aku bisa kok jemput kamu pagi-pagi di rumah."
"Jangan!" jawaban cepat Bianca membuat Mahesa keheranan.
"Kenapa? Kan masih pagi, masa iya tetanggamu udah ghibah?"
Bianca kebingungan. Pasalnya, dia belum berani mengatakan pada keluarganya tentang hubungannya bersama Mahesa. Ibu dan adiknya pasti tak akan setuju.
Terutama Atilla. Adiknya itu sangat membenci Dewa dan Ganeeta. Apa jadinya kalau dia sampai tahu kakaknya ini justru berpacaran dengan saudara tiri Ganeeta?
"Hei.... Kok jadi bengong?" Mahesa melambai-lambaikan tangannya di depan Bianca.
Bianca mengerjap. Otaknya seketika bekerja cepat.
"Besok pagi aku mau nganter Ibu ke sekolah Atilla."
"Oh… ya sudahlah...." Mahesa manggut-manggut meski tampak kecewa.
"Maaf ya…"
"Nggak apa-apa. Maybe next time, aku pengen kenalan sama Ibu dan Atilla. Apa boleh?" tanya Mahesa.
Bianca mengangguk. "Boleh. Nanti aku atur waktunya. Tapi mungkin nggak dalam waktu dekat ini, soalnya ibu lagi fokus ngurus Atilla. Dia lagi persiapan ujian seleksi universitas."
Itu bukan kebohongan. Atilla memang sedang berjuang keras supaya diterima di universitas tujuannya. Adiknya itu mati-matian belajar lebih giat untuk mempersiapkan ujian masuknya.
Mahesa mengangguk paham. Setelah itu obrolan pun mengalir spontan dari keduanya. Mereka saling bertukar pikiran mengenai kesibukan masing-masing.
Mahesa menceritakan tentang beberapa proyek yang sedang dikerjakannya. Sesekali ia meminta pendapat Bianca.
Walau Bianca tak memiliki gelar sarjana, tapi untuk urusan bisnis, skillnya cukup mumpuni. Terkadang Mahesa merasa terbantu dengan saran yang diutarakan Bianca.
"Lho itu kan….."
"Mau ngapain lagi anak itu datang kesini?"
Mahesa dan Bianca sama-sama terkejut melihat Dewa di parkiran Ocean Corner Cake's. Pria itu bersandar di samping mobilnya. Dia segera meluruskan posisi berdirinya ketika menyadari mobil Mahesa memasuki pelataran parkiran toko.
"Kamu tunggu di mobil. Biar aku yang turun," Mahesa melepas seat belt dengan pandangan mengunci tajam ke arah Dewa.
"Hati-hati." Pinta Bianca.
Mahesa mengangguk, "kunci pintunya begitu aku keluar."
Bianca buru-buru mengunci pintu mobil begitu Mahesa melangkah keluar. Jujur saja, dia masih sedikit takut bertemu Dewa. Pertemuan terakhir mereka masih menyisakan trauma bagi dirinya. Tanpa sadar Bianca menggosok pergelangan tangannya saat melihat Dewa dari dalam mobil.
Dari kaca jendela depan, Bianca melihat Mahesa dan Dewa tengah memperdebatkan sesuatu. Nampak raut frustasi di wajah Dewa. Pria itu berulang kali mengarahkan pandangannya ke arah mobil Mahesa.
Tak lama berselang, Mahesa menghampiri Bianca lalu mengetuk jendela penumpang, tempat Bianca duduk.
"Mau ngapain dia datang kesini?" tanya Bianca setelah menurunkan kaca jendela.
"Dewa minta nomor telepon Farrel. Bisa kamu kasih?"
Bianca tampak menimbang-nimbang sejenak. Keraguan mengelayutinya.
Memang benar tujuan Farrel ke Jakarta untuk menyelesaikan permasalahan di antara mereka berempat. Tapi melihat pertemuan Farrel dan Ganeeta barusan, membuat Bianca jadi ragu, apa permasalahan mereka harus diselesaikan secepat ini. Bianca mengkhawatirkan psikis Farrel.
Di restoran tadi, Ganeeta menolak Farrel mentah-mentah, memberinya ultimatum untuk menjauhi Brandon lalu pergi begitu saja.
Sesuai prediksi Farrel – sebenarnya. Hanya saja pria itu tetap tak bisa menyembunyikan rasa kecewa dan kesedihannya.
Selepas kepergian Ganeeta, kondisi Farrel terlihat tidak baik. Piasnya pucat, bahkan untuk sekedar bangkit dari duduknya, dia harus dibantu Sulis dan Bianca.
"Baby…" panggilan lembut Mahesa, menarik kesadaran Bianca. Wanita itu menoleh dan menyadari raut kekhawatiran di wajah Mahesa.
"Tolong ikuti saranku, kasih nomor telepon Farrel ke Dewa. Biarin mereka selesaiin permasalahan ini sendiri. Keterlibatanmu cukup sampai disini aja." Mahesa menjeda kalimatnya. Pria itu menghela napas pendek.
"Masalah ini nggak sesimpel kelihatannya."
Mahesa tampak mengeraskan rahang ketika menekankan kalimat terakhirnya.
Bianca mengernyit. Jantungnya jadi berdebar. Ada sesuatu yang Mahesa sembunyikan, entah apa, karena Mahesa kelihatan tak nyaman.
Bianca akhirnya mengangguk dan menyerahkan ponselnya ke Mahesa. Dia akan mengikuti perkataan Mahesa. Instingnya mengatakan bahwa lelaki itu sedang menjaganya dari sesuatu yang berbahaya.
Bianca memutuskan tak akan banyak bertanya . Dia akan menunggu Mahesa menceritakannya sendiri – itu pun kalau Mahesa mau.
Masih dari dalam mobil, Bianca melihat Dewa sedang menyalin nomor Farrel ke ponselnya.
Setelah itu, kedua pria itu seperti terlibat percakapan yang serius. Namun dari pengamatannya, lebih banyak Mahesa yang berbicara. Sementara Dewa hanya terdiam dan sesekali mengusap kasar wajahnya.
Mata Bianca membelalak lebar. Sebelum Dewa pergi, ada pemandangan yang membuatnya terkejut.
Mahesa nampak mengusap bahu Dewa. Lalu menepuk pelan pucuk kepala Dewa, seolah seperti seorang kakak yang sedang menyemangati adiknya.
Mahesa bahkan dengan sabar menunggu mobil Dewa menghilang dari pandangannya. Barulah setelah itu ia kembali ke mobil.
"Aku akan jelasin ke kamu. Tapi mungkin nanti – setelah kondisinya sedikit kondusif." Seolah mengerti kebingungan Bianca, Mahesa langsung mengatakannya begitu duduk di bangku pengemudi.
Bianca mengangguk. Tapi kemudian lagi-lagi, Mahesa menitipkan sesuatu yang semakin memancing rasa penasarannya.
"Semisal ada orang telepon kamu terus ngajak kamu keluar – seperti Sulis misalnya, dengan alasan apa pun. Kamu harus cepat-cepat kabarin aku dulu, oke Baby?"