
Daniel menatap heran ruangan asing yang sedang dipandangnya. Seharusnya tempat ini berantakan atau minimal ada tanda-tanda kehidupan yang menunjukkan seseorang sempat tinggal disini.
Tapi apa ini? Unit apartemen ini sangat bersih seolah tak pernah ditinggali. Bahkan benda-benda yang menjadi furniture bawaan pun bersih dari segala jejak aktivitas pemakaian.
Dia jadi ragu. Apa benar ini tempat tinggal seseorang yang sedang ia cari?
Namun kecurigaannya terpatahkan oleh bukti CCTV yang ada di sudut atas lorong apartemen. Disana terlihat jelas sosok Marco masuk dan keluar dari unit ini.
"Lho...." Daniel mengerutkan dahi menyadari sesuatu. Dia melihat tanggal terakhir rekaman CCTV. "Mana rekaman hari kemarin?" tanyanya saat Max berhenti menggerakkan mouse.
"Sepertinya kemarin ada perbaikan jaringan atau sistem yang bermasalah sehingga semua kamera mati. Saya sedang berusaha memulihkannya."
Daniel mengacak rambutnya frustasi. Dia menghela napas gusar. Harus kemana lagi mencari Ayahnya? Satu-satunya orang yang mengetahui keberadaan Benjamin telah menghilang.
"Pak, saya berhasil memulihkannya." Suara Max menarik kesadaran Daniel yang membuat pria itu lekas kembali ke sofa.
"Ternyata bukan kerusakan jaringan. Ini perbuatan yang disengaja. Tapi saya belum bisa mengindentifikasi pelakunya. Dan maafkan saya Pak. Saya hanya mampu memulihkan kamera basement," Max berujar panjang lebar sembari menekan tombol play. Dari layar laptop, Daniel melihat ada dua orang pria tengah memasukkan Marco ke sebuah mobil van putih.
Jantung Daniel sontak berdebar kencang. Sudah ia duga, Marco diculik seseorang. Tetapi siapa?
Sekelebat nama langsung tercetus di kepalanya.
Om Bram!! Mereka pasti orang suruhannya Om Bram.
Sial!!
Papi!!
Daniel bangkit berdiri dan berlari keluar menuju lift, diikuti Max yang buru-buru membereskan laptopnya.
Daniel memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tanpa memperdulikan Max yang berulang kali menyuruhnya berhati-hati. Dia hanya ingin segera sampai di kediaman Brama.
Jika Marco sudah tertangkap, kemungkinan besar Ayahnya pun juga.
Ya Tuhan, semoga Papi baik-baik aja, pinta Daniel di dalam hatinya.
*********
"Sebelum aku anterin kamu balik, kita makan siang dulu. Kamu lagi pengen makan apa?" tanya Mahesa.
"Memangnya kamu nggak sibuk?"
Mahesa mengusap puncak kepala Bianca gemas, "kalau aku sibuk, nggak mungkin nawarin kamu Baby."
Bianca tertawa malu. Lalu berpikir sejenak, "Aku sih lagi pengen makanan Sunda. Kita makan itu ya?"
Mahesa mengangguk setuju. "Okay. Kayaknya aku tahu restoran Sunda yang enak dekat sini," Mahesa melajukan mobilnya meninggalkan parkiran bandara Soetta.
Bianca dan Mahesa baru saja melepas kepergian Kinara dan Ettan. Pasangan suami istri itu harus kembali ke Bali karena project Ettan masih berjalan di sana.
"Kamu chat'an sama siapa Baby?" tanya Mahesa penasaran. Ekor matanya memperhatikan Bianca yang nampak asyik dengan layar ponselnya.
"Kinara. Pesawat mereka ternyata delay." Bianca menatap Mahesa sekilas. "Dia minta maaf terus nih. Udah kayak lebaran," ujar Bianca geli.
Mahesa hanya tertawa. Memang sejak tadi sahabat dari kekasihnya itu selalu mengucapkan kata maaf. Kinara merasa bersalah karena harus pulang ke Bali setelah menyebabkan kekacauan dengan mendatangkan Farrel ke Jakarta.
"Padahal aku udah bilang nggak masalah. Aku juga udah jelasin kalau Daniel nggak pernah muncul lagi." Bianca menyudahi chatnya dengan Kinara dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Atensinya kini beralih menatap Mahesa. Memperhatikan wajah sang kekasih yang nampak berseri.
"Ada sesuatu yang menarik, Babe? Mukamu kelihatan happy dari tadi."
"Kelihatan ya?" tanya Mahesa. Bukannya langsung menjawab, lelaki itu justru mengambil tangan Bianca dan mengecup punggung tangannya. "Aku seneng kita ketemu hari ini. Kangen banget tahu. Coba hitung berapa lama kita nggak ketemu?"
Perjalanan mereka pun diwarnai dengan obrolan ringan serta gombalan receh Mahesa yang sukses memancing pukulan di lengan lelaki itu.
*********
"Perutku panas…" keluh Bianca. Dia menurunkan sandaran jok kursi mobil Mahesa.
Mahesa berdecak gemas, "Aku tadi udah bilang, jangan terlalu pedes."
"Ya namanya juga makan lalapan. Masa nggak pake sambel?"
"Tapi nggak tiga sendok juga ngambilnya," Mahesa membuka tutup kemasan minuman yoghurt. Lalu menyerahkannya pada Bianca.
"Thanks," Bianca meneguknya hingga tandas. Setelahnya dia bernapas lega. Perutnya terasa sedikit lebih baik.
Mahesa dan Bianca baru saja selesai makan siang di sebuah resto Sunda yang menurut Mahesa mendapat review bagus di aplikasi Google.
Dan kini keduanya sudah di jalan pulang. Mahesa menurunkan AC mobil karena wajah Bianca terlihat masih memerah. Tapi setidaknya Mahesa lega, Bianca sudah bisa terduduk tegak.
Perhatian Mahesa kemudian beralih mendengar ponselnya berdering. Karena Mahesa meletakkan ponselnya di dashboard, Bianca jadi bisa ikut melihat penelponnya.
Hanya ada deretan nomor tanpa nama.
"Nggak kamu angkat?" tanya Bianca karena Mahesa hanya meliriknya sekilas.
Mahesa mengedikkan bahu acuh, "nggak kenal."
Bianca hanya mengangguk kecil. Namun sesudahnya ponsel Mahesa kembali berbunyi. Hanya saja kali ini Cassandra lah yang menelponnya.
Mahesa lantas membelokkan mobilnya ke sebuah pom bensin dan berhenti di gerai minimarket yang ada di sana.
"Tunggu ya, aku telepon Mama dulu," ijin Mahesa seraya mencabut ponsel dari holder.
Bianca mengangguk. "Take your time, Babe. Aku juga mau cari referensi decorating cake," tambahnya seraya membuka aplikasi Pinterest dari ponselnya.
Mahesa tersenyum sambil mengusap puncak rambut Bianca sebelum menghubungi Cassandra.
"Ya Mah. Kenapa telepon? Sori, tadi Mahes lagi nyetir."
"......."
Bianca memang tak dapat mendengar ucapan Cassandra. Tapi ia tahu, itu bukan sesuatu yang bagus. Karena detik berikutnya suara Mahesa terdengar kesal.
Kepala Bianca otomatis menoleh ke arah Mahesa dan melihat ekspresi marah di wajahnya.
"Papi dimana? Ada di sana juga?" tanya Mahesa sambil menyalakan mesin mobil sementara tangan kirinya masih mengenggam ponsel.
"......"
"Mah, tolong jagain Papi. Jangan sampai dia ketemu Papi. Mahes pulang sekarang. Mama sama Papi nunggu di kamar aja. Jangan keluar sebelum Mahes datang." Mahesa menutup telepon dan memacu mobilnya meninggalkan pom bensin.
"Kamu turunin aku di depan sana aja, Babe. Biar nanti aku mesen taxi online." Bianca menunjuk pinggir jalan yang ia maksud. Walau Mahesa tak menjelaskan apa-apa namun Bianca tahu ada sesuatu yang terjadi dan lelaki itu harus cepat ada di rumah.
Namun Mahesa menggeleng dengan pandangan mengarah ke depan. "Kamu ikut aku. Nggak akan lama kok." Mahesa memalingkan netranya memandang Bianca sesaat, "kamu juga kenal orang yang ada di rumah Papi."
Sebelum Bianca bertanya, Mahesa keburu menuntaskan kalimatnya dengan decihan kecil.
"Daniel."