
Pagi hari seperti biasa Bian akan membantu Karina mengurus semua keperluan Hana untuk pergi sekolah, setelah selesai dengan semua keprluan putrinya kini Bian mengajak Hana untuk sarapan. Sesampainya dimeja makan dapat ia lihat Jasper yang sudah duduk dikursi khusus bayi, ia menghampiri putranya itu ia layangkan beberapa kecupan pada pipi chabi Jasper. Ia kemudia menoleh ke dapur, dapat ia lihat Karina yang sedang meyiapkan sarapan untuk mereka. Laki-laki itu kemudian melangkah munuju dapur, berinisatif membatu instrinya itu
“ada yang bisa aku bantu?” Tanya Bian
“aku sudah selesai” ujar Karina tanpa menoleh sedikitpun pada Bian, wanita itu berlalu begitu saja melewati Bian dengan membawa sup yang ada ditangannya.
Bian menghembuskan nafas berat, setelah pembicaraan semalam, Karina lebih memilih tidr bersama Jasper dan Hana, wanita itu bahkan pagi tadi hanya menyiapkan air dan pakaian kerja Bian tanpa membangunkan suaminya itu.
Sarapan kali ini mereka lalui dengan keheningan, Hana sibuk dengan sarapannya, Karina sibuk menyuapi Jasper sedangkan Bian, laki-laki itu sesekali melirik pada Karina. Biasanya jika seperti ini, ia akan dengan senang hati menyuapi Karina yang sedang enyuapi Jasper. Tapi pagi ini hal tersebut tidak ia lakukan, ia takut jika Karina akan menolaknya. Lagi-lagi Bian hanya dapat menghembuskan nafasnya berat
“Appa, apa siang nanti Appa sibuk?” Tanya Hana
“wae? Kenapa Hana bertanya seperti itu sayang?” jawab Bian
“em bisakah nanti kita makan siang bersama seperti dulu? Hana ingin makan roti bakar dan es krim seperi dulu. Bisakah Appa?” Tanya Hana dengan binar penuh harap dimata kecilnya
Bian terdiam, siang ini ia ada janji dengan klien untuk membahas masalah proyek kemarin yang belum terselesaikan, dan sialnya lagi ia akan pergi dengan Yerim lagi siang ini.
“Appa” panggil Hana ketika mendapati keterdiaman Bian
“Em Hana-ya, mianhane siang ini apa ada janji temu dengan klien Appa” ujar Bian
Hana menunduk, wajahnay langsung murung mendengar jawaban dari ayahnya. Mendapati hal tersebut, sudut hati Bian terasa begitu nyeri melihat kekecewaan yang tergambar pada wajah putri cantiknya itu.laki-laki itu kemudian menoleh pada Karina bermaksut meminta bantuan, tapi sayangnya Karina hanya meliriknya dari ekormatanya
“Hana-ya, dengarkan Appa. Nanti Appa akan menyelesaikan pekerjaan apa dengan cepat sehingga nanti kita bisa makan es krim dan roti seperti yang Hana inginkan. Appa juga akan menjemput Hana di sekolah, Eotte Hana mau?” lanjut Bian
Wajah Hana yang tadi terlihat begitu kecewa kini berseri kembali, gadis kecil itu dengan senyum mengembang mengangguk semangat setelah mendengar penuturan Ayahnya
“Hana mau, Appa janji akan menjemput Hana kan” Ujar Hana kembali meminta kepastian
“janji” ujar Bian dengan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Hana.
Setelah selesai saran Karina mengantar suami dan Hana sampai depan Pintu. Setelah memasitikan Hana aman duduk dibangkunya, Bian berjalan mendekat pada Karina, laki-laki itu bermaksut mengecup kening sang istri seperti biasanya, tapi belum sempat hal tersebut ia lakukan, Karina lebih dulu memalingkan wajahnya dan hal tersebut tentu saja membuat hati Bian terasa nyeri, ia ditolak oleh istrinya
“sudah siang, sebaiknya kalian segera berangkat sebelum Hana terlambat” ujar Karina
“siang nanti aku akan menjemputmu dirumah, kita akan makan siang bersama” ujar Bian
“tidak perlu, aku dan Jasper akan menunggumu disekolah bersama Hana” jawab Karina
Tidak ingin berdebat, Bian akhirnya hanya mengangguk pasrah dengan jawaban Karina “aku berangkat, hati-hati di rumah. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku” pesan Bian
Karina hanya bergumam sebagai jawaban.
“Bye Eomma, Jas Hana berangkat” ujar Hana sebelum mobil melaju
“Bye sayang, belajarlah dengan semangat. Eomma dan Jas akan menjemputmu nanti” ujar Karina dengan senyum terkembang begitu manisnya
Setelahnya mobil yang membawa Bian dan Hana berjalan menjauh.
Siang pun tiba, Bian terlihat gelisah dalam duduknya. Lima belas menit lagi Hana keluar dari sekolahnya, tapi kini dia masih berada di caffe bersama kiennya. Sebenarnya mereka sudah selesai membahas proyek itu, hanya saja sedari tadi Yerim mengajak mereka mengobrol hal diluar pekerjaan ‘untuk menjalin kerjasama yang semakin erat’ ujarnya
“Oppa wae? Apa sesuatu terjadi? Kenapa kau terburu-buru?” Tanya Yerim
Bian tidak menggubri apa yang Yerim tanyakan, laki-laki itu masih sibuk dengan kegiatnnya membereskan berkas dan laptopnya.
Merasa diabaikan Yerim pun memekik kesal “OPP”
“Wae” jawab Bian tak kalah kesal
“aku bertanya padamu, tapi kau megabaikanku. Kau mau kemana kenapa terburu-buru?” Tanya Yerim
“bukan urusanmu” ketus Bian
“ini menjadi urusanku, karena kau pergi denganku. Dan kita masih dalam jam kerja” ujar Yerim
Bian menatap Yerim tajam “aku mempunyai janji makan siang dengan ISTRI dan anakku. Dan perlu aku ingatkan, ini jam istirahat jadi aku bebas untuk pergi makan saiang dengan KELUARAGAKU” jawab Bian dengan menekan beberapa kata
Yerim meradang mendengar jawaban Bian. Tidak laki-laki itu tidak boleh pergi makan dengan kelurganya, ia sudah membuat rencana makan siang bersama laki-laki itu “kau tidak boleh pergi” ujar Yerim
Bian menghentikan kegiatannya “wae?” tanyanya
“aku ingin makan siang bersamamu, jadi kau tidak boleh pergi” ujarnya
Bian terkekeh sinis mendengarjawaban Yerim “kau pikir siapa dirimu Yerim-ssi hingga bisa mencegahku untuk pergi bersamaku? Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja dan tidak lebih dari itu, jadi jangan bertingkah selolah kita dekat dan memiliki sebuah hubungan” ujar Bian, setelahnya laki-laki itu beranjak dari sana
Yerim yang melihat itu bergerak gusar, ia tidak bisa membiarkan Bian pergi makan bersama keluarganya. Sebuah ide muncul, gadis itu berteriak solah-olah kesakitan “Aaakkkhhh” pekiknya
Dan hal tersebut mencuri perhatian dari beberapa pengunjung yang ada disana termasuk Bian yang baru berjalan beberapa langkah dari mejanya, laki-laki itu menoleh pada Yerim. Ia memutar arah ketika mendapati Yerim mengerang kesakitan memegang perutnya
“Yerim gweancahana” Tanya Bian khawatir
“Appo Oppa, perutku terasa sakit sekali Aaaakkkhhh” ujarnya
“kau bisa berjalan? Kajja aku akan membawamu ke rumah sakit” ujar Bian
“ak-aku tidak bisa Oppa perutku terasa begitu sakit saat berdiri” bohong Yerim
Bian menghela nasaf lelah dan dengan terpaksa ia menggnedong Yerim menuju mobilnya untuk kemudian mengantar gadis tersebut ke rumah sakit.
Dalam perjalanan Bian mencoba menghubungi Karina namun sialnya batrainya habis, dalam hati ia mengumpat atas apa yang terjadi. Sedangkan Yerim bersmirk mendapati wajah frustasi dari Bian “bukankah sudah ku bilang Oppa, kalau aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain pun tidak boleh memilikimu” ujar Yerim dalam hati
.
.
.
TBC
See you next chapture😊