Second Chance

Second Chance
Permintaan Maaf



Seorang pria berkulit putih dengan sepasang mata sipit dan rambut potongan cepak, berulang kali menyorot maniknya ke arah pintu masuk.


Dia mengetuk-ketukkan jemari di sandaran tangan kursi rodanya. Pertanda bahwa ia sudah tidak sabar menantikan seseorang yang dirindukannya.


DEGH.


Ketukan jemarinya berhenti bersamaan dengan sesosok wanita tinggi yang membuat netranya seketika berkabut.


Wanita itu perlahan mendekatinya dengan seutas senyuman yang tak pernah bisa ia lupakan.


"Bian…." Farrel mengerjap tak percaya melihat Bianca berdiri tepat di hadapannya. 


Bertemu seseorang dari masa lalunya membuat pria itu berkaca-kaca. Dia memalingkan wajah sembari mendongak guna menghentikan air matanya.


Jangan cengeng, Rel.


Setelah itu, barulah ia menoleh dan tertegun memandangi Bianca. 


Lima tahun tak bertemu, Bianca membuatnya pangling. Farrel menatap kagum melihat penampilan wanita tersebut.


Mengenakan turtleneck hitam dilapisi blazer biru tua dengan bawahan kulot model high-waist dan boots semata kaki berwarna gading, sosok Bianca begitu memukau netranya.


Omongan Kinara benar, Bianca kini sudah menjadi wanita sukses dengan penghasilan besar. 


Farrel yang notabene berasal dari keluarga berada, tahu betul nominal harga dari semua benda yang melapisi tubuh Bianca.


Tanpa sadar Farrel merapatkan resleting jaketnya. Mendadak, ia merasa kerdil di hadapan Bianca. Meski harga baju yang dipakainya tak berbeda jauh dari wanita tersebut.


"Apa kabar Koh?" pertanyaan Bianca memutus lamunan Farrel. Dia menarik kursi kosong di seberang Farrel. 


Farrel hanya meringis, "yah... yang seperti kamu lihat." Pandangan Farrel mengerling ke arah kakinya yang lunglai. 


Dia menarik napas panjang, menatap pilu kaki yang dulu kerap ia banggakan karena selalu menyumbang gol kemenangan di setiap pertandingan sepak bola kampus. 


Namun sekarang, itu hanyalah seonggok daging yang kaku dan rapuh.


"Kamu sendiri?" Farrel mengalihkan netranya, menatap Bianca. "Kamu kelihatan beda, Bi. Kokoh jadi segan," aku Farrel.


"Apanya yang beda Koh? Aku tetap Bian yang dulu Kokoh kenal kok," sergah Bianca.


Farrel tertawa, "oh ya? Berarti masih suka gummy bear dong?" 


Bianca nyengir lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebungkus permen jelly bergambar beruang.


"Masih ternyata.." Farrel terkikik geli. Teringat saat Bianca selalu meminta dibelikan gummy bear setiap kali dia mampir ke minimarket.


Suasana yang semula canggung mendadak hangat. Hanya saja, kedua manusia itu belum juga membahas persoalan yang menjadi tujuan pertemuan mereka hari ini. 


Mereka masih ingin mengenang terlebih dulu kisah pertemanan keduanya, tanpa menyebutkan nama mantan masing-masing.


"Hahahaha… tapi dulu kamu sama Net –" tawa Farrel seketika lenyap setelah keceplosan menyebut sebuah nama. Dia mengatupkan bibir dan beranjak menyeruput kopi hitamnya.


Hening.


"Koh…" panggilan lembut Bianca membuat Farrel mengalihkan netranya ke arah wanita yang selalu ia anggap bak adik kandungnya sendiri.


"Ya?"


"Kokoh tahu keadaan Kak Neta sekarang, bukan? Dia bukan Kak Neta yang dulu lagi. Sekarang dia –" Bianca menggantungkan kalimatnya. 


"I know," Farrel menyahut dengan suara lirih. "Kokoh juga nggak berharap hubungan kami akan seperti dulu lagi. Kokoh cuma ingin meminta maaf. Dan juga…." Mata sipit Farrel terpejam sejenak. Diraupnya oksigen sebanyak-banyaknya karena rongga dadanya terasa mencekik.


"Kokoh pengen liat Brandon –" Farrel mulai terisak. "Kamu tahu Bi, begitu Kokoh sadar dan mengingat semuanya. Hal pertama yang Kokoh ingat adalah janin yang ada di perut Ganeeta. Setiap malam, Kokoh selalu berdoa agar janin itu tumbuh sehat dan terlahir sempurna. Sumpah Bi, kedatangan Kokoh bukan untuk menghancurkan rumah tangga Ganeeta. Kalau pun nantinya dia ngelarang Kokoh nemuin Brandon –" Farrel menghapus jejak air mata di sudut matanya.


"Kokoh akan langsung pergi dan kembali ke Bali," tandasnya.


Bianca memalingkan wajahnya. Berusaha menyembunyikan genangan air mata yang sudah berkumpul di sudut matanya. Meski tahun-tahun berlalu, nyatanya cinta Farrel kepada Ganeeta masih sama seperti dulu. Bianca bisa merasakan pendar cinta di mata Farrel setiap menyebut nama Ganeeta.


"Nggak apa-apa, Kokoh memang pantas dapat penolakan," tukas Farrel getir.


Bianca menghela napas panjang. Lalu mengecek jam di pergelangan tangannya. "Besok jadwalnya Mama Cassandra dan Mahesa yang jagain Om Brama. Jadi kita bisa nemuin Kak Neta di butiknya."


"Mama Cassandra?" alis Farrel mengernyit. "Wait. Itu kan nama Mamanya Neta. Kok kamu?" Farrel kebingungan, lalu sedetik kemudian tersenyum jahil.


"Maksud aku, Nyonya Cassandra!" Bianca buru-buru meralat ucapannya karena Farrel tengah menggodanya dengan alis yang naik turun disertai cengiran lebar.


"Hayo… berarti gosip dari Kinara bener ya. Kamu sama Kakak tiri Neta udah jadi –" Farrel tertawa terbahak usai dilempar sebongkah tissu oleh Bianca.


"Kokoh!!" Bianca memekik kesal seraya menekuk bibirnya.


Tawa kencang Farrel kembali membahana. Beruntung meja mereka berada di area outdoor dan tak ada pengunjung sehingga Farrel bisa bebas menggoda Bianca.


Dari kejauhan, Sulis menyaksikan interaksi tersebut dengan mata membulat haru. Baru kali ini ia melihat majikannya tertawa lepas seperti itu. Biasanya Farrel hanya mengulas senyum tipis dan menjaga jarak dari keluarganya.


"Tapi dibanding Neta, seharusnya Kokoh melakukan ini terlebih dulu ke kamu…" Farrel menggeser cangkir kopinya. Lalu tiba-tiba badannya sedikit membungkuk dengan kepala tertunduk. 


"Maafin Kokoh, Bi. Gara-gara Kokoh, kamu dan Dewa jadi bercerai. Kalian semua jadi ikut menderita karena Kokoh. Tolong maafin Kokoh!" ucapnya parau.


Bianca melotot kaget. Dia lantas mengenggam tangan Farrel di atas meja dan meremasnya lembut.


"Jangan kayak gini, Koh. Sebelum Kokoh minta maaf, Bian udah maafin Kokoh. Tolong angkat kepala Kokoh, karena Bian juga bersalah disini!"


Farrel mendongak dengan alis mengkerut bingung. "Bersalah?"


Bianca mengangguk. "Perpisahan Bian dengan Dewa nggak akan terjadi, jika seandainya Bian bersikap lebih dewasa. 


Waktu Bian pergokin Dewa yang bawa Kak Neta dengan keadaan hamil besar, seharusnya Bian samperin mereka. Tapi emosi lebih merajai otak Bian. Yang ada di kepala Bian, cuma tentang Dewa dan Kak Neta selingkuh sampai menghasilkan nyawa di perut Kak Neta. Bian sama sekali nggak kasih kesempatan Dewa buat menjelaskan semuanya. Bian tutup semua akses komunikasi dan menjauhi mereka…" Bianca mengigit bibir bawahnya. Matanya mengerjap menahan lelehan air mata yang ingin mengalir turun.


"Kepala Bian terlanjur dipenuhi pemikiran negatif tentang mereka. Sampai Bian lupa, kalau sedang mengandung. Jadi….."


Bianca menutup wajahnya dan terisak. Tak sanggup rasanya mengingat kembali ingatan pahit tersebut.


Dia baru mendongak ketika Farrel mengelus rambutnya. Mata pria itu basah dan memerah. 


Bianca menyeka air matanya dan meringis. "Kokoh kenapa ikutan nangis? Jelek tau!" cibirnya. 


"Dih!" Farrel mencebik dan menjitak halus kepala Bianca. "Udah berani ya godain Kokoh? Mentang-mentang udah sukses. Tarik lagi deh air matanya."


Bianca hanya tertawa seraya menjulurkan lidah. 


"Yah, pokoknya aku cuman bantu ketemuin Kak Neta, setelah itu urusan Kokoh. Tapi inget loh Koh, istri orang jangan digombalin," peringat Bianca.


"Astaga, memangnya Kokoh se'ngenes itu Bi?" sanggah Farrel cemberut. "Gini-gini, Kokoh jomblo terhormat ya. Kokoh nggak akan jadi pebinor."


Bianca meringis. Sambil menyeruput kopi, Bianca menatap Farrel yang tengah memanggil perawatnya agar mendatangi meja mereka.


Di dalam hatinya, Bianca berharap semoga Ganeeta mau memaafkan Farrel dan berkenan mempertemukannya dengan Brandon - anak semata wayang mereka.


Tring.


Bunyi notifikasi chat masuk, membuyarkan lamunan Bianca. Dia memeriksa aplikasi chatting di ponselnya dan mendapati pesan singkat dari Mahesa.


Bianca mengulum senyum dan membalas chat tersebut. Baru juga terkirim, Mahesa langsung membalasnya lagi.


Jadilah Bianca melupakan Farrel sesaat dan fokus dengan ponselnya. 


Hal itu tentu diamati oleh Farrel.


Pria bermata sipit itu tersenyum. Dia bersyukur akhirnya Bianca menemukan kebahagiaan dan keluar dari lingkaran masa lalunya.


Apa Kokoh akan mampu seperti kamu, Bi? Melupakan Ganeeta dan memulai hidup yang baru?


Sekali lagi, terimakasih sudah mau memaafkan Kokoh. Kokoh doakan, semoga kali ini dia lah jodoh terakhirmu.