Second Chance

Second Chance
S.C Hampir Celaka



"Ini Bos, minyak kayu putihnya."


Mahesa menerima botol minyak dari orang suruhannya lalu membuka kemasan tutupnya dan menyerahkannya pada Bianca. "Hirup aromanya, Babe. Supaya mualmu hilang. " 


Bianca menghidu aroma botol kayu putih. Matanya terpejam menikmati sensasi aromatic botol kayu putih merk ternama.


"Masih kerasa mual?" tanya Mahesa khawatir.


Bianca membuka mata dan mendelik sebal. 


"Minum teh anget dulu," tanpa memperdulikan tatapan tajam Bianca, Mahesa menyodorkan segelas teh manis hangat. "Minum sedikit ya. Biar enakan perutmu," bujuk Mahesa.


Bianca menghela napas panjang lalu menyesap tehnya.


"Beneran sedikit lho," Mahesa berdecak, geleng-geleng kepala saat Bianca mengembalikan gelas tehnya ke nakas. 


Mata Bianca menyipit tajam, lalu…


Buk. Buk. Buk.


Bianca memukuli badan Mahesa dengan guling berulang kali. 


Mahesa pasrah menerima pukulan Bianca. Dia membiarkan Bianca meluapkan emosinya.  


Hari ini sudah dua kali Mahesa melakukan kesalahan. Pertama, meninggalkan Bianca di rumah orang tuanya. Lalu yang kedua – saat di jalan tadi.


Mata Bianca berkaca-kaca selepas memukuli Mahesa. Jantungnya masih berdebar kencang mengingat kejadian yang hampir saja merenggut nyawa keduanya.


Bianca memang menutup mata selama di mobil. Tapi bukan berarti ia tak merasakannya. Sepanjang perjalanan, badannya ikut terlempar ke kiri dan kanan bahkan nyaris membentur dashboard jika tidak ditahan Mahesa dengan tangan kirinya.


Demi menghindari mobil SUV yang mengikuti mereka, Mahesa menyetir ugal-ugalan. Padahal saat itu jalanan sedang ramai-ramainya.


Entahlah, Bianca tak tahu pasti bagaimana cara Mahesa menyetir. Mungkin seperti adegan di film Fast Furious, menyalip antara celah-celah bus dan kendaraan lainnya. 


Yang jelas, Bianca bisa mendengar riuh suara klakson saling bertalu bersamaan dengan kecepatan laju mobil Mahesa. Bahkan ada suara makian dan sumpah serapah pengemudi di luar sana. 


Puncaknya ketika Mahesa nekat menyalip dari sisi kanan. Saking kencangnya bantingan kemudi, Bianca refleks membuka mata. 


Saat itulah mereka berdua melihat sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan. Mahesa spontan menginjak pedal rem. Begitu juga si sopir truk yang sama-sama menghentikan laju kendaraannya. Suara yang timbul akibat gesekan ban dengan aspal membuat pengendara lain di sekitar lokasi itu menjerit. 


"Babe? Are you okay?" tanya Mahesa cemas. 


Bianca tak menjawab. Dia nampak syok melihat truk tronton berjarak beberapa inci di depan matanya. Sadar Bianca terguncang, Mahesa gegas memacu mobilnya begitu melihat Liam turun dan berbicara dengan pengemudi truk. 


**********************


Bianca membuka mata dan mengerjap beberapa kali tuk menyesuaikan cahaya temaram di kamarnya. Dia mendongak, menatap ke langit-langit. Agak kebingungan ketika menyadari sesuatu. 


Kok plafonnya tinggi banget? Perasaan nggak setinggi itu deh.


Eh. Ini bukan kamar gue.


Bianca berjengit kaget dan bergegas bangun. Matanya mengedar, memindai kamar asing yang ditidurinya. Ini dimana?


Seketika ia ingat jika Mahesa yang membawanya ke tempat ini. Ngomong-ngomong, mana Mahesa? Ini rumah siapa ya?


Sambil bermonolog, Bianca lantas menyalakan lampu tidur di atas nakas agar ruangan menjadi lebih terang. 


Ah. Itu dia Mahesa-nya.


Mahesa terlelap di sofa panjang dekat jendela di sisi kanan kamar. Bianca bangkit dari kasur lalu berjalan menghampirinya. Ditatapnya lekat wajah sang kekasih. 


"Ya ampun jam berapa ini?!" Bianca tersentak kaget dalam hati. Setengah berlari, Bianca mencari tasnya. 


Melihat pekatnya langit malam dari jendela, Bianca menduga antara jam 9 atau 10 malam. 


"Lho, hape gue mana? Kok nggak ada?" Bianca mengaduk-aduk isi dalam tasnya namun tak juga menemukan ponselnya. 


Bianca panik. Masalahnya ia selalu mengabari Ibunya jika akan pulang terlambat. Selain itu, Bianca juga harus mengabari karyawan tokonya. Takut mereka khawatir, karena Bianca pergi dari siang hari.


Bisa-bisanya gue ketiduran di tempat asing?! Ck. Ini pasti gara-gara tadi siang minum obat sakit kepala.


"Babe? Kamu udah bangun?" suara serak Mahesa mengejutkan Bianca.


"Huum…" Bianca menjawab singkat sambil menghamburkan isi tasnya ke atas kasur.


"Cari apa?" Mahesa beringsut mendekat dan duduk di tepi kasur.


"Hapeku? Kamu liat nggak? Aku belum ngabar —" ucapan Bianca terputus karena Mahesa menepuk bahunya lembut.


"Padahal ada di dekat kamu lho. Tuh…" Mahesa tersenyum geli sambil menunjuk ponsel Bianca yang tengah diisi daya di atas nakas sisi kanan kasur.


Mahesa mengusap puncak kepala Bianca gemas. Dia lantas berdiri tuk menyalakan saklar lampu kamar sementara Bianca langsung mencabut ponselnya dan membuka aplikasi whatsapp.


"Eh, kamu udah chat Meta? Kok dia nge-chat gini. Katanya, aku nggak usah khawatir. Beres pokoknya?" Bianca menatap bingung Mahesa yang tersenyum mendekatinya. "Memangnya kamu bilang apa?"


"Aku bilang kita berdua lagi nginep di rumah Papi."


"Babe!!" Bianca melotot kaget.


"Lho? Kenapa? Salah?" tanya Mahesa bingung. 


"Ya masa bilang nginep di rumahmu. Aduh.. Gimana kalau Ibuku tahu?"


"Ya, daripada aku bilang kita nginep di apartemen-ku atau hotel? Mendingan juga bilang di rumah Papi. Ketahuan ada orang tuaku disana," jelas Mahesa sambil mengambil ponselnya dan menunjukkan isi percakapannya dengan Meta. "Tenang, Baby. Aku udah bilang ke Meta supaya sampaikan ke Ibumu, kalau kamu tidur di ruko."


Bianca menarik napas lega. Tapi sejurus kemudian, ia mulai cemas, "Tapi bakalan aneh nggak sih, kalau bukan aku sendiri yang bilang ke Ibu?" 


"Ibu ada chat kamu?" tanya balik Mahesa yang dibalas gelengan Bianca. "Ya berarti aman, Baby. Mungkin Meta kasih alasan klasik."


"Apa?"


"Habis baterai. Atau mungkin juga dia chat pura-pura jadi kamu. 'Kan ponselmu beneran mati."


Meski Bianca mengangguk-angguk, nyatanya dia tetap menghubungi Meta tuk memastikan kebenarannya. Jangan sampai Ibunya tahu Bianca berbohong.


"Memangnya kenapa kalau Ibu tahu kamu nginep di rumah orangtuaku? Kan kita nggak cuma berdua. Nggak mungkin juga orang tuaku ngijinin kita tidur satu kamar." Mahesa terkekeh geli. Dia merasa seperti berpacaran dengan anak sekolah. Sikap Bianca saat ini mirip remaja yang tengah ketakutan karena melanggar jam malam.


Bianca terdiam sejenak. Kebingungan merangkai jawaban agar tak menyakiti perasaan Mahesa. Mana sanggup ia bilang bahwa Ibunya menyuruhnya menjauhi Mahesa beserta keluarganya?


"Ibuku itu termasuk orang konservatif dan agak religius, Babe," alasan Bianca.


"Biar pun ada orang lain selain kita di rumah?" tanya Mahesa aneh.


"Iya. Tetap nggak boleh. Kalau kata Ibu, kita tuh bukan mahram. Gampang banget kena fitnah sama hasutan setan."


"Woah…" Mahesa takjub mendengarnya. Tak menyangka masih ada pemikiran seperti itu, di jaman modern ini. Mungkin karena kedua orangtuanya – Brama dan Cassandra, tak melarangnya seketat itu. Mahesa diperbolehkan menginap bersama teman wanitanya, dengan catatan — tidak satu kamar.


"Kayaknya ilmu agamaku harus ditingkatin, supaya nggak malu-maluin di depan Ibumu nanti." Mahesa mulai menyusun beberapa rencana di kepalanya. Salah satunya dengan mengikuti kajian dan mendatangkan ustadz ke apartemennya. 


"Untungnya dulu aku pernah sekali khatam Al-Quran. Kira-kira bisa jadi nilai plus nggak di mata Ibumu?" 


Bianca hanya mengangguk sambil tersenyum samar. Pikirnya, akan ada waktunya tuk menjelaskan pada Ibunya tentang kebaikan Mahesa dan keluarganya.


Oh, iya Dewa. 


"Baby, ada apa?" Mahesa mengernyit bingung melihat wajah Bianca yang berubah keruh.


Bianca menggeleng pelan. "Nope. Aku cuman keinget sesuatu." 


"Ingat apa?" tanya Mahesa lembut sambil menyelipkan anak rambut Bianca ke belakang telinga.


"Inget mau nanya kamu. Ini tempat siapa, Babe? Terus orang-orang yang tadi nyambut kita, itu siapa? Mereka semua kelihatan hormat lho sama kamu. Mana gede-gede semua badannya. Kenapa juga kamu nyebutnya ini markas? Apa kamu ini —" mulut Bianca tiba-tiba mengunci rapat. Memandang ngeri ke arah sang kekasih.


"Aku apa?" Mahesa tersenyum geli mendapati Bianca yang tiba-tiba berhenti mengoceh. "Aku mafia, gitu?" tanyanya jahil seolah mengetahui isi kepala Bianca.


Bianca hanya diam sambil menatap lekat raut sang kekasih. Berdebar, menunggu jawabannya.


"Kalau semisal iya, gimana?" tanya Mahesa yang semakin mengikis jarak keduanya, "Kamu takut?" bisiknya rendah.


Bianca terkesiap dan mendapati senyum horror sang kekasih.


"Be – beneran? Kamu anggota mafia?" tanyanya dengan suara tercekat. Sekelebat kehidupan mafia terbayang di kepalanya. Narkoba, s*x bebas, bunuh-bunuhan – itu yang biasa dia lihat di film-film.


Tawa Mahesa membahana kencang melihat pias pucat Bianca. Namun tawa itu hilang begitu Bianca beranjak berdiri sambil mencangklong tasnya.


"Baby, hei… Kamu mau kemana?" Mahesa bergegas mengejar Bianca yang keburu membuka pintu.


"Wait," beruntung Mahesa sigap menahan pergelangan tangan Bianca sebelum wanita itu menuruni tangga.


"Lepas Sa!!" sentak Bianca ngeri. "Kamu — gangster!" 


Ingin rasanya Mahesa melanjutkan keisengannya. Namun menyadari tangan mulus Bianca yang gemetar, membuat Mahesa urung melakukannya dan langsung mendekap erat sang kekasih.


"Maafin aku Baby. Aku cuman bercanda."


"Bohong!!" Bianca berusaha lepas dari pelukan Mahesa tapi pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Kalaupun aku mafia, lantas kenapa? Nggak semua mafia itu negatif, Baby. Aku ini bukan Escobar atau Al Capone seperti pikiranmu. Tolong dengerin aku dulu. Please…" bujuk Mahesa di telinga Bianca. Pria itu bernapas lega saat Bianca tak lagi berontak di pelukannya.


"Aku bakal lepasin kamu, seandainya nanti kamu tetap ngerasa ilfill setelah denger omonganku."