
Mahesa baru saja menutup layar laptop saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang ia kenal, membuat matanya melotot.
"Cari apa, Sa?" tanya Cassandra. Dia yang hendak menyiapkan makan siang, seketika menghentikan kegiatannya saat putra sambungnya meraba-raba pinggiran sofa bed.
"Kunci mobilku dimana ya, Mah?" tanya Mahesa tanpa memandang Ibunya.
Cassandra meletakkan bungkusan makanan ke atas meja lalu ikut mencari benda tersebut.
"Lha, ini apa?" Cassandra mengangkat kunci mobil berlogo sayap putih mengepak.
"Mama nemu dimana?" Mahesa gegas menyambarnya dari tangan Ibunya. Belum sempat Cassandra menjawab, Mahesa keburu melayangkan kecupan singkat di pipi wanita itu, "thanks Mah. Aku pergi dulu. Ada urusan," imbuhnya seraya melenggang pergi.
Cassandra hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Mahesa.
"Padahal tadi kuncinya ada di sofa juga…" gumam Cassandra keheranan.
************
Mahesa memegang erat setir kemudi. Giginya gemeretuk menahan emosi. Ditekannya pedal gas dalam-dalam. Dia ingin sesegera mungkin sampai di tempat tujuannya.
"Sampai elo menyentuh Bianca, gue potong tangan lo, Niel!!" maki Mahesa sembari memukul setir kemudi dengan tangan kirinya.
************
Sementara itu.
Setelah kepergian Daniel, baik Bianca maupun Kinara sibuk tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Hah…."
Kinara menghembuskan napas kasar. Lalu melirik Bianca. Sejak tadi sahabatnya hanya terdiam seraya mengaduk-aduk sedotan di gelas tanpa meminumnya.
"Bi…." suara Kinara mengalihkan atensi Bianca.
"Hmm…" sahut Bianca singkat.
Kinara meringis dalam hati melihat raut wajah sahabatnya yang nampak kusut.
"Lo lagi mikirin apaan?" tanya Kinara. Walau sesungguhnya ia bisa menebak jawabannya namun tujuannya bertanya hanya ingin membuat Bianca bersuara.
Bianca menarik napas panjang. Terdiam sesaat lalu memandangi Kinara.
"Kenapa ya, gue ngerasa Pak Daniel tadi, sebenernya lagi ngancem gue. Kata-katanya itu lho… Lo denger dia ngomong apa, kan?" Bianca menopang dagunya dengan satu tangan sementara matanya menatap entah kemana.
Kepala Kinara mengangguk mengiyakan. Bagaimana bisa Kinara melupakan kata-kata yang membuatnya merinding seperti tadi. Padahal pria itu tak berbicara kepadanya tetapi pembawaan Daniel yang tenang dan dingin rupanya mampu mempengaruhi bulu kuduk Kinara.
"Itu juga yang ada di kepala gue," jawab Kinara. Wanita itu menatap lekat sahabatnya.
"Bi….. kayaknya lo mesti nurutin Daniel deh. Gue tiba-tiba kepikiran omongan Mahesa yang bilang kalau masalah ini gak sesimple pemikiran kita." Kinara merapatkan tubuhnya ke meja. Netranya menatap lurus Bianca yang ikut-ikutan mencondongkan tubuhnya.
"Lo pikir deh, menurut lo kenapa keluarga Farrel sampe nyembunyiin dia? Kesannya tuh, seolah Farrel nggak dibolehin bertanggung jawab. Padahal keluarga Ganeeta setara sama mereka, malah kayaknya lebih tajir'an Pak Brama ketimbang Pak Benjamin. Kalau di drama, pernikahan kayak gini mestinya bisa jadi bisnis bagus. Tapi yang ini…...malah nggak direstuin. Kenapa coba menurut lo, Bi?" oceh Kinara panjang lebar dengan muka antusias.
Mata Bianca menyipit. Otaknya bekerja cepat menyimpulkan semua perkataan Kinara. Seakan mendapat secercah ilham, setelahnya dia mengerjap takjub.
"See? Lo udah kepikiran jawabannya?"
Bianca mengangguk ragu. Sedikit tidak yakin pada pemikirannya. "Persaingan bisnis?"
Kinara menjentikkan jari di depan Bianca membuat sahabatnya itu kontan melotot kaget.
"Sorry," cengir Kinara. Jari lentiknya mencomot potongan Crispy Chicken fries terakhir lalu menghabiskan minuman lemon lime miliknya. "Pokoknya, gue setuju sama omongan Daniel. Jauhin Farrel, Bi. Jangan berurusan dengan dia lagi. Ibaratnya kita ini cuma tikus di antara dua singa."
Bianca merotasikan bola matanya, "dari kemarin juga udah gue jauhin, tapi siapa ya, yang bawa Koh Farrel nyampe Jakarta?" sindirnya.
Kinara meringis malu. "Yah, kan gue nggak tahu kalau ternyata serumit ini. Gue kira macam sinetron, gak direstuin cuma karena kasta. Mana gue nyangka kalau si Farrel aslinya anak orang kaya." Kinara memang baru tahu seberapa besar kekayaan keluarga Farrel setelah Ettan membocorkan aset bisnis Pak Benjamin di Singapura.
Bianca hanya berdecak. Lalu ikutan menghabiskan sisa makanannya di piring.
"Tapi gue perhatiin, lo akrab banget sama Farrel ya, Bi. Kayak orang yang nggak pernah nyimpen dendam," cetus Kinara bingung.
Bianca mengedikkan bahu seraya membersihkan mulutnya dengan selembar tisu, "emang nggak. Ngapain gue mesti benci Koh Farrel? Dia nggak ada salah kok ke gue."
Ya, Bianca memang tak pernah menyimpan kebencian terhadap Farrel. Menurutnya, meski Farrel menghilang pun, tak seharusnya Dewa dan Ganeeta berkhianat di belakangnya.
Alasan Ganeeta demi membuatkan status untuk anaknya dirasa tak masuk akal.
Harta Ganeeta melimpah, dia bisa membeli banyak lelaki di luaran sana dengan uangnya. Toh tujuan Ganeeta menikah supaya Brandon bisa mencantumkan nama ayah di kartu kelahirannya, bukan?
Jadi kenapa harus Dewa?
Kenapa juga Dewa mesti setuju?
Makanya Bianca tak pernah membenci Farrel meski pria itulah, alasan Ganeeta memilih jalan pintas untuk menyelamatkan nama besar keluarganya.
Kinara manggut-manggut mendengar penjelasan Bianca. Wanita itu lantas mengajak sahabatnya pergi dari restoran begitu keduanya selesai menghabiskan makanan mereka.
"Mampir kesana bentar yuk, Bi. Gue mau beli sesuatu buat Ettan," Kinara menunjuk outlet Massimo Dutti.
Sambil menunggu Kinara, Bianca ikut melihat-lihat barangkali ada sesuatu yang bisa ia belikan untuk Mahesa.
Saat sedang asyik memilih, tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangannya.
"Babe?!!" Bianca memekik terkejut. "Kok kamu disini?"
Bukannya menjawab, Mahesa justru sibuk memindai penampilan Bianca dari atas hingga ujung kaki.
"Daniel ngapain kamu? Dia ada sentuh-sentuh kamu, nggak?" tanyanya cemas.
"Daniel?" Bianca memiringkan kepalanya bingung, "gimana kamu bisa tahu Daniel habis nyamperin aku?"
"Jawab dulu pertanyaan aku, Baby…."
Bianca menggeleng, "dia nggak ngapa-ngapain aku, bahkan nyentuh seujung kuku aku pun enggak."
Mahesa menghembuskan napas lega.
"Kamu belum jawab pertanyaanku. Darimana kamu tahu soal Daniel yang nyamperin aku?" tanya Bianca bingung. Namun sedetik kemudian mata wanita itu memicing tajam.
"Kamu mata-matain aku?"
Glek.
Mahesa menelan salivanya takut. Tatapan mata Bianca seakan siap mengulitinya hidup-hidup. Mahesa diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Lo berdua kenapa sih? Dilihatin orang-orang, tahu!" desis Kinara yang tiba-tiba datang mendekat.
Sadar tengah jadi pusat perhatian, Mahesa membujuk Bianca untuk keluar mengikutinya.
Awalnya Bianca setuju, namun saat tahu Mahesa berniat membawanya keluar dari area mall, wanita itu menolak.
Mengetahui Mahesa menyuruh orang untuk memata-matainya jadi membuat Bianca jengkel dan sedikit ketakutan berada di dekat lelaki tersebut.
Tetapi saat Mahesa bilang akan menjelaskan semuanya disana, Bianca dan Kinara setuju. Dengan catatan, Bianca tak akan ikut di mobil Mahesa.
"Okay Baby. Enggak apa-apa, kalian bisa ikutin aku dari belakang…" putus Mahesa lesu.
************
"Oke. Aku jelasin ya. Pertama, aku minta maaf dulu. Aku memang ada nyuruh orang untuk ngikutin kamu, Baby…." Mahesa menatap Bianca takut. "Tapi ada alasannya!!" sambungnya cepat ketika melihat pelototan Bianca.
Bianca mendengkus. Sementara Kinara celingukan antusias mencari keberadaan orang suruhan Mahesa.
"Lo nggak bakal nemuin Kin. Mereka ini ahli menyembunyikan diri," kata Mahesa geli.
Kinara mendesah kecewa. Padahal ia sudah membayangkan akan melihat pria-pria seksi bertubuh tegap serta memakai kacamata dan jas hitam yang kedapatan mengawasi mereka.
"Namanya aja mata-mata. Kalau gitu mah kentara banget dong Kin," Bianca geleng-geleng kepala mendengar imajinasi Kinara. "Aneh deh lo."
"Gue juga tahu, ya!" pungkas Kinara keki. "Gue cuma lagi mencairkan suasana," kilahnya.
Mahesa ikut geleng-geleng kepala. Sedikit takjub dengan pola pikir Kinara yang terkadang aneh dan absurd. Lelaki itu tiba-tiba mengurut pelipisnya.
"Aku cerita darimana dulu ya, Baby? Aku bingung sendiri," keluhnya.
"Lha, kenapa nanya ke kita?!" sembur Kinara.
Mahesa terkekeh, menertawakan dirinya sendiri. Lelaki itu terdiam sejenak sebelum menarik napas panjang.
"Alasanku nyuruh orang untuk mata-matain kamu….. karena aku takut mereka celakain kamu. Mereka disini maksudku, Om Ben dan Daniel."
"Om Ben?" beo Bianca dan Kinara berbarengan. "Benjamin — ayahnya Koh Farrel?"
Mahesa mengangguk.
"Tapi aku nggak kenal mereka. Kenapa mereka mau celakain aku?" tanya Bianca kebingungan.
"Karena kamu temennya Farrel." Jawab Mahesa singkat.
Alis Bianca berkerut semakin dalam. Tetapi kemudian otaknya menyambung pada peringatan Daniel di restoran tadi.
"Maksudnya gimana? Aku temenan sama Koh Farrel udah lama lho. Dan temen dia nggak cuma aku doang. Oh... Apa temen-temen Kokoh yang lainnya diginiin juga sama Pak Benjamin?" tanya Bianca.
Kini Bianca jadi mengerti kenapa dulu tak ada satu orang pun yang bisa membantu Dewa dan Ganeeta sewaktu mereka mencari keberadaan Farrel. Bahkan pihak kampus, entah sengaja atau tidak, pernah memberikan Dewa alamat rumah Farrel yang ternyata sudah lama tak berpenghuni.
"Pantesan, waktu Mas Dewa nanyain temen-temennya Koh Farrel, mereka semua kompak bilang nggak tahu," sambungnya.
Namun jawaban Mahesa nyatanya mematahkan argumen Bianca.
"Mereka semua beneran nggak tahu. Temen-temen Farrel yang kamu maksud, nggak pernah diusik Om Ben. Cuma kamu, satu-satunya temen Farrel yang jadi targetnya Om Ben."
"Loh. Kena —"
"Karena cuma kamu yang Farrel samperin begitu dia sadar dan inget semuanya!!" potong Mahesa kesal. Dia mendengkus di ujung kalimatnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
Kinara hampir tersedak air minum. Bola matanya spontan membeliak.
Mahesa cemburu? Sama Farrel? Wah....ada apa nih?
Kinara lalu memalingkan muka, menatap ke arah Bianca. Penasaran bagaimana sahabatnya itu akan merespon kecemburuan Mahesa.
"Oh…."
Seperti dugaannya, Bianca hanya bergumam singkat seraya menganggukkan kepala. Kinara mati-matian menahan tawa melihat raut kesal Mahesa.
"Eh.. Tapi Koh Farrel nyamperin aku buat bantuin dia ketemu Brandon. Itu juga atas permintaan Koh Farrelnya sendiri lho," tukas Bianca kesal begitu teringat alasan Farrel menemuinya.
Jujur saja, Bianca tak terima jika nyawanya jadi terancam hanya karena mengiyakan permintaan Farrel.
Gue kan cuma nurutin permintaan anaknya. Kenapa Pak Benjamin jadi ngancem gue gara-gara itu?
Seolah mengetahui isi kepala Bianca, Mahesa tiba-tiba menanyakan sesuatu.
"Baby, selama kamu kenal Farrel, apa dia pernah cerita tentang keluarganya?"
Bianca menggeleng.
"Memangnya kamu nggak pernah penasaran?" todong Mahesa.
Bianca berpikir sejenak. Memang ada masa dimana ia heran mengapa Farrel selalu berada di kost'an saat libur semester perkuliahan.
Bahkan natalan, lebaran atau tanggal merah lainnya, Farrel tak pernah terlihat bepergian mengunjungi keluarganya. Namun kala itu Bianca tak ambil pusing. Dia menganggap itu bukan sesuatu yang harus ia pertanyakan.
Bianca menggaruk pelipisnya. Malu mengakui kalau ternyata dia tak cukup peka dengan keadaan orang-orang terdekatnya.
"Yah..... ada alasan kenapa Farrel nggak pernah cerita. Karena seharusnya eksistensi dia itu nggak pernah ada," ungkap Mahesa dengan wajah serius.
Mahesa menjeda kalimatnya ketika menangkap raut kebingungan di wajah Bianca dan Kinara.
"Farrel itu anak Om Ben dari istri simpanannya. Otomatis dari lahir dia udah disembunyiin dari sorotan publik. Seandainya masalah ini nggak ada, aku nggak akan pernah tahu kalau ada anak Om Ben lainnya selain Daniel," papar Mahesa panjang lebar yang semakin membuat kedua wanita di hadapannya tercenggang.
Semenjak Bianca keceplosan tentang rahasia kelahiran Brandon, Mahesa langsung bergerak cepat menyelidikinya dan menemukan fakta tersebut.
Hanya saja saat itu dia tidak berpikir Farrel akan berani untuk menemui adiknya. Alih-alih Ganeeta, Farrel justru mendatangi Bianca terlebih dulu.
Ketika seseorang yang disembunyikan, nekat muncul untuk bertemu dunia luar, sudah pasti berbagai cara akan dilakukan untuk membuatnya tetap tersembunyi.
Misalnya dengan 'membungkam' orang-orang terdekatnya.
Makanya ketika Bianca pamit menemui Farrel, Mahesa langsung mengerahkan orang untuk melindungi kekasihnya. Dan benar saja, orang suruhan Om Ben ternyata sudah mengawasi Bianca.
"Aku menduganya begini, seharusnya Farrel itu hidup tenang dan nggak macem-macem seperti sebelumnya. Sayangnya dia malah kebablasan berhubungan sama Neta. Jadi aja, Om Ben marah dan pas banget momentnya Farrel mengalami kecelakaan hingga amnesia. Om Ben manfaatin hal itu untuk menghilangkan jejak kehidupan Farrel. Tapi ternyata Farrel justru ingat semuanya dan kabur ke Jakarta…."