Second Chance

Second Chance
Bab 32. Thomas dan Rencana Diam-Diamnya



Thomas terlihat di kantor Kesatuan Pasukan Khusus. Dia ingin menanyakan tentang perkembangan laporannya tentang hilangnya Hanna. Mengetahui kedatangannya, Smith sebagai Kepala Kesatuan langsung menghampirinya.


"Halo, apa kabar? Kamu lebih sehat dari terakhir aku ketemu," Smith menyapa Thomas. Thomas hanya menyambut jabatan tangannya Smith.


"Kalian sudah mempunyai data kasus ini sudah lama. Mengapa tidak ada perkembangan? Sekarang malah menjadi luas masalahnya," tegur Thomas. Tampak ada perubahan dari wajah Smith yang ditegur seperti itu di hadapan anak buahnya.


"Aku ingin tahu, mengapa kasus ini menjadi menarik bagimu? Dan pada kasus ini, kenapa kamu bisa terlibat didalamnya?" tanya Smith.


"Gerald ini yang mencelakai saya dan Donny, dan kebetulan Tuan Ernest yang menyelamatkan saya saat itu. Saya ingin membalas budi pada Ernest dengan merawat keluarganya dan membantu menyelesaikan kasus yang di tanganinya selama dia mengalami koma di rumah sakit. Tapi, sekarang keluarga itu mengalami musibah dan diculik oleh orang sudah membuat masalah dengan kami. Bagaimana aku tidak ikut campur dalam masalah ini?" Thomas mengomel  panjang lebar.


Smith dan anak buahnya tertegun. Mereka tidak menyangka, Thomas yang terkenal sebagai mafia sadis sebelum menjadi pengusaha, kini mereka bisa melihatnya benar-benar berbeda.


"Apakah kamu yakin kalau yang menculik adalah orang yang sama? Dari mana informasi itu?" tanya Smith lagi.


"Informasi itu milik saya," sahut Thomas yang tidak ingin membongkar identitas orang yang memberikan informasi itu kepadanya.


Ketika Smith akan membuka mulutnya lagi, Donny membisikkan sesuatu kepada Thomas.


"Kami sudah koordinasi dengan Mike dan Charlie yang saat itu membantu Ernest dalam penyelidikan ini. Mereka bersedia membantu kita dan akan membicarakannya di luar,"  bisik Donny.


Thomas menganggukkan kepala beberapa kali. Setelah selesai memberikan informasi, Donny mundur beberapa langkah.


"Baiklah, kami ada urusan yang lebih penting harus kami urus. Hubungi saja Donny jika kalian ingin bekerja sama dengan kami. Permisi," Thomas merapikan jas yang dipakainya. Setelah satu anggukan hormat pada Smith, Thomas  pergi meninggalkan kantor Kesatuan pasukan Khusus.


"Dia pikir dia siapa? Kenapa harus kita yang mengajaknya bekerja sama? Angkuh sekali! Sekali mafia tetap mafia, huh!" ujar Smith yang merasa kesal setelah memastikan Thomas dan anak buahnya keluar dari area kantor Kesatuan pasukan Khusus. Dia membuka kancing jas yang dipakainya dan membalikkan badan dan pergi menuju ruangannya.


***


Di ruang rapat milik kediaman Thomas.


Di ruangan itu sudah hadir Thomas, Donny, Andre, Charlie dan Mike. Charlie dan Mike memberitahukan beberapa hasil penyelidikan yang mereka dan Ernest lakukan. Sementara pihak Thomas sama sekali tidak memberitahukan pergerakan apa yang sudah mereka lakukan.


"Tuan Thomas akan membantu kalian. Katakan kepada kami apa yang bisa kami lakukan untuk kalian, dan bagaimana rencana penangkapannya?" kata Donny mewakili Thomas.


Setelah Mike dan Charlie membeberkan rencana mereka dan menunjukkan bukti-bukti kejahatan Gerald, kemudian mereka mengatur strategi untuk mengejar Gerald kembali.


"Baiklah kalau begitu, kalian sesuai dengan peraturan yang berlaku di institusi kalian. Nanti kami sesuai dengan cara kami sesuai dengan apa yang kita rencanakan tadi. Kami akan memberikan bantuan beberapa anggota kami untuk membantu pergerakan kalian di luar institusi, " kata Donny.


"Baiklah, kami akan melakukannya. Semoga misi kita ini lancar. Kami pamit dulu. Terima kasih, Tuan Thomas,"


"Mereka pasti akan mengintai di daerah penemuan barang-barang milik Hanna, sementara kita sudah mengetahui pergerakan Gerald sebelum ini. Sekarang, tinggal kalian prediksi saja pergerakan itu," kata Thomas pada Donny setelah kedua petugas pasukan Khusus itu pergi dan ruangan itu kosong.


"Baik, Tom," sahut Donny. Donny biasa memanggil nama Thomas saja jika hanya ada mereka berdua.


"Ada yang janggal dengan kasus ini. Bisa saja Hanna tidak diculik oleh Gerald karena sampai saat ini Gerald tidak menghubungi kita,"


"Apa mungkin Karena Hanna terbunuh?"


"Kalau dia memang terbunuh, mereka pasti akan menemukan jasadnya saat menemukan barang-barang yang diduga milik Hanna. Kita perlu orang untuk mengidentifikasi apakah itu milik Hanna atau bukan,"


"Kalau begitu kita perlu DNA Ernest untuk menyelidiki barang-barang temuan itu. Karena dalam bulan ini ditemukan titik-titik di mana ada barang-barang milik anak-anak yang terkubur, sedangkan ada beberapa laporan anak hilang dalam bulan ini,"


"Lakukan itu, Don,"


"Baik, Tom,"


"Baik, Tom," Donny sebenarnya agak merasa heran dengan permintaan Thomas itu.


"Saya akan berjaga disini, supaya jika sewaktu-waktu Ernest datang kemari bisa bertemu dengannya. Minta Andre untuk menemani saya, karena saya mempercayakan misi ini kepada kamu,"


"Baik, Tom,"


Donny langsung menghubungi pihak rumah sakit, tempat Ernest koma. Lalu melaporkan  kembali kepada Thomas.


"Dia masih koma, Tom," Donny melaporkan setelah mendapatkan informasi dari rumah sakit.


Thomas menggeleng, kemudian tersenyum tipis. Dia berjalan mondar-mandir dalam ruangannya dengan langkah santai di depan Donny sambil memegang cerutunya. Kemudian dia menghentikan langkahnya saat tepat di hadapan Thomas.


"Tidak. Kamu Ingat pria yang bersamaku di rumah Ernest?" tanya Thomas sambil menatap wajah Donny.


"Iya," sahut Donny ragu. Dia tidak tahu ke mana arah pembicaraan Thomas.


"Dia adalah Ernest," kata Thomas.


Donny terperanjat, dia langsung menatap kedua mata Thomas dan memperhatikan ekspresi wajah Thomas dengan seksama untuk mencari kebenaran.


"Bagaimana bisa?" tanya Donny bingung.


Kemudian Thomas menceritakan apa yang terjadi dengan Ernest dengan dirinya semasa koma. Donny mendengarkan dengan seksama. Donny juga menunduk untuk menyembunyikan perubahan kecil ekspresi wajahnya.


"Ini memang terdengar gila. Tapi percayalah, ini benar-benar nyata," ujar Thomas berharap Donny mau mengerti apa yang diungkapkannya.


"Saya percaya, Tom. Sekarang semuanya jelas dan tampak masuk akal," Sahut Donny cepat.


"Mengapa?" Thomas merasa heran dengan pernyataan Donny. Dia penasaran mengapa Donny berkata demikian.


"Beberapa waktu sebelumnya, Anda seperti bukan diri Anda sebenarnya, Tom," sahut Donny pelan. Dia tidak ingin suaranya terdengar sampai keluar ruangan. Dia tidak ingat kalau ruangan itu terlalu besar dan kedap suara.


Thomas langsung menghentikan langkahnya, dia memutar badannya dan menghadap Donny yang berdiri tegak bagai tentara yang siap siaga. Thomas tersenyum kecil, dia mengagumi pemikiran dan keputusan Donny dalam bersikap. Dia tidak menyangka kalau Donny benar-benar mengamatinya dengan baik.


"Kamu jeli juga ya. Terima kasih kamu sudah menjaga dia dengan baik, meskipun dia terlihat aneh dan aktor yang buruk, hahaha," Thomas tertawa.


"Baiklah, saya akan mencari tahu tentang keberadaan pria itu…  eh…  maksud saya Ernest yang baru," Donny tertunduk malu karena sudah salah bicara.


Thomas tertawa kecil sambil menepuk pundak Donny.


"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Segera kabari saya jika kamu menemukannya. Tolong panggil pengacara saya, ada yang ingin saya bicarakan dengan dia," ujar Thomas sambil menghisap cerutunya kemudian duduk di kursi kebesarannya.


"Berdua saja?" tanya Donny cemas. Dia percaya bahwa Thomas pasti akan melakukan sesuatu yang luar biasa jika bicara berdua dengan pengacaranya.


"Ya,"


"Baik Tuan,"


Donny pun meninggalkan ruangan kerja Thomas. Thomas melihat keluar jendela kantornya, kantor yang menjadi kediamannya sekaligus. Dia menatap langit yang jauh, dia memikirkan Hanna.