
Ini aneh, meskipun tidak ingin terus memikirkannya, kata\-kata Angga terus terngiang di telingaku. Apakah dia ingin bilang jika dia menyukaiku? Kalau benar, apa yang harus kulakukan? Aku tahu hatiku. Aku tak ingin munafik. Sedikit banyak, aku menyukai Angga. Aku merasa nyaman berada di dekatnya. Suka melihat senyumnya yang tidak terlalu royal dihambur. Hanya saja, untuk terlibat lebih daripada sekadar teman, itu bukan pilihanku sekarang. Pengalaman dengan Dio cukup mengajarkanku. Dio yang kukenal seumur hidup saja bisa mengkhianatiku. Dan berapa lama aku kenal Angga? Hanya hitungan bulan. Jumlahnya pun hanya perlu jari sebelah tangan untuk menghitung. Ah, Ini membingungkan.
Dan kebingunganku semakin menjadi saat minggu berikutnya kembali berhadapan dengan Angga. Kali ini di Pancious, Mall Trans yang lengang. “Ra,” katanya ketika aku sedang mengiris waffle\-ku menjadi potongan\-potongan kecil. Kupikir itu percakapan ringan biasa, jadi aku tidak mengangkat kepala saat dia memulai kalimat dengan penggalan namaku. “Aku merasa perlu mengungkapkan ini untuk melegakan perasaanku sendiri. Kamu pasti sudah menduganya meski tidak kukatakan. Aku menyukaimu. Maksudku, Aku mencintaimu.”
Pisau dan garpu di tanganku mengambang di udara. Butuh beberapa detik untuk tersadar dan meletakkan di atas piring. Aku mengangkat kepala dan membiarkan pandangan kami bertemu. Aku bisa menangkap arti tatapan Angga. Kurasa Angga juga mengerti apa yang kupikirkan lewat mata. Pasti ada berjuta keraguan yang terpampang nyata karena Angga langsung tersenyum.
“Sudah kubilang, aku mengatakan ini lebih untuk diriku sendiri. Kamu punya banyak waktu untuk memikirkannya.”
Aku sudah menduga, iya. Namun, aku tidak mengira dia akan mengatakannya sekarang. Aku menggeleng. “Kak Angga tahu apa yang aku lalui dengan Dio. Sulit untukku memulai kembali.” Aku tidak akan berbohong. Memulai dengan orang baru adalah lompatan luar biasa besar. Aku tidak yakin berani mengambil langkah sebesar itu.
“Kamu tidak menyukaiku, Ra?”
Aku tidak mau munafik. “Aku nyaman dengan Kak Angga.” Akuku jujur. “Hanya saja, nyaman tidak cukup untuk memulai suatu hubungan yang lebih daripada sekadar teman. Aku butuh percaya.”
“Aku bukan Dio, Ra. Kamu tahu itu,” nadanya tegas.
“Karena aku tahu itu, makanya menjadi lebih sulit.” Aku mencoba menemukan kata\-kata tepat untuk menggambarkan perasaanku. “Dio ada di sisiku seumur hidup dan dia hanya butuh waktu sedikit saja untuk menghancurkan apa yang pernah kami miliki.”
Angga menatapku intens. Aku merasakan kesungguhannya. Perutku mendadak mulas, jantungku memompa darah lebih cepat daripada biasa. Aku meletakkan kedua tangan di atas pangkuan. Menautkannya sambil membunyikan buku\-buku jari. Gugup.
“Kualitas hubungan tidak bisa dinilai dari kuantitas waktu yang dihabiskan bersama.”
Itu teori yang sering kubaca. “Andai semudah itu untuk percaya.” Tanpa sadar aku menyuarakan apa yang kupikir.
“Kita bisa menjalaninya dulu. Seperti ini. Tidak perlu buru\-buru. Kita masih punya banyak waktu,” ujar Angga. Dia seperti mengerti keraguanku.
Aku tidak pernah berpikir untuk menggantung seseorang. Membiarkannya berharap, tetapi tidak bisa menjanjikan kepastian. “Tapi itu tidak adil untuk Kak Angga.”
“Memangnya ada yang adil dari cinta? Cinta itu egois, Ra.”
Itu mungkin benar. Bahwa cinta egois. Kita akan mengesampingkan banyak hal untuk cinta. Sama seperti kita akan melakukan banyak hal konyol, juga atas nama cinta. Cinta berarti komitmen. Terikat pada satu orang. Percaya sepenuhnya. Dan aku belum bisa melakukan itu. Aku masih butuh waktu dan proses yang tidak singkat untuk bisa menyerahkan hatiku tanpa takut terluka kembali.
“Aku tidak mau memberi harapan palsu.” Aku tidak bisa menjanjikan hal yang mungkin tidak bisa kutepati.
Aku tidak menjawab. Angga tidak mendesak. Dia mengalihkan pembicaraan pada hal lain. Namun, keadaan sudah telanjur canggung. Akhirnya kami lebih banyak diam.
“Terima kasih,” kataku ketika mobil Angga sudah berhenti di depan rumahku. Aku buru\-buru melepas sabuk pengaman dan keluar.
Angga menyusul. Dia mengikutiku sampai di teras. Aku tidak ingin mengundangnya masuk. Aku perlu diam di dalam kamar, sendiri, untuk mencerna apa yang dikatakannya kepadaku di restoran tadi.
Angga menahan lenganku yang hendak membuka pintu. “Mungkin aku harus melakukan sesuatu untuk membantumu memutuskan.”
Aku berbalik menghadapnya. “Apa?”
Angga menarikku mendekat. Sebelum aku sepenuhnya sadar, kedua tangannya sudah melekat di wajahku. Membuatku mendongak. Dia menunduk, melabuhkan bibirnya ke bibirku. Mengecup dan sedikit mengulum sebelum melepaskannya.
Aku merasa wajahku memanas. Seluruh aliran darahku seakan diarahkan ke wajah. Aku buru\-buru menunduk. Angga meraih kepalaku dan membawanya ke dadanya.
“Aku melakukannya dengan sadar dan memang niat. Jadi, aku tidak akan minta maaf. Kalau kamu juga menyukainya, kamu harus memberiku kesempatan. Pikirkan baik\-baik. Gunakan waktumu. Jangan buru\-buru memutuskan. Aku tidak akan mendesak.”
Enak saja dia bilang tidak mendesak. Dia baru saja menciumku! Itu beban tambahan. Seharusnya aku marah, karena dia mencium tanpa meminta izinku, tetapi aku tidak bisa menemukan sedikit pun bibit kekesalan dalam hatiku. Apakah itu pertanda bahwa aku memang menyukai ciumannya? Sial, maksudku, dirinya?
“Sebaiknya kamu pulang sekarang,” kataku masih dengan wajah terbenam di dadanya. Berusaha menyembunyikan rasa malu.
“Kamu yakin ingin aku pulang sekarang?” Suara Angga terdengar menggoda.
Kali ini aku mengangkat kepala. Berusaha mengirimkan tatapan sengit. “Tentu saja!”
Angga memberiku senyum, yang entah mengapa terlihat jail. “Kalau begitu kamu harus melepaskan pelukanmu.”
Ya ampun, aku baru menyadari kalau kedua tanganku melingkar di pinggangnya, entah sejak kapan. Astaga, memalukan sekali!
“Tidak usah malu begitu. Kamu harus memikirkan reaksi tubuhmu saat mengambil keputusan, karena sepertinya tubuhmu menyukaiku.”
Ya ampun, aku belum pernah merasa semalu ini seumur hidup!