Second Chance

Second Chance
Chap 45



Bian keluar dari restoran tersebut, ia mengambil ponsel dari saku untuk menghubungi Karina


“Yeobseyo” sapa Karina


“Eodigga?” Tanya Bian to the point


“Aku ada di Café es krim langanan kita. Wae?” Tanya Karina


Dahi Bian mengernyit, laki-laki itu kemudian mengedarkan matanya dan benar saja, café tersebut bersebrangan dari restoran yang ia datangi bersama Yerim, tidak bersebrangan tepat melainkan berbeda dua toko dari restoran tadi


“Tunggu disitu aku akan segera kesana” pesan Bian


“Eoh”


Setelahnya panggilan tersebut terputus, setelah memasukkan kembali ponselnya Ayah dari Hana itu sedikit berlari untuk menuju Café dimana anak dan istrinya berada.


Begitu memasuki Café ia segera mencari keberadaan keluarga kecilnya, dan setelah mendapatinya segera Bian melangkahkan kakinya pada meja tersebut


“Annyeoung” sapanya


“Appa” pekik Hana begitu mendapati Ayahnya kita berada disebelahnya


Bian mengecup kening Hana dan Karina, dan tak mau ketingglan Jasper berjengkit girang meminta sang Ayah untuk memebrinya kecupan juga. Bian terkekeh mendapati aksi putranya itu


“Aigo jagoan Appa ingin diberi popo juga rupanya” dengan gemas Bian mengangkat Jasper dari kursi kususnya, setelahnya ia layangkan kecupan bertubi-tubi pada pipi Jasper, hingga bocah berusia satu tahun itu terkekeh girang. Dirasa cukup ia kembali meletakkan Jasper pada kursinya


“mau pesan sesuatu” Tanya Karina


“bisakah aku memesan steak?” Tanya Bian


Karina mengernyit, bukankah Bian baru saja makan siang bersama wanita itu. Mendapati keterdiaman Karina, Bian kembali bertanya 


“wae? Apa tidak ada?” tanyanya memastikan


Karina menggeleng “Ani, bukankah kau baru saja makan siang?”


“Aku membatalkannya. Aku ingin makan siang bersama kelargaku” jelas Bian


“apa rekanmu tidak keberatan?” Tanya Karina


“Molla, aku meninggalkannya begitu saja” ujar Bian dengan begitu ringan


Karina mengangguk, sebenarnya ia masih penasaran siapa wanita itu, tapi ia merasa sekarang bukan waktu yang tepat baginya untuk bertanya siapa wanita itu, apa lagi kini meraka tidak sedang berdua. Nanti setelah sampai di rumah mungkin dia akan menanyakannya pada Bian tentang siapa wanita itu.


Karina segera memanggil seorang pelayan untuk memesankan makanan untuk Bian. Setelah mencatat pesanan Bian, pelayan tersebut pergi


“Appa, siapa Imo yang tadi bersama Appa?” Tanya Hana


Sontak saja pertanyaan tersebut mengehentikan kegiatan Bian yang sedang menyuapkan cake pada Hana. Laki-laki itu kemudian melirik pada Karina, begitupun Kariana wanita itu ujga meliriknya. Tapi sesaat kemudian istrinya itu mengalihkan pandangannya dan kembali menyuapi Jasper


Bian bedehem sebentar, ia menatap Hana yang kini masih menatapnya degan ekspresi bertanya “dia Yerim Imo Hana-ya”


Hana mengangguk, Bian merasa lega mendapati hal tersebut setidaknya purinya itu tidak bertanya kembali entang Yerim.


Tapi hal tersebut tidak berlangsung lama, karena Hana kembali melempar pertanyaan yang membuatnya menegang seketika


“kenapa tadi Yerim Imo mengusap lengan Appa?” Tanya Hana


Bian kembali melirik pada Karina, tapi sepertinya istrinya itu bersikap biasa saja seolah tidak mendengar apa yang Hana tanyakan


“darimana Hana tahu em?” Tanya Bian


“Tadi Hana melihatnya. Hana melihat Imo mengusap lengan Appa” jelas Hana


Hana melihatnya? Berarti Karina juga melihatnya? Pantas saja istri cantiknya itu bersikap dingin padanya. Ia akan membicarakannya nanti pada Karina saat dia pulang.


“Tadi Imo…” belum sempat Bian menyelesaikan kalimatnya, suara seseorang yang ia hindari sudah lebih dulu menyapa


“eoh ternyata Oppa disini bersama Karina Eonni dan anak-anak ternyata. Pantas saja tadi kau meninggalkanku begitu saja” ujar Yerim tanpa perasaan bersalah sedikitpun, bahkan gadis itu duduk tepat di hadapan Bian tanpa ada yang mempersilahkan


“Eonni, tak apa kan kalau aku bergabung disini?” Tanya Yerim


Karina tersenyum dan mengangguk “tentu” jawabnya singkat.


Yerim bersmirk mendapati Bian yang terlihat emosi hal tersebut terbukti  dari laki-laki itu yang mengenggam sendok dengan begitu kuat, terliat juga urat-urat pada dahinya yang mencuat


Bian mengalihkan tatapannya dari Yerim dan beralih pada Hana “ah nde, ini dia pesawat es krim untuk Hana” ujar Bian dengan menyuapkan es krim pada Hana seolah seperti sebuah pesawat terbang


Untuk beberapa saat meja tersebut dilanda keheningan hanya ada ocehan dari Jasper yang sesekali ditangapi oleh Karina. Beruntung pelayan datang untuk mengantarkan pesanan Bian. Bian mulai menikmati makanannya, ia meminta Hana untuk melanjutkan memakan Es krim cakennya sendiri


Bian menyodorkan potonagn steak pada Karina membuat wanita itu mengeryit, “buka mulutmu, aku akan menyuapimu. Aku yakin kau pasti belum makan bukan” jelas Bian.


Karina mengangguk, ia kemudain membuka mulutnya untuk mendapat suapan dari Bian. Hal seperti ini sering terjadi saat mereka makan, tapi kali ini Karina merasa canggung karena bukan hanya ada mereka disini sekarang, melainkan ada Yerim juga, jadi wajar bukan kalau dia merasa malu.


“eotte? Apakah enak?” Tanya Bian


Karina hanya mengangguk dan berdehem sebagai jawaban.


Bian tersenyum, laki-laki itu mengusap sudut bibir Karina yang terkena saus, hal tersebut tentu saja membuat Karina semakin malu. Dan semua itu tak luput dari pandangan Yerim, gadis itu memalingkan wajahnya, dadanya begitu sesak melihat apa yang Bian lakukan pada Karina. Sesakit ini kah resiko yang harus ia tanggung saat mencintai suami orang lain?


Saat pesanan Yerim tiba, gadis itu segera menikmatinya. Ia memotongkan satu suapan daging untuk kemudian ia berikan pada Bian, dan sontak saja hal tersebut membuat Bian maupun Karina terkejut.


Bagaimana bisa gadis itu berniat menyuapi Bian disaat di depannya ada istri serta anak-anak dari laki-laki itu. Yerim sepertinya sudah benar-benar gila


“aaa buka mulutmu Oppa, kau juga harus makan. Sedari tadi aku lihat kau lebih banyak menyuapi Karina Eonni” ujarnya


“tidak kau makan saja, aku sudah terbiasa makan seperti ini bersama ISTRIKU” ujar Bian dengan menekankan kata istri pada akhir kalimatnya


Yerim belum mau menyerah, gadis itu masih memaksa Bian untuk membuak mulutnya “ck, meski begitu kau harus makan ini, kau ingat bukan kalau hari ini pekerjaaan kita begitu berat, dan lagi hari ini kita juga ada lembur bukan” bujuk Yerim


“tidak terima kasih, aku akan pesan makan lagi nanti. Lagi pula aku sudah kenyang” sanggah Bian


“aku memaksa Oppa, ini untuk kebaikanmu juga. Jadi ayo buka mulutmu, cepat buka Oppa tanganku sudah pegal” ujar Yerim


“aku bilang tidak Yerim-ssi. Aku masih menghargai ISTRIKU, aku tidak akan pernah menerima suapan dari wanita manapun selain dari ISTRIKU sendiri” Bian lagi-lagi menegaskan kata istri


Baru saja Yerim akan kembali berujar, namun Hana lebih dulu menyela


“Eomma, aku sudah kenyang. aku ingin pulang sekarang. Bisakah Eomma?” ujar Hana


Karina yang sedari tadi diam memperhatikan bagaimana Yerim dengan getolnya ingin menyuapi suamiya, kini mengalihkan pandangannya pada Hana


“eoh tentu sayang baiklah, Kajja kita pulang sekarang” ujar Karina.


Ia berdiri untuk kemudian menggendon Jasper


“aku akan mengantar kalian pulang” ujar Bian yang juga sudah berdiri dan membantu Hana untuk turun dari kursinya


“kami bisa pulang sendiri. Lanjutkan saja makan siangmu, aku akan pulang denga taxi bersama anak-anak” tolak Karina


“tapi Karina aku bisa..” ucapan Bian terpotong


“Kajja Hana-ya kita pulang sepertinya di depan sudah ada taxi. Kami pulang dulu” pamit Karina pada Bian.


Wanita itu kemudian menggandeng Hana untuk keluar dari café tersebut, ia tidak berpamitan pada Yerim karena juur saja ia merasa kesal pada gadis itu


Bian menyusul istri dan anaknya yang sudah keluar dari café, ia mencekal lengan Karina saat wanita itu hendak memasuki taxi


“Karian tunggu dengarkan aku, ini semua tidak seperti apa yang kau pikirkan” ujarnya


Karina terkekeh wanita menunduk dan kemudian mendongak dan menatap wajah Bian “memangnya apa yang aku pikirkan?” tanyanya


Bian terdiam mendengar pertanyaan tersebut.


Mendapati keterdiaman Bian, Karina tersenyum kecut “kita bicarakan ini di rumah”


setelah mengatakan hal tersebut, ia memasuki taxi dan meninggalkan Bian yang masih terdiam disana


 .


.


.


TBC


See You next chapture😊