Second Chance

Second Chance
Sebelas :



Aku dan dokter Angga hanya makan berdua. Rei ke Baubau dengan gebetan barunya. Hadi jaga malam, sehingga dia langsung makan setelah membantuku memasak, tidak menunggu sampai dokter Angga datang.



Hubunganku dengan dokter Angga semakin membaik, meskipun aku tetap memasang jarak. Apalagi, gosip di rumah sakit bukannya mereda, melainkan semakin menjadi. Dianggap punya hubungan dengan tunangan orang lain tidak menyenangkan. Hadi mengatakan jika dokter Angga belum menikah. Dia sudah menanyakannya. Jadi cincin yang melingkar di jari manisnya pasti cincin pertunangan.



Aku sengaja duduk di teras setelah membersihkan meja dan mencuci piring makan kami, meninggalkan dokter Angga yang duduk santai di depan televisi.



Aku menengadah menatap langit. Ribuan pendar bintang menyambut pandanganku. Dahulu, Papa mengatakan bahwa aku bisa menunjuk satu bintang yang bisa kunamai sebagai Bintang Rara. Kepada bintang itu, aku bisa mengajukan permintaan dan keinginanku akan terkabul.



Waktu itu, aku terlalu kecil untuk menyadari tipuan Papa demi menyenangkan hatiku. Aku percaya saja dan tak pernah bosan mengajukan permohonan pada Bintang Rara.



Aku tahu, Bintang Rara tidak memiliki kemampuan mengabulkan permintaan setelah permohonanku atas kesembuhan Papa tidak terkabul. Papa tetap berpulang, padahal aku setiap malam menatap bintang itu dengan harap membuncah di dalam hati. Bintang Rara juga tidak membuat Mama bisa menyayangiku.



Namun, aku masih suka memandang Bintang Rara meskipun tidak lagi memiliki kekuatan magis di mataku. Bintang Rara adalah kenanganku dengan Papa. Kami mencari dan menentukan bintang itu berdua. Bintang yang paling terang setelah bintang timur. Letaknya juga berdekatan, supaya aku tidak kesulitan menemukannya. Ia akan tampak terang menjelang dini hari. Saat jaga malam adalah waktu paling tepat untuk mengamatinya, mengobati kerinduan kepada Papa.



“Langitnya terang, ya?” Suara dokter Angga terdengar. Sosoknya menyusul. Dia mengambil tempat di sebelahku. Kami hanya terpisah oleh sebuah meja kecil.



“Musim kemarau dan bulan tua, Dok,” aku menanggapi. “Tidak ada purnama dan awan. Langitnya pasti terang.”



“Kamu suka bintang, ya?” Aku melihat dokter Angga ikut mengarahkan pandangan ke atas. “Kuperhatikan kamu suka menghabiskan waktu di luar rumah sampai tengah malam hanya untuk melihat bintang.”



Aku mengernyit. Kapan dia melihatku duduk di teras hanya untuk menatap bintang selama berjam\-jam? Kami beberapa kali menghabiskan waktu berdua tengah malam, tapi di IGD, saat dia tiba\-tiba muncul. Bukan di rumahku.



“Kadang\-kadang aku terbangun tengah malam.” Dokter Angga seperti bisa membaca pikiranku. “Dan melihatmu duduk di teras.”



Aku tidak pernah membicarakan kecintaanku tentang langit kepada dokter Angga. Kami tidak sedekat itu. Hanya Hadi dan Rei yang tahu persis hobiku itu. “Dokter belum pulang?” tanyaku mengalihkan perhatian. Ini memang belum larut, tetapi dia sudah cukup lama di sini.



“Kamu selalu  berusaha mengusirku setiap kali kita selesai makan,” jawabnya dengan nada menuduh. 



“Bukan begitu, Dok,” bantahku. Aku memutuskan berterus terang. Blakblakan mungkin jalan paling baik untuk membuatnya mengerti posisiku. Mengapa aku harus merasa keberatan dia tinggal berlama\-lama di tempatku. “Saya tidak bermaksud mengusir, hanya saja, berdua di waktu seperti ini akan mengundang pergunjingan. Saya tidak suka digosipkan punya hubungan dengan tunangan orang lain.” Kalau dia belum mendengar gosip di rumah sakit, meskipun aku meragukan hal itu, ini saat yang tepat memberitahunya, supaya kami bisa menjaga jarak.



“Siapa yang bertunangan?” Dia malah balik bertanya.



Aku memutar bola mata, nyaris tertawa mencemooh. Astaga, dokter Angga tidak mungkin berpikir aku sebodoh itu, kan? “Cincinnya lumayan besar, Dok,” jawabku enggan. “Mata saya juga masih normal, jadi bisa lihat dengan jelas.”



“Oh… ini?” Dia mengamati jarinya sejenak sambil memutar\-mutar cincin itu, lalu tersenyum. “Ini topeng sempurna untuk menghindari gangguan. Aku hanya perlu mengangkat jari dan menunjukkan cincin ini untuk mengatakan tidak tertarik pada godaan seseorang. Sangat efektif. Coba saja kalau tidak percaya.”



Sekali lagi aku mengarahkan bola mata ke atas. Benar\-benar tipe percaya diri dan narsis. Pantas saja dia bersikap sombong. Dia pasti menyangka semua perempuan akan tertarik kepadanya. Ya ampun! Di salah satu saluran televisi nasional ada sinetron yang dibuat khusus untuk orang arogan seperti ini. Orang\-orang yang lalu diberi hidayah untuk kembali ke jalan yang benar.



“Itu ide cemerlang, Dok,” ujarku  berusaha tidak terdengar terlalu sarkastis. “Tapi tidak ada antrean mengular yang harus saya tolak dengan menunjukkan cincin.”



Alih\-alih tersinggung, laki\-laki itu malah tertawa. “Jadi kamu konsisten mengusirku karena cincin ini?”



“Apa?”Aku tidak menduga dia akan menanyakan hal itu. Aku lantas segera menyambung, “Masuk akal, kan? Digosipkan punya hubungan dengan laki\-laki yang sudah bertunangan tidak enak didengar.”



“Ooh… gosip itu, ya?” Nadanya  menjelaskan kalau dia juga sudah mendengarnya. “Hemm, jadi kalau aku melepas cincin ini, kamu akan memperlakukanku lebih baik?”



“Apa?” Aku pasti terdengar bodoh mengulangi kata  yang sama berkali\-kali.




Apakah aku sudah pernah bilang kalau dia aneh?


**


Dokter Angga sudah menyelesaikan praktiknya di rumah sakit kami. Besok, dia akan pulang ke Makassar. Siang tadi dia mengadakan acara perpisahan di rumah makan. Acara yang dihadiri para dokter dan perawat yang bekerja dengannya di poliklinik bedah, ruang operasi, serta bagian rawat inap bedah. Aku tidak ikut karena jaga siang di IGD.



Hari ini adalah makan malam terakhir kami di rumahku sebelum dia berangkat besok pagi. Hadi merencanakan memasak kakap kuah asam. Masakan khas daerah ini. Dia mengajakku ke pelelangan ikan tadi pagi untuk membeli ikan segar. Ikan itu sudah kami bersihkan dan disimpan di kulkas untuk dimasak malam ini.



Aku menyuruh Hadi memasak ikannya dan makan lebih dulu tanpa harus menungguku, karena aku baru akan selesai jaga pukul sembilan. Sudah terlalu larut untuk makan malam. Namun, mereka memutuskan menungguku.



Makanan sudah terhidang meja saat aku tiba ke rumah. Ketiga laki\-laki yang menongkrong santai di depan televisi ruang tengahku, segera bangkit dan mengelilingi meja makan.



“Nanti kita ketemuan di Makassar, ya, Dok,” ujar Hadi di sela\-sela suapannya. “Kami juga tinggal sebulan di sini.”



“Tentu saja. Kalau kalian sudah di sana tinggal menghubungiku saja.” Dokter Angga mengangguk. Dia tampaknya senang dengan usul Hadi. “Gantian aku yang traktir. Kalian sudah memberiku makan selama dua bulan ini.”



Kakap kuah asam Hadi sangat enak. Aku lebih berkonsentrasi mengisap kepala kakap itu ketimbang  mengikuti percakapan teman\-temanku. Kemampuan Hadi memasak berkembang pesat setelah tiga tahun kami  bersama.



“Lapar atau doyan, Ra?” sindir Rei saat aku menyendok kepala kakap untuk kali kedua ke piringku.



“Dua\-duanya, Rei,” sambutku tanpa peduli sindiran Rei. “Ini enak. Kalau Hadi bosan jadi dokter, dia bisa membuka restoran seafood. Aku akan jadi pelanggan tetap.”



“Sayangnya aku suka jadi Dokter, Ra, tapi kalau kamu mau makan masakanku, rumahku selalu terbuka untuk kamu, kok.” Hadi bersemangat mendengar pujianku. Dia memang gampang dibuat senang. Cukup dengan melontarkan komentar menyenangkan tentang masakannya. 



“Terbuka untuk jadi menantu mamamu?” godaku.



Kali ini Hadi tidak berminat melayani guyonanku. Dia kembali menekuri piringnya dengan tekun. Dia hanya menggeleng\-geleng. Dia pasti bosan dengan lelucon yang terus kuulang itu.



“Mamaku juga tidak keberatan punya menantu seperti kamu kok, Ra,” tanggap Rei. Dia tersenyum lebar. “Selesai PTT sekaligus bawa calon istri akan jadi pencapaian terbesar dalam hidupku.” 



Aku meringis. “Kayaknya mati sebagai perawan tua tidak terlalu buruk juga. Aku pilih opsi itu kalau pilihannya tinggal kamu.”



“Sialan!” umpat Rei.



Hadi tersedak makanannya karena tertawa. Dia segera meraih gelas dan minum dengan tegukan besar\-besar. “Modal tampang tidak selalu berhasil, Rei. Masih ada orang rasional seperti Rara yang tidak tertarik pada bungkusan yang kamu tawarkan.”



“Memilih kamu bisa jadi kegagalan terbesarku dalam hidupku, Rei.” Aku meletakkan sendok makan di atas piringku yang sudah kosong. “Karena aku harus mencari uang  menghidupi kita berdua, melayani kerewelanmu di meja makan, dan harus telentang di tempat tidur untukmu setiap malam. Itu disebut perbudakan.”



Rei tertawa genit. “Aku suka bagian telentang itu, Ra. Sebentar, biar aku bayangkan dulu.”



Aku melempar Rei dengan tisu. “Jangan menjadikan aku fantasi seksualmu!”



“Kamu yang mengundang untuk dibayangkan, kan?” tawa Rei makin keras. “Dan kamu tidak bisa menyuruh orang untuk tidak menjadikan dirimu fantasi seksual mereka. Tidak ada undang\-undang yang melarang.”



Percakapan absurd itu berakhir setelah kami makan. Hadi membantuku membersihkan bekas makan kami sebelum menyusul Rei pulang.