
Jordan turun menemui kedua orangtua nya yang sudah menantinya di meja makan. Sudah jadi kebiasaan mereka selalu makan pagi dan malam bersama.
Karena siang hari mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing. Jadi moment seperti ini benar-benar dimanfaatkan.
"Pagi mom, dad."
Sapaan pagi Jordan adalah mengecup pucuk kepala mommy nya dan memeluk daddy nya. Siapa sangka anak baik ini ternyata seorang casanova.
"Bagaimana pesta nya kemarin, apa ada yang mommy lewati?"
Hanna berpura-pura tidak tahu, meski sebenarnya Robby sudah menceritakan semuanya malam itu.
"Mommy pasti sudah tahu dari daddy, aku yakin itu."
"Ya, memang betul daddy mu sudah bercerita, tapi mommy ingin mendengar langsung dari anak mommy yang cakep ini."
Hanna menyiapkan dua buah roti tawar dengan selai kacang dan jus strawberry kesukaan Jordan.
Sarapan pagi dengan roti dan jus adalah menu wajib di keluarga ini. Tak perlu terlalu berat tapi cukup mengenyangkan.
Jordan mau tidak mau menceritakan lagi bagaimana kejadian di pesta waktu itu, bagaimana dia penasaran dengan gadis yang meninggalkan kesan mendalam di hatinya.
Hanna mengangguk pelan lalu tersenyum, ada sesuatu di balik senyum itu. Robby mengamati istrinya yang tampak merencanakan sesuatu.
"Baiklah, mommy paham. Bahkan mommy mendukung mu. Tapi kamu juga butuh shock terapi, agar rencanamu berjalan mulus."
"Jangan bilang mommy memberikan ide gila kali ini."
"Why not, bukankah daddy mu bilang kamu bisa mencari tahunya lewat temanmu Sam atau bahkan meminta Zack untuk meretas cctv saat pesta berlangsung."
"Itu bukan hal besar, dan daddy mu juga punya kuasa untuk membantumu. Tapi kali ini mommy menantangmu untuk berusaha sendiri."
"Temukan gadis itu, dan bawa dia kemari karena mommy juga penasaran bagaimana seorang gadis biasa bisa membuat jantung anakku ini menjadi berdebar."
Jordan menatap daddy nya, dan gelengan kepala daddy menunjukkan dia tidak ikut dalam rencana mommy kali ini.
"Mom, tapi bagaimana mommy bisa mempunyai pikiran seperti itu."
"Why not, jangan bilang kamu takut dengan tantangan mommy. Dan waktumu hanya satu minggu dari sekarang."
Hanna memasukkan potongan rotinya ke mulutnya. Dia sengaja membuat anaknya bingung.
"Mom, it's crazy."
"Dua hari, mommy tidak mau tahu. Cari dia dan berikan fotonya pada mommy agar mommy tahu apa dia pantas atau tidak denganmu."
Hanna menghabiskan rotinya dan masih tak bergeming. Jordan menatap daddy nya meminta dukungan.
"Mommy benar-benar gila, bagaimana daddy bisa jatuh cinta pada wanita ini."
Jordan memijat pelipisnya, daddy nya terbahak mendengar penuturan anaknya.
"Justru daddy mu jatuh cinta pada mommy karena kegilaan mommy asal kau tahu. Dia bahkan bisa menemukan dimana mommy sembunyi ke desa terpencil sekalipun."
Jawab Hanna pasti, dan itu membuat Jo terperangah.
"I love you honey"
Robby memberikan kecupan dipipi istrinya, dan Hanna membalas dengan kecupan.
"Ya Tuhan, keluarkan aku dari kegilaan ini"
Hanna dan Robby tertawa, mereka benar-benar mengerjai Jordan kali ini.
Jordan menyudahi sarapan nya, berdiri dan mencium mommy dan daddy nya kemudian pergi ke kantor.
Lebih baik dia memulai rapat daripada mengikuti keinginan mommy nya yang membuatnya pusing.
Setelah Jordan pergi Robby menanyakan lagi tantangan itu pada istrinya.
"Kamu serius memberinya tantangan itu honey?"
"Tentu saja, sayang. Aku akan membuat anak kita kembali berpikir sehat setelah semua yang dia lalui."
"Dia harus segera mengakhiri petualangan nya, agar tidak makin gila."
Lagi-lagi Robby hanya bisa pasrah mengikuti kemauan dirinya. Jika dulu dia menjadi pemain wanita yang bahkan dimulai sejak usianya belasan, dan berhenti ketika bertemu Hanna saat menjelang tiga puluh tahun.
Untung saja gadis itu bersedia dinikahinya, bahkan membuatnya sadar bahwa masih ada cinta yang tulus untuknya.
###
Pesona Jordan benar-benar tidak bisa dipungkiri. Ketika dirumah dia akan menjadi anak baik yang sedikit manja pada orang tua nya.
Maka diluar terutama di perusahaannya dia akan menjadi orang yang sangat dingin dan tak bisa terjamah.
Hanya asistennya yang tahu bagaimana bos nya itu sebenarnya, dia akan dalam mode serius jika menyangkut masalah pekerjaan, karena itulah dia sangat disegani oleh rekan dan lawan bisnisnya.
Langkah pasti menuju ruangan rapat yang sudah ditunggu oleh semua anggota. Rapat berlangsung kurang lebih dua jam, dengan pembacaan laporan dari masing-masing divisi.
Sempat berjalan alot dan diselingi perdebatan, karena Jordan tidak mau menerima laporan yang tak disertai bukti. Baginya pekerjaan apapun jika dijalankan dengan baik dan sesuai aturan maka hasilnya akan maksimal.
Dan dia tidak menerima penolakan apalagi kesalahan sekecil apapun, karenanya perusahaan yang dibangun daddy nya jadi lebih berkembang lewat tangan dinginnya.
Dia juga memberikan bonus bagi karyawannya yang bekerja dengan baik dan memuaskan. Meski terkadang harus menghabiskan waktu untuk lembur.
Satu lagi yang membuatnya tidak bisa ditawar, jangan pernah membawa masalah pribadi ke dalam urusan pekerjaan. Tidak ada kata tolerir jika karyawannya kedapatan mengabaikannya.
Setelah semua laporan selesai, mencari solusi dan juga program baru yang akan dijalankan, rapat akhirnya selesai.
Jordan tersenyum puas melihat pencapaiannya selama setahun terakhir dirinya menjabat di perusahaan menggantikan daddy nya.
Tidak sia-sia dia melakukan perombakan di beberapa divisi, dan juga pemecatan karyawan yang tidak kompeten karena hanya akan menghabiskan anggaran perusahaan.
###
Jordan kembali ke ruangannya, mengendorkan dasinya dan membuka jasnya kemudian diletakkan di hanger.
Sejenak melepas penatnya, melupakan masalah tadi pagi yang diminta mommy nya. Baru juga dia membatin, mommy nya sudah mengirimi pesan dan mengingatkan tantangannya.
Mommy nya seperti memiliki telepati, tahu apa yang dia pikirkan. Sedangkan di mansion Hanna tertawa membayangkan wajah pias anaknya.
Hanna tak mau kecolongan lagi, jika dulu Sofia berhasil membuat Jordan melupakan akal sehatnya dan selalu menuruti kemauan perempuan itu.
Kali ini Hanna akan menjadi tameng paling kokoh agar anaknya tidak lagi termakan cinta buta.
###
"Hai bro, apa kabar?" Zack menyapa.
Dirinya dan Toni masuk ke kantor Jordan. Dan pemilik ruangan itu menoleh, Jordan bersedekap, kemudian melempar bolpen kearah Zack.
"Hei apa salahku, kenapa kau jadi sentimen begitu."
Zack berujar tidak sadar kesalahannya. Toni tergelak, tom n jerry mulai.
"Tak bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk."
"Woiii...easy men, oke aku ngaku salah"
Zack akhirnya mengalah, dia malas berdebat dengan Jordan karena akan panjang urusannya.
Toni mengambil bolpen yang dilemparkan Jordan tadi, dan meletakkan kembali di mejanya.
"Kalian ada perlu apa kemari, kenapa tidak menelpon dulu."
Jordan akhirnya meletakkan dokumen yang sempat dibacanya tadi. Zack dan Toni lalu duduk di kursi dihadapan Jordan.
"Kami ingin mengajakmu makan siang bersama, apa kamu sibuk?"
Toni buka suara, melirik Jordan yang sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak..aku tidak sibuk, tadi selesai rapat aku langsung kembali kemari karena ada beberapa dokumen yang harus ditanda tangani."
"Pasti tadi kamu sedang memasang wajah sangar saat rapat, terbukti beberapa karyawanmu membicarakanmu di lobby tadi."
Mereka memang tahu bagaimana Jordan jika menyangkut pekerjaan, berbeda dengan Zack yang selalu santai dan Toni yang cool.
Tapi keduanya juga sama seperti Jordan jika sedang marah, sama-sama menakutkan.
###
Next