Savage Love

Savage Love
#29



Suasana pemakaman Ny Luisa Fernandez ibunda Jasmine tampak hening, para pelayat yang terdiri dari tetangga dekat mereka, mantan karyawan mereka di toko roti, dan juga keluarga Jordan sedang menyaksikan penguburan jenazah.


Pemuka agama memimpin acara penguburan hingga selesai, Jasmine menunduk terdiam melihat makam ibunya yang kini sudah terpasang nama.


Meski tanpa suara Jasmine menangis, bukan hanya menangisi kepergian ibunya tapi juga menangisi keadaan keluarganya sekarang.


Air mata mengalir meski mulutnya diam seribu bahasa. Satu persatu para pelayat mengucapkan bela sungkawa dan meninggalkan area pemakaman.


Tiba-tiba dari arah belakang, Jasmine mendengar suara orang-orang yang telah lama dihindarinya. Kehadiran mereka disini membuat rasa benci yang dipupuknya semakin besar.


Tapi Jasmine tetap diam, dia tak sedikitpun terpengaruh dengan kata-kata mereka yang berpura-pura bersedih dan berduka cita.


"Sayang, aku turut berduka cita atas meninggalnya mommy mu. Ya semoga dia tenang di alam sana."


Tuan Marco Philip, saudara angkat Davisio ayah Jasmine sekaligus mantan mertuanya itu mendekat. Dia mencoba memeluk Jasmine, tapi Jasmine menghindar dan memilih merapatkan dirinya pada Jordan.


Jordan tampak bingung awalnya karena Jasmine tiba-tiba memeluknya, tapi kemudian dia tersenyum. Dan mencoba membaca situasi.


Ternyata inilah orang yang dia cari, yang sudah mengusik keluarga calon istrinya. Dan pria muda disampingnya yang umurnya tak jauh beda darinya adalah mantan tunangan Jasmine.


"Kami berdua datang kemari karena ingin memberi dukungan padamu. Karena kita saudara, jadi jangan sungkan untuk datang pada kami."


Suara Tuan Marco mesih terdengar, meski Jasmine tak menghiraukannya. Dia tersenyum smirk, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.


"Sayang, kemarilah kita bisa bersama lagi melewati semua ini. Aku tahu hidupmu takkan bisa lepas dari kami."


Pria muda yang tadi berdiri disamping Marco buka suara, Jasmine jadi muak melihatnya. Semakin dia mendekat Jasmine semakin mengeratkan pelukannya pada Jordan.


Terlihat sedikit memaksa, Jordan mulai merengkuh Jasmine dan memberi kode bahwa dia tidak boleh mendekat.


Jordan tahu Jasmine masih trauma pada pria ini, terbukti napasnya berat dan badannya sedikit terguncang.


"Maaf, sebaiknya kalian pergi karena Jasmine sepertinya butuh waktu untuk sendiri." ucap Jordan tegas.


Dia sama sekali tidak membuka kaca mata hitamnya, jadi mereka berdua tidak bisa mengenali siapa yang sedang berbicara.


"Baiklah...ayo son kita pergi, Jasmine honey ingatlah kamu bisa datang kapan saja pada kami. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu."


Setelah mengucapkan itu, Marco dan anaknya pun berlalu. Mereka tersenyum pada setiap orang yang ada disana. Hanna dan Robby melihat keduanya pergi sambil menyunggingkan senyum licik.


Hanna mendekat kearah Jordan dan Jasmine. Jasmine masih menangis tersedu, batinnya kembali terguncang mengingat kejadian dulu yang masih membekas.


"Sayang, dengarkan mommy. Kamu tidak sendiri, kami semua disini adalah keluargamu. Kami akan selalu ada untukmu."


Hanna mengusap rambut panjang Jasmine, dia tahu Jasmine pasti terguncang, Jordan memberi kode pada mommy nya.


Hanna tersenyum, dia tahu maksud kode itu. Hanna memberikan jempol untuknya, kemudian wanita cantik ini menoleh pada suaminya yang sudah tersenyum.


Benar-benar like father like son, Hanna menggeleng kepala. Zack, Tony, dan Adam juga tersenyum. Hari ini Jordan menang banyak, dan casanova ini benar-benar sudah cinta mati padanya.


Dan mereka mendukungnya, karena apapun yang baik bagi sahabatnya pasti juga baik untuk mereka. Apalagi mereka akan jadi sasaran empuk aunty mereka jika macam-macam.


###


Jasmine, Jordan dan yang lain kembali ke rumah sakit. Mereka melihat ayah Jasmine sudah sadar dan membuka mata.


Jasmine mendekat dan langsung memeluknya, Jasmine kembali menangis. Ayahnya sudah saat justru disaat ibunya tiada.


Tuan Davis ayah Jasmine tersenyum dan membalas pelukan putrinya. Rasa rindu mereka terjawab dalam pelukan erat.


Ayah dan anak yang terpisah sejak berapa tahun lalu, dan kini kembali walau tanpa orang yang mereka cintai.


Davis membelai rambut putrinya, dia yakin istrinya pun pasti tersenyum melihat mereka. Sungguh pemandangan yang mengharukan.


Adam, Tony, Zack, Robby, Hanna dan Jordan menatap pasangan ayah dan anak itu. Moment yang sangat Jasmine tunggu setelah sekian lama.


Setelah lama berpelukan, Jasmine pun melepasnya dan memperkenalkan mereka semua pada ayahnya.


Jordan mendekati ayah Jasmine saat beliau memanggilnya dengan gerakan tangannya. Meski tidak tahu apa yang diinginkan tapi Jordan tetap menuruti.


Ayah Jasmine memegang pundaknya dan dan memeluknya. Mereka berdua berbicara layaknya dua lelaki dewasa.


Jordan menggenggam tangan calon ayah mertuanya, Davis meminta Jordan menjaga Jasmine dengan segenap jiwanya, dan memperlakukannya dengan baik.


Baginya Jasmine adalah segalanya, dan Jordan adalah pria yang baik. Meski selama ini dia tidak membuka mata, tapi dia bisa mendengar percakapan mereka.


Dia tahu Jordan anak muda yang tegas dan berwibawa terlepas dia adalah seorang pemain wanita. Dan dia bisa mempercayakan Jasmine pada Jordan karena tahu pemuda ini mencintai anaknya.


Hanna dan Robby merasa ada yang aneh dengan permintaan itu, sepertinya itu adalah salam perpisahan dari ayah Jasmine pada Jordan.


Dan benar saja tak lama setelah mereka berbicara, ayah Jasmine mengambil tangan Jordan dan Jasmine dan menggenggamnya erat. Kemudian Davis tersenyum sambil menutup mata, dan tak ada lagi gerakan.


Jasmine berteriak memanggil ayahnya, Adam mendekat mencoba memeriksa nadi ayah Jasmine. Tapi Tuhan berkata lain, dia telah berpulang menyusul istrinya.


Lagi, Jasmine terpukul kepergian ibunya masih belum lama sekarang ayahnya menyusul. Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya, Jasmine kembali lemas.


Jordan merengkuhnya dan mendudukkannya di sofa, Adam memanggil dokter dan perawat lewat tombol. Dan setelah diperiksa ternyata memang dia sudah tiada.


Tony dan Zack mengurus administrasi dan juga untuk penguburannya, tak perlu menunggu lama mereka langsung menguburkan jenazah ayah Jasmine tepat disamping ibunya.


###


Setelah Jasmine siuman, dan kuat berjalan mereka langsung memakamkan ayahnya ditempat yang sama dengan ibunya.


Mereka memang cinta sejati, sehidup semati bahkan dalam waktu yang tak berselang lama. Jasmine mencoba kuat dan tegar, Jordan mendampinginya.


Memberinya kekuatan, dan selalu ada disampingnya. Karena itulah pesan terakhir dari ayah mertuanya.


Hari sudah menjelang malam, Jasmine, Jordan serta kedua orang tuanya memilih beristirahat di hotel tempat Zack dan yang lain menginap.


Karena besok mereka akan kembali ke kota mereka. Jordan memilih sekamar dengan Jasmine. Meski keberatan Jasmine hanya pasrah, karena tahu tuan muda ini sangat tidak suka dibantah dan tidak menerima penolakan.


Hanna dan Robby hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuan anak mereka. Jordan benar-benar menjaga amanat calon mertuanya.


Ya walaupun dengan tanda kutip, penuh modus. Hanna tidak dapat menahan tawanya lagi, setelah memasuki kamar mereka dia tertawa terbahak-bahak.


Anaknya akan seperti daddy nya jadi budak cinta, lihat saja. Robby yang gemas melihat istri kecilnya tertawa akhirnya mengangkat tubuhnya dan merebahkannya di kasur.


Robby tahu apa yang ada dalam benak istrinya jadi dia ingin menghukumnya kali ini, hukuman yang membuat mereka terbang ke nirwana dan merasakan kenikmatan surga dunia.


Dan terjadilah yang seharusnya terjadi, mereka pun melewati malam panas mereka dengan peluh yang membasahi tubuh polos keduanya.


###


Berbeda dengan pasangan suami istri yang tak muda lagi yang melewatkan malam syahdu mereka dengan keringat. Pasangan muda yang masih dalam tahap penjajakan ini lebih memilih tidur dalam diam.


Karena terus terang Jasmine merasa risih harus tidur seranjang dengan pria ini lagi. Dia tahu Jordan tak akan macam-macam padanya, tapi membayangkan si tuan mesum ini terus menggodanya saja sudah membuatnya kesal.


Jasmine ingin berterima kasih, karena berkat kehadirannya dia bisa melewati masa sulitnya beberapa hari ini. Tapi jika ingat bagaimana pria ini menggodanya membuatnya ingin memukul wajahnya.


"Ah..." Jasmine tidak bisa memejamkan matanya, masih teringat pembicaraan antara ayahnya dan Jordan.


Tidur miring menghadap ke kiri, terlentang, miring lagi hadap ke kanan, telungkup tetap tidak bisa membuatnya memejamkan mata.


Jordan yang awalnya tidur miring memunggunginya, berbalik dan menghadap kearah gadis itu. Bibirnya tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan.


###


Up lagi...


Mencoba konsisten, dan tetap semangat ditengah beberes karena sisa banjir.


Semagat pagiii...