Savage Love

Savage Love
#10



Mereka bertiga pergi makan siang bersama, sebenarnya bukan hanya bertiga karena Adam akan menyusul.


Mereka memilih makan di salah satu restoran favorit mereka. The Reds, restoran bergaya klasik yang menyajikan menu yang selalu incaran pengunjung.


Menu utama the reds adalah aneka olahan seafood, tapi seiring bertambahnya pengunjung dan mengingat ada sebagian pelanggannya yang memiliki alergi terhadap seafood jadi menunya pun bertambah.


Mulai dari olahan daging domba, sapi, ayam, bahkan ikan air tawar. Tapi tetap seafood sebagai menu utamanya.


Mereka sudah memesan tempat terlebih dahulu saat masih berada dikantor Jordan. Pelayan menyambut kedatangan pria-pria tampan ini.


Memilih meja di pojok ruagan dan menghadap ke jalan, jauh lebih mengasikkan bagi mereka. Karenanya jika makan disana, mereka selalu memilih tempat itu.


Pemilik restoran the reds adalah salah satu rekanan ayah Toni dan Jordan, Mr Aslan Kaya seorang keturunan Turki yang lama bermukim disana.


Mereka biasa memanggilnya uncle Aslan. Dahulu restoran ini hanya sebuah kedai yang bangun disebuah tanah petak dan hanya terdapat satu ruangan besar dan dapur dibawah, dan 1 kamar diatas dengan kamar mandi.


Dengan kata lain, usaha restoran ini dimulai dari nol, dari kedai yang hanya memiliki pengunjung satu atau dua orang tiap harinya, hingga menjadi pelanggan tetap.


Uncle Aslan, memiliki istri yang pandai memasak bernama Ozgu dan dua orang putri bernama Elif dan Gulya.


Elif tiga tahun lebih tua dari Adam, dan dia sudah menikah. Elif menuruni hobi ibunya yang gemar memasak tapi membuat kue lebih menarik menurutnya.


Elif menikah dengan teman nya saat mengikuti kompetisi memasak. Dan sekarang mereka lah yang membantu uncle Aslan mengelola the reds.


Sedangkan Gulya berbeda jauh dengan sang kakak, dia menyukai desain. Sekarang dia lagi menimba ilmu di sekolah desain.


###


Mereka bertiga memesan menu seafood mulai dari udang, kepiting, cumi dan juga kerang. Pelayan mencatat pesanan mereka, sambil menunggu pesanan datang mereka kembali mengobrol.


"Bagaimana kencan kalian, apa masih berlanjut?" tanya Jordan.


"Tidak, kami sudah tidak bertemu lagi sejak pesta itu. Dia memilih pergi mengikuti kakaknya ke luar negeri."


Zack menjawab sambil mengecek sosial media nya. Sesekali dia tersenyum saat membaca komen yang masuk.


"Bagaimana denganmu bro?" Jordan melirik Toni.


"Kami masih ketemu, tapi hanya sekedar say hello tak lebih."


"Maksud kamu, kalian memilih pisah?"


Toni mengendikkan bahunya, dia sendiri bingung. Karena gadisnya memilih menghindar.


"Yang pasti kami bertemu baik-baik, pisahpun baik-baik."


"Aku setuju, berarti diantara kita berempat Adam yang paling betah dengan pasangan kencannya. Si dokter judes...hahaha"


Jordan tertawa, Zack dan Toni juga tertawa mendengarnya.


"Apa aku melewatkan sesuatu?"


Adam tiba-tiba muncul disana, tak ada yang tahu kedatangannya.


"Woo...sejak kapan kamu menjadi hantu? Tak jelas kapan datangnya tahu-tahu bersuara."


Ucap Zack berseloroh, dan langsung mendapat jitakan dari Adam. Jordan dan Toni hanya tertawa, sudah lama mereka tidak tertawa bersama seperti ini karena kesibukan mereka.


"Hei kamu sendiri bagaimana, masih penasaran dengan gadis misterius itu?"


Toni menatap Jordan menunggu jawaban, tapi Jordan tampak berpikir. Teringat lagi beberapa jam lalu ketika mommy nya memberi tantangan.


"Hei, Jo. Kamu baik-baik saja?" Toni memperhatikan raut wajah Jordan.


"Iya, kenapa tiba-tiba diam. Ceritakan saja biar hatimu tenang."


Kali ini Zack yang menyahut, Menatap kawan-kawannya saling mengendikkan bahu.


Jordan menghembuskan napas nya berat, dia lalu menceritakan kejadian di pesta juga tentang tantangan mommy nya yang membuatnya terusik.


Sekarang mereka setuju dengan pendapat para orangtua yang mengatakan Aunty Hanna is the best trouble maker.


Jordan seketika lesu, dia sudah tahu bagaimana respon kawan-kawannya itu, tapi meskipun begitu mereka tetap mendukungnya.


Mereka mendengarkan sambil saling memberikan pendapatnya. Jordan terpaksa meminta bantuan pada kawan-kawannya. Karena mommy nya tidak akan mengijinkan Jordan meminta bantuan pada daddy nya.


Sebenarnya tujuan Hanna memberikan tantangan seperti itu agar Jordan tidak kembali teringat kenangannya dengan Sofia. Dan ingin melihat kesungguhan Jordan mencari cinta sejatinya.


Sebelum mommy nya berbuat nekat lebih baik mereka saling membagi tugas. Dan akhirnya makanan datang.


Aroma makanan yang terhidang menyeruak, mengundang naf** makan yang berada didekatnya.


Tapi Jordan seperti teringat sesuatu, dia terdiam mencoba fokus. Dan ketika dua pelayan wanita itu kembali dia semakin yakin.


"Kamu tidak makan Jo, lihatlah mereka sangat menggoda untuk dihabiskan." Zack tidak sabar


"Hei tak perlu berebut, masih banyak. Kalian seperti anak kecil saja" Kali ini Adam yang berbicara.


Jordan menepisnya, mungkin hanya angannya saja. Tapi Jordan yakin dengan penciumannya, aroma ini seperti dikenalnya.


Karena perutnya sudah lapar, Jordan pun memulai makan siangnya menyusul yang lain. Mereka makan dengan tenang dan sesekali diiringi candaan.


###


Meskipun jam makan siang sudah lewat, dan Jordan sudah kembali ke kantornya, tapi pikirannya tetap tak bisa beranjak dari the reds.


Wangi yang tadi sempat tertangkap indera penciumannya pun kembali dia ingat. Dimana dan kapan dia tidak ingat, tapi hatinya mengatakan bahwa hidungnya sangat familiar dengan aroma itu.


Jordan pun kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan sahabatnya. Membaca dan mempelajari proposal kerjasama dari beberapa perusahaan rekanan.


Satu persatu dibacanya dan dia tandai mana yang prospeknya bagus dan juga tinggi benefitnya.


Jika selama ini daddy nya masih membantu dan terkadang memberinya saran, sekarang Jordan sudah bisa memutuskan sendiri.


Manakah bisnis yang bagus dan bagaimana prospeknya, serta resiko yang akan dihadapi. Daddy nya sudah memberikan kepercayaan penuh padanya.


Dia pun tak segan mencoret bahkan mem blacklist perusahaan rekanan yang ketahuan melakukan kecurangan.


Daddy nya yakin Jordan bisa menjadi sehebat dirinya bahkan lebih, karena insting Jordan jauh lebih peka.


Benar-benar seorang pengusaha bertangan dingin, dan dia pantas dinobatkan sebagai salah satu CEO terbaik atas pencapaiannya.


###


Sementara itu Hanna berniat mangambil pakaian kotor dikamar Jo, karena Jo tidak mau ada orang lain masuk ke kamarnya.


Mengedarkan pandangannya pada kamar yang kental dengan nuansa maskulin. Mengambil keranjang baju kotornya, dan merapikan tempat tidur anaknya, hingga menata beberapa baju yang tidak terlipat sempurna dilemari pakaian.


Hingga sorot matanya menangkap sebuah kemeja putih yang tampak sudah terpakai tapi tidak dimasukkan dalam keranjang baju kotor.


Jordan suka kerapian dan kebersihan, bahkan dia barangnya lecet sedikit saja.


Aneh, itu yang Hanna pikir saat melihat kemeja itu. Hanna mendekati dan mengambilnya, wangi parfum Jordan masih tertinggal disana tapi ada wangi lain.


Ini wangi parfum wanita, Jo tidak pernah menyimpan baju kotornya apalagi ada parfum wanita disana.


Meski sering berkencan dan tidur dengan beberapa wanita, Jordan selalu meletakkan dalam keranjang dan langsung mencucinya.


Tapi ini, Hanna masih dengan pikirannya sendiri. Menerka-nerka apa yang sedang disembunyikan anaknya.


Dan apa ini? Hanna melihat ada bekas lipstik berwarna merah di sana, tiba-tiba Hanna teringat dengan obrolan Jordan dan daddy nya.


Oh jadi ini...Hanna tersenyum, dia paham sekarang. Baiklah kali ini dia yakin rencananya akan berhasil.


Jika dulu dia selalu kesulitan membuka mata hati anaknya yang tertutup cinta buta, hingga Jordan melihat sendiri perselingkuhan itu.


###