
Jasmine mencari keberadaan Jordan, tapi kemana pria itu pergi Jasmine tidak tahu. Setelah tadi menyerahkan paperbag berisi pakaian padanya, Jasmine meninggalkan pria itu begitu saja ke kamar mandi.
Sekembalinya dari kamar mandi, Jordan tak menampakkan batang hidungnya. Jasmine mencoba mencari, tapi penthouse ini begitu luas. Dia bingung memulai dari mana, sesaat melihat ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit.
Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum restoran buka, dan dia harus segera berangkat. Jasmine ingin berpamitan tapi jika harus mencarinya lagi maka waktunya akan banyak terbuang.
Akhirnya jasmine mencari lembaran kertas dan juga pulpen, dia membuka laci diruang tengah yang terdapat foto keluarga Jordan. Nyonya Hanna dengan senyum khasnya diapit oleh kedua lelakinya.
Setelah menemukan yang dicarinya, Jasmine menuliskan beberapa kalimat.
Tuan, maaf jika saya harus berpamitan dengan cara seperti ini. Mungkin anda akan menganggap saya tidak tahu terima kasih. Tapi saya harus segera pergi, sebentar lagi restoran akan buka, dan saya harus sampai disana tiga puluh menit sebelumnya.
Terima kasih banyak atas makan malamnya, atas tempat tinggalnya dan juga bajunya. Entah dari mana anda tahu ukuran saya, yang pasti sangat pas dibadan.
Sebenarnya saya ingin membuatkan sarapan tapi ternyata tak ada satupun yang bisa saya olah. Saya janji akan membuatkan sarapan atau makan malam untuk anda suatu saat.
Bye,
Jasmine
Akhirnya Jasmine meletakkan tulisan tangannya ditempat yang sering terlihat, dan dia ingat di lemari pendingin ada tempelan catatan yang biasa digunakan.
Jasmine lalu meninggalkan tempat itu dengan segera, berharap semoga Jordan menemukan note tadi dan membacanya.
###
Lima belas menit kemudian, Jordan masuk ke kamarnya dan mencari keberadaan Jasmine. Kemana gadis itu, dibukanya pintu kamar mandi tak ada disana.
Jordan kemudian mencarinya di dapur, tak ada juga. Apakah gadis itu sudah pergi tanpa menunggunya. Jordan menerka jawabannya. Ah sudahlah, yang penting dia sudah berganti baju, pikirnya.
Saat mengambil air minum di lemari pendingin, Jordan melihat kertas yang berbeda ditempelkan disana. Jordan mengambilnya dan membacanya.
Jordan mengerutkan alisnya, gadis itu ternyata mencarinya. Dan sekarang dia sudah pergi ke tempat kerjanya, padahal mereka bisa pergi bersama dan Jordan akan dengan senang hati mengantarkannya.
Dan dia sedikit tersenyum ketika membaca baris terakhir. Itu memang yang dia harapkan, bisa berjumpa lagi dan makan malam bersama.
Jordan segera ke kamarnya bersiap untuk pergi ke perusahaannya. Karena dia akan sedikit sibuk hari ini. Banyak pertemuan penting menantinya, dia pasti akan melupakan Jasmine untuk sementara.
Mobil melaju membelah jalanan, karena berangkat dari penthouse tidak perlu waktu lama bagi Jordan untuk sampai di perusahaannya. Tidak seperti jika dia berangkat dari mansion daddy nya.
Memarkirkan mobilnya di basement, Jordan merapikan penampilannya sebelum memasuki kantor. Ketika akan mengunci pintu mobil, dia melihat sesuatu yang mengkilat dibawah jok mobilnya.
Dia membuka pintu mobil dan mencoba mengambil benta itu, dan ternyata itu adalah kunci flat milik Jasmine yang kemarin dicarinya. Ternyata kunci ini terjatuh, mungkin saat perjalanan pulang karena gadis itu sudah tertidur dimobil.
Gantungan kunci dengan inisial namanya, huruf J cukup besar. Jordan memasukkannya dalam saku jasnya, dia mengunci mobil dan masuk ke dalam lift khusus para petinggi perusahaan.
Dengan kaca mata hitamnya, Jordan berhasil menghipnotis orang-orang yang melihat kearahnya. Beberapa karyawannya menunduk, memberi hormat pada orang nomor satu di perusahaan itu.
Jamie yang sudah sampai lebih dulu, langsung membukakan pintu untuk bosnya. Mereka masuk ke dalam ruangan Jordan dan mulai membicarakan agenda yang akan mereka jalani hari ini.
###
Sementara itu, di restoran The Reds Jasmine sudah bersiap untuk memulai pekerjaannya, baju yang dikenakan tadi sudah berganti seragam jadi tidak akan ada yang mengenali baju itu keluaran butik mana.
Jasmine bergabung dengan teman-teman lainnya untuk merapaikan meja dan kursi di dalam restoran, semua karyawan the reds sudah tahu tugasnya masing-masing.
Jika didepan para pelayan sibuk menyiapkan meja dan kursi, dibagian belakang para koki dan asistennya sibuk mempersiapkan bahan-bahan untuk menu siang ini. Semua peralatan masak, pisau, piring saji dan aneka sayur dan buah sudah siap di tempatnya masing-masing.
Ikan segar, daging juga sudah disiapkan jadi begitu restoran dibuka, dan pengunjung datang mereka bisa langsung mengolahnya. Dan karena jam makan siang adalah jam yang super sibuk, jadi tidak boleh ada yang terlewatkan.
Pengunjung restoran mulai berdatangan, biasanya mereka sudah lebih dulu melakukan reservasi jadi tidak bingung mencari tempat lagi. Bahkan ruangan VVIP yang ada dilantai dua restoran itu juga sudah dibooking oleh pengusaha yang sedang melakukan meeting atau perjamuan.
Para pelayan sudah siap dengan catatan kecil dan pulpen disaku mereka. Begitu ada tamu datang dan duduk di mejanya, mereka dengan sigap memberikan buku menu dan menunggu pesanan.
Setelah mencatat menu dan nomor meja, mereka langsung menuju bagian belakang dan memberikan pada asisten koki. Kebersihan dan kerapian tetap jadi nomor satu, karena itulah restoran ini masih tetap jadi favorit pengunjung.
Sebelum pesanan diantar, akan ada yang memeriksa pesanan sesuai nomor meja dan quality controlnya.
###
Jordan sudah menyelesaikan pertemuan pertamanya dengan kliennya di ruang meeting tadi, sekarang dia sudah kembali ke ruangannya lagi. Memeriksa dokumen dan juga file yang dikirimkan oleh klien.
Saat merogoh kantong bajunya, Jordan teringat dengan gantungan kunci itu. Diambilnya dan dilihatnya dengan sambil tersenyum, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.
Tiba-tiba dia teringat dengan amplop yang diberikan Jamie waktu itu yang berisi semua data tentang Jasmine dan keluarganya. Dia teringat sebuah nama, tapi lupa dimana. Dibaca lagi semua yang menyangkut masalah orang tuanya, ada yang mengganjal disini.
Sepertinya cerita tentang kebangkrutan usaha milik orang tua Jasmine memang sengaja dibuat. Feelingnya mengatakan akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Tapi dia mencoba menepisnya.
Jordan menyuruh Jamie menyelidiki lagi, dan meminta laporan perkembangan penyidikannya. Jamie dengan sigap melaksanakan perintah. Karena sejak awal Jamie sudah menaruh curiga pada seseorang tapi dia belum berhasil mendapatkan bukti.
tok tok tok
Ketukan pintu membuyarkan lamunan, Jordan menatap kearah pintu sambil mempersilahkan orang yang berada diluar untuk masuk.
Tampak seringai dari seorang laki-laki berpenampilan rapi yang lain adalah Zack. Tanpa disuruh dia sudah mendudukkan dirinya di depan Jordan.
"Apa kamu tidak ada pekerjaan, hingga berada disini?" ucap Jordan.
"Hei ayolah, aku hanya merindukanmu brother" jawab Zack sekenanya. Jordan menanggapinya malas.
"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan nona sapu tangan itu" tanya Zack antusias.
Jordan meletakkan gantungan kunci yang tadi dipegangnya diatas meja. Dia berdiri dan membuka jasnya lalu meletakkan di stand hanger di pojok ruangan.
Lalu duduk di sofa dan Zack mengikutinya, mereka kini duduk di sofa dan berbincang lebih santai.
"Aku sudah berhasil mengajaknya bertemu mommy, bahkan semalam gadis itu juga tidur denganku." Jordan menyandarkan punggungnya.
"What, kamu sudah berhasil tidur dengannya?" Zack pun terpancing untuk tahu lebih banyak.
###
Gantung....jangan lupa like, komen dan vote nya ya.