Savage Love

Savage Love
#42



Jasmine akhirnya ikut Jordan pergi, dia ingin kembali menjalani harinya dengan bekerja. Karena dengan bekerja Jasmine bisa melupakan kesedihannya, dan juga membangun impiannya.


Jamie sudah menunggu di ruang tamu, ditemani oleh daddy Robert mereka tampak berbincang tentang sesuatu.


Saat Jordan dan Jasmine turun dan mendekat, Jamie langsung berdiri dan menyambut bosnya, Jamie membukakan pintu untuk bosnya.


Jasmine dan Jordan berpamitan pada daddy dan mommy, lalu mobilpun melaju ke kantor. Di perjalanan Jordan mengatakan untuk mengantarkan Jasmine lebih dulu ke restoran the Reds.


Jalanan mulai ramai oleh pengguna, mesin mobil dan motor beradu menambah kebisingan. Kemacetan mulai terlihat di beberapa ruas jalan yang mayoritas berisi truk dan mobil besar pengangkut barang.


Karena jalan yang dilewati oleh mobil besar berbeda dengan jalur mobil pribadi ataupun taksi. Beruntung di jalur yang Jordan lewati terhindar dari macet, hanya beberapa kali harus berhenti karena lampu merah.


Lampu merah menyala manakala ada pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan. Dan secara bergantian sesuai waktu yang ditentukan akan berganti lampu hijau.


Lampu merah untuk pejalan kaki dan mobil, memiliki waktu yang sama. Disinilah kita bisa melihat bagaimana seseorang memiliki sikap sabar yang tinggi atau tidak.


Dan bagaimana seseorang memiliki rasa empati pada yang lain. Peraturan dinegara ini terutama dikota tempat Jordan tinggal sangat ketat.


Setiap pelanggaran yang dilakukan oleh warga setempat pasti akan langsung terekam melalui satelit.


Dan pelanggar akan langsung menerima surat panggilan dari pemerintah setempat, bekerja sama dengan pihak berwajib. Selain sanksi berupa hukuman tahanan, mereka juga harus membayar denda yang cukup besar.


Karena itu dari pada membayar denda dan menjalani hukuman kurungan, warga setempat memilih menyimpan uang mereka demi masa depan mereka kelak.


Angka pelanggaran lalu lintas dan peraturan dari pemerintah lainnya terbilang sangat kecil. Selain itu, disiplin tinggi dari masyarakat mulai dari anak kecil sampai orang tua patut diatungi jempol.


Beruntung nya lagi, karena kota ini memiliki pendapatan tinggi dari sektor pariwisata dan juga industri, membuat masyarakatnya sangat menjaga kebersihan.


Pajak dari setiap sektor dialokasikan untuk kebutuhan warga, mulai dari air bersih, fasilitas kesehatan, keamanan dan juga tidak adanya tuna wisma. Membuat warga sangat nyaman tinggal disini.


###


Jasmine dan Jordan sudah tiba di depan parkiran The Reds, tapi Jasmine menolak menurutnya itu akan terlihat mencolok dan akan menarik perhatian banyak orang.


Jadi Jamie berinisiatif menghentikan mobilnya di perempatan setelah The Reds, satu blok sebelum ke perusahaan Jordan.


Meski harus berjalan agak jauh tapi itu lebih baik. Jordan tidak melepaskan Jasmine begitu saja, sebelum nya dia sudah menunjukkan tempat dimana Jasmine harus menciumnya.


Jasmine memutar matanya malas, tapi dia tetap melakukannya. Setelahnya mereka berpisah, Jordan harus memimpin meeting dan bertemu klien.


Mungkin mereka harus melupakan masalah pribadi mereka sejenak, dan fokus pada pekerjaannya.


Jasmine tiba di restoran sebelum jam makan siang, dan kedatangannya mengejutkan teman-teman kerjanya dan juga pemilik restoran.


Mereka semua menyambut Jasmine dengan pelukan hangat, dan menanyakan kabarnya. Karena sejak Jasmine berpamitan, mereka sudah tidak tahu kabar gadis itu.


Seperti putus hubungan mereka kehilangan kontak, bahkan nyonya Ozgu sangat mencemaskannya.


Karena Jasmine sangat dekat dengan anak kedua mereka, Gulya. Jika terjadi sesuatu dengan Jasmine, Gulya pasti akan menyalahkan dirinya.


Keduanya menjadi dekat sejak Gulya sering mengikuti Jasmine pulang bekerja karena Jasmine gadis yang tertutup, berbeda dengan Gulya yang ceria dan sedikit ceroboh.


Gulya penasaran dengan kehidupan Jasmine yang lebih suka menyendiri bahkan kurang bersosialisasi. Entah bagaimana keduanya mulai akrab, dan akhirnya Jasmine sering diajak kerumah pemilik restoran tempatnya bekerja.


###


Sejak awal mereka bekerja disini memang selalu bersama, dan berkat Luna juga Jasmine menjadi akrab dengan pegawai restoran The Reds lainnya, termasuk dengan pemiliknya .


"Aku rindu, kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi. Kamu tahu bagaimana kami disini sangat mencemaskanmu."


Luna menitikkan air matanya, diantara sahabat Jasmine hanya Luna lah yang paling cengeng, dia sangat sensitif dan perasa.


Ada saja yang membuatnya menangis meskipun hanya hal sederhana, dan ya begitulah Luna akan membuatnya menjadi lebih drama.


Chelsea, Gulya dan Luna ketiganya adalah sahabat Jasmine yang selalu ada disaat Jasmine butuh.


Meskipun Chelsea dan Gulya tidak selalu bersama Jasmine tapi mereka seperti punya ikatan batin.


Mungkin seperti itulah jika kita berteman dengan seseorang dengan tulus, tanpa memandang status, apalagi fulus alias uang.


"Chelsea menanyakanmu, dia berkali-kali menghubungimu tapi tak satupun ada balasan. Ponselmu rusak, kenapa sulit sekali menghubungimu." keluh Luna.


"Maaf, ponsel ku kehabisan daya sejak berangkat dan aku lupa menambah dayanya. Hingga tiba-tiba mati dan ya begitulah."


Jasmine menunjukkan ponsel lawas miliknya. Yang kini sudah tak bisa digunakan lagi.


"Sebaiknya kamu membeli yang baru, karena kamu membutuhkannya." ucap Luna.


"Ya, kamu benar. Apalagi sekarang mommy dan daddy sudah tidak ada."


Jasmine sudah berganti seragam, dan merapikan penampilannya. Jasmine sudah kangen suasana seperti ini. Suasana dimana dia mendengar gemuruh api bercampur peralatan dapur yang saling bersahutan.


Mendengar kata "pelayan" dari para pelanggan restoran. Mendengar para koki menekan bel pertanda pesanan siap diantar ke meja pelanggan.


Mendengar garpu, sendok dan pisau beradu diatas piring dengan menu yang habis tak bersisa. Dan melihat wajah bahagia pelanggan saat menikmati hidangan yang mereka pesan.


Jasmine menarik napas pelan dan mengeluarkannya, seolah dia sedang melepaskan beban yang ada di pundaknya.


Luna belum menyadari arti kata-kata Jasmine tadi, hingga dia menanyakan keadaan kedua orang tuanya. Jasmine akhirnya bercerita dan mereka pun berpelukan kembali.


Luna menyesal karena tidak berada disana disaat Jasmine membutuhkannya, bahkan dia baru mengetahui kematian kedua orang tua Jasmine.


Turut bela sungkawa tapi Luna juga tidak ingin Jasmine terkurung dalam kesedihan yang lama, karena bagaimana pun hidup akan terus berjalan.


Waktu akan terus berputar, dan kita akan terus bertemu banyak orang. Jadi semangat hidup harus selalu berkobar.


Paling tidak kita bisa menyimpan kenangan masa lalu dalam hati agar suatu saat nanti bisa jadi pelajaran dan pengalaman hidup.


Dan tentang kematian, setiap orang yang hidup pasti akan mati. Hanya menunggu giliran saja, dengan cara apa, lewat peristiwa bagaimana, kita tidak akan pernah tahu.


Karena kematian itu adalah misteri, siap atau tidak, mau atau tidak, pasti akan kita temui jika sudah tiba gilirannya.


Sekarang bagaimana kita menyambut kematian itu agar tidak sia-sia, dan kita akan dikenang orang sebagai sosok yang baik setelah kita mati.


Jasmine menangis dalam pelukan sahabatnya, tangisan yang tidak boleh lagi Jasmine keluarkan. Karena itu hanya akan membuatnya lemah.


Dan orang lemah akan dengan mudah dikalahkan oleh orang lain, terutama yang memiliki ambisi.