Savage Love

Savage Love
#44



Jasmine masih tetap menunggu Jordan dan tamunya menyelesaikan makan siangnya. Kakinya sudah lumayan pegal, tapi tetap tak bergeming.


Setelah semua selesai makan, Jasmine dan rekannya membereskan peralatan makan yang mereka bawa tadi.


Sisa makanannya mereka letakkan di atas meja lumayan banyak, ada beberapa menu yang tidak tersentuh sama sekali.


Sedangkan peralatan kotor yang sudah dipakai, dibawa oleh office boy untuk dicuci di pantry.


Jordan menahan Jasmine dan rekannya saat mereka akan pergi, Jordan tahu mereka berdua belum makan siang. Jadi Jordan menyuruh mereka makan lebih dulu.


Apalagi melihat beberapa menu yang tidak disentuhnya tadi. Sangat sayang jika harus berakhir di tempat sampah.


Jordan memanggil beberapa office boy dan karyawan bagian pantry datang keruangannya agar ikut menemani Jasmine dan rekannya makan siang.


Mendapat perintah seperti itu tentu saja para OB ini sangat senang, mereka yakin bos nya itu orang yang sangat baik. Hingga memperbolehkan mereka makan bersama apalagi dengan menu yang mewah seperti ini.


Selesai makan bersama, Jasmine dan rekannya segera menarik trolly untuk segera kembali ke restoran. Sedangkan para office boy itu kemabali membersihkan ruangan bosnya seperti semula.


Jasmine sudah kembali ke restoran, dalam hatinya bertanya kenapa Jordan memintanya datang ke kantor itu, dan kenapa pula Jordan memanggil bawahannya untuk makan disana menemaninya.


Tapi Jasmine tersenyum, paling tidak meskipun Jordan adalah laki-laki yang sangat kaku untuk urusan pekerjaan, tapi pria itu masih mengingat bawahannya dan memberikan menu makanan mewah dari restorannya bekerja.


Sebenarnya tujuan utama Jordan memanggil Jasmine adalah agar bisa dekat dengannya, tapi kondisinya yang tak memungkinkan.


Dan kemungkinan besar juga Jasmine tidak akan mau hubungan mereka diketahui banyak orang. Jadi Jordan memilih bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apapun diantara mereka berdua.


###


"Jam, belikan ponsel terbaru dan pindahkan kartu yang ada disini kedalamnya."


Jordan memberikan sebuah ponsel lawas yang sudah dalam keadaan mati. Jamie mengambilnya dan memeriksanya sebentar.


"Saya permisi dulu tuan"


Jamie membungkuk dan langsung meninggalkan Jordan diruangannya. Tadi sekeluarnya dari kamar mandi Jordan mendengar sekilas omongan Jasmine tentang ponselnya.


Ketika Jasmine diluar kamar, Jordan mengambilnya dan memasukkan dalam kantung jasnya.


Dan tanpa sepengetahuan pemiliknya Jordan telah membuka ponsel itu, dengan mencoba mengisi daya.


Tapi hanya sebentar setelah itu ponsel Jasmine mati total. Untung saja Jordan berhasil menyalin kontak yang ada di ponsel itu kedalam kartu sim.


Jam kerja berakhir, dan Jordan pun telah menyelesaikan pekerjaannya memeriksa laporan dan juga beberapa dokumen kerjasama dengan perusahaan lain.


Jordan melihat kearah jam tangannya, jarum pendek sudah menunjukkan angka lima sore, pertanda sudah waktunya pulang.


Jordan merapikan meja kerjanya, dia tidak suka barang-barangnya berantakan. Meskipun ada office boy yang membersihkan tapi Jordan akan tetap merapikan sendiri.


Terdengar ketukan pintu, dan Jamie masuk setelah dipersilahkan. Meletakkan paperbag yang dipegangnya dimeja bosnya.


Jordan membuka dan memeriksanya, senyumnya mengembang. Kemudian mengambil Jas yang tergantung di hanger lalu memakainya.


Jamie membukakan pintu bagi bosnya, keduanya lalu turun menuju lobby. Mobil Jordan sudah terparkir disana.


Melewati beberapa karyawan yang masih ada di lobby, karyawan menunduk hormat tapi Jordan hanya diam.


Jamie mendahului bosnya dan membukakan pintu mobil. Mereka akan pulang ke apartemen. Ketika melewati restoran The Reds Jordan teringat Jasmine.


Gadis itu masih akan berkerja sampai jam sembilan malam, tepatnya saat restoran sudah tutup.


Jasmine mengatakan ingin mengganti hari kerjanya yang bolos kemarin agar gajinya bulan ini tetap utuh.


Tidak berlebihan, karena Jordan kaya raya bahkan uangnya tidak akan habis meski dipakai tujuh turunan.


Sesampainya di apartemen, Jordan membuka Jasnya dan meletakkan begitu saja di sofa. Dia melonggarkan dasinya dan melepaskan.


Berjalan menuju lemari pendingin berniat mengambil minuman, tapi begitu dibuka dia lupa jika belum ada isinya.


Hanya sisa dua botol minuman mineral disana, Jordan mengambil satu dan membuka tutupnya. Menenggak isinya lalu berjalan menuju sofa, mendudukkan dirinya sambil menenggak air mineral itu sampai tersisa separuh.


Jordan mendengus, beberapa hari tinggal di mansion daddy nya sampai lupa mengisi lemari pendinginnya.


Jordan masuk kedalam kamarnya, merebahkan dirinya diranjang king size nya. Jordan memejamkan matanya, satu tangannya diletakkan diatas menutupi matanya.


Tak ada suara selain dengkuran halus, masih dengan posisi yang sama Jordan tidur. Setelah hampir sejam lamanya dia tidur, Jordan bangun dan melihat jam tangan yang melingkar ditangan kirinya.


Jordan bangun dan membuka bajunya, menuju kamar mandi. Meletakkan pakaian kotornya di keranjang yang berada didepan pintu kamar mandi.


Lalu masuk, dan mulai memutar kran shower. Air hangat membasahi tubuhnya, Jordan membersihkan tubuhnya.


Setelah ritual mandinya selesai, masih didalam kamar mandi Jordan memperhatikan wajahnya dicermin.


Bulu-bulu halus mulai tumbuh diarea dagunya. Jordan memegangnya, kasar. Mengambil alat pencukur yang ada di wastafel.


Mengeluarkan busa yang biasa dia pakai ketika bercukur. Setelah bercukur, Jordan menyemprotkan parfum keseluruh tubuhnya.


Jordan keluar dari kamar mandi menuju walk in toilet, mengambil pakaiannya. Sebuah T-shirt polos berwarna hitam dipilihnya.


Dan mengambil celana berbahan denim panjang. Meski penampilan sederhana seperti itu tetap tidak mengurangi kadar ketampanannya.


Jordan mengambil jam tangan lain di nakas, dan memasangnya di tangan kirinya. Tak lupa mengambil topi baseball warna hitam yang tergantung dirak.


Jordan bersiap pergi saat ponselnya berdering, ada nama Zack disana. Pada dering kedua, Jordan akhirnya mengangkat telepon.


"Ya, hallo" Jordan


"Kita lagi berkumpul di restoran paman Aslan, kamu tidak ingin bergabung. Gadismu ternyata sudah bekerja lagi disini." Zack


Jordan mengambil kunci mobilnya, dan mengakhiri telepon mereka. Keluar dari penthouse miliknya menuju basement.


Tadi sebelum Zack menelponnya, Jordan berniat menjemput Jasmine dan mengajaknya belanja. Dia akan mengajak Jasmine tinggal disini, agar tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya.


Jordan berniat mengatakannya pada kedua orangtua nya tentang hal itu. Jordan tahu mommy nya akan sedih karena berpisah dengan mereka.


Jordan sudah keluar dari lift basement apartemen, dia menyalakan tombol yang ada di kunci mobilnya.


Sebuah mobil sport berwarna hitam, tampak menyala lampu depannya. Jordan membuka pintu dan mulai menyalakan mesin.


Melajukan mobil kesayangan nya itu membelah jalanan, tak lama mobil itu sudah sampai di parkiran restoran.


Setelah mendapatkan tempat parkir, Jordan mengambil paperbag yang ada di jog samping. Ponsel baru yang sudah diisi kartu sim yang sama, masih belum dinyalakan menunggu pemiliknya.


Paperbag itu diletakkan kembali, dia akan memberikannya nanti saat mereka kembali ke apartemen.


Jordan keluar dari mobil, memakai topinya dan mengunci mobil lalu masuk ke dalam restoran menemui kawan-kawannya.


Mereka sudah berkumpul kembali, dan pesanan mereka pun sudah datang. Jasmine masih sibuk melayani pelanggan di ujung ruangan.


Gerak-geriknya diamati oleh Jordan. Jordan tersenyum tipis, dia lalu mendekati teman-temannya dan menyapa mereka.