
Jordan dan Jamie berniat kembali ke perusahaan, tapi karena daddy meminta Jordan untuk tinggal akhirnya hanya Jamie yang pergi.
Daddy ingin menanyakan sesuatu padanya secara empat mata, kedua laki-laki berbeda generasi itu akhirnya meninggalkan mommy Hanna dan Jasmine berdua.
Hanna dan Jasmine tampak berbincang seru, mereka saling menceritakan tentang masa kecil Jasmine dan Jordan.
Mereka selayaknya ibu dan anak yang saling terbuka satu sama lain, meski Jasmine masih suka malu-malu tapi sikapnya kali ini sudah lebih baik dari pada pertama kali mereka bertemu.
Jasmine sudah tidak terlalu kaku saat berbicara dengan mommy Hanna. Karena Jasmine melihat sosok mommy nya pada diri Hanna.
Mereka bercerita banyak hal, Hanna ingin lebih mengenal calon menantunya tersebut. Karena itu dia menanyakan banyak hal tapi tentu saja atas seijin Jasmine.
Karena pada dasarnya berbicara dengan seseorang yang introvert itu mudah jika kita bisa mengenalinya.
Tidak terlalu mencampuri urusan pribadinya adalah salah satunya. Hanna tidak memaksa jika Jasmine tidak mau bercerita karena itu hak dia.
"Sayang, bagaimana pekerjaanmu? apa ada kesulitan?" tanya Hanna.
"Pekerjaanku oke mom, tak ada masalah yang berarti." Jasmine
"Apa kamu tidak ingin bekerja ditempat lain, apalagi dengan ijazahmu sekarang kamu bahkan bisa mendapatkan posisi manager jika kamu mau."
Hanna mengambil teh nya dan menyesapnya sebentar. Jasmine menoleh kearah Hanna setelah minum air putih yang tadi dibawanya bersama teh milik Hanna.
"Aku sebenarnya ingin sekali bekerja sesuai ilmu yang aku kuasai. Tapi aku belum percaya diri mom, apa aku bisa."
Jasmine tampak ragu, dia ingin sekali bekerja sesuai bidang, dan betul kata Hanna dia bisa langsung memegang posisi manajer jika dia mau, apalagi dengan nilainya yang sangat memuaskan.
Sebenarnya sudah banyak tawaran dari beberapa perusahaan yang menginginkannya bahkan sebelum dia wisuda.
Tapi Jasmine seolah enggan, dia tidak merespon satupun dari mereka. Bahkan tawaran dari perusahaan milik ayah Chelsea sahabatnya saja dia tolak, dengan alasan belum siap.
Hanna memegang tangan Jasmine dan menggenggamnya. Hanna tahu jika Jasmine masih betah direstoran karena dia sudah merasa nyaman.
Bukan karena belum siap bekerja ditempat lain, Hanna tahu keraguan gadis itu. Tapi Hanna mencoba meyakinkan Jasmine.
Gadis ini memiliki kemampuan hanya saja dia tidak mau mencobanya. Hanna tersenyum, menepuk tangan Jasmine dan tersenyum.
"Kita tidak akan pernah tahu kemampuan kita jika kita tidak pernah mencobanya. Mommy tahu kamu bisa, dan mampu mengerjakan apapun dengan baik. Kamu hanya butuh mencobanya lebih dulu." Hanna
Jasmine menatap kedua mata sipit berwarna coklat itu, ada keteduhan disana. Jasmine merasa nyaman, dia lalu memeluk Hanna.
Pelukan hangat seorang ibu yang selalu Jasmine rindukan. Hanna mengusap punggung Jasmine. Jasmine terharu, air matanya tiba-tiba jatuh.
Hanna merasakan itu, dia melepaskan pelukan Jasmine dan menghapus air mata Jasmine. Jasmine tersenyum.
"Thank you mom" ucap Jasmine kembali memeluk Hanna.
Hanna membalas pelukannya. Obrolan itu masih berlanjut dan ternyata mereka berdua sangat cocok satu sama lain.
###
Sementara itu diruang kerja Robby dan Jordan terlibat pembicaraan serius. Ayah dan anak itu sedang membahas sesuatu yang menyangkut masa depan Jasmine.
"Jo, daddy ingin menanyakanmu satu hal dan daddy harap kamu berkata jujur."
Robby menepuk kursinya dan meminta Jordan duduk disebelahnya setelah Jordan masuk ke ruang kerjanya.
Jordan mengerti ada masalah serius yang ingin daddy nya sampaikan. Jordan lalu duduk disamping daddy nya.
"Sure, daddy bisa menanyakan apapun. Daddy tahu aku tidak pernah bisa menyembukan apa pun dari daddy."
Jordan menyindir daddy nya, dan Robby tertawa karenanya.
"Son, apa kamu benar-benar serius dengan Jasmine?" tanya Robby kemudian. Dia menatap anaknya yang tampak terkejut dengan pertanyaannya.
"Dad, daddy tahu kan aku tak akan pernah bertingkah seperti orang bodoh jika aku tidak benar-benar jatuh cinta padanya." Jordan.
Robby tahu, karena itu juga yang Jordan lakukan dulu saat bersama Sofia. Robby hanya ingin mengetes Jordan saja.
Robby tak menutupi jika dulu dirinya dan Hanna sangat jauh dari Jordan, karena Sofia sangat mempengaruhi pikiran Jordan sehingga Jordan menjadi jauh dari orang tuanya.
"Jangan sebut namanya lagi, dad. Aku minta maaf karenanya, aku berjanji itu tidak akan terjadi lagi." Jordan menyesali perbuatannya dulu.
"Ya, daddy tahu. Kami sudah memaafkanmu."
Robby menepuk pundak anaknya, Jordan beruntung memiliki orang tua seperti mereka yang mau menerima segala kekurangannya.
"Jo, mommy mu sudah sangat menyukai gadis itu. Dia bahkan tidak mau jauh dari nya mengingat semua kejadian buruk yang menimpa keluarganya."
"Kami ingin sekali melihat kamu dengan Jasmine bersama dalam ikatan pernikahan. Tapi mommy dan daddy tidak akan memaksamu jika kalian tidak memiliki perasaan lebih"
"Kami hanya ingin jika kamu serius dengannya segera nikahi dia, jika tidak biarkan dia bebas. Jangan membuatnya menanggung sesuatu yang akan membuatmu menyesal nantinya."
Raut wajah Robby yang serius membuat Jordan paham jika mereka pasti sudah membahas ini sebelum berbicara dengannya.
"Dad, aku..." belum juga Jordan menjawab daddy Robby sudah memotong.
"Son, kamu tahu siapa yang akan kamu hadapi nanti jika kamu memilih serius dengannya."
Robby sudah mengetahui semua tentang Jasmine, setelah Jordan menceritakan kejadian tentang kebakaran rumah orang tua Jasmine.
Jamie juga sudah melaporkan semua hasil penyelidikan orang suruhannya, dan Robby yakin akan ada kejadian lain yang menanti mereka.
Oleh karena itu Jordan harus siap menghadapi segala kemungkinan buruk yang akan terjadi kemudian hari.
"Aku tahu, daddy jangan kuatir. Jika awalnya mungkin aku hanya merasa iba padanya, tapi sejak daddy nya memintaku untuk menjaganya, aku serius dad."
Jordan lalu menceritakan pertemuan singkatnya dengan daddy Jasmine, Jordan sudah berjanji padanya.
Sebagai pria sejati dia akan membuktikan ucapannya bukan hanya sekedar janji. Jordan akan menjaga Jasmine dengan segenap jiwa raganya.
Robby mengangguk, dia tahu Jordan mampu sekarang tinggal bagaimana agar keduanya secepatnya melangsungkan pernikahan.
Jordan tahu daddy nya sedikit ragu dengan pilihannya, tapi Jordan tak akan menyerah. Selangkah lagi dia akan membawa Jasmine ke hubungan yang serius.
Jika saja esok hari tidak ada festival, Jasmine dan Jordan sudah menikah. Karena mulai hari ini semua kantor pelayanan publik dan kantor milik pemerintah lain juga swasta membatasi jam kerja mereka hari ini hanya sampai pukul dua siang.
Dan besok saat acara puncak festival semua kantor, toko dan restoran akan tutup total dari pagi hingga malam hari.
Sekarang dia hanya perlu memantapkan pilihan hatinya, dan mempersiapkan kejutan bagi gadis yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya.
Jordan tersenyum membayangkan kejutannya, dan juga membayangkan malam pertama mereka.
Daddy Robby hanya tertawa melihat Jordan yang senyum sendiri. Dia bukan tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran anaknya itu.
Karena sebejat-bejatnya lelaki dia akan memilih wanita baik-baik untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya.
Jordan dan daddy nya kembali membahas masalah pekerjaan, karena daddy nya melihat Jordan sibuk akhir-akhir ini.
###
Terima kasih atas dukungannya, semua like dan komen yang masuk saya terima dengan baik karena itu semangat buat saya yang masih pemula.
Novel ini karya kedua saya, dan masih dalam proses belajar tentu saja masih banyak kekurangan didalamnya.
Sekarang saya paham kenapa para penulis besar baik yang sudah lama memiliki nama ataupun yang baru saya temui di aplikasi ini banyak mengeluhkan tentang komentar miring pembaca pada karyanya.
Jika dulu saya memposisikan diri saya hanya sebagai pembaca, dan sama sekali tidak tertarik untuk menulis hingga saya tertantang untuk mencoba sesuatu yang baru.
Saya menulis murni karena ingin menyalurkan hobi, bisa masuk dan lulus review dari awal itu sampai tiap bab yg up sudah bikin degdeg ser. Jika ada komentar miring yang mengatakan terlalu panjang flashback nya atau terlalu banyak penjelasan tentang setting yang tidak penting, itu tidak masalah karena tiap penulis pasti punya ciri sendiri.
Dan seperti saya katakan tadi, saya masih penulis pemula banyak sekali kekurangan pada karya saya. Jika saya menjelaskan detail setting, bukan tidak capek ya tapi dari pada saya harus menuliskan sesuatu yang membuat review nya lama, dan ditolak mending cari aman.
Maaf ya jika kepanjangan baca curhatan ga penting dari seorang penulis baru yang amatir ini. Kritik dan saran saya terima dengan hati lapang demi terciptanya suatu karya yang orisinil dan tidak dicap menjiplak.
Hanya remahan rengginang, dan selalu menjaga kewarasan agar tetap sehat. Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan.