Savage Love

Savage Love
#41



Setelah membersihkan diri Jordan keluar kamar mandi dengan handuk yang disampirkan dipinggangnya.


Roti sobeknya tertampang jelas, pemandangan yang indah bagi wanita yang ada didepannya. Tapi Jasmine masih kesal karena sikap Jordan tadi.


Dia mencoba cuek bahkan tidak memperdulikan keberadaannya. Jasmine duduk di sofa kamar dengan membuka ponsel nya yang kata chelsea sudah harus dimusiumkan.


Sepertinya ponselnya mati, dia tidak ingat kapan terakhir menggunakannya. Bahkan tak ingat jika baterai nya mati. Dia bisa saja membeli baru sekarang apalagi sudah tidak ada mommy dan daddy nya.


Jasmine teringat dengan boneka beruang miliknya. Jasmine mengambilnya dan memeluknya, membuka tas nya melihat pigura yang berisi foto mereka bertiga.


Jasmine menangis, dia rindu orang tuanya dan menyesali pertemuan terakhirnya dengan mereka yang berakhir tragis.


"Mom, dad, i miss you"


Jasmine tak dapat lagi menahan air matanya yang membendung. Jasmine tidak menyadari jika Jordan sedang memperhatikannya.


Jordan mendekat, meraih Jasmine dan memeluknya. Membiarkannya menangis dalam pelukan, setelah itu Jordan menghapus air matanya.


"Sayang, wifey dengarkan aku. Jangan menangis lagi. Mereka sudah tenang disana, jangan lagi membuat mereka bersedih."


Jordan mendekapnya, mengelus punggungnya memberikan ketenangan. Kemudian setelah tenang Jordan mengajak Jasmine untuk turun. Mereka sudah ditunggu oleh mommy dan daddy nya.


"Morning mom, dad" Sapa Jordan, tangannya masih menggenggam erat Jasmine. Jordan mencium mommy nya dan memeluk daddy seperti biasa.


Jasmine mengikuti Jordan, memeluk mommy Hanna dan daddy Robert. Meski Jordan tak melepas genggaman tangannya. Dan matanya terus mengawasi gadisnya.


"Duduklah, kalian harus banyak makan biar kuat."


Ucapan daddy Robert membuat keduanya tercengang, mencoba memahami maksudnya.


Jordan menggeleng kepala, daddy nya mulai usil sekarang.


"Ya, dan kalian harus banyak tenaga agar bisa secepatnya memberikan mommy dan daddy cucu." Hanna ikut menimpali.


Jasmine yang tidak mengerti maksud ucapan mommy dan daddy hanya diam. Kedua orang tua itu hanya tersenyum. Melihat tingkah anaknya yang sudah mulai membuka jalan.


"Sayang, apa tidurmu nyenyak semalam?" Hanna melihat kearah Jasmine, bibirnya tak berhenti tersenyum.


Begitu juga dengan daddy Robby yang tak mau kalah menggoda Jordan. Membuat mereka tertawa melihat Jordan yang sedikit kesal karenanya.


"Sepertinya dirumah ini harus difogging mom, mulai banyak nyamuk. Terutama di kamar Jo, daddy yakin nyamuknya nyamuk raksasa." ucap daddy membuat Jordan terkekeh.


Daddy nya mulai meresahkan, dari tadi Jasmine diam tidak menyadari jika tanda kepemilikan di sekitar lehernya membuat dia jadi pusat perhatian.


"Ya, daddy benar. Sekarang menantu mommy yang digigit, sampai bekas gigitannya terlihat jelas begitu. Besok bisa saja giliran Jordan yang digigit." Hanna menahan senyumnya saat Jasmine merasa mati kutu.


"Dan sebelum nyamuk itu menggigit kita, lebih baik kita semprot saja." daddy Robby.


Jasmine mulai paham kemana arah pembicaraan mereka, dia berusaha menutupi bekas yang ditinggalkan Jordan tadi.


Saat melihat Jasmine mulai tidak nyaman, Jordan menoleh kearah kedua orang tuanya. Tangannya terangkat dan mengatupkan keduanya memohon agar mereka tidak melanjutkan lagi.


Mengerti maksud kode tangan itu, daddy dan mommy akhirnya berhenti. Mereka tidak ingin Jasmine merasa tidak nyaman.


Jasmine memakan rotinya kembali, masih canggung karena ulah Jordan dia menjadi bahan olokan kedua mertuanya. Pantas saja sejak keluar kamar tadi, banyak pelayan menoleh dan tersenyum kearahnya.


Pipinya merona, jika saja tadi dia tidak mengikuti permainan laki-laki di sebelahnya ini, dia tidak akan jadi bahan olokan.


"Hubby..." Jasmine melirik Jordan. Jordan hanya tersenyum.


"Ah...dasar tuan mesum" umpat Jasmine.


Jasmine menghabiskan sarapannya dan ingin segera kembali ke kamar. Dia sangat malu pada kedua orang tua Jordan dan juga para pelayan.


###


Jordan kembali ke kamarnya bersama Jasmine, dia mengambil jas dan tas kerjanya. Ponselnya berdering, Jordan sedikit berlari menuju nakas.


Jordan mengangkat telepon untuk kedua kalinya dari Jamie.


"Ya hallo, katakan ada apa?" tanya Jordan tanpa basa-basi.


"Tuan, saya sudah berhasil mendaftarkan pernikahan anda. Besok pagi pukul sembilan anda bisa ke kantor catatan sipil untuk meresmikan pernikahan."


Jamie menjelaskan, senyum lebar terukir diwajahnya. Menoleh kearah Jasmine dan mengedipkan sebelah matanya.


Jasmine merasa aneh, kekesalannya belum hilang sekarang malah tersenyum.


"Menyebalkan" ucapnya lirih, tapi tetap bisa didengar Jordan.


"Oke, thanks. Persiapkan saja semuanya, aku ingin pernikahan ini rahasia. Jangan sampai publik tahu siapa istriku. Sebelum semua jelas aku ingin dia menikmati privasinya."


Jordan menutup teleponnya, dan bersiap pergi menuju kantor. Jasmine melihat Jordan membetulkan letak dasinya. Dia mendekat dan membantunya.


"Done" Jasmine merapikan kemeja Jordan, lalu membantu Jordan memakai Jas nya.


Jordan terlihat berbeda penampilannya, sekarang dia lebih rapi dan semakin tampan.


Cup


Jordan mendaratkan kecupan di kening Jasmine. Jasmine tersenyum, mengecup bibir Jordan.


"Hubby.., aku sudah lama tidak masuk kerja, tidak pulang ke flat, dan tidak bisa menghubungi Chelsea."


Ucap Jasmine hati-hati, dia takut jika Jordan menolak keinginannya.


"Boleh kah jika aku kembali ke flat, dan bekerja lagi?"


Jasmine mencoba menatap mata Jordan yang tampaknya kurang menyukai ucapannya. Lama Jordan diam, tidak menanggapi permintaannya.


"Hubby, please"


Tangan Jasmine mengatup dan memohon. Dia tahu jika dia bisa saja memanfaatkan keadaannya sekarang. Hidup mewah tanpa harus repot bekerja.


Tapi Jasmine tetaplah Jasmine, seorang gadis yang mandiri. Jika dia hanya bisa memanfaatkan keadaannya sekarang, maka dia malu pada kedua kedua orang tua nya.


Kedua orang tuanya selalu mengajarkannya untuk mandiri, tidak boleh tergantung pada orang lain siapa pun dia. Mereka juga pernah berkata, seperti apapun pekerjaanmu nanti, biasakan untuk menabung.


Menyisihkan sedikit uangmu untuk tabungan, karena kita tidak pernah tahu kehidupan kita dimasa yang akan datang. Apakah akan lebih baik atau sebaliknya lebih buruk dari hidupmu hari ini.


Prinsip itu yang selalu Jasmine pegang, bukankah lebih baik jika dia mempersiapkan masa depannya dari sekarang.


Jordan ingin melarangnya bekerja tapi jika dia melakukan itu Jasmine pasti akan membencinya. Jasmine tipe gadis yang semakin dilarang, semakin membangkang menurut Jo.


Jadi lebih baik dia mengiyakan saja, dan tetap mengawasinya dari jauh agar tidak kecolongan. Karena bahaya bisa datang kapan saja.


Jasmine masih menunggu, hingga akhirnya bahagia terpancar dari wajahnya. Jasmine senang sekali, dia memeluk Jordan karenanya.


"Thanks hubby"


Jasmine memberikan satu kecupan di pipi Jordan, melihat Jasmine bahagia Jordan tersenyum.


"Tapi ada syaratnya"


Jasmine terdiam, masih ada syarat yang harus dia penuhi. Ekspresi wajahnya kembali datar, Jordan tersenyum senang sekali menggodanya.


"Berikan aku ciuman, baru kamu boleh kembali bekerja"


Jasmine terperangah, ternyata hanya itu syaratnya. Jasmine langsung mendekatkan bibirnya ke bibir Jordan, dan mereka pun kembali menikmati ciuman itu.


###


Semoga kali ini lulus review, ternyata saya memang tidak bakat membuat adegan hot jadi lama reviewnya 😅.