
Jordan sampai di toko bunga yang dimaksud, mobilnya parkir tepat didepan toko. Sebelum keluar dia memperhatikan ada seorang gadis cantik yang sedang melayani pembeli.
Gadis berambut panjang itu mengenakan celana jeans dan kaos bermotif bunga model sabrina.
Rambutnya diikat kuncir kuda asal, menggunakan saputangan putih.
"Tunggu dulu, aku seperti kenal sapu tangan itu?" gumamnya.
Jordan semakin tak sabar untuk menemuinya. Melepas save belt nya dan melepas jasnya. Keluar dari mobil dan pura-pura bertanya pada gadis itu.
Jordan ingin menghirup wangi yang dirindukannya, dengan banyak pertanyaan dia akan lebih banyak mengulur waktu agar bisa lama didekat gadis itu.
"Selamat siang, selamat datang di Daniel Florist. Ada yang bisa saya bantu tuan?"
Jasmine menyapanya, terlihat senyumnya yang terukir di bibir mungil dengan lipstik warna nude. Jo terpana, senyumnya mengingatkan pertemuan mereka pertama kali.
Jordan tersenyum, dia melepas kacamata hitamnya. Jasmine terpesona, tapi dia menutupi dengan menoleh kearah lain.
"Bisa bantu saya, nona. Saya ingin memberikan bunga pada seseorang yang istimewa, dan dia sangat berarti dalam hidupku." Jordan
"Oh ya, kalau boleh tahu bunga apa yang anda cari. Saya akan memberikan maknanya jadi akan tidak salah memilih bunga." Jasmine
Jordan memperhatikan wajah cantik itu, dan sesekali melirik ke atas kepalanya, melihat sapu tangan yang dipakai untuk mengikat rambut panjang bergelombang itu.
Merasa diperhatikan pria tampan di hadapannya, membuat Jasmine grogi. Mencoba mengalihkan pandangan, saat mata mereka beradu. Jasmine merasa mengenalinya, tapi dimana.
Pikirannya melanglang buana, mencari tahu.
"Bagaimana jika bunga mawar?" Jordan
Belum menyadari jika pria itu bertanya, Jordan menggerakkan tangan kirinya di depan wajah nya. Masih belum ada respon, hingga Jordan mendekat dan berbicara tepat didepan telinganya.
Jika ada yang melihat pasti mengira mereka sedang berciuman sekarang. Suara Jordan, desah napasnya dan wangi tubuhnya membuat Jasmine kembali ke beberapa hari lalu di pesta dansa.
Suara ini, wangi tubuh ini, oh tuhan...
Jasmine membatin, belum juga kesadarannya kembali, suara dihadapannya berkata lagi.
"Apa perlu aku ulangi ciuman malam itu, nona sapu tangan?"
Deg...
"Pria ini...dia adalah pencuri ciuman pertamaku. Oh tidak..." batin jasmine,
Reflek tangannya menutupi bibirnya, rona merah dipipinya terlihat.
"Kau..."
Jasmine menunjuk tapi tangan itu diambil dan dicium oleh pria tidak tahu malu ini.
"Bagaimana apa kau mau mengulanginya nona Jasmine"
Jordan kembali membuat Jasmine terperangah, bagaimana bisa pria ini tahu namanya.
Jasmine menggeleng kepala, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi. Dia sangat malu mengingatnya, tapi hatinya berkata sebaliknya.
"Sudah jangan diteruskan. Sekarang apa maumu tuan muda yang terhormat"
Jasmine kembali memasang mode juteknya, tapi Jordan hanya tersenyum. Dia bahkan mengulurkan tangan kanannya. Mengajak Jasmine bersalaman.
Tidak respon, sepertinya memang harus menggunakan cara sedikit ekstrem untuk membuat nona cantik ini melunak.
Jordan tersenyum smirk, membuat Jasmine jadi menyipitkan matanya. Entah apa yang direncanakan pria ini. Jasmine sedikit curiga.
Jordan kembali mengulurkan tangannya lebih dekat, bahkan ujung jarinya sempat menyentuh dua balon kebanggaan milik Jasmine.
Jasmine terkejut, mulutnya menggembung. Mulai kesal pada pria di depannya.
"Jasmine.."
"Jasmine Olivia Fernandez, 20 tahun, mahasiswi teladan yang meraih predikat cumlaude, dan mengantongi ijazah S2 akuntansi, ukuran dada 36 B, dan baru pertama kali berciuman dengan pria di pesta dansa."
Jasmine menganga, bagaimana bisa dia tahu semuanya bahkan ukuran bra nya juga. Kedua tangannya reflek menyilang, menutupi dadanya.
"Siapa kamu, bagaimana kau bisa tahu semua tentangku?"
Tanya Jasmine, tapi laki-laki tampan ini hanya tersenyum sambil menaikkan alisnya. Dasar, untung tampan jadi meski Jasmine terlihat kesal, laki-laki ini masih tetap terlihat tampan dimatanya.
Jordan mengulurkan tangan ke atas kepala Jasmine, dengan menutup mata Jasmine mengerutkan dahinya.
Tiba-tiba rambut panjang nya tergerai, dengan sangat cantik jatuh di bawah bahunya. Wangi dan membuat Jordan mengambil sebagian lalu mencium nya.
Benar-benar membuat Jasmine tak bisa berkutik, dia hanya diam melihat aksi berikutnya yang akan pria ini lakukan.
Jordan membuka gulungan sapu tangan itu, dan menciumnya lagi. Noda bekas minuman waktu itu sudah tidak ada.
Sapu tangan itu bersih dan wangi, bercampur dengan wangi rambut gadis cantik ini. Jordan tersenyum.
Dia lalu menunjukkan inisial namanya disana, J.A.S
Jasmine mengejanya, kemudian Jordan menyebutkan nama panjangnya Jordan Alexander Smith.
What..
Untuk kesekian kalinya Jasmine terperangah, dia tidak percaya bahwa pria tampan, sexy dan sedikit gila ini adalah idola para wanita, bahkan mereka saling berlomba hanya untuk mendapatkan perhatiannya.
Jika dulu Jasmine hanya bisa melihatnya dari jauh, saat ini dia berada tepat di depan matanya. Beradu napas, berdebat bahkan dia juga yang telah menciumnya.
Bahagia, tentu saja tapi Jasmine tak ingin menampakkan nya. Baginya wanita yang baik dan anggun itu punya nilai jual tinggi, jadi sok jual mahal sedikit tak apa.
cettak
"Aaww..."
Jasmine memegang dahinya yang baru saja mendapat sentilan dari Jordan. Dan sudah keberapa kalinya Jasmine dibuat kesal oleh ulahnya.
"Hei kenapa kau memukul ku tuan sok tampan"
Jasmine kesal, tapi Jordan hanya tertawa. Mengusap dahi Jasmine yang tadi disentilnya, lalu menciumnya.
"Ya tuhan, jantungku...help me please"
Gumam Jasmine pelan tapi masih bisa didengar oleh Jordan.
"Ada apa dengan jantungmu, apa kamu punya masalah dengannya?"
Tanya Jordan pura-pura, padahal dalam hatinya dia sangat senang. Melihat ekspresi gadis ini, yang membuatnya tertawa. Dia sangat terhibur karena gadis ini berbeda dengan yang lain.
Dia tidak perlu polesan make up untuk tampil cantik, tak perlu berpakaian mewah untuk tampil anggun, tak perlu menutupi sifat aslinya dan menjaga image di hadapan laki-laki sekelas Jordan.
Dia cantik apa adanya, sederhana dan sexy meski tanpa pakaian ketat yang menonjolkan semua miliknya agar laki-laki tertarik.
Dan ini yang Jordan cari, wanita seperti Jasmine yang tertutup tapi tetap mampu membawa diri.
Tanpa kepura-puraan yang terpaksa, tanpa tersenyum tapi hatinya munafik, yang sedikit tomboi tapi tetap pandai merawat diri.
Hanya perlu sedikit polesan agar aura kecantikannya keluar. Dan dia tipe nya, tentu saja yang akan masuk menjadi kandidat nyonya Smith berikutnya setelah mommy nya.
"You will like her mom, i promise"
Jordan tersenyum, dia lalu menggandeng tangan gadisnya. Mulai hari ini Jordan sudah menetapkan Jasmine sebagai gadisnya dan tak lama lagi akan menjadi wanitanya.
Satu-satunya wanita yang akan mengisi ruang kosong di hatinya. Yang akan mengisi hari-hari nya. Menjadi rumah untuk dia pulang, dan juga ibu dari anak-anaknya.
Itu janjinya pada diri sendiri, dan mommy....aku sudah memenuhi tantangan pertamamu.