
Setelah Jasmine sadar Jordan lalu mengajaknya mengambil barang-barang yang ingin dia bawa sebagai kenangan dengan orang tuanya.
Rumah ini isinya tak sebanyak dirumah lamanya karena sejak memutuskan pindah, mereka meninggalkan semua barang disana, semua fasilitas mewah yang mereka miliki.
Jasmine masuk ke kamar pribadinya, tak ada yang bisa dia ambil karena memang hampir semua barang miliknya ada di flat tempat tinggalnya sekarang.
Jasmine hanya melihat isi kamar yang sudah lama dia tinggalkan. Menatap foto-foto masa kecilnya yang penuh kebahagiaan dengan kedua orang tuanya. Bingkai foto yang kini mulai berdebu, karena sudah tidak ada yang merawat.
Jasmine memutuskan membawanya, dan setelah memeriksa lagi diruangan lain, Jasmine tak lagi menemukan. Diruang tengah ada bingkai foto besar yang tergantung di dinding, berisikan foto dirinya, kedua orang tuanya serta kakek nenek nya.
Jasmine tidak berniat membawanya, karena itu adalah kenangan terakhir yang dia miliki, biarlah ada disini, sebagai tanda bahwa dia akan selalu kembali kerumah ini.
###
Jordan sudah selesai merapikan barang-barang di kamar orang tua Jasmine seperti semula. Jika kecurigaannya benar, maka akan ada orang yang datang kemari dan membuat kekacauan disini, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Sebelum itu terjadi, lebih baik mereka pergi dari sini agar Jasmine tidak semakin terpukul. Jordan mengajak Jasmine kembali ke kota mereka. Jordan menarik tangan Jasmine pergi.
"Tunggu, aku mau mengambil sesuatu dikamar mommy." Jasmine menghentikan langkahnya, dan masuk ke kamar orang tuanya.
Boneka beruang dan pigura yang dipegangnya tadi dia bawa. Lalu mengajak Jordan keluar, tapi saat memakai tasnya dia merasa lebih berat sekarang.
Jasmine membuka tas nya dan menemukan kotak perhiasan itu didalam nya, Jasmine menatap kearah Jordan.
"Kenapa ini ada dalam tas ku?"
"Kenapa tidak dikembalikan saja pada tempatnya"
Jasmine bukan tidak tahu maksud Jordan, tapi dengan membawanya maka dia akan mengalami banyak hal nantinya. Dia sudah tidak memikirkan lagi tentang harta peninggalan kakeknya itu, meski itu adalah hak nya, tapi hidup tenang adalah keinginan terbesarnya.
"Hei dengar, itu semua adalah milik orang tuamu, berarti itu juga milikmu. Apa kamu ingin daddy menyesal karena membiarkan anaknya sebatang kara, dan menanggung beban sepanjang hidupnya?"
"Tentu tidak, aku yakin daddy punya alasan untuk itu, jadi sebelum sesuatu yang buruk terjadi, lebih baik kita menyimpannya ditempat yang aman, agar suatu saat bisa kamu gunakan."
"Okey"
Jasmine mengangguk mengerti, memang betul yang dikatakan Jordan. Itu adalah haknya, dan memang seharusnya dia yang pegang, agar tidak disalah gunakan oleh orang yang berniat buruk juga serakah.
Jordan melihat ada bungkusan di dekat lemari, entah apa isinya. Jordan mendekat dan membukanya, hanya kertas alas roti yang sudah terpotong kecil. Jordan mengeluarkan sebagian isinya, dan meminta Jasmine mendekat.
Jasmine menurut, dia lalu membuka kotak perhiasan yang ada ditangannya, dan mengeluarkan isinya, lalu memasukkannya pada bungkusan tadi. Lalu Jordan menutupinya dengan potongan kertas yang tadi dia keluarkan.
Tujuannya hanya satu, mengecoh siapapun yang berniat mengambilnya. Sedangkan kotak perhiasan itu diganti dengan foto yang Jasmine pegang. Serta beberapa asesoris yang ada diruangan itu.
Sedangkan bungkusan tadi Jordan pegang dan akan dia simpan ditempat yang aman untuk sementara.
Mereka lalu meninggalkan rumah tua peninggalan kakek nenek Jasmine, setelah mengunci kembali rumah itu. Jordan memegang tangan Jasmine, mereka menuju kearah mobil Jordan.
Barang-barang yang Jasmine bawa sudah berada di jok belakang, dan setelah itu mereka pun pergi melanjutkan perjalanan ke kota mereka.
Mereka tidak sadar ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua. Sejak mereka keluar dari rumah dan menuju mobil. Orang itu telah berhasil memotret mereka dengan kamera ponselnya dan mengirimkan pada seseorang.
Melihat mobil yang membawa pasangan itu pergi menjauh, orang tadi melangkah kan kaki menuju rumah dan mencoba mencongkel pintu menggunakan linggis, dan pintupun berhasil dibuka.
Tak lama kemudian, datang sebuah mobil mewah masuk ke pekarangan rumah itu. Pintu mobil terbuka, dan turunlah beberapa orang yang langsung masuk ke dalam rumah.
"Cepat periksa tempat ini, cari yang aku maksud. Aku tidak mau lagi menunggu terlalu lama. Semua akan segera jadi milikku seutuhnya, semuanya. Ha ha ha..."
Orang yang memerintah tadi adalah saudara angkat ayah Jasmine. Dia sepertinya sudah tahu jika surat kepemilikan peternakan itu disimpan dirumah ini. Karena dirumah lama tuan Fernandez yang berhasil diambil paksa tidak ada satupun.
Mereka membongkar beberapa lemari dan mengacak isinya, bahkan rumah yang tadinya rapi kini tak ubahnya seperti kapal pecah. Semua berantakan, setiap ruangan sudah mereka periksa tapi nihil. Tak ada satupun tanda-tanda mereka temukan yang mereka cari.
Hingga pemimpin mereka memasuki kamar orang tua Jasmine, dan sesuai dugaan Jordan mereka membongkar isi lemari, dan mengeluarkan semua isinya.
Salah satu anak buahnya yang membongkar isi lemari mengatakan ada sebuah lubang di dalam lemari dan ditutupi oleh kertas dan plastik.
Tapi lagi-lagi mereka kecewa, lubang itu sudah kosong tak ada isi di dalamnya.
"Sial..." Pria tua itu kesal dan menginjak baju-baju yang dijatuhkan oleh anak buahnya.
Kekesalannya masih berlanjut hingga, dia menyuruh anak buahnya untuk membakar rumah tua tersebut. Mereka melakukan apa yang tuannya suruh, seorang dari mereka kembali dari mobil membawa jerigen berisi minyak dan menyiramkannya disekitar rumah, lalu seorang dari mereka membuka korek api, dan memantiknya lalu melemparkan kearah bekas minyak, dan seketika rumah itu terbakar.
Rumah tua itu dilalap si jago merah, dan mengeluarkan asap hitam. Tawa puas tertampang di wajah tua yang sejak tadi kesal.
Sebelum api bertambah besar dan mengenai mereka, orang-orang jahat itu lalu pergi meninggalkan rumah yang mereka bakar tadi.
###
Dalam perjalanan pulang Jordan menerima laporan dari seorang anak buah yang pernah dia suruh untuk menyelidiki tentang keluarga Jasmine.
Dia mengatakan bahwa rumah yang mereka kunjungi tadi sudah habis terbakar dan hanya tersisa puing-puing saja.
"Sial" Jordan memukul kemudinya, dia nampak marah. Jasmine yang sejak tadi memperhatikannya, ikut cemas. Hatinya merasa ada sesuatu yang buruk terjadi.
Jasmine memaksa Jordan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, dan mengapa wajahnya semarah itu setelah menerima telepon.
Jasmine tahu Jordan berusaha menutupi, karena dia terlihat gugup saat ingin mengungkapkannya. Tapi kemudian Jasmine meraih salah satu tangannya dan mengenggam erat, mencoba memberi ketenangan.
Akhirnya Jordan menceritakan semuanya, Jasmine tak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak jatuh. Tangannya menutupi mulutnya agar tidak berteriak, Jasmine menangis lagi.
Cobaan apalagi ini, kenapa semuanya bergiliran seolah menjadi sebuah cerita tentang kesedihannya.
###