
Semua orang terlihat panik saat seorang perawat yang menjaga ibu Jasmine mengabarkan kondisi nya kritis. Raut wajah sedih dan pucat tampak jelas terlihat.
Jasmine tidak bisa membayangkan jika ibunya harus mengalami hal buruk seperti ini, saat yang lain menuju ke ruang ICU tempat ibunya dirawat, Jasmine sudah tidak ada tenaga lagi.
Badannya tiba-tiba lemas dan ambruk begitu saja, untung Jordan dengan sigap menangkapnya. Dia membawa Jasmine duduk dan menyandarkan kepala gadis itu di dada nya.
Adam ikut mendampingi dokter menangani ibu Jasmine, sekuat tenaga mereka berusaha. Karena selama masih ada harapan mereka akan tetap berjuang menyelamatkan nyawa orang lain yang menjadi pasiennya.
Cukup lama mereka berada di dalam ruangan itu, hingga Jasmine pun siuman. Matanya terus mengawasi ruangan tempat ibunya dirawat. Dan karena posisinya sekarang, Jordan pun tidak mengetahui jika Jasmine sudah sadar.
Tak lama Adam keluar dari ruangan itu, wajahnya menandakan dia sedikit lelah. Disusul kemudian dokter yang menangani ibu Jasmine.
Mereka berdua tidak banyak bicara hanya menundukkan kepala dan menggeleng. Jordan paham itu, namun sebelum Jordan mengucapkan sepatah kata Jasmine sudah berdiri dan berlari kearah ruangan itu.
Jordan yang tidak tahu jika Jasmine sudah sadar, kaget saat melihat ada orang yang berlari ke arah ruangan itu. Jasmine mencoba menerobos masuk tapi perawat tidak memperbolehkan, karena didalam masih ada tindakan lanjutan dari dokter.
Tapi Tuhan berkata lain, saat Jasmine berdiri di depan pintu sayup-sayup terdengar bunyi mesin pengontrol jantung, dan
tiiiiiiiitttt.....
"Moooommm"
Jasmine menjerit seketika, Jordan kembali memegangi bahunya takut gadis itu ambruk seperti tadi.
Dan dokter yang menangani beserta perawat telah keluar dari ruangan. Dokter mengatakan turut bela sungkawa, dan mereka sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan pasien.
Jordan yang mendampingi Jasmine mengangguk, dan merengkuh gadis yang sudah lemas karena kesedihannya.
"Kenapa? mommy meninggalkanku seperti ini..." Jasmine sudah tidak bisa menahan tangisnya.
Gadis itu tidak seperti wanita kebanyakan yang menangis meraung menunjukkan kesedihannya, dia hanya diam dan meneteskan air mata.
Wajahnya sayu, air mata terus mengalir dari dua matanya. Dan dia seperti tak ada tenaga lagi, Jordan yang sejak tadi setia mendampingi kembali merengkuhnya dalam dekapan.
Dia membawa Jasmine duduk, mencoba menenangkannya. Jordan tahu betapa sedihnya gadis itu.
"Kenapa?" lagi-lagi Jasmine berkata dengan derai air mata.
"Sabar, mungkin ini yang terbaik buat mommy. Relakan dia, kamu tak ingin melihat mommy sedih jadi kamu harus kuat."
Jordan tahu itu tak mudah, tapi Jasmine gadis yang kuat. Dia pasti melewati kesedihannya, meski tidak semudah yang terlihat.
Adam, Tony dan Zack akhirnya mendekat. Meski mereka belum mengenal Jasmine secara dekat dan baru kali ini bertemu muka, tapi mereka ikut merasakan kesedihannya.
"Ini, minumlah" Zack memberikan sebotol air mineral yang sudah terbuka pada Jasmine.
Jasmine masih belum merespon, melihat itu Zack lalu memberikannya pada Jordan. Zack tidak marah karena Jasmine cuek padanya, dan tersenyum.
"Thanks bro" ucap Jordan.
"No problem" Zack tersenyum.
Jordan memberikan botol minuman tersebut pada Jasmine, dia bahkan dengan sabar membantu Jasmine minum.
Setelah itu Jordan kembali mendekap Jasmine dan sesekali mengusap lengannya, dia juga mencium pucak kepala gadis cantik itu.
Pemandangan langka dan sangat sayang jika dilewatkan, karena selama ini Jordan tidak memperlakukan wanita teman kencannya seperti itu. Hanya Jasmine yang membuatnya berubah.
Ketiga sahabatnya dibuat takjub melihatnya, mereka bahkan tidak percaya jika itu Jordan sang casanova. Bahkan Zack dibuat ternganga olehnya.
Mereka bertiga saling berpandangan, ternyata sang casanova benar-benar jatuh cinta. Dan dia menjadi budak cinta dari seorang gadis sederhana yang sudah membuatnya tergila-gila.
###
Jordan, pria ini masih setia mendampingi Jasmine kemanapun. Dia tidak mau berpisah dari Jasmine sedetikpun.
Bahkan saat Jasmine ingin ke kamar mandipun dia juga menawarkan diri untuk menemani.
"Tuan muda, saya mau ke kamar mandi dulu. Bisakah tuan melepaskan pegangan tangan anda."
Jasmine merasa risih karena sejak di depan ruang ICU, melihat jenazah mommy nya mengurus administrasi serta semua yang berhubungan dengan mommy nya, Jordan tidak melepaskan tangan sedikitpun.
"No...aku harus ikut kedalam, kalau terjadi apa-apa denganmu bagaimana?" jawab Jordan sekenanya, padahal itu hanya modus saja.
"Tapi tuan, saya mau buang air kecil. Apa anda tidak risih, lagipula itu membuat saya malu." Jasmine lagi-lagi protes, tapi Jordan tetap tidak mau melepaskan.
Bahkan dengan mulut menggerutu tak bisa membuatnya lepas, dan akhirnya dengan terpaksa Jasmine menuruti kemauan pria tampan yang sudah seharian bersamanya.
Dengan wajah kesal, pipi menggembung, Jasmine mencium pipi pria mesum versi Jasmine ini.
Jordan tertawa senang, bahkan dalam hatinya dia berteriak "Yes" karena bisa membuat Jasmine tersenyum meski dengan wajah cemberut.
Lebih tepatnya terpaksa tersenyum. Zack dan Tony yang sedari tadi memperhatikan tingkah keduanya hanya tertawa tapi ditahan, karena tak ingin menjadi sasaran nona galak itu.
Ya, Jasmine masih menjadi nona jutek yang tak tertandingi bagi mereka yang baru mengenalnya. Namun bagi Jordan itu adalah tantangan.
Tony dan Zack sedikit terhibur dengan tingkah mereka yang kadang mirip tom and jerry yang sedikit akur tapi banyakan cekcoknya.
Sejak Jasmine mulai tenang, dan bisa menerima kepergian mommy nya Jordan memang mulai mengeluarkan jurus untuk membuat Jasmine kembali tersenyum.
Termasuk membuat kesal gadis itu yang merupakan hobi baru baginya.
###
Adam sudah kembali dari luar, membawa beberapa pakaian yang dia ambil dari mobil Jordan. Karena memang keduanya butuh baju ganti sejak kemarin tiba dirumah sakit.
Setelah menyerahkan barang milik Jasmine dan Jordan, ketiga pemuda tampan itu akhirnya berpamitan.
Mereka akan beristirahat sejenak di hotel yang sudah mereka booking sebelumnya. Karena mereka juga sudah lelah menjaga ayah Jasmine dan ikut membantu saat mengurus Jenazah ibunya.
Rencananya Jasmine akan memakamkan ibunya di area pemakaman yang ada dikota ini, seperti yang dulu pernah orang tuanya minta.
Mereka berdua ingin meninggal dan dimakamkan di kota kecil ini. Mungkin besok setelah kondisi ayahnya lebih baik, Jasmine bisa menguburkan mommy nya.
###
Kabar tentang kematian mommy Jasmine sudah sampai kepada kedua orang tua Jordan. Hanna dan Robby pun segera menyusul mereka dan berniat mengikuti upacara penguburan mommy Jasmine.
Mereka sampai di kota itu tepat sebelum jenazah dibawa ke pemakaman pada keesokan harinya.
Kondisi ayah Jasmine sudah mulai stabil, tapi orang tua ini seperti enggan membuka mata. Bahkan saat Jasmine berpamitan untuk menguburkan mommy nya, sang ayah masih tetap memejamkan matanya.
Tapi tidak ada yang tahu, bagaimana pria tua ini memendam kesedihan. Sebenarnya sejak kabar meninggalnya istri tercinta, ayah Jasmine sudah sadar tapi tidak disadari oleh mereka.
Jasmine berpamitan pada ayahnya untuk pergi ke pemakaman, ayahnya melepas putri kesayangannya dengan berat hati. Air mata pun menetes dari salah satu sudut matanya.
Jordan pun ikut berpamitan pada calon ayah mertuanya. Mereka pun lalu pergi ke pemakaman dengan pakaian serba hitam.
Mommy Hanna, Daddy Robby, Zack, Adam dan Tony sudah menunggu mereka di area pemakaman. Mereka bertemu disana tentu saja dengan beberapa kawan dan tetangga dekat mereka saat masih di tempat tinggal lama.
###
Maafkan keterlambatan up nya, saya masih sibuk beberes setelah banjir bandang tanggal.1 maret 2022 lalu. Dan sekarang disusul jadwal padaman yang mulai rutin.
Ssmoga setelah ini listrik kembali normal, tidak ada lagi hujan dan banjir. Biar bisa normal up setiap hari.