Savage Love

Savage Love
#72



"Akhirnya kalian turun juga, mommy kira kalian akan seharian dikamar dan terus membuat adonan hingga lupa untuk mengisi perut."


Hanna berbicara panjang lebar saat melihat kedua pasangan anak muda yang dilanda cinta itu.


Sedangkan Robby hanya bisa tersenyum dan menggeleng kepalanya melihat kelakuan anak dan menantunya yang betah berlama lama didalam kamar.


"Ayolah mom, seperti tidak pernah muda saja. Padahal mommy dan daddy dulu juga sama seperti kami, seharian bikin adonan sampai pingsan. Ha ha ha..."


Ujar Jordan tak mau kalah, dia tahu rahasia mommy dan daddy nya saat masih pengantin baru dulu.


"Dasar anak nakal, senang ya buka aib orang tuanya sendiri. Dad lihat anakmu, dia sudah berani menggoda mommy nya."


Hanna merajuk, sambil salah satu tangannya menjewer telinga putranya.


Aaauuu


Teriakan lolos dari mulut anak satu satunya, yang masih merasakan sakitnya dijewer sang mommy.


"Mom, please. Mommy bikin aku malu sama istriku, bayangkan saja CEO tampan dan terkenal harus KO dijewer ibunya. Mommy payah, ga keren."


Jordan menyembikkan bibirnya, dia sengaja membuat sang mommy kesal. Dan lihat saja perang mulut kembali terjadi antara ibu dan anak itu.


"Ga keren, oh jadi kamu nantang mommy. Oke, nanti malam kamu mommy hukum. Jasmine akan tidur sama mommy, dan kamu tidur sama daddy. Titik, ga pake koma. Awas kalau protes." Hanna


"What?" ketiga orang disana kaget dengan keputusan Hanna.


"No mom, it's not fair. Daddy tidak tahu apa apa kenapa jadi ikut kena hukuman." Robby


"Ayolah mom, aku kan masih pengantin baru, lalu kapan bisa kasih mommy cucu kalau istriku mommy tawan." Jordan.


Beda lagi dengan Jasmine, setelah tadi dibuat kaget dengan keputusan sepihak ibu mertua nya, Jasmine hanya tersenyum karena Hanna memberikannya kode lewat kedipan matanya.


Mau tidak mau dia harus ikuti permainan dari ibu mertua nya, mengerjai Jordan suaminya. Hanna tidak menggubris protes dari kedua lelaki kesayangannya.


"Rasain kamu mommy kerjai sekarang." batin Hanna.


Bisa dipastikan dapur itu ramai oleh teriakan protes dari kedua pria berbeda generasi tersebut.


###


Suasana di mansion tampak ramai, karena hari ini mereka akan kedatangan tamu spesial.


Sesuai janjinya kemarin Jordan mengundang tuan Ramon untuk makan malam bersama keluarga nya.


Dan tentu saja, daddy Robert tidak melewatkan kesempatan itu untuk berbincang bincang dengan pemilik kerajaan bisnis yang dia kagumi sejak lama.


Koki di mansion diperintahkan untuk memasak hidangan istimewa bagi tamunya. Segala macam masakan disuguhkan demi tamu mereka malam ini.


Aneka olahan seafood terlihat mendominasi di meja makan berukuran besar yang ada diruang perjamuan.


Berbeda jika mereka hanya berempat, Hanna lebih menyukai makan di meja makan di area dapur yang hanya terdiri dari empat kursi saja.


Di ruangan ini meja makan nya bisa lima kali lebih besar dari meja makan di dapur karena memang dikhususkan untuk acara jamuan makan keluarga besar daddy Robby.


Selain aneka olahan seafood, juga terdapat buah buahan dan salad. Hanna dan para pelayan sibuk menata meja makan saat Jasmine berjalan kearahnya.


"Mom, apakah hari ini akan ada tamu? kenapa koki masak banyak sekali makanan."


Jasmine perhatikan dari ujung sampai ujung semua penuh dengan suguhan istimewa yang nampak menggiurkan.


Hanna menoleh dan tersenyum kepada menantunya. Setelah meletakkan piring terakhir di meja Hanna lalu mendekat.


"Iya, sayang. Hari ini kita akan kedatangan tamu spesial. Bukankah kemarin kalian sudah bertemu, bahkan menandatangani kerjasama dengannya."


Hanna merangkul Jasmine dan membawanya duduk di sofa diruangan tersebut. Jasmine ingat memang kemarin suaminya Jordan mengundang tuan Marco untuk makan malam bersama keluarga nya, tapi tidak menyangka jika ternyata malam ini.


Hanna yang mendengar penawaran bantuan dari menantunya itu hanya tersenyum, karena sudah banyak pelayan disana jadi semuanya sudah beres.


"No honey, kamu bersiaplah. Biar mommy dan pelayan yang mengerjakan."


Hanna menepuk tangan menantunya, dia tidak mau Jasmine merasa tidak dibutuhkan. Tapi sepertinya dia harus meralatnya karena ketika dua orang pelayan membawa buka mawar dan lily yang baru saja di petik, Jasmine tersenyum senang.


Jasmine langsung berdiri mendekati dua orang tadi dan mengambil bunga mawar merah dan putih dan beberapa tangkai bunga mawar berwarna berbeda lainnya.


Jasmine dengan sangat cekatan merangkainya menjadi sebuah buket, menyusun satu persatu bunga bunga itu di vas untuk diletakkan di meja dan beberapa tempat diruangan itu.


Hanna tak bisa mencegahnya, tapi melihat senyum dari bibir Jasmine, dia sangat tahu jika menantunya menikmati pekerjaannya.


Pantas saja beberapa kali memesan bunga di toko bunga langganannya selalu memuaskan ternyata Jasmine selalu melakukannya dengan hati.


Tiap rangkaian bunga yang dibuatnya merupakan ungkapan isi hatinya, entah senang atau sedih.


Bahkan raut wajahnya saat merangkai bunga tak luput dari pantauan Hanna. Hanna senang karena sekarang Jasmine sudah mulai bisa melupakan kenangan buruk yang menimpa keluarganya.


Meski tidak semuanya bisa dihilangkan termasuk trauma masa lalu nya, tapi paling tidak sekarang Jasmine sudah bisa menjalankan aktivitas seperti biasa tanpa merasa takut.


Jordan yang sedang mencari istrinya berniat mendekat, tapi Hanna dengan sigap menarik tangannya untuk tidak mengganggu Jasmine.


Jordan menoleh kearah mommy nya, lalu melakukan gerakan seperti bertanya. Hanna hanya menunjuk dengan dagunya, meminta Jordan melihat dengan seksama kearah istrinya.


"Jangan dulu kamu ganggu menantu mommy, lihatlah dia seolah tidak peduli sekitarnya. Dia seperti sudah menyatu dengan bunga bunga itu. Mommy lihat dari tadi bibirnya selalu tersenyum."


Jordan membenarkan ucapan mommy nya, memang benar istrinya itu bahkan tidak menoleh kepadanya sama sekali.


Jordan lalu duduk disamping mommy nya dan mereka berdua melihat bagaimana jasmine menyulap bunga bunga segar itu menjadi sebuah rangkaian bunga yang cantik.


"Selesai."


Ucap Jasmine setelah selesai menata bunga bunga itu, dan menoleh pada mertuanya ternyata sudah ada suaminya disamping mommy Hanna.


"Hubby..."


Jasmine berjalan sedikit berlari mendekat kearah sofa tempat mereka duduk, lalu memeluk Jordan setelahnya.


"Tampaknya istriku ini sedang asyik dengan bunga bunganya sampai tidak tahu ada suaminya yang tampan ini disini."


Jordan mengecup kepala Jasmine, dan turun ke dua pipi istrinya yang makin lama makin chubby saja.


"Hubby, aku hanya ingin membantu saja tapi mommy melarangku karena sudah ada pelayan disini. Lalu aku melihat banyak bunga segar, dan aku langsung saja mengambilnya dan ya begitulah."


Jasmine masih memeluk Jordan bahkan dia sekarang sudah tidak malu lagi melakukannya di depan mertuanya.


Hanna yang melihat putranya terlihat mesra pada pasangannya ikut tersenyum. Karena memang ini yang Hanna inginkan.


"Sepertinya mommy sudah tidak sabar untuk menggendong cucu, kalian kapan bikin adonannya. Jangan kelamaan, nanti mommy lumutan nunggunya."


Seloroh Hanna membuat pasangan muda itu tersenyum. Jordan kembali menciumi wajah istrinya.


"Karena mommy sudah tidak sabar, mari kita lanjutkan di kamar saja membuat adonannya."


Jordan berdiri sambil tetap memeluk istrinya, lalu tiba tiba menggendong nya ala bridal, sontak membuat Jasmine kaget.


cup


"No, hubby... aku masih capek" teriak Jasmine tapi Jordan tak mengindahkan malah semakin menciumi wajah istrinya, lalu membungkam mulutnya dengan melu*** bibir mungil yang membuatnya candu.


###


Akhirnya bisa selesai juga, perjuangan melepas bad mood setelah beberapa kali batal kirim. Semangat pagi!