
Jasmine menghapus air matanya, dengan berpura-pura berpaling agar Jordan, mommy dan daddy nya tidak curiga. Tapi telat, Jordan sudah melihatnya bahkan sebelum cairan bening itu terjatuh.
Mata Jasmine tampak berkaca-kaca, dia tak mau terlihat cengeng dimata mereka. Dia ingin berpura-pura kuat agar mereka tidak mengasihani nya.
Jordan dapat membacanya, seketika dia merengkuh Jasmine, memberikan pelukan dan mengusap punggungnya lembut. Memberi kekuatan, dan ternyata Jasmine malah semakin terisak.
Jordan membiarkan Jasmine menangis didadanya, setelah itu sedikit menjauhkannya agar bisa menatap kedua mata indah milik gadisnya. Jordan mengangkat dagu Jasmine yang terlihat menunduk.
"Dengarkan aku, kamu tidak boleh menangis lagi. Tangismu bukan untuk mengingat kesedihan dan penderitaanmu, tangismu hanya untuk bahagia. Dan aku akan membuatmu bahagia, i promise."
Jordan menatap bola mata berwarna coklat itu, mata yang sayu. Jasmine memeluk Jordan tiba-tiba, dan karena itulah Jordan tersenyum. Dia tahu Jasmine paham maksud ucapannya.
Robby dan Hanna berpandangan, putra mereka Jordan sudah dewasa. Bukan lagi Jordan setahun yang lalu, yang terluka karena cinta palsu.
###
Mereka pun kembali berbincang dan menikmati senja, cukup lama berada disana membuat mereka kelaparan. Mereka melewati makan siang, dan memilih menikmati minuman dan makanan dingin dicuaca yang terik seperti ini.
Tampaknya berbincang seru seperti ini akan jadi agenda wajib mertua, anak dan menantu selanjutnya.
Setelah makan malam Jordan menggandeng tangan Jasmine dan membawa nya menuju kamarnya yang sebentar lagi akan menjadi kamar mereka berdua.
Jasmine masih belum mengerti kenapa dia harus tidur satu kamar dengan Jordan, padahal disana banyak kamar kosong. Bahkan kamar tamu dilantai satu saja tidak ada namanya, berbeda dengan kamar lain yang sudah ada pemiliknya.
Apalagi mereka berdua hanyalah orang asing yang belum memiliki ikatan apa pun, tapi menurut Jordan dia adalah miliknya jadi harus selalu berada di dekatnya.
Modus...semuanya hanya modus, karena Jasmine tahu apa tujuan utamanya. Bagi Jasmine lebih baik pergi dan kembali ke flat nya, tempat ternyamannya selama ini.
Dia ingin meletakkan barang peninggalan orang tuanya disana, tapi Jordan melarang. Alasannya karena disana tidak ada orang yang akan menjaganya, dan Jasmine lebih aman disini bersama mommy dan daddy nya.
Meski Jasmine tidak suka tapi dia mencoba mengerti karena Jordan melakukannya demi keamanannya. Walaupun tetap ada alasan lain dibalik itu.
Jordan sudah mengganti pakaiannya, setelah membersihkan muka dan sikat gigi dia bersiap untuk tidur, tentu saja sambil memeluk guling hidupnya yang bisa bergerak. 😁
Jasmine juga telah selesai membersihkan wajahnya, dan memakai rangkaian skincare malamnya. Dia pun bersiap tidur, melihat ke arah ranjang yang sudah ditempati pemiliknya.
Jasmine bukannya naik keatas ranjang dan merebahkan dirinya disana, dia hanya mendekat dan duduk dipinggir ranjang.
"Jo...maksudku hubby, kenapa kamu tidak membiarkanku tidur dikamar sendiri. Aku juga ingin bebas melakukan semuanya sendiri. Tidak perlu berlebihan seperti ini." Jasmine
"Berlebihan? apa maksudmu?"Jordan
"Ya ini, tidur dirumah mewah dengan barang-barang branded yang tak mampu aku beli, kasur empuk, dan juga menjadi teman tidurmu. Sedangkan kita tidak memiliki hubungan." Jasmine
Jordan terperangah, bagaimana bisa Jasmine memiliki pemikiran seperti itu. Dia bahkan sudah membuktikan kata-katanya untuk menjaga Jasmine.
"Jadi maksudmu kita hanya orang asing, bahkan sampai sejauh ini kamu masih berpikir kita hanya orang asing" Jordan mulai terlihat emosi.
"Ya, memang seperti itu adanya. Aku tahu kamu hanya ingin memilikiku, dan setelah menikmati tubuhku kamu akan pergi meninggalkanku seperti laki-laki lain." Jasmine berucap seolah dia membutakan diri akan semua perhatian Jordan.
"Wifey, tatap mataku. Biasakan untuk menatap mata jika berbicara dengan siapapun. Agar kamu tahu, orang yang mengajakmu bicara berkata dengan tulus atau hanya modus."
Jordan mendekat meraih dagu Jasmine agar sedikit mendongak kearahnya.
"Aku tahu kamu masih belum percaya padaku, dengan statusku yang terkenal sebagai seorang casanova. Tapi pernahkah aku menjadikanmu teman ranjangku hanya karena berniat menidurimu saja? jika pernah maka bukan hanya sekali aku lakukan itu, bukan hanya sekarang tapi sejak kita bertemu pertama kali di pesta dansa."
"Tanyakan pada hatimu pernahkah aku memaksa untuk menidurimu, bahkan aku berani bersumpah atas nama kedua orang tuamu. Tak ada satupun niatku untuk begitu, aku tidak akan melakukan itu pada orang yang aku cintai dengan nafsu."
"Bahkan aku rela bermain solo dikamar mandi, berusaha menahan gairahku saat berada disisimu. Aku tersiksa, tapi aku bertahan karena tak ingin kamu ingat lagi kejadian itu. Jadi berhentilah memandangku sebelah mata."
Jordan berbicara cukup keras dan itu menyakitkan, Jasmine baru mengetahui semua setelah mendengar alasan Jordan. Pria ini tidak pernah sekalipun memaksa Jasmine untuk menjadi pemuas nafsunya, bahkan dia memperlakukan Jasmine sangat lembut.
Jordan tak sekalipun menoleh kearahnya, bahkan sengaja menutup mata saat Jasmine mendekatinya dan meminta maaf. Jasmine memeluknya dari belakang, menatap punggung yang telanjang dan dengan wangi yang sudah akrab dengan penciumannya.
Jordan tahu kata-katanya tadi cukup keras dan menyakiti perasaan gadisnya, tapi Jordan hanya ingin Jasmine tahu bahwa tidak semua yang dia dengar itu benar adanya.
Kenyataan bahwa dia adalah seorang casanova adalah benar, bahwa dia pemain wanita, bahkan hanya dengan kedipan mata banyak wanita yang berebut untuk menjadi penghangat ranjangnya.
Tapi satu sisi tersembunyi yang belum Jasmine tahu, bahwa dia tidak akan pernah meniduri wanita yang dia cintai dan jadi pemuas nafsunya. Dia lebih memilih tersiksa menahan hasratnya daripada membuat wanitanya menangis.
Dia ingin seluruh dunia tahu bahwa wanita yang dia cintai tidak layak diperlakukan seperti itu, dia akan menjadikannya ratu dalam hidupnya.
Jasmine masih sesenggukan, air matanya jatuh di punggung Jordan. Jordan tidak ingin terlarut dalam emosi jadi menghindari Jasmine dengan memunggunginya.
Tapi tidak lama karena Jordan juga tidak bisa tidur tanpa memeluk Jasmine. Akhirnya Jordan membalikkan badan menghadap Jasmine dan mereka tidur saling berpelukan.
"Maafkan aku" ucap Jasmine lirih.
"Maafkan aku juga, karena berkata kasar padamu. Sekarang tidurlah" Jordan memeluk Jasmine dan mereka pun terlelap.
###
Matahari bersinar menembus disela gorden kamar. Dua anak manusia yang semalam sempat bersitegang akhirnya membuka mata.
"Good morning hubby.." sapa Jasmine, dia tersenyum. Kemudian mengecup bibir tipis didepannya.
"Morning wifey, cup" Jordan membalasnya.
Jasmine sudah tidak malu lagi untuk mencium Jordan lebih dulu, setelah pembicaraan semalam Jasmine memang berjanji untuk membuka hatinya pada Jordan.
Bagaimana hubungan mereka kedepannya, Jasmine tidak terlalu memikirkan nya. Baginya saat ini yang terpenting menjalani hubungan ini tanpa harus memikirkan yang lainnya.
Keduanya seakan lupa kejadian semalam, bibir mereka bertemu dan saling melu***. Ciuman pagi tanpa nafsu hanya sapaan, tapi tetap penuh kecapan.
Saling bertukar saliva, hingga Jasmine tiba-tiba menghentikan ciumannya dan beranjak ke kamar mandi.
Jordan menggeleng kepala melihat gadisnya yang terburu-buru ke kamar mandi.
"Ada apa dengannya" batin Jordan.
Jordan pun berlari menyusul Jasmine ke kamar mandi. Beruntung pintunya tidak dikunci, jadi Jordan bisa leluasa masuk.
"Wifey, ada apa?" Jordan menatap Jasmine yang masih memegang dadanya. Keduanya berada di depan wastafel.
"Aku...malu" Jasmine menunduk.
"Malu, kenapa?" Jordan.
"Aku belum sikat gigi, tapi sudah berani menciummu" Jasmine menutup mulut dengan satu tangannya.
Jordan tertawa keras, lalu mengambil tangan yang menutupi mulutnya. Jordan kembali memberinya ciuman, dan mereka kembali bertukar saliva.
Napas tersenggal, saat mereka menyudahi ciuman panjang dan lama. Kening mereka beradu, dan Jordan pun memberi kecupan terakhirnya.
"Aku kira apa, kita bahkan sama-sama baru bangun tidur. Sekarang mandilah lebih dulu, aku akan menunggu disana. Atau kamu ingin kita melanjutkan lagi dibawah shower sepertinya menyenangkan." Jordan menaik turunkan alisnya.
"No, big no. Yang ada kita akan masuk angin karena kelakuanmu." Jasmine. Mendorong punggung Jordan agar segera keluar dari kamar mandi sehingga dia bisa mandi tanpa gangguan.
###
Selamat pagi setengah siang, sudah weekend lagi. Jangan lupa mampir kemari, dan dukung terus otor lewat like, komen dan vote nya.