Savage Love

Savage Love
#73



Jordan dan Jasmine masih berada dikamar mereka, setelah kegiatan panas diranjang yang tak hanya sekali mereka lakukan, keduanya lalu bersiap untuk menyambut tamu spesial mereka yang akan tiba sebentar lagi.


Jordan tersenyum bahkan tertawa melihat raut wajah istrinya yang tampak cemberut, dan menggerutu. Dia tampak menggemaskan dan Jordan menikmati ekspresi istrinya itu.


"Honey, apa kamu sengaja memancingku?" ucap Jordan sambil mendekati istrinya untuk memasangkan dasinya.


"Memancing apa, yang ada kamu tak berhenti membuatku lelah." jawab Jasmine sambil menyembikkan bibirnya, tapi dia tetap memasangkan dasi suaminya meski dengan mulut manyun seperti itu.


cup


Jordan yang gemas akhirnya tak tahan juga untuk tidak menyentuh bibir istrinya.


"Hubby..."


Jasmine berteriak karena kesal pada suaminya. Dan Jordan terkekeh melihat istrinya yang selalu menarik untuk dia kerjai.


Karena bagi Jordan, mengerjai istrinya dan melihatnya manyun seperti itu adalah hiburan yang menyenangkan.


Jordan lalu memeluk istrinya, mengecup pipi dan juga bibir nya dan meski Jasmine kesal pada suaminya itu tapi dia tidak menolak jika dipeluk dengan penuh kehangatan seperti itu.


Jasmine tahu dibalik sifat jahil dan mesum suaminya, ada rasa sayang yang berlimpah untuknya.


Jordan memang bukan tipe orang yang romantis yang suka mengumbar kata kata gombal demi menyenangkan hatinya, tapi dia selalu memberikan perhatian yang terkadang berlebihan.


"i love you." ucapnya lagi, dan Jasmine tidak akan bisa menolak. Karena saat ini dia juga merasakan hal yang sama pada suaminya yang mesum itu.


"love you too." jawab Jasmine lirih.


"Ayo kita kebawah, mommy dan daddy menunggu kita dibawah. Atau kau ingin kita seharian saja disini membuat adonan agar cepat membuahkan hasil."


Jordan menarik turun kan alisnya menggoda istri kecilnya lagi.


"No...aku capek" Jasmine lalu menjauhi suaminya dan memberi sentuhan akhir pada make up nya yang tadi sempat tertunda karena keusilan suaminya.


"Kenapa, aku tidak keberatan walaupun harus seharian dikamar asalkan selalu bersamamu sayang. Bagaimana?"


Jordan lagi lagi memasang jurus mautnya, dia senang menggoda istrinya yang ternyata kembali memasang wajah kesal.


"No no no, kamu enak, aku yang capek. Pokoknya big no"


"Kamu? kamu ya, oke ada yang minta hukuman rupanya?"


ups


Jasmine lupa jika dia sudah berjanji untuk tidak mengatakan kamu pada suaminya, dan ternyata kesalahannya itu dimanfaatkan oleh sang suami untuk memberikan hukuman yang membuatnya capek.


Jasmine menyesal terpancing kata kata suaminya, dan akhirnya dengan pasrah dia mendapat serangan bertubi tubi dari Jordan.


Jordan tak melewatkan satu inci kulit mulus istrinya, tangan dan mulutnya benar benar memanjakan sang istri hingga suara desa*** yang sejak tadi ditahan oleh Jasmine akhirnya keluar juga.


Mereka masih dengan pakaian formal yang tadi dikenakan, tak ada masalah bagi Jordan sang mantan casanova untuk membobol pertahanan istrinya.


Meski waktu mereka terbatas karena tamunya sudah datang tapi bercinta tetap jadi prioritas utama bagi sang casanova insyaf itu.


Jasmine tidak tahu lagi julukan apa yang pas untuk suaminya, karena seharian ini dia sudah berkali kali melayani sang suami yang nampaknya tidak mengenal kata lelah untuk aktivitas yang menyenangkan itu.


Hingga akhirnya mereka pun menyudahi adegan pemersatu bangsa dengan sama sama merasakan pelepasan.


Meski tidak ada peluh, tak ada sentuhan kulit yang sama sama polos, dan tak ada pemanasan lebih dulu, tapi Jordan tetaplah Jordan.


Casanova yang pandai membuat lawannya jatuh dalam dekapan dan dengan mudahnya menyerah karena sudah dikelilingi kabut gairah yang memabukkan.


Usai percintaan singkat itu mereka kembali merapikan penampilan mereka kemudian turun menuju ruang tamu dimana tamu spesial mereka sudah duduk disana bersama mommy dan daddy.


Jordan menggandeng tangan istrinya, dan sesekali mencium punggung tangan istrinya dan pemandangan itu tak lepas dari pengamatan ketiga orang yang sudah duduk disana.


"Selamat malam, tuan. Selamat datang di gubuk kami."


Jordan menyapa tamunya, lalu menyalaminya. Begitu pula dengan Jasmine meski tadi sempat bertemu saat meeting tapi baru kali ini Jasmine bisa berinteraksi langsung dengan pemilik beberapa perusahan besar di dunia itu.


Tidak seperti saat pertama kali bertemu, kali ini Jasmine tidak lagi merasakan aura mendominasi dari pria tua dihadapannya.


Sekarang Jasmine seperti melihat sosok kakeknya berdiri disana. Memandangnya penuh kehangatan dan senyum.


Bahkan orang tua itu tiba tiba membentangkan tangannya seolah meminta Jasmine untuk memeluk tubuh tuanya.


Jasmine yang awalnya diam dan bingung, menoleh kearah suaminya dan dengan pasti Jordan menganggukkan kepalanya.


Jasmine lalu mendekat dan memeluk pria tua didepannya dan merekapun berpelukan selayaknya kakek dan cucu yang lama berpisah.


"cucuku"


Meskipun masih bingung dengan situasi ini, tapi Jasmine juga tidak menolak, karena sejujurnya Jasmine merindukan sosok kakeknya.


"Kau persis seperti Felipe, wajah kakekmu menurun padamu. Dan kau cantik seperti mamamu."


Pria tua itu masih memeluk Jasmine erat, tanpa terasa air matanya menetes. Dia sangat merindukan sahabatnya Felipe, dan rasa bersalah karena telah membiarkan Felipe hancur ditangan anak angkatnya membuat Ramon Montana menyesal.


Felipe sudah banyak membantunya dari saat mereka masih anak anak. Orang tua Felipe bahkan menyekolahkan Ramon bersama Felipe agar mereka selalu bersama sama.


Ramon yang yatim piatu semenjak kecil jadi memiliki teman, dan setelah remaja Felipe yang lebih dulu sukses dengan usaha yang dirintisnya juga mengajarkan Ramon berbisnis.


Meski usaha yang mereka bangun berbeda tapi mereka tetap saling mendukung, hingga disaat Felipe mengangkat seorang gelandangan menjadi anaknya dan justru menikamnya dari belakang.


Ramon tidak dapat membantu karena saat itu usahanya sedang gulung tikar karena ditipu rekan bisnisnya.


Kabar kematian Felipe yang tak wajar akhirnya diketahui Ramon lewat anak buahnya setelah beberapa tahun kemudian, dan berita tentang David yang kembali membangun usaha setelah dijebak oleh saudara angkatnya pun baru diketahui lewat asistennya yang ternyata telah menyelidiki keluarga sahabatnya itu.


Hingga secara kebetulan Jordan mengajukan kerjasama meski dengan cara sedikit memaksa. Jordan memakai nama besar Felipe Fernandez agar bisa menemuinya.


Dan karena Ramon sangat penasaran dengan anak muda yang pantang menyerah ini, akhirnya menyuruh asistennya untuk menyelidiki hubungan tentang Jordan dengan Fernandez.


Hingga kini mereka benar benar terikat kerjasama yang sebenarnya. Terus terang Jordan adalah tipe anak muda yang ambisius dan optimis, sehingga tidak sulit untuk membuat seorang Ramon terkesan.


Apalagi setelah tahu jika Jordan adalah anak dari Robert Smith pengusaha sukses yang terkenal bertangan dingin.


Setelah beberapa saat pelukan itu akhirnya meregang dan terlepas, Jasmine masih bertanya tanya bagaimana bisa pria tua ini kenal dengan kakeknya.


Dan meski Jasmine tidak punya banyak kenangan dengan sang kakek, tapi Jasmine masih mengingat bagaimana sosok kakeknya dalam memorinya.