
Jordan sudah lebih dulu merebahkan dirinya diatas tempat tidur yang terlihat sangat sempit baginya.
Jelas saja, dia sudah terbiasa tidur di ranjang king size yang bahkan diisi lima orang sekaligus masih muat.
Gadisnya masih dikamar mandi, Jasmine merasa sangat gerah malam ini. Setelah bolak balik membawakan makanan ke lantai dua tempat acara berlangsung.
Tenaganya seolah terkuras habis, karena jujur saja Jasmine baru kali ini naik ke lantai dua restoran tempatnya bekerja itu.
Jasmine tidak tahu siapa yang sudah membooking tempat itu, dari pengamatannya selama bekerja di the reds baru kali ini ruangan di lantai dua disulap menjadi sebuah ballroom dengan dekorasi mewah.
Dari menunya juga hampir semuanya adalah menu spesial dengan harga yang fantastis. Tidak semua orang bisa memesan menu tadi, hanya orang kaya saja yang sering memesannya.
Tentu saja karena semua bahan yang digunakan adalah yang terbaik dan masih segar, dan sedikit langka karena beberapa harus mendatangkan langsung dari negara lain.
Tamu undangannya pun berasal dari kalangan konglomerat. Jadi tidak salah jika lantai dua restoran itu memang memiliki harga sendiri.
Jasmine memilih mandi meski kran air panasnya tidak menyala sempurna, mungkin karena terlalu lama tidak digunakan jadi sedikit macet.
Setelah mandi, dan membersihkan sisa make up nya Jasmine pun menyusul Jordan merebahkan diri di kasurnya.
Jordan tersenyum, dia tidak boleh menampakkan wajah tersiksanya didepan gadisnya.
Jordan lalu meletakkan hand phone yang sedari tadi dipegangnya. Dia kemudian merapatkan dirinya dan memeluk Jasmine.
Jordan merutuki dirinya yang mulai terpancing gairah saat melihat kancing atas piyama Jasmine terbuka.
Membuat isi didalamnya sedikit menyembul, apalagi Jasmine tidak memakai bra saat itu. Jordan seperti biasa tidur tanpa mengenakan pakaiannya.
Hanya celana boxernya, dan itu jelas memperlihatkan bagaimana juniornya berdiri tegak.
****
Lagi, Jordan mengumpat dalam hati. Lengkap sudah penderitaannya kali ini. Dia tampaknya harus merubah total rencananya.
Dia tidak mau terus-terusan tersiksa lahir batin karena ulah Jasmine. Yang sepertinya mulai pandai menggodanya.
Jasmine bukan tidak tahu jika hubby nya sedang menahan gairah. Jasmine sengaja memakai piyama yang terbuat dari bahan tipis dan memperlihatkan bentuk tubuhnya.
Jasmine menyukai aroma tubuh Jordan, dia menciumi dada bidang Jordan, meraba dada itu dengan senyum yang tak bisa Jordan lihat.
Degub jantung Jordan terdengar jelas, menyiratkan jika saat ini dia benar-benar tersiksa.
Jasmine pun semakin berani menggodanya, menggesekkan badannya sehingga membuat junior Jordan semakin tegak berdiri. Jasmine juga mendekatkan bibirnya dan mencuri ciuman dari Jordan.
Ah...****.
Jordan sudah tidak tahan, tangannya pun mengambil tangan Jasmine yang sedari tadi mengusap pelan dada bidangnya.
Jordan juga melu*** bibir merah Jasmine yang menggodanya, memainkan satu tangan lainnya di tempat favoritnya.
Merasa sudah tidak bisa lagi membendung hasratnya, Jordan melepaskan Jasmine begitu saja dan berlari ke kamar mandi.
Cukup lama dia disana, Jordan harus menuntaskan hasratnya dengan mandi air dingin.
Di sisi lain kamar Jasmine tertawa senang, karena telah berhasil membalas yang Jordan lakukan waktu itu.
Meski sebenarnya Jasmine sudah menantikan saat ini, dia juga terbakar gairah dan ingin segera menikmati surga dunia seperti yang sering Chelsea katakan.
Tapi tidak, dia tidak ingin Jordan mengubah penilaian tentang dirinya. Dia akan bersabar menanti hari yang Jordan janjikan.
Hari dimana mereka berdua akan mengikat janji suci. Dan hanya Jordan yang tahu kapan hari itu tiba.
Bisa saja besok atau minggu depan atau bahkan tahun depan. Yang pasti saat ini baik Jasmine ataupun Jordan sama-sama membuka hati, agar mereka bisa saling memahami satu sama lain.
Puas dengan permainan solonya, Jordan pun menyusul Jasmine yang tampak gelisah dalam tidurnya.
"I love you."
Setelah mengucapkan itu Jasmine mencium dada bidang Jordan. Gadis itu sepertinya sudah tidak bisa jauh satu sama lain. Terbukti setelah mengatakan i love you dengan matanya yang terpejam, dia kembali tidur dan tidak gelisah lagi.
Jordan tersenyum, gadis itu sama seperti dirinya, hanya akan tidur nyenyak jika berada di dekatnya atau mencium aroma tubuhnya.
###
Jasmine bangun lebih dulu, tangannya masih memeluk erat Jordan. Jasmine mendongak, melihat wajah tampan yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta.
Jasmine menyikap selimut yang menutupi tubuh mereka, Jasmine beranjak menuju dapur untuk membuat sarapan.
Jasmine memang belum jago memasak, tapi dia sudah sedikit banyak belajar bagaimana cara mengolah ikan dan daging agar menjadi menu yang tidak membosankan.
Jasmine mengambil selada dan kornet kalengan. Dia membuat sandwich berisi kornet. Jordan hanya makan roti dan segelas susu saja, jadi dia tidak membuat menu yang berat pagi ini.
Dua buah sandwich dan dua gelas susu segar sudah disiapkan. Jasmine lalu beralih keruang tengah untuk membersihkan flatnya.
Belum ada tanda-tanda dari si tuan muda bangun, dan itu sedikit melegakan Jasmine. Dengan begitu dia bisa segera menyelesaikan acara bersih-bersihnya tanpa gangguan.
Setelah menyelesaikan semuanya, Jasmine mulai membersihkan diri, karena dia ingin segera berbelanja untuk festival.
Baru saja kakinya melangkah ke kamar mandi, dari belakang Jordan sudah mengangkat tubuhnya.
Jasmine berteriak karena kaget. Jordan tidak melepaskan Jasmine begitu saja, dia ingin membalas kejadian semalam yang membuatnya kedinginan karena harus mandi malam dengan air dingin.
Jordan terus menciumi Jasmine tak peduli gadis itu berteriak memekakkan telinganya. Belum lagi tangan Jordan yang mengerayangi tubuhnya.
Menggelitik Jasmine di beberapa tempat sensitif hingga Jasmine geli. Jasmine sampai mengeluarkan air mata karena tidak tahan geli.
"Sebelum kamu minta ampun aku tak akan melepaskanmu."
Jordan masih terus menciumi dan menggelitik Jasmine. Jordan membawa Jasmine kebawah shower dan menyalakan kran.
Tubuh mereka berdua basah, piyama tipis Jasmine menempel dan membentuk jelas lekuk tubuhnya.
Jordan masih terus menciumi wajah dan leher Jasmine. Seolah sedang mengabsennya satu persatu. Meninggalkan jejak kemerahan di sekitar leher lalu turun ke dada.
Jordan menyukai karya seni yang dibuatnya di tubuh putih mulus Jasmine. Dan mereka pun menyudahi ciuman panas itu.
Mereka tak ingin kegiatan panas ini membuat keduanya menyesalkan karena mengingkari janji mereka sendiri. Meski sejujurnya mereka berdua sangat menginginkannya.
Jasmine cemberut setelah keluar dari kamar mandi. Mulutnya tak berhenti mengomeli kelakuan Jordan tadi dikamar mandi, hingga meninggalkan maha karya yang terpahat sempurna di leher dan dadanya.
Jordan menarik bibirnya membentuk lengkungan sempurna, menampilkan seukir senyum.
Jordan sangat tahu arti tatapan mata itu, bagaimana mulut mungil Jasmine mengumpat bahkan berteriak.
"Hubbyyyy... i hate you."
Jasmine berteriak, dia sangat kesal. Wajah cantiknya pun ditekuk, dengan mulut yang sedikit maju, dan itu terlihat menggemaskan di mata Jordan.
"And i love you, wifey. i love you much."
Jordan membalas dengan menempelkan bibirnya lagi di bibir Jasmine. Jasmine semakin kesal mana kala mendapati fondation miliknya habis.
"Aaaaaa....hubby, i hate you so much." Jasmine
"And i love you much much much more. hahaha..."
Jordan tertawa dia meninggalkan Jasmine yang marah, Jordan memilih mengambil hand phone nya dan membuka email.
###