
Dua hari sudah Robby menemani istrinya dirumah sakit, Hanna tertidur pulas tak ada tanda dia ingin bangun sedikitpun.
Robby kuatir karena bagaimanapun putranya sangat membutuhkan ibunya. Bayi kecil itu terpaksa dilahirkan dalam keadaan prematur. Berat badannya mulai bertambah dan tidak lagi berada dalam inkubator selama dua puluh empat jam penuh.
Robby dengan setia menjaga dan menemani istrinya, terkadang kedua orang tua dan adik-adiknya ikut menemaninya. Begitu pula dengan paman Ronald dan istrinya, serta Teddy asistennya yang selalu siap kapanpun.
Kecelakaan yang dialami Robby dan Hanna bukan kecelakaan biasa karena ada yang sengaja melakukannya. Teddy sudah menyelidiki dan sudah mengantongi beberapa nama yang dicurigai.
Robby mengajak istrinya berbicara meski dia tahu Hanna masih belum sadarkan diri. Tapi dokter menyarankan dia untuk terus mengajak istrinya berkomunikasi.
"Honey, apa kau tidak merindukanku. Tidak ingin melihat anak kita. Dia tampan sepertiku, tapi matanya sangat mirip denganmu."
"Dia merindukan mommy nya, bahkan dia belum merasakan kehangatan pelukan seorang ibu. Dia juga selalu menjulurkan lidahnya karena mommy nya masih tidur pulas dan tidak memberinya makanan yang dia inginkan."
"Honey, plis wake up. I love you"
Air mata Robby menetes, dia tidak bisa menyembunyikan lagi perasaannya. Tiba-tiba jari Hanna terlihat bergerak, Robby menyadarinya dan langsung memanggil dokter lewat tombol didekat ranjang istrinya.
Dokter datang dan mulai memeriksa, Hanna membuka matanya perlahan. Setelah dokter menyatakan kondisi Hanna sudah stabil, mereka pun melepas peralatan yang selama dua hari ini menemani istrinya.
Lucy, mama Robby dan Justin datang membawa cucu mereka. Mereka baru tahu setelah melihat beberapa perawat dan dokter yang menangani keluar dari ruang rawat menantunya.
Hampir setiap hari Justin mengantar istrinya melihat cucunya, dan meninggalkannya disana selama bekerja. Hari ini adalah hari bahagia bagi mereka karena Hanna sudah sadar.
Robby menjadi gusar saat mengingat kecelakaan itu dan bagaimana dia harus menceritakan kondisi istrinya. Nyonya Lucy menyadarinya.
Dia menggenggam tangan putra sulungnya mencoba memberi kekuatan.
"Mama akan membantumu, tenang saja. Hanna wanita yang kuat dia pasti akan menerimanya dengan ikhlas" Lucy berbisik di telinga putranya.
Kemudian meletakkan bayi kecil yang digendongnya, jarinya dimasukkan ke dalam mulut mungilnya. Dia tampak kelaparan, Hanna melihat bayinya dia menangis terharu.
"Ayo susui dia, lihatlah dia begitu menggemaskan." Hanna mengangguk, bayinya begitu menggemaskan seperti kata ibu mertuanya.
"Tapi istriku baru sadar ma, bagaimana bisa dia menyusui bayi kami." Robby menyela, dia belum yakin istrinya mau menyusui.
"Tenanglah, kamu bahkan tidak tahu ikatan batin seorang ibu pada bayinya sangat kuat. Susui dia, dia sudah kelaparan. Dan ingat kolostrum sangat bagus bagi kekebalan tubuh bayimu."
Hanna yang awalnya tampak ragu, berusaha membuka kancing baju pasiennya. Nyonya Lucy membantu membuatnya lebih lebar sehingga mudah untuk menyusui.
Hanna mengikuti saran ibu mertuanya, bayi laki-laki nya tampak mencari put*** susu ibunya, gerakannya yang tidak sabar mendapatkan makanan pertamanya langsung dari sumbernya.
Hanna menangis bahagia, melihat bayinya menghisap put*** susunya dan meski sedikit meringis karena sakit bercampur geli. Ini adalah pengalaman pertamanya menjadi ibu dan menyusui langsung.
Robby melihat ekspresi wajah istrinya ada perasaan tidak tega tapi demi putranya dia harus rela berbagi aset berharga istrinya tersebut.
Lucy dan Justin, senang karena akhirnya Hanna sudah bisa memberikan asinya, karena bagaimanapun asi adalah makanan terbaik bagi bayi yang tidak akan pernah basi.
###
Tepat seminggu Hanna dirawat dirumah sakit dan kondisinya semakin membaik. Sore nanti dia sudah diperbolehkan pulang. Karena Robby masih harus menyelesaikan beberapa urusan sebelum menjemput istri dan bayinya.
Di kamar Hanna yang baru saja beristirahat setelah menyusui bayi mereka, menjadi sedikit terganggu dengan perbincangan ibu mertua dan adik-adik iparnya di sudut ruangan.
Untung saja posisinya sedang tidur miring dan membelakangi mereka. Jadi mereka tidak tahu jika pembicaraan mereka didengar olehnya.
"Mam, aku tidak tega melihat kak Hanna, kenapa mereka begitu tega berbuat begitu padanya. Untung saja bayinya selamat jika tidak aku akan membuat perhitungan pada pelakunya." Paula geram.
Julie pun tak kalah geram bahkan dia sempat menggebrak meja ketika papanya menceritakan kronologi dan otak pelaku kejahatan itu.
Julie anak termuda di keluarga itu memang terkenal sedikit tomboi dan suka berbuat nekat. Meski pemegang sabuk hitam taekwondo tapi Justin tidak membiarkan anak-anak mereka lepas dari pengawasannya.
Justin memberi mereka dua orang pengawal yang selalu mengikuti mereka tanpa mereka ketahui. Dan kejadian yang menimpa Robby dan Hanna ada diluar prediksinya.
"Sssttt...diamlah" Lucy mencoba menenangkan anak-anaknya.
"Tapi mereka sudah keterlaluan ma, bayangkan bagaimana perasaan kak Hanna jika tahu sekarang rahimnya diangkat dan tidak bisa lagi memiliki anak." Julie bicara seperti orang dewasa, meski usianya masih baru tujuh belas tahun.
"Tenanglah, pelankan suaramu. Kakak iparmu akan mendengar ucapanmu dan dia akan sedih."
"Kamu tidak tahu bagaimana kakakmu Robby mencoba mengatasi kecemasannya, apalagi saat ini Hanna baru saja sembuh."
"Tolong jangan membuat semuanya semakin runyam, jika kalian menyayangi Hanna maka dukung dia, dan bantu kakakmu memberi pengertian padanya."
"Mama tahu Hanna wanita yang tegar, dia tidak akan menyalahkan kakakmu atas apa yang terjadi. Dia wanita kuat, dan dia layak berada di sisi kakakmu Robby."
Lucy memberi pengertian, Paula dan Julie mencoba mengerti. Benar yang dikatakan mamanya, mereka harus memberi dukungan agar Hanna cepat pulih dan melupakan traumanya.
"Tenanglah papa dan paman Ronald sudah memberi mereka pelajaran agar tidak lagi mengusik keluarga kita." Justin menambahi.
Tanpa mereka sadari air mata yang sejak tadi ditahannya turun begitu saja, Hanna menangis dalam diam. Dia menggigit bibirnya agar tangisnya tidak terdengar.
Sakit dibadan karena kecelakaan itu tentu tak seberapa dibandingkan dengan kenyataan bahwa dia tidak akan bisa memberikan suaminya keturunan lagi.
###
Sore hari sebelum mereka pulang kerumah, sambil menunggu suster membawakan kursi roda untuk istrinya, Robby memberanikan diri menceritakan masalahnya.
Robby terlihat berkaca-kaca karena tidak tahu harus mulai dari mana, dia juga tidak tega melihat reaksi istrinya. Tapi Robby tidak ingin terlalu lama menunda.
Ternyata reaksi Hanna jauh dari prediksinya, Hanna menangis tapi tak lama memeluknya dan berusaha menguatkannya. Robby tertegun, bagaimana istrinya bisa sekuat itu bahkan justru dialah yang menguatkan Robby.
"Aku tahu..." Hanna berbisik
Masih dengan sesenggukkan dan air mata yang tak berhenti mengalir dikedua bola matanya.
"Honey, maafkan aku. Tapi bagaimana kamu tahu." Robby mencari tahu lewat tatapan matanya.
"Aku mendengar semua pembicaraan papa, mama dan kedua adikmu. Aku juga tahu siapa pelakunya dan bagaimana papa serta paman Ronald menghukum mereka dengan membuat usaha mereka gulung tikar seketika. Aku dengar semua."
"Tenanglah, aku memaafkanmu dan aku mencintaimu." Hanna meletakkan kedua tangannya di kedua pipi suaminya.
Hanna lalu memberinya ciuman, Robby membalasnya. Ciuman yang dalam dan penuh makna. Hingga terhenti oleh tangisan bayi yang sudah sejak tadi berada digendongan sang nenek dibalik pintu.
Lucy mendengar semuanya, dia menangis haru menantunya begitu berbesar hati menerima kenyataan. Dia benar-benar tegar.
Flashback off
###
Singgah jangan lupa like, komen dan vote ya.