
Jordan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, mobil sport Bugatti La Voiture Noire adalah mobil kedua yang Jordan punya.
Malam ini suasana jalanan tidak terlalu padat, jadi tak perlu banyak hambatan Jordan sudah sampai di mansion daddy nya.
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Jordan langsung ke kamarnya. Untunglah para penghuni mansion sudah tidur. Karena Jordan kembali sudah larut.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia menemui beberapa klien nya. Mereka adalah klien dari beberapa negara yang menjadi importir suku cadang kendaraan yang diproduksi perusahaan miliknya.
Awalnya Jordan ingin beristirahat di penthouse miliknya, tapi setelah sampai di pelataran parkir Jordan justru melajukan kembali mobilnya ke arah mansion orangtua nya.
Ada kebiasaan baru yang selalu Jordan lakukan sejak beberapa hari lalu. Tepatnya setelah pertemuan singkatnya dengan si gadis sapu tangan di pesta.
Dia membersihkan dirinya dan mengambil kaos tanpa lengan di lemari. Setelahnya Jordan mengambil kemeja putih yang dipakainya waktu itu.
Dia tersenyum saat mencium wangi parfum lain selain miliknya. Jordan akan menciumnya sampai puas, dan akan tidur dengan sendirinya sampai terbawa mimpi.
Di tempat lain seorang gadis baru saja membersihkan dirinya, sepulang dari bekerja di restoran.
Mendudukkan dirinya di kasur berukuran kecil yang hanya cukup untuk dirinya sendiri. Membuka sosial media miliknya dan berselancar disana.
Suasana flat sudah sepi, hampir seluruh penghuni flat sudah bergelung mimpi. Pandangannya teralihkan saat melihat sesuatu di tas pestanya.
Dia beranjak dan mendekati meja riasnya, mengambil tasnya dan membukanya. Ada selembar kain tipis, dia ingat itu sapu tangan milik seorang pria yang mencuri ciuman pertamanya.
Laki-laki yang sempat membuatnya tertegun, bagaimana bisa dia mendaratkan bibirnya di bibir mungilnya tanpa canggung.
Jasmine mengambil sapu tangan itu, menciumnya dan menghirup parfum yang tertinggal dari pemiliknya.
Jasmine baru sadar jika ada inisial namanya disudut sapu tangan itu. J.A. S Jasmine mengejanya. Siapa dia, kenapa aku ingin mengetahui lebih tentang nya.
Jasmine kembali menghirup wanginya, dan sambil merebahkan tubuhnya, dua mata nya sudah tak mampu menahan kantuknya.
###
Pagi menyapa, sinar mentari masuk ke sela kamar dan mengenai tepat wajah cantiknya. Jasmine melenguh, menggerakkan kelopak matanya menanti kesadarannya penuh.
Jam beker menunjukkan angka tujuh, masih terlalu pagi baginya. Karena hari ini libur jadi Jasmine bisa membereskan flat nya. Dia juga akan pergi berbelanja kebutuhannya selama satu minggu ke depan.
Kemarin adalah hari yang membahagiakan bagi nya karena dia sudah menerima gajinya bulan ini. Lumayan cukup untuknya membeli kebutuhan dan sisanya ditabung.
Sedangkan dari menjaga toko bunga, dia mendapatkan upah setiap dua minggu sekali dari Nyonya Daniel.
Karena jatah liburnya tiap minggu berbeda hari sesuai rolling shift yang sudah ditentukan. Jasmine mengambil jubah tidurnya, memakainya asal dan berjalan menuju pantry, mengambil susu dari dalam lemari pendingin.
"Ternyata memang hari ini jatahnya belanja, baiklah nanti kita ke supermarket dulu lalu sesudahnya ke toko bunga." ucap Jasmine.
Susunya telah habis separuh gelas, Jasmine mengambil dua tangkup roti tawar dan mengolesinya dengan selai strawberry.
Menggigit dan mengunyah pelan hingga roti itu habis tak tersisa, lalu menegak sisa susunya hingga tandas. Kemudian dia membawa gelas kotornya ke tempat cuci piring dan mencucinya.
Jasmine tidak suka kotor, sebisa mungkin dia akan membersihkan flat nya, serta membuang sampah setiap hari. Dia juga suka menyemprotkan aroma pinus di flatnya karena membuatnya terasa relax.
Kemudian beralih ke kamar mandi, menyikat lantai dan closet mengelap kaca dan wastafel, mengganti kemasan sabun cair dan pasta gigi, serta mengambil handuk kotor.
Tak lupa aromaterapi yang dia siapkan untuk teman mandinya, tentu saja agar dia betah berlama-lama disana.
Kemudian berpindah ke ruang tengah dan pantry, flat ini hanya terdiri dari satu kamar tidur dan kamar mandi, ruang tengah dan pantry.
Meskipun terlihat kecil dan sempit, tapi Rei membuatnya tampak lega dengan menempatkan sedikit barang disana.
Hampir satu jam lamanya Jasmine membersihkan seluruh ruangan. Kemudian membuang sampah dan memasukkan baju kotornya untuk dibawa ke laundry.
Jasmine jarang memasak, karena waktunya lebih banyak berada diluar. Bekerja di restoran dimulai sejak pukul sepuluh pagi hingga sepuluh malam.
Makan siang dan malam sudah dijatah dari restoran. Saat makan siang adalah saat paling ramai pengunjung. Para pekerja di restoran itu pasti tidak akan memikirkan makan, karena sibuk melayani.
Nyonya Ozgu selalu menyempatkan diri memasak bagi semua karyawannya yang bekerja setiap hari. Dibantu oleh beberapa karyawannya.
Setelah semua masakan siap, mereka lalu memasukkan makanan ke dalam kotak makan yang disiapkan. Semua orang mempunyai menu yang sama sehingga tidak perlu merasa iri.
Kecuali bagi beberapa karyawan yang memiliki riwayat alergi atau vegetarian, maka akan ada menu sendiri.
Selain itu pemilik restoran juga memberikan waktu karyawannya untuk beribadah. Ada beberapa karyawan disana yang muslim, dan sebagai sesama muslim tuan Aslan menghormati mereka untuk melaksanakan ibadah.
Di malam hari pengunjung tetap ramai tapi tidak sepenuh saat makan siang. Tapi jatah istirahat digunakan oleh para pekerja dengan baik.
Mereka akan bergantian menikmati jatah makan malamnya, dan segera mungkin menyelesaikannya agar teman-temannya yang lain bisa ikut makan.
Para pengunjung restoran terdiri dari para pekerja kantoran dan karyawan perusahaan, para executif muda dan juga para pemilik usaha yang sering menjamu tamunya disana.
Mereka biasanya akan menyerbu restoran saat menjelang makan siang bahkan harus rela mengantri.
Meskipun the reds termasuk restoran yang bonafit dan termasuk dalam jejeran restoran berbintang tapi harga yang dipatok pada setiap menu beragam, jadi siapapun bisa makan disana meski dia seorang mahasiswa, ya tentu saja kebanyakan berasal dari keluarga tajir.
Dulu saat pertama kali pindah ke kota ini Jasmine sempat mengatakan pada dirinya suatu saat akan makan ditempat ini.
Tapi nasib berkata lain, karena membutuhkan biaya hidup dan melanjutkan studi nya, dia mencoba melamar disana dan ternyata di terima.
Bahkan setiap hari makan disana, terkadang jika ada sisa masakan pemilik restoran akan membaginya dengan para karyawan.
Jasmine sudah hampir empat tahun bekerja disana, meskipun gaji yang diterimanya tidak sebesar tawaran dari perusahaan, tapi bagi Jasmine itu sudah lebih dari cukup.
Sesuai standart UMR dari negara itu, jasmine bersyukur sejak bekerja disana dia bisa menabung dan sesekali mengirim uang pada orang tua nya.
Orang tua Jasmine sebenarnya tidak mau menerima uang kiriman dari nya, karena mereka merasa masih sanggup bekerja.
Tapi sejak sakitnya dulu, ayah Jasmine membutuhkan biaya untuk berobat. Mereka memakai uang itu hanya saat benar-benar membutuhkan.
###