
Jordan meringis menahan sakit di kakinya, Jasmine menunduk merasa bersalah. Tapi dia harus melakukannya.
"Maaf" lirihnya.
Hah...Jordan menghembuskan napasnya pelan, dia lalu menoleh ke arah gadis itu.
"Aku...mau pulang." ucap Jasmine, dia masih menunduk karena takut Jordan memarahinya.
"Ah...iya, aku lupa kalau ini sudah malam. Ayo" Jordan akhirnya memasukkan ponselnya ke saku celananya. Dia lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Mom, dad aku mau antar Jasmine dulu." ucap Jordan.
"Sudah mau pulang? padahal baru sebentar kita bicara, kenapa tidak menginap disini saja." Hanna berdiri dari duduknya.
Jasmine mengikuti Jordan mendekati mommy nya, dia tidak ingin dianggap mengambil kesempatan jika menerima .
"Tidak nyonya, maksud saya mom. Saya harus segera pulang karena besok ada shift pagi di restoran." ucap Jasmine, menolak secara halus.
Meski Hanna sedikit kecewa karena penolakannya tapi dia harus sedikit bersabar. Gadis ini masih canggung berada didekat mereka.
"Lain kali main kesini, mommy tunggu." Hanna memeluk Jasmine, membuat gadis itu merasakan lagi kehangatan pelukan seorang ibu. Begitu pula dengan Robby juga memeluk Jasmine.
Pelukan yang sudah lama tidak dia dapat dari ibu dan ayahnya, karena Jasmine sudah lama tidak bertemu mereka. Air mata merembes di ujung matanya. Jordan menyadari itu, karena sejak berpamitan dan berpelukan, ekspresi wajah Jasmine tidak luput dari pandangan Jordan.
"Sudah, pergilah. Jo hati-hati di jalan dan antarkan calon menantu mommy sampai tempat tinggalnya dengan selamat." Hanna mengantar mereka sampai pintu depan.
Setelah keduanya menghilang dibalik pintu, Hanna kembali ke tempat suaminya duduk tadi.
"Bagaimana pendapatmu tentang gadis itu? Apa kau menyukainya honey?" Robby menepuk tempat duduk disebelahnya, Hanna pun mendekat dan duduk disamping suaminya.
Hanna mengangguk. Robby tahu selanjutnya, dia sudah bisa menebak jalan pikiran istrinya.
"Aku harap gadis itu juga menyukaiku, karena aku melihat ada banyak kesedihan di matanya. Meski dia tersenyum tapi itu hanya kamuflase."
Hanna bisa saja mengorek semua informasi tentang gadis itu, tapi dia ingin gadis itu terbuka dan menceritakan sendiri masalahnya.
"Kamu benar sayang, dan Jordan juga sudah mengetahuinya. Tinggal bagaimana anak itu mengatasinya." Robby menimpali ucapan istrinya.
"Ya, kamu benar suamiku. Dan aku harap kali ini dia bisa benar-benar menjaga hatinya dan berhenti bermain-main." Hanna melirik suaminya.
"Hei, ayolah. Jangan melihatku seperti itu, anak kita sudah dewasa dan yakin padanya, dia pasti menjaga calon menantu kita dengan baik."
Robby membalas tatapan istrinya lalu mencium pipinya. Jika berurusan dengan kenakalan anaknya, pasti dialah yang disalahkan. Dan istrinya itu akan selalu berkata, ayah dan anak sama saja.
###
Jordan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, apalagi saat sadar gadis yang bersamanya sudah memejamkan matanya, dia mengurangi kecepatan agar tidak mengganggu tidurnya.
Jasmine tampak lelah, mungkin karena tadi sedang banyak pekerjaan di toko bunga ditambah harus merelakan kasurnya ditempati Jordan saat di flat.
Gadis ini tidak terusik sedikitpun, Jordan membiarkannya terlelap. Saat memasuki pelataran flat Jasmine, dia memberhentikan mobilnya disana.
Membukakan seat belt Jasmine, dan memegang bahunya. Dua kali tak ada respon, Jordan memperhatikan wajah Jasmine lekat. Menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya.
Cantik...apalagi saat matanya berpusat pada bibir mungil itu, ingin rasanya Jordan melu*** nya. Tapi itu akan membuatnya merasa bersalah karena mencuri ciuman.
Tapi sudahlah, cup. Jordan tidak bisa menahan untuk tidak menyentuh bibir itu dengan bibirnya. eng...
Ciuman itu berlangsung singkat, karena pemilik bibir itu sepertinya menyadari perbuatannya. Jordan tersenyum saat bola mata indah hazel itu menatapnya.
"Apa yang anda lakukan tuan?" Jasmine dengan suara serak khas bangun tidur. Entah dia sadar atau tidak, yang pasti Jordan menyukai rasa manis dari bibir mungil yang sudah membuatnya candu.
"Tapi tidak harus sedekat ini ?" Tanya Jasmine lagi.
"Lalu maunya sedekat apa, seperti ini" Jordan menggodanya lagi. Jasmine menutup matanya, tapi merasa tak ada yang terjadi, dia membuka satu matanya.
Cup
Jordan mendaratkan lagi ciuman di bibirnya, dan satu lagi di hidungnya. Membuat Jasmine kesal. Ternyata memang tuan muda ini memang suka mencuri ciumannya.
"Kenapa kamu suka sekali mencuri ciumanku, dasar tuan mesum." Jasmine cemberut, pipinya sedikit dikembungkan, membuatnya tampak lucu dan menggemaskan.
Jordan terkekeh, posisinya masih tidak bergeser sedikit pun. Ingin rasanya dia menggigit mulut mungil itu, tapi dia takut pemiliknya akan semakin marah.
Serasa punya kesenangan tersendiri menggoda gadis cantik ini, dan mencuri ciuman dari Jasmine adalah hobi barunya sekarang. Semakin gadis itu kesal dan marah, semakin banyak pula dia mendaratkan kecupan di wajahnya.
"Ayo turun, kita sudah sampai atau kamu ingin menghabiskan malam denganku." Jordan mengedipkan matanya sebelah.
Jasmine menggeleng, dia tak mau lagi. Lebih baik dia turun dan masuk ke kamarnya dari pada mengikuti kemauan tuan muda satu ini.
Jordan mengalah, kali ini cukup tapi lain kali aku akan meminta lebih, batinnya. Jordan lalu turun dan berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Jasmine.
Setelah keluar dari mobil, Jasmine meminta Jordan untuk segera pulang. Tapi Jordan tak bergeming, dia memilih mengantarkan Jasmine sampai ke depan kamarnya.
Jasmine tak peduli, dia tetap berjalan meski Jordan memanggilnya. Merasa panggilannya tidak digubris, Jordan akhirnya menyusul setengah berlari.
Jordan menangkap pergelangan tangan Jasmine dan menggandengnya, mereka terus berjalan melewati lorong dan menaiki tangga menuju kamar flatnya.
Untungnya kamar Jasmine berada dilantai satu, jadi cukup sekali naik tangga sudah sampai. Jasmine mencari kunci pintu kamar flatnya, cukup lama tapi tidak menemukan di manapun.
Bagaimana ini, Jasmine mulai panik. Bagaimana jika kuncinya hilang, dia masih harus meminta cadangannya pada pengurus gedung.
Jasmine putus asa, jam dinding sudah menunjukkan waktu sebelas malam, tidak mungkin dia ke kantor pengurus gedung sekarang.
Jordan yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya buka suara.
"Kenapa? ada masalah?" mendekati Jasmine yang masih kebingungan.
"Kunci kamarku hilang, aku tidak bisa membukanya." jawab Jasmine, dia mencoba mengingat dimana dia meletakkannya.
"Ya sudah, ayo" Jordan menggandeng tangan Jasmine dan membawanya turun menuju mobilnya.
Jasmine yang sedang panik, semakin bingung saat Jordan menarik tangannya dan membawanya turun.
"Kita mau kemana tuan, saya harus ke pengurus gedung untuk meminta kunci cadangan." ucapnya lagi.
"Kamu mau mengganggu jatah tidur orang lain, ini jam berapa nona" Jordan hanya melirik sekilas kearahnya.
Jordan membukakan pintu mobilnya lagi dan menyuruh Jasmine masuk karena udara malam semakin dingin. Jasmine pasrah, tidak tahu akan dibawa kemana oleh si tampan ini.
Jordan melajukan mobilnya, tak sampai lima belas menit sudah sampai di area apartemen elit yang tak jauh dari tempat tinggal Jasmine.
Jordan memarkirkan mobilnya di basement gedung, lalu mengajak Jasmine keluar dari mobil dan mereka menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai paling atas gedung itu.
Ting, pintu lift terbuka Jordan mengajak Jasmine dengan menggandeng tangannya menuju tempat favoritnya. Jordan menekan tombol dan pintu itu pun terbuka. Mereka lalu masuk ke dalam ruangan megah bak istana.
Jasmine terperangah apalagi saat Jordan mengajaknya masuk ke kamar tidurnya yang ukurannya dua kali kamarnya di flat.
###