Savage Love

Savage Love
#16



Jordan membukakan pintu untuk Jasmine, setelah itu dia memutar dan masuk lalu duduk dibalik kemudi.


"Kenapa tidak kau letakkan saja barangmu dibelakang, agar nyaman." Jordan hendak memasang save belt nya.


Masih memperhatikan Jasmine yang tampak kesusahan memasang save belt karena bawaannya. Tak ada respon karena sepertinya Jasmine mulai kesulitan.


Jordan akhirnya mengambil belanjaan Jasmine dan meletakkan di belakang kursi kemudi. Jasmine tidak menolak, dan saat Jordan mendekat mengambil save belt nya dan memasangnya lagi-lagi jantungnya berdegup.


Jasmine salah tingkah, posisi ini membuatnya panas dingin karena Jordan akan dengan mudah mendaratkan ciuman seenaknya seperti biasa.


"Sudah, kamu bisa duduk dengan nyaman sekarang." Jordan melihat kegugupan Jasmine. Jordan tersenyum, entahlah sepertinya sejak kenal gadis ini dirinya lebih banyak tersenyum sekarang.


Berbeda dengan dulu saat masih bersama Sofia, meskipun berdua bercanda tapi ujungnya selalu cekcok, karena sofia sangat manja dan maunya selalu dituruti.


Entah bagaimana jika seandainya dia masih bersama wanita itu sekarang, mungkin hidupnya penuh dengan drama panjang tak berkesudahan seperti kata mommy nya dulu.


Jordan melajukan mobilnya, tak ingin terburu-buru karena dia masih ingin menikmati waktunya bersama dengan Jasmine.


Tak butuh waktu lama, meski mobil itu melaju dengan kecepatan sedang dan bahkan terkesan lambat buat seorang Jordan yang memiliki mobilitas tinggi dengan segudang kegiatannya, akhirnya mobil itu berhenti di pelataran parkir di depan flat tempat Jasmine tinggal.


Jasmine yang sedari tadi hanya melihat kearah luar pun menyadari kalau selama perjalanan arah mobil ini menuju ke tempat yang dikenalnya.


Ternyata benar, mobil itu berhenti di depan flatnya. Sungguh berniat sekali pria disampingnya ini mengajaknya. Bahkan sampai tahu semua tentangnya. Mungkin jika dia bersembunyi dilubang semutpun akan dengan mudah ditemukan.


Jasmine benar-benar canggung berada dalam satu mobil dengan Jordan, bukan hanya karena dia adalah CEO kaya dan tampan yang digilai banyak wanita, tapi juga risih karena tingkah lakunya yang suka diluar kendali dan memaksa jantungnya untuk berdetak kencang.


Jasmine bahkan tidak berani melihat kearah depan atau ke samping tempat duduk Jordan. Tangannya masih basah karena gugup, dan sempat membuat pikirannya melayang ke beberapa waktu lalu saat masih ditoko bunga.


Jasmine tahu Jordan sering melirik ke arahnya, karena bisa Jasmine lihat dari kaca mobil. Jadi meski dia terlihat sedang memperhatikan jalanan, tapi dia juga sesekali mencuri pandang ke arah Jordan lewat kaca mobil.


Jasmine akui dia sudah mulai masuk dalam pesona Jordan, senyumnya, aroma tubuhnya dan bahkan parfum yang tertinggal di sapu tangan itu menuntunnya untuk mengenali siapa pemiliknya.


Jasmine tidak jadi mencuci sapu tangan itu karena dia sangat menyukai wanginya, wangi seorang laki-laki dengan gaya maskulin yang membuatnya mati kutu.


Jordan membukakan pintu dan membawakan belanjaannya. Sebenarnya ada tujuan lain dia mengantarkan Jasmine pulang, ingin tahu lebih detail tentang kehidupan pribadinya.


Mereka berjalan beriringan, menaiki satu tangga menuju lantai dimana kamar flat nya berada. Meski sedikit sempit dan harus berdesakan, tapi Jordan tidak merasa risih.


Karena flat itu bersih, dan tidak terlihat ada tumpukan sampah atau barang-barang diluar kamar atau disekitar flat. Pengelola akan memberikan denda pada tiap pelanggar, bahkan disana juga ada cctv ditiap lantai untuk keamanan gedung.


###


Jasmine membuka pintu kamar flatnya, dan mempersilahkan tamunya untuk duduk, yang tanpa disuruhpun dia sudah masuk lebih dulu.


Jordan mengitari pandangannya, seluruh ruangan flat ini tak luput dari pengamatannya. Ruang tamu yang cukup lebar karena tidak banyak menyimpan barang-barang terutama yang berukuran besar.


Melangkah lagi masuk ke area pantry ada meja makan dengan 2 kursi dan lemari pendingin, serta kitchen set yang sederhana tapi cukup lengkap, lalu meletakkan belanjaan Jasmine yang dibawanya diatas meja.


Membuka lemari pendingin yang tampak kosong, hanya menyisakan beberapa botol air mineral kemasan, dan beberapa makanan kaleng yang sudah hampir tandas isinya.


"Rapi dan bersih, juga wangi. I like it" Jordan bergumam. Jasmine bisa mendengarnya, meski Jordan langsung menegak air mineral dalam botol yang tadi diambilnya dari lemari pendingin.


Jasmine sepertinya harus ekstra sabar meladeni pria ini. Percuma membantah apalagi menolak, karena dia akan dengan sengaja memberikan hukuman pada Jasmine.


Jasmine melihat dari jauh bagaimana sikap tuan muda yang bahkan belum ditawari minum sudah mengambil sendiri. Apa semua orang kaya seperti ini, tapi Chelsea tidak. Tidak jauh beda maksudnya.


Jasmine mengacak pinggang, sungguh tidak punya sopan santun, pikirnya. Masuk rumah orang, tanpa permisi dan langsung memeriksa seluruh ruangan, dan sekarang laki-laki itu bahkan sudah pindah ke kamarnya.


Area pribadinya, Jasmine sedikit berlari mengejarnya karena tidak ingin dia masuk, tapi terlambat Jordan bahkan sudah merebahkan dirinya diatas kasurnya yang tidak seempuk kasur dirumah tuan muda itu.


"Kenapa sih kamu selalu saja membuatku kesal, dasar tidak punya sopan santun. Menjengkelkan."


Jasmine memilih membersihkan dirinya daripada meladeni Jordan. Pria ini bahkan sudah menutup matanya dengan sebelah tangan diatasnya.


"Dasar orang kaya, seenaknya saja." gerutunya


Jordan mendengar gerutuan Jasmine tapi dia tak peduli, dirinya hanya ingin beristirahat sejenak. Karena setelah ini dia akan mengajak Jasmine bertemu kedua orang tuanya.


Jasmine mandi lebih cepat dari biasanya karena ada tamu tak diundang yang kini sedang rebahan di ranjangnya.


Keluar kamar mandi, Jasmine bahan mendengar dengkuran halus dari pria ini. Menggeleng kepala karena dia bisa tidur nyenyak bahkan ditempat asing dengan fasilitas yang sangat jauh dibandingkan dirumahnya.


Masih dengan posisi semula, Jordan tidur pulas. Dia bahkan tidak menyadari jika sepatunya sudah dibuka dan diletakkan diluar kamar.


Jasmine mengambil baju ganti di lemarinya berupa dress model A line lengan pendek dan panjang dibawah lutut warna putih berbahan sifon bermotif polkadot, yang sangat pas dengan tubuhnya.


Tidak sulit bagi Jasmine memadu padankan busananya, apalagi dengan kulitnya yang putih, dan tubuh ramping yang proporsional dengan tinggi badannya.


Meski dia termasuk gadis yang cuek bahkan terkesan tomboi, tapi dia sangat menjaga penampilannya. Terutama setelah sahabatnya Chelsea mulai mendandaninya, dan membelikan dia banyak sekali dress cantik seperti ini.


Bahkan tidak jarang baju-baju yang Chelsea dapat dari sponsor pun kerap dikirimkan ke alamatnya. Tentu saja karena Chelsea tahu, sahabatnya ini tidak pernah mau membelanjakan uang hasil kerjanya untuk hal seperti ini. Tidak seperti dirinya, yang gemar belanja baju sexy.


Ini sangat menguntungkan Jasmine, di satu sisi dia tentu tidak perlu mengeluarkan uangnya, dan bisa menabung lebih banyak untuk masa depannya dan juga biaya pengobatan sang ayah.


Tapi disisi lain dia terpaksa harus merubah penampilannya menjadi lebih feminin, karena Chelsea tidak menyukai penampilannya yang dulu, terkesan udik katanya.


Jasmine sebenarnya tidak suka, karena dia lebih nyaman mengenakan kaos oblong, kemeja kotak-kotak yang sedikit kebesaran dan celana jeans belel yang tidak menampakkan bentuk tubuhnya.


Tapi Chelsea selalu punya cara untuk membuat sahabatnya itu menuruti kemauannya. Dia menyeleksi semua pakaian dilemarinya, mengambil beberapa yang masih layak untuk dia kenakan dan di padu padankan, serta mengambil sisanya untuk dibagikan pada para tuna wisma di kota nya.


Dan akhirnya isi lemari yang memang tidak banyak itu hanya tersisa tiga potong baju saja di dalamnya. Sebagai gantinya isi lemari dalam walk in closed di kamarnya akhirnya berpindah ke dalam flat Jasmine.


Chelsea juga membelikannya beberapa alat makeup dan semua keperluannya, makeup dan skincare yang cocok dengan kulitnya yang sedikit sensitif karena memiliki riwayat alergi, dan juga membuat make over pada penampilan Jasmine.


Ya seperti yang bisa dia lihat sskarang ini, semua adalah hasil karya Chelsea. Si nona manja yang sangat perhatian.


###