
Mereka berdua sudah keluar dari penthouse Jordan, mobil sport itu melaju santai karena jalanan tampak sepi.
Menuju suatu tempat, Jordan tidak mengatakan apapun. Jasmine melihat kearah samping, masih banyak sisa-sisa pawai tadi siang.
Petugas kebersihan masih membersihkan seluruh jalanan utama. Jalanan lengang tak nampak satupun kendaraan ataupun orang-orang yang berlalu lalang seperti biasanya.
Saat mobil Jordan berbelok, Jasmine langsung tahu kemana tujuan mereka. Jordan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Sudah ada beberapa mobil disana.
Jordan mengenalinya, Jordan tersenyum dan membuka pintu mobilnya. Kemudian berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Jasmine.
Jasmine menatap heran pada tuan muda tampan yang ada dihadapannya, senyumnya mencurigakan. Tapi Jordan hanya memainkan alisnya.
Mereka berdua lalu memasuki basement flat, yang sudah ramai dengan seluruh penghuni disana.
Daddy dan mommy tampak hadir bersama beberapa pelayan mansion, bergabung dengan tuan dan nyonya Daniel dan beberapa warga.
Jordan juga menyapa sahabat-sahabatnya yang hadir juga dengan kedua orang tua mereka. Tampak hadir juga keluarga uncle Aslan dan karyawan restoran.
Mereka berbaur dengan warga dan ikut memasak bersama. Beberapa meja panjang dengan beberapa kursi sudah berisi banyak hidangan.
Beberapa warga juga sedang menarikan tarian tango, salsa dan dance. Ya semua bersuka cita menyambut hari spesial.
Satu lagi yang membuat Jasmine membelalakkan matanya, hadirnya sahabatnya yang sudah lama dia rindukan. Chelsea, Gulya dan Luna.
Mereka semua berkumpul disini, sebuah kejutan yang tidak Jasmine duga sebelumnya. Jasmine sangat senang, senyumnya merekah.
Gadis itu tidak bisa menyembunyikan luapan rasa bahagianya. Para sahabatnya datang dan memberikannya pelukan hangat.
Jasmine belum mempercayainya, Chelsea datang dari Paris, Gulya juga sudah kembali dari Italy, dan Luna kemarin dia bilang akan pulang ke kampung halaman ibunya, tapi ternyata sekarang semuanya berada disini.
"Thank you hubby"
Jasmine memeluk Jordan, air mata yang sejak tadi menggenang jatuh sudah. Kejutan ini lebih dari segalanya.
Entah bagaimana Jordan membuat semuanya begitu nyata. Jordan tersenyum dan membalas pelukan dari Jasmine.
"Syukurlah jika kau menyukainya, ini sebagai ganti yang tadi"
Jordan tahu Jasmine akan semakin menjadi jika dibiarkan, sebenarnya Jordan tidak suka berurusan dengan perasaan seorang wanita.
Karena itu hanya akan merepotkannya saja, tapi sejak bersama Jasmine sepertinya dia harus banyak belajar lagi untuk mengenal wanita.
Sebenarnya Jordan ingin mengadakan makan malam bersama dengan orangtua dan sahabatnya di penthouse, dia bahkan sudah menyiapkan kejutan buat Jasmine.
Tapi karena salahnya, akhirnya dia merubah semua rencananya. Mommy dan daddy nya serta seluruh sahabatnya untuk datang ke flat seperti yang Jasmine mau.
Terus terang baik Hanna maupun Robby kaget dengan permintaan anaknya itu, tapi setelah di pikir-pikir mereka malah mengajak sebagian pelayan di mansion untuk ikut.
Mereka lalu menelpon sahabat-sahabatnya untuk ikut kesana, termasuk Aslan sekeluarga. Keluarga Zack menyambut baik usul Jordan tersebut, ini termasuk salah satu cara agar bisa dekat dengan penyewa flat nya.
Melihat Jasmine dan semua orang di flat ini gembira, Jordan ikut bahagia. Karena sebenarnya ini yang Jasmine inginkan sejak dulu, bisa berkumpul bersama teman dan saudaranya.
Semua orang menikmati pesta dadakan di pelataran parkir rumah susun itu. Semua orang berbaur membagi keceriaan dan kebahagiaan bersama.
Hingga malam menjelang dan pesta pun usai, karena esok hari mereka harus kembali ke aktivitas semula. Malam ini mereka pulang dan tidur dengan perasaan bahagia.
Matahari seakan enggan menyapa pagi ini, karena mendung sedikit menyelimuti langit kota ini.
Dua anak manusia yang sedang bergelung selimut dan tidur dalam posisi saling berpelukan tampak masih memejamkan matanya.
Jordan yang biasanya tidur hanya dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan boxer, semalam memilih memakai setelan piyama.
Begitu pula dengan Jasmine masih mengenakan piyamanya, mereka memakai piyama kembar. Entah itu ide siapa, yang pasti mereka sangat cocok mengenakannya.
Jam beker berbunyi, tepat pukul enam pagi. Masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas, tapi Jordan dan Jasmine memilih bangun dan langsung ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.
Jordan memilih menuju ruangan gym, dia merasa bobot tubuhnya bertambah karena terlalu sering meninggalkan hobinya sejak sibuk mengurusi perusahaan daddy nya dan juga masalah Jasmine.
Jordan menggunakan waktunya selama sejam ke depan untuk melakukan treatment dan membentuk otot tubuhnya.
Sementara itu Jasmine berkutat di pantry membuat sarapan untuk mereka kedua. Beberapa buah sudah dia potong kecil, dan dicampur dengan kreamer dan sedikit mayonase.
Salad buah sudah jadi, tinggal membuat roti bakar dengan telur setengah matang, keju cheddar slide dan daun selada untuk Jordan, dan roti bakar dengan keju slice, kornet yang dipanggang dengan margarin, irisan bawang bombay dan daun selada.
Jasmine juga menyiapkan susu segar dan jus jeruk. Tinggal bersama dalam satu atap selama beberapa hari membuat Jasmine mulai mengenal pribadi sang casanova insyaf dan juga selera makannya.
Sebenarnya Jordan bukan tipe pemilih makanan, semua makanan atau masakan yang dibuatkan untuk nya pasti akan dia makan, hanya saja terkadang Jordan akan memasak sendiri jika dia sudah merasa bosan.
Selesai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, Jasmine berniat memanggil Jordan di ruang gym.
Jasmine terperangah baru kali ini dia masuk kedalam ruang gym sejak tinggal bersama Jordan.
Ruangan yang hampir sama besarnya dengan dua kamar lainnya itu berisi peralatan gym yang cukup lengkap, pantas saja jika Jordan memiliki body yang memukau karena selalu menjaga kebugaran serta pola makannya.
Jasmine memperhatikan satu persatu peralatan gym yang ada, matanya memindai setiap isi ruangan yang membuatnya kagum.
Jasmine tidak menemukan Jordan disana, Jasmine lalu berjalan menuju pintu kaca yang sedikit terbuka dan menuju sebuah kolam renang yang berada disamping ruang gym.
Jasmine memanggil Jordan tapi tak nampak batang hidungnya. Jasmine berjalan lagi menyusuri tepi kolam.
Ingin sekali dirinya berenang tapi dia takut karena sudah lama tidak melakukannya sejak lulus sekolah.
Dulu ketika masih di asrama, setiap siswi diwajibkan untuk bisa berenang dan memilih satu jenis olahraga bela diri demi keselamatan mereka.
Jasmine sangat menyukai renang dan taekwondo, meski tidak memiliki sabuk hitam tapi kemampuan dasar taekwondo sudah dikuasainya.
Jordan tetap tidak muncul meski namanya berulang kali dipanggil, tapi ketika Jasmine akan naik tiba-tiba saja tangannya ditarik.
Byuuuurrr
Jasmine pun jatuh kedalam kolam renang, untung saja dia bisa segera muncul ke permukaan sehingga bisa segera mengatur napasnya, meski sudah menelan sebagian air kolam.
"Hubbbyyyyyy... "
Jasmine berteriak, dia tidak suka dikerjai seperti ini. Dia tidak suka dikageti. Jasmine bersedekap, pipinya mengembung, matanya melotot kearah Jordan.
Tapi bukan Jordan namanya jika tidak berhasil mengembalikan suasana hati Jasmine seperti sedia kala.
Jordan menciumi seluruh wajahnya, lalu turun ke leher dan bermain di sana, meninggalkan jejak kepemilikan atas tubuh Jasmine.