Savage Love

Savage Love
#74



Pertemuan malam ini membawa Jasmine pada kenangan masa lalunya, dimana sang kakek selalu memanjakannya. Tidak banyak kenangan yang dimiliki Jasmine bersama Felipe, tapi masih membekas dalam ingatan.


Satu persatu kepingan masa kecilnya melintas, sesekali wajahnya tersenyum saat mengingat bagaimana sang kakek begitu memanjakannya.


Setetes cairan bening lolos begitu saja saat satu persatu kenangan itu hadir, tak bisa dipungkiri Jasmine merindukan semuanya. Mommy, daddy dan kakeknya adalah segalanya bagi Jasmine, tapi petaka itu hadir menghancurkan semuanya.


Hanya karena ketamakan seseorang yang tak lain adalah saudara angkat daddy nya, menyebabkan semua kebahagiaan itu musnah.


Kakeknya meninggal karena sakit yang sampai saat ini masih belum bisa Jasmine cerna, belum lagi kecelakaan kedua orang tua nya. Seperti sudah direncanakan sebelumnya.


Jasmine marah pada keadaannya kala itu, kenapa dia tidak bisa menjaga mereka. Rasa marah yang kemudian menjadi dendam yang seperti bom waktu, siap meledak kapan saja.


Meski sekarang dirinya telah menikah dengan seorang pemuda kaya dan berasal dari kalangan berada, tapi untuk menyingkirkan orang yang sudah menyebabkan keluarganya hancur tidaklah mudah.


Jasmine tahu selicik apa pamannya itu, apapun akan dia lakukan untuk mewujudkan ambisinya.


Sekarang Jasmine ingin memperbaiki dirinya, karena melawan orang licik seperti itu tidak bisa sembarangan. Harus banyak menggunakan kemampuan otak daripada otot.


###


Hari ini Jasmine akan mengikuti latihan menembak, meski Jasmine tidak menginginkannya tapi dia harus tetap mengikuti keinginan suami dan juga ayah mertuanya.


Jordan tahu lambat laun Jasmine pasti akan bertemu dengan laki laki brengsek yang sudah membuat hidup istrinya hancur karena kehilangan kedua orang tuanya.


Jordan sadar dia tidak bisa selalu mendampingi Jasmine karena pekerjaannya yang semakin sibuk, jadi setelah berbicara dengan daddy nya Jordan akhirnya memutuskan agar istrinya ikut latihan menembak dan juga bela diri.


Meskipun ada body guard yang akan selalu menemaninya, tapi Jordan sadar betapa liciknya musuhnya kali ini. Dan Jordan yakin Jasmine bisa, tapi dengan banyak latihan tentunya.


Dan disinilah mereka sekarang, Jordan sengaja mengosongkan jadwalnya di perusahaan demi mengajarkan istrinya. Dia tidak mau ada laki laki lain yang menyentuh istrinya sekalipun itu daddy nya sendiri.


Jordan mulai posesif pada Jasmine persis sang daddy, meskipun itu menuai protes dari istrinya. Karena Jordan pasti akan menerapkan hukuman jika dia melakukan kesalahan.


Di lapangan menembak Jasmine sudah bersiap di depan beberapa potongan kayu yang sudah diletakkan botol diatasnya.


Dengan mengenakan celana jeans hitam dan tanktop crop dibalut kemeja kotak milik suaminya yang sengaja dia biarkan terbuka, serta topi baseball Jasmine sudah siap dengan posisinya.


Tangannya memegang pistol dan tak lupa kacamata dan penutup telinga khusus menembak, Jasmine bersiap menembakkan peluru.


Jordan berada persis dibelakangnya, setelah tadi sempat mencuri curi kesempatan untuk mencium istrinya dan membuatnya kesal.


Kali ini Jordan mulai serius memberikan aba aba pada Jasmine.


Dor..


Dor.. Dor


Lagi, Jasmine harus kecewa hingga suaminya memberikan tekanan agar dia lebih fokus.


"Tenang baby, kamu harus tenang agar bisa fokus. Sekarang coba tarik napas dan coba pejamkan matamu. Buat dirimu relax agar konsentrasimu tetap fokus."


Jordan mencoba menenangkan istrinya, dia tahu butuh waktu bagi Jasmine agar bisa menguasai tehnik menembak dengan benar, tentunya dengan banyak latihan.


"Sekarang coba tenangkan dirimu, dan fokus." Jordan masih setia membimbing istrinya.


"Are you ready, honey" ucap Jordan lagi setelah Jasmine mulai tenang.


Jasmine menganggukkan kepalanya, dan kini dia siap untuk melepaskan sisa pelurunya. Hanya sisa satu botol yang masih utuh, dan dia harus bisa menembakkan pelurunya tepat sasaran.


Dor


Seiring dengan bunyi letusan dari pistol yang dipegangnya, botol yang berjarak seratus meter didepannya pun pecah berhamburan.


Seketika raut senang terukir diwajahnya, tangannya masih di posisi yang sama seperti tadi, pistolnya pun masih berada di tangannya.


Prok prok prok


"Good job, honey" Jordan bertepuk tangan melihat istrinya berhasil menembakkan pelurunya tepat sasaran.


Jasmine lalu menurunkan posisi tangannya, badannya kemudian berbalik menghadap sang suami.


"I did it, aku berhasil hubby"


Jasmine lalu memeluk suaminya, dan langsung memberikan kecupan di wajah Jordan karena dia teramat bahagia berhasil membuat botol itu hancur berkeping keping.


"Ya, you did it well"


Jordan lalu membalas kecupan Jasmine dan mulai melu*** bibir mungil istrinya. Dan yakinlah gerakan lambat itu menjadi semakin intens dan dalam.


Hingga terdengar bunyi kecapan dari dua manusia yang saling bertukar saliva tersebut. Abaikan para body guard yang berada di sekitar mereka yang harus menutup mata karena malu dan juga ingin merasakan hal yang sama dengan pasangan mereka tentunya.


Dah lah...dunia milik berdua yang lain numpang 😁.


###


Hai...i'm back, melewati drama hp ngambek karena kebanyakan aplikasi dengan memori yang ga mencukupi, akhirnya bisa menyelesaikan bab ini. Maafkan jika lama up nya, semoga masih semangat membacanya.