Savage Love

Savage Love
#45



Jordan bergabung dengan teman-temannya, disana juga ada Jamie. Setelah mengantarkan Jordan ke penthouse, kembali keluar membawa mobilnya sendiri karena ada yang harus dia kerjakan.


Mereka berlima menikmati makan malam nya, sesekali Jordan melirik kearah gadisnya. Ketika tidak mendapati Jasmine disekitarnya Jordan mencarinya bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya.


Mata Jordan terus memindai seluruh ruangan mencari Jasmine, dia tidak ingin gadisnya kenapa-napa. Paling tidak dengan tahu keberadaannya Jordan bisa sedikit lega.


Kebucinan tingkat dewa menurut Zack, karena Jordan terlalu berlebihan. Dan teman-temannya hanya tertawa. Mereka tidak tahu jika sebenarnya dalam hati Jordan ada perasaan takut.


Takut akan kembali kecolongan seperti yang dulu, bahkan dengan berani mereka melakukannya. Jordan tidak ingin kejadian itu terulang lagi.


Jordan masih terus mencari keberadaan Jasmine di seluruh restoran, tapi tak ada tanda Jasmine disana.


Jordan lelah berdiri, akhirnya memilih menunggu mungkin saja gadisnya sedang berada ditoilet.


Di bagian belakang restoran tepatnya diruangan karyawan, gadis yang sedari tadi dicari sedang makan malam bersama beberapa rekan kerjanya.


Luna sudah pulang dari tadi, dia mengambil shift pagi karena malam ini akan menemani ibunya bertemu kawan lamanya.


Luna sebenarnya masih ingin mengobrol banyak dengan Jasmine, mendengarkan bagaimana gadis itu melewati hari-harinya setelah kedua orang tuanya meninggal.


Jasmine tidak ingin ibu Luna terlalu lama menunggu, jadi dia menyuruh Luna untuk segera pulang karena besok mereka akan bertemu kembali.


Para karyawan restoran memang secara bergantian makan malam setelah mereka melayani pengunjung.


Jika restoran sedang sepi, mereka akan dibagi dua kelompok setiap shiftnya. Jadi saat ada pengunjung yang datang langsung akan dilayani.


Dan yang beristirahat lebih dulu harus segera menyelesaikan jam istirahatnya agar bis bergantian dengan yang lain. Para karyawan di restoran ini sudah hapal dengan peraturan yang dibuat oleh pemilik restoran.


Mereka bahkan dengan tertib menyambut dan melayani pengunjung tanpa banyak bicara. Disiplin yang diterapkan di restoran ini memang berdampak baik bagi semua.


Tak ada pilih kasih, tak ada saling iri, bahkan berebut pelanggan demi mendapatkan bonus. Gaji mereka dibayarkan sesuai dengan jam kerja, untuk bonus akan mereka peroleh jika mereka bisa meningkatkan pelayanan mereka.


Tak jarang para karyawan itu menerima tips dari pengunjung, dan itu hak mereka. Tidak ada hubungannya restoran. Jadi bukan dipotongkan dari gaji atau bonus.


Biasanya jika pengunjung merasa nyaman dan senang dengan pelayanan maka akan diberikan tips sebelum mereka meninggalkan meja dan melakukan pembayaran.


Setelah makan malam Jasmine kembali ke depan restoran, untuk melayani pengunjung. Mata Jasmine menangkap sosok yang beberapa hari ini menemaninya.


Tanpa sengaja mata mereka bertemu, Jasmine tersipu saat Jordan tersenyum padanya. Jasmine buru-buru memalingkan wajahnya melihat ke arah lain, kebetulan saat itu ada pengunjung yang memanggilnya.


Ternyata pengunjung itu adalah pelanggan tetap restoran yang sudah lama dikenalnya. Tuan dan nyonya Sebastian menyukai Jasmine sejak mereka mengenalnya.


Jasmine anak yang baik meski sedikit tertutup, Jasmine adalah anak yang ceria jika sudah mengenalnya.


Mereka bahkan sering mengajak Jasmine makan bersama keluarga mereka. Anak-anak tuan Sebastian sudah menikah dan tinggal di luar negeri.


Jadi mereka merasa kesepian karena hanya tinggal berdua dengan beberapa pelayan. Dan mereka akan pergi ke restoran untuk bertemu dengan Jasmine.


Jasmine senang sekali bertemu dengan pasangan ini, mereka selalu menganggap Jasmine seperti putri mereka.


Sudah beberapa kali mereka ke restoran bahkan pergi ke flat tempat tinggal Jasmine hanya untuk bertemu, tapi menurut tetangganya Jasmine sudah lama tidak terlihat.


Mereka sangat sedih ketika mendengar dari rekan kerjanya jika Jasmine baru saja kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan.


Mereka memeluk Jasmine bergantian dan memberikan dukungan agar Jasmine tidak terlalu lama larut dalam kesedihan.


Tuan dan nyonya Sebastian mengundang Jasmine ke rumah mereka akhir pekan nanti. Jasmine tersenyum dan mengangguk menyetujui, karena gadis itu juga sangat merindukan mereka berdua.


Jasmine sudah sering bermain kerumah tuan Sebastian, bahkan jika anak-anak dan cucu mereka datang, mereka pasti akan menanyakan Jasmine dan memintanya menginap disana.


Jasmine beruntung memiliki banyak teman dan orang yang menyayanginya. Jasmine tidak memiliki saudara tapi semua temannya selalu ada disaat dibutuhkan.


Dan kini kedua orang tua nya pun tiada tapi Jasmine memiliki orang tua lain yang menyayanginya meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah.


Jordan memperhatikan keakraban Jasmine dengan kedua orang tua tadi. Jasmine terlihat tersenyum bahkan tertawa bersama mereka.


Bahkan saat akan berpisah mereka bergantian memeluknya. Jordan senang Jasmine bisa tersenyum lagi bersama orang lain.


Gadis itu juga sudah mulai menikmati lagi pekerjaannya, Jordan melihatnya kembali melayani tamu restoran yang baru datang.


Dengan cekatan mencatat semua pesanan mereka dan membawanya ke meja kasir dan pantry.


Lalu beberapa menit kemudian kembali bersama rekannya dengan trolley berisi makanan pesanan mereka.


Jordan bahkan mengedipkan sebelah matanya saat mata bertemu. Jasmine menunduk malu, dia buru-buru menoleh kearah lain dan berlalu.


Meski Jordan dan Jasmine tidur sekamar bahkan seranjang, tapi melihat Jordan bersikap begitu padanya didepan teman-temannya tetap membuat Jasmine malu.


Jasmine belum terbiasa dengan sikap romantis Jordan padanya saat diluar kamar. Dia tidak tahu jika Jordan bahkan selalu bersikap romantis pada wanita yang dicintainya.


Pada mommy nya, pada mommy Adam, Zack dan Tony, serta mantan tunangannya. Jordan memang tipe pria romantis, dan itu menurun dari daddy nya.


###


Setelah makan malam selesai, Zack mengajak teman-temannya ke club. Sangat sayang jika mereka hanya makan dan pulang, tanpa menikmati malam.


Apalagi sekarang sudah dalam formasi lengkap ditambah dengan Jamie. Mereka mengangguk setuju, hanya Jordan yang masih ragu.


Jordan ingin pulang dan menemani Jasmine, tapi berkumpul bersama mereka juga tak bisa dilewatkan begitu saja.


Belum tentu mereka bisa berkumpul seperti ini setiap saat mengingat kesibukan masing-masing, terutama Adam sang dokter bedah.


Zack bahkan memaksanya untuk mengajak Jasmine ke club, tapi Jordan menolak. Dia tidak ingin merusak gadis itu. Biarlah nanti setelah mengantarkan Jasmine pulang dia akan bergabung dengan teman-temannya.


Mereka setuju, dan meninggalkan Jordan sendiri di parkiran. Mereka pun berpisah mengendarai mobil masing-masing.


Deru mesin mobil mereka bersahutan, bergantian keluar dari parkiran. Jordan sendiri, berdiri disamping mobilnya menunggu Jasmine untuk pulang.


Lima menit berlalu belum ada tanda gadis itu keluar dari restoran. Hingga Jordan jenuh berdiri, dia membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya.


"Ini sudah hampir jam sepuluh malam tapi gadis itu belum keluar, apa yang masih dia kerjakan didalam."


Jordan menggerutu, melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Melirik kearah pintu masuk restoran lagi.


Senyumnya mengembang ketika mendapati gadisnya keluar dari pintu dan berjalan kearahnya.


Jasmine melambaikan tangan kearah teman-temannya.