Savage Love

Savage Love
#25



"Kamu berhasil tidur dengannya, is cool man" ucap Zack berbinar, dia belum tahu saja arti kalimat itu. Karena bagi mereka, tidur disini selalu diartikan melakukan hubungan intim dengan wanita yang mereka inginkan.


"Ya, aku tidur dengannya, benar-benar tidur, tanpa melakukan apapun." ucap Jordan.


"Maksudmu tidur....hanya tidur...tidur saja?" raut wajah Zack berubah dan seketika


"buhaahaha.." Zack tertawa terpingkal-pingkal, wajahnya sampai memerah. Suaranya yang keras terdengar sampai keluar ruangan, dan mengundang orang yang lewat menjadi penasaran.


Adam dan Toni yang tiba-tiba masuk ke ruangan Jordan jadi heran, kenapa si bungsu ini sampai tertawa keras seperti itu.


"Zack...stop it. Kamu membuatku tampak seperti orang bodoh saja." Jordan mengusap wajahnya.


"Sorry..sorry..aku hanya kelepasan." Zack menghentikan tawanya. Adam dan Tony saling berpandangan, mereka lalu duduk di dekat keduanya.


Merasa penasaran dengan yang terjadi, Adam menanyakan pada Jordan tapi yang ditanya hanya mengendikkan bahu. Zack lah yang akhirnya bercerita, dan seperti dugaannya ketiganya kembali terbahak, setelah mendengar cerita tentangnya.


Tapi kemudian Adam menghentikan tawanya, perutnya sudah terasa sakit karena kebanyakan tertawa. Zack dan Tony akhirnya berhenti setelah melihat wajah pias Jordan.


"Tenanglah, paling tidak itu suatu kemajuan. Dan kamu sudah berhasil menarik simpatinya." Adam menimpali. Zack dan Tony mengangguk setuju.


Bayangkan seorang casanova yang hanya dengan menjentikkan jarinya saja bisa menikmati tubuh wanita manapun yang diinginkannya kini harus menahan gairahnya dan hanya tidur dalam artian sebenarnya.


"Lalu bagaimana sekarang?" Tony membuka suara, mencoba memecah keheningan.


"Aku menyuruh Jamie untuk menyelidiki kehidupan gadis itu dan keluarganya. Aku merasa ada hal buruk yang akan terjadi, tapi entah apa itu." ucap Jordan.


Dia melonggarkan dasinya dan membukanya, meletakkan begitu saja di meja. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu, setelah dipersilahkan Jamie kemudian masuk bersama seorang OB yang membawa minuman dingin.


"Terima kasih, pergilah." OB itu lalu meninggalkan bos dan teman-temannya. Jamie menyerahkan laporan yang baru saja diperoleh dari orang suruhannya.


Adam, Tony dan Zack mengerutkan dahi, mereka melihat Jordan tercengang saat membaca laporan yang diterimanya.


"Hei...apa yang terjadi?" Kali ini Adam yang bertanya. Wajah Jordan tampak merah, dia menahan amarahnya, tangannya pun terlihat mengepal.


Zack mengambil laporan itu dan membacanya, kemudian menyerahkan laporan itu pada Adam dan terakhir Tony. Mereka paham arti kemarahan sahabatnya.


###


Sementara itu, di restoran the reds wajah Jasmine tiba-tiba pucat sesaat setelah menerima telpon dari nomor tidak dikenal.


"Terima kasih" ucapnya sebelum menutup panggilan teleponnya. Tubuhnya lemas dan keringat dingin membasahi tubuhnya.


Untung saja ada salah satu temannya yang melihat, Luna mendekati Jasmine dan memapah tubuhnya duduk ke salah satu kursi.


Jasmine menangis sesenggukan, air matanya tumpah. Tubuhnya sudah tak mampu lagi berdiri menopang berat badannya. Luna mengambilkan segelas air minum untuknya, dia memang belum tahu apa yang terjadi.


Tapi jika melihat keadaan Jasmine sekarang pasti ada sesuatu yang buruk telah menimpa orang tuanya. Luna dan Jasmine memang tidak terlalu dekat seperti Chelsea, tapi Luna sedikit banyak tahu tentang kehidupan keras yang telah dilalui Jasmine.


Luna menemani Jasmine hingga gadis itu terlihat lebih tenang. Untung saja siang itu pengunjung restoran belum begitu ramai, jadi ketika Jasmine ambruk tidak banyak menyita perhatian.


Kabar tentang kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Jasmine sudah didengar pemilik restoran. Tuan Aslan dan istrinya bahkan langsung menemui Jasmine, setelah mendengar kabar duka tersebut.


Nyonya Ozgu memeluk gadis berambut panjang itu, dan mencoba menenangkannya. Yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana dia bisa sampai ke rumah sakit di kota nya dan segera menemui orang tuanya.


Pikiran Jasmine berkecamuk, antara pulang menemui mereka atau tidak, karena saat ini bukan biaya yang dia pikirkan tapi pertemuan dengan orang-orang yang telah lama dihindarinya.


Jika dia pulang pasti mereka akan memburunya lagi, dan pasti akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. Tapi jika dia tetap disini, kesempatan bertemu dengan kedua orang tuanya pasti semakin kecil.


Akhirnya atas ijin dari pemilik restoran, Jasmine pun pulang ke flatnya untuk mempersiapkan kepulangannya. Diantar oleh Luna dengan menggunakan motor milik restoran, Jasmine sampai di flat.


Jasmine lupa jika kunci kamar nya hilang semalam, dan dia masih harus menemui pengurus gedung. Untung saja Jordan turun dari mobilnya dan langsung melihat Jasmine yang berjalan terburu-buru.


Jordan mengejarnya dan berhasil memegang tangannya. Jordan langsung memeluk gadis yang sudah mencuri perhatiannya itu. Entah bagaimana seandainya Jordan tidak berhasil mengejarnya. Dia akan semakin kebingungan. Karena seseorang tidak akan bisa berpikir jernih disaat pikirannya sedang kalut.


"Menangislah..." Jordan mengusap lembut punggung Jasmine. Jasmine yang sedari tadi mencoba menahan, akhirnya pecah sudah.


Air matanya tumpah, dia menangis di dada bidang yang semalam menemani tidurnya. Jordan merasa pertemuannya dengan Jasmine, dan tentang firasat buruknya, seperti alam ikut mengaturnya.


Sejam lalu ketika dia menerima laporan tentang kecelakaan itu, hatinya tiba-tiba gelisah, pikirannya tertuju pada gadis ini.


Dan tanpa diberi aba-aba kakinya seperti menuntunnya ke flat tempat tinggal Jasmine, seakan tahu apa yang gadis itu butuhkan sekarang.


Cukup lama mereka dalam posisi itu, hingga tak terdengar lagi suara tangisan. Hanya isak dan napas berat yang masih terasa. Jordan melepaskan pelukannya, dia menarik dagu Jasmine agar menatapnya.


"Kamu aman bersamaku, aku tidak akan membiarkanmu sendiri. Oke" Jordan mengusap puncak kepalanya, membiarkan gadis ini merasa aman. Lalu kembali meraihnya dalam dekapan hangatnya.


"Sekarang kamu bersiap, kita akan menemui orang tuamu." Jordan tahu apa yang ada dalam pikiran Jasmine, terutama rasa takutnya.


"Dengar, aku akan selalu ada untukmu. Percayalah." Jordan menuntun Jasmine masuk ke dalam kamarnya setelah membukakan pintu.


Jasmine menoleh, bagaimana bisa kunci itu ada ditangan pria ini. Batin nya


"Tenanglah, kuncimu terjatuh di mobilku saat perjalanan pulang dari rumah daddy, dan tadi pagi aku menemukannya." seperti tahu pikiran Jasmine, Jordan lalu membiarkan Jasmine menyiapkan bajunya.


Jasmine hanya membawa beberapa buah dress saja, Jordan pun sudah menelpon asistennya untuk menggantikan dia sementara waktu.


Sore itu juga mereka berdua berangkat, Jordan tidak membawa banyak baju ganti. Hanya kemeja yang memang sudah dia siapkan di mobil jika sewaktu-waktu membutuhkan.


Mereka menempuh perjalanan selama lima jam, dan ketika sampai di kota X tempat tinggal kedua orang tua Jasmine, Jordan langsung menuju rumah sakit.


Karena sudah terlalu malam dan kondisi rumah sakit yang sepi, tidak banyak yang tahu kedatangan keduanya. Jasmine menanyakan keadaan kedua orang tuanya dan langsung menuju kamar perawatan ayahnya.


###