
Mereka pun pergi menuju ke suatu tempat, dan sudah ditunggu kedatangannya. Buket bunga mawar yang tadi dipesan Jordan untuk sang mommy juga sudah Jasmine bawa.
Sejujurnya saat menyebut nama kedua orang tuanya, Jordan melihat kegugupan dari matanya.
Wajar menurutnya karena tidak mudah bertemu dengan orang kalangan atas, mereka sangat menjaga privasi nya. Tapi Jordan meyakinkan Jasmine bahwa mommy nya lah yang meminta bertemu.
Bahkan telapak tangan Jasmine basah karena keringat dingin, dia berkali-kali menggosokkan kedua tangannya agar hangat. Tapi sepertinya percuma, karena keringat dingin tetap keluar membasahi telapak tangannya.
Jordan tersenyum smirk, dia tahu yang ada di pikiran Jasmine. Tangan kanannya mengambil telapak tangan sebelah kiri Jasmine. Menggenggamnya, bahkan mencium punggung tangan itu.
Kulit halus dan putih yang sedikit pucat tapi tetap sehat karena selalu dirawat meski bukan perawatan mahal seperti yang sering Chelsea lakukan.
Selama perjalanan keduanya lebih banyak diam. Jika sebelumnya Jasmine selalu melihat kearah jalanan, sekarang dia sudah tidak canggung lagi menatap Jordan.
Bahkan merasa nyaman saat tangannya berada dalam genggaman. Jasmine memang tak pernah sedekat ini dengan laki-laki.
Dengan Sam pun jarang bertemu muka, mereka lebih sering berkumpul jika kebetulan ada acara keluarga dan Jasmine tidak sedang bekerja di restoran.
Jasmine bersyukur bertemu dan berteman dengan Chelsea membuatnya banyak berubah. Tidak lagi takut berinteraksi dengan lawan jenis meski selalu menghindari tatap mata.
Beruntung Jordan sudah menemukannya dalam keadaan seperti saat ini karena jika tidak dipastikan Jasmine akan memilih menghindar atau menghilang dari pada berurusan dengannya.
###
Merekapun tiba disebuah mansion megah yang bagi Jasmine mirip istana kerajaan. Jasmine tidak bisa menyembunyikan kekagumannya saat mobil Jordan melewati pagar besi yang menjulang.
Dikanan dan kiri jalan yang dilewatinya penuh dengan berbagai macam tanaman bunga. Meski hari sudah menjelang senja tapi tetap bisa menikmati pemandangan indah itu.
Jordan bahkan tertawa saat melihat reaksi Jasmine yang bisa dibilang udik. Maklum saja meski mansion keluarga Chelsea besar tapi masih kalah jauh dibandingkan ini.
Belum lagi disepanjang jalan menuju kesana penuh dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dan jalanan yang sepi dari pemukiman warga.
Letak mansion ini memang dibelakang hutan buatan yang memang sengaja dibuat agar suasananya tetap asri khas pedesaan. Seperti tempat asal Hanna.
Jangan ditanya berapa budget yang dikeluarkan untuk membangun keseluruhan mansion ini. Mungkin jika Jasmine bandingkan dengan gajinya bekerja direstoran tidak akan selesai menghitung meski puluhan tahun.
Jordan membukakan pintu untuknya, dan menggenggam tangan Jasmine lagi, seakan tidak ingin melepaskan.
Jordan terus menggandeng tangan Jasmine, hingga mereka masuk ke sebuah ruangan yang sangat lebar dengan aneka perabotan mahal dan berkelas.
Jasmine tampak tidak percaya diri, mana mungkin seorang nyonya besar dari keluarga kaya raya dan terpandang mau bertemu dengan nya yang hanya seorang pelayan restoran.
Melihat perabotannya saja sudah menghabiskan banyak uang, apalagi untuk yang lainnya. Dan sekarang Jasmine percaya bahwa tuan muda yang sedang bersamanya saat ini memiliki kekayaan yang tidak akan habis dimakan sampai tujuh turunan.
Pantas saja banyak wanita yang mendekatinya bahkan dengan sukarela menyerahkan tubuhnya hanya demi mendapatkan kemewahan dari sang casanova.
Jordan meninggalkan jasmine seorang diri, beberapa pelayan datang membawa makanan dan minuman. Tampak seorang laki-laki yang berpakaian sedikit berbeda, mungkin kepala pelayan disana mendekati Jasmine dan mempersilahkannya untuk duduk.
Masih dengan raut wajah yang gugup dan salah tingkah karena diperhatikan ole beberapa pasang mata, Jasmine memilih menundukkan kepalanya.
Tap tap tap
Beberapa langkah terdengar mendekat, Jasmine makin gugup. Dia takut tapi sejurus kemudian tangannya ada yang menarik.
Jordan menarik tangan Jasmine dan mengajaknya berdiri, Jasmine menurutinya dan reflek mengangkat kepalanya.
"Selamat petang nyonya Smith." Jasmine melerai kegugupannya dengan menyapa nyonya rumah.
"Apa kabar sayang, ternyata memang lebih cantik aslinya daripada di foto." Hanna membalas sapaan, tersenyum.
"Sst..bunganya" Jordan berbisik, sambil tangannya menunjuk pada buket mawar yang dipegang Jasmine.
"Selamat ulang tahun, nyonya. Semoga anda selalu diberikan kesehatan dan keberkahan sepanjang tahun." ucap Jasmine.
"Oh so sweet, terima kasih. Tapi maaf, hari ini bukan ulang tahunku sayang, masih kurang dua bulan lagi." Hanna mendekat dan mencium pipinya.
Jasmine terperangah, ternyata Jordan membohonginya. Dia menoleh kearah pria tersebut. Tapi Jordan mengendikkan bahunya, cuek bahkan tertawa. Membuat Jasmine kesal.
"Tapi tuan muda bilang anda ulang tahun hari ini, makanya dia memaksaku untuk ikut bahkan seenaknya tidur dikamarku."
Jasmine melotot, awas aku adukan pada mommy mu biar tahu rasa, batinnya.
"Pasti anak nakal ini yang mengatakan, dia memang selalu begitu tidak ada angin tidak ada hujan, dia akan membelikanku buket bunga cantik seperti ini jika sedang senang." Hanna
Mencium bunga yang sudah tidak segar lagi, tapi kemudian memberikannya pada pelayan untuk dimasukkan ke vas dan diisi air.
"Jasmine, nama yang bagus. Cantik, putih dan wangi seperti melati. Pantas saja anak ini menyukaimu. Apa kamu mau jadi menantuku sayang?" Hanna meraih tangan Jasmine dan membawanya duduk.
Jasmine kaget, bagaimana bisa dia menjawab pertanyaan bernada memaksa itu.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, tapi jangan terlalu lama karena aku yakin, si bodoh ini pasti akan segera menculikmu dan menikahimu."
Hanna tertawa bahkan Jordan mulai jadi sasaran berikutnya.
"Tapi nyonya, saya masih harus bekerja. Lagi pula aku belum mengenalnya bagaimana dia bisa menikahiku. Apa itu tidak seperti membeli kucing dalam karung." Jasmine membela diri, dia tak mau ada penyesalan dikemudian hari
Jasmine melirik ke arah Jordan tapi pria itu sibuk membuka pesan masuk di telepon selulernya.
"Oiya, satu lagi. Panggil aku mommy seperti Jo. Karena kamu akan segera jadi menantuku, jadi harus membiasakan diri dari sekarang."
"What, lelucon apa lagi ini" Jasmine membatin
"Bagaimana, bisa kan?" Hanna menganggukkan kepalanya meminta Jasmine mengikutinya. Jasmine tidak bisa menolak, karena mereka punya kuasa.
"Ba..baik nyonya." Jasmine menganggukkan kepalanya.
"Baru saja aku memintamu memanggil mommy, tapi kamu melupakannya."
"Mommy tidak mau tahu, kamu harus membiasakan dirimu. Jika tidak mommy akan menghukummu dan menyeretmu ke catatan sipil bersama anak nakal ini."
"Betul. Aku setuju mom, seharian ini sudah lebih tiga kali kamu memanggilku tuan muda, jika aku mendengarnya lagi, aku akan menghukummu."
Cup
Jordan berdiri dan menyambar bibir mungil Jasmine. Jasmine sontak kaget, entah kesalahan apa yang dia lakukan kenapa harus bertemu dengan keluarga aneh yang pemaksa ini.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" Jasmine.
"Terserah, asalkan tidak pasaran karena aku tidak suka meniru orang kebanyakan." Jordan.
Jasmine memutar matanya malas, percuma juga protes ujungnya akan kena hukuman juga.
Hanna yang melihat perdebatan mereka berdua tersenyum senang, dia sangat menyukai ini. Jasmine akan mengubah Jordan jadi lebih baik, dia yakin itu.
"Apa aku melewatkan sesuatu honey?" Robby datang tiba-tiba dan mencium istrinya. Jasmine melihatnya, rona merah terlihat dipipinya.
"Mereka masih terlihat mesra meski sudah berumur" ucapnya dalam hati. Jasmine jadi merindukan kedua orang tuanya.
###
Bersambung