Savage Love

Savage Love
#8



Pulang kerumah dalam keadaan sepi karena semua orang sedang merajut mimpi, bukan hal baru bagi Jordan.


Dia sering pulang larut ketika dia mulai fokus dengan pekerjaannya, Jordan memilih lembur dan beristirahat diruangan pribadinya di kantor.


Jordan melepas dasinya, membuka kancing baju teratas dan melepas jas. Meletakkan begitu saja di sofa, dia lalu berjalan menuju dapur.


Mengambil air mineral di kulkas, badannya terasa panas efek dari champagne yang diminumnya tadi.


Sejak sembuh dari kecanduan, dia memilih menghindar dari minuman keras. Kalaupun harus minum, dia lebih memilih wine.


Champagne membuatnya pening, dan dia memilih minum air mineral dingin agar suhu tubuhnya normal.


Menegak air dingin dalam botol itu sampai habis hampir seperempatnya. Jordan duduk dikursi meja makan. Menggulung lengan bajunya.


Aroma yang ditinggalkan oleh gadis itu masih melekat disana, menghirupnya pelan. Lalu Jordan memegang noda lipstik yang tercetak jelas di bagian dadanya.


ceklek


Tiba-tiba lampu dapur menyala sepenuhnya, daddy nya mendekat.


"Dad.." ucap Jordan.


" Hai son, baru pulang. Bagaimana pestanya, apa kau menikmatinya nak?"


"Entahlah dad..."


Daddy menoleh, meletakkan air minum yang sudah dituangkan dalam gelasnya. Mencoba mencari tahu keadaan anaknya.


"Hei ada apa? ayo ceritakan pada daddy."


Daddy duduk menemani Jordan disana, mendengarkan curhatan anaknya, dan sesekali memanggut kepalanya memahami yang terjadi.


"Jangan bilang kamu jatuh cinta pada pandangan pertama." goda daddy


"cckk...aku tak tahu apa ini cinta, yang pasti aku penasaran dengan nya."


"Kenapa tidak kau cari tahu siapa dia lewat temanmu, bukankah dia juga tamu dipesta itu. Bahkan dia terlihat akrab dengan kawanmu Sam."


"Ya daddy benar, tapi...ah sudahlah nanti saja."


Jordan tak yakin ingin mengatakannya tapi daddy tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


Pembicaraan kedua pria beda usia itu tak luput dari perhatian sepasang mata bening. Dia mendengar semua obrolan mereka, tapi tak ingin mengganggu.


Hanna sejak tadi ada dibalik tembok dapur, awalnya dia ingin mencari keberadaan suaminya yang tak kunjung kembali ke kamar.


Setelah melakukan olah raga malamnya dengan sang suami, Hanna terlelap sementara Robby memilih mengambil minum.


Saat membalikkan badan dan meraba kasur disampingnya, dia tak mendapati suaminya. Kemudian setelah berpakaian dia menyusul suaminya.


Dan disinilah dia, mendengarkan curhatan anaknya pada sang ayah. Hanna tak ingin mengganggu mens talk itu. Dia cukup mendengarkan saja, karena yakin suami lebih tahu yang harus dilakukan.


Hanna sempat ragu saat mendengar cerita anaknya, tapi setelah diingat ini kali pertama Jo nampak ragu meneruskan ucapannya, dia yakin ada sesuatu dalam ucapannya.


Dulu saat mengutarakan niatnya untuk melamar Sofia, Jo tidak segugup sekarang. Mungkin benar kata daddy nya, Jo sedang jatuh cinta.


Mata Hanna berbinar memikirkannya, bahkan senyum terukir dibibirnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.


Masih menyembunyikan dirinya disana, Hanna ingin tahu lebih. Robby terus mengajak anaknya berbincang, sampai melihat Jo beberapa kali menguap.


"Tidurlah son, matamu sudah sangat mengantuk"


Robby menepuk pundak anaknya, Jo lalu berdiri dan memeluk daddy nya sebelum naik ke kamarnya.


"Good night dad, jangan terlalu lama. Nanti nyonya besar mencarimu." ucap Jo sambil tertawa.


"Hahaha...you're right son. Mommy mu pasti merindukan daddy."


Robby tergelak, benar kata anaknya dia sudah terlalu lama disana. Setelah Jo pergi, Robby meletakkan gelasnya di tempat cuci piring, dan membuang botol bekas Jo tadi.


Meskipun Hanna jarang ke dapur tapi dia tidak suka jika ada barang yang berserakan disana.


Istrinya itu sangat suka kebersihan, dia akan menjadi sangat cerewet jika melihat barang-barang berantakan.


Ketika kakinya berniat untuk kembali ke kamar, tiba-tiba terhenti saat melihat bayangan istrinya.


Robby mendekati bayangan itu, benar saja istrinya tersenyum dan memeluknya. Robby membalas pelukan itu.


"Sedang apa kamu disitu? dan sejak kapan?"


"Hmmm...sebenarnya aku mencarimu, tapi aku mendapatimu disini."


"Oya, apa kau merindukanku honey"


"Oo..tidak, aku hanya tidak bisa tidur tanpa memelukmu."


Hanna berkelit, sejujurnya dia malu jika ketahuan. Tapi Robby sudah tahu bagaimana istrinya itu.


"Apa kau ingin melanjutkan yang tadi, honey?"


Robby menggodanya, belum sempat Hanna menjawab bibirnya sudah melu*** milik Hanna.


Dan tanpa perlu banyak perlawanan mereka pun saling membalas, Robby mencium leher jenjang istrinya. Menemukan titik-titik sensitif di tubuh istrinya.


Ya meski mereka sudah berusia hampir setengah abad tapi tidak menyurutkan kemesraan diantara keduanya.


Bahkan Jordan selalu melihat panutan dari kedua orang yang dicintainya. Dia ingin seperti mereka saling mencintai, dan mendukung sampai maut memisahkan.


Keduanya kembali ke kamar dan melanjutkan olahraga malam yang membuat keduanya berkeringat.


Cara efektif membakar lemak tanpa harus mengangkat beban, seperti kata Jordan.


###


Jordan membuka kemejanya, mencium wangi yang tercampur dengan parfumnya. Perpaduan yang sempurna, wangi aquatic dari parfumnya dengan aroma crysant milik gadis itu.


Menenangkan, meletakkan kemeja nya kemudian melangkah ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Jordan tidak memasukkan kemeja kotornya dalam keranjang cucian, dia bahkan meletakkannya digantungan jasnya didekat nakas.


Dia tak ingin bekas bibir dan wangi gadis itu hilang. Bahkan dia berniat meminta pelayan untuk tidak menyentuhnya.


Wanginya sudah menjadi candu, apalagi mengingat manisnya bibir seksi yang sempat dicicipinya tadi.


Aku harus menemukan gadis itu, aku akan mencarinya. Dan akan aku buat dia bertanggung jawab karena telah membuat jantungku berdebar.


Jordan membatin, rasanya dia bisa gila jika tidak bisa menemukannya.


Merebahkan dirinya dan mulai memejamkan mata, berlayar ke samudera impian dengan bayangan gadis sapu tangan itu.


Jordan menjuluki nya gadis sapu tangan, karena dia tak tahu akan memberikan nama apa pada orang yang telah merebut hatinya.


Akhirnya dia tidur juga setelah beberapa Kali membolak-balikkan badannya. Bahkan dia mematikan ponselnya karena tak ingin terganggu.


###


Pagi ini Jordan akan memimpin rapat tentang penjualan produk selama kuartal ketiga tahun ini. Karena masih sendiri semuanya dia siapkan sendiri.


Terkadang mommy nya yang menyiapkan kemeja, jas dan dasi nya tapi lama-lama dia malu, karena dibalik itu selalu ada sindiran yang ditujukan padanya.


"Seandainya sudah menikah pasti istrimu yang akan melayani."


"Cobalah cari wanita baik-baik yang mau diajak komitmen, lalu nikahi dia agar kamu ada yang melayani." atau


"Mommy sudah bilang, cari istri biar ada yang menemanimu tidur dan melayanimu."


"Kalau ada istri, kamu tidak repot seperti ini terus."


Dan masih banyak lagi sindiran lainnya, membuatnya pusing sendiri.


Mommy nya benar, jika ada istri yang melayani nya dia akan lebih cepat bersiap, selain itu setiap malam ada yang menemani tidur dan berolah raga panas.


Pikiran Jo benar-benar teracuni sekarang, apalagi sudah beberapa hari ini dia tidak berhubungan intim dengan wanita-wanitanya.


Jo tidak perlu repot mencari karena wanita-wanita itu dengan senang hati mendatanginya.


Jordan hanya sekali berhubungan setelah itu dia akan berganti wanita lain, karena mereka rata-rata berasal dari kalangan berada cukup dengan membelikannya tas branded atau perhiasan maka mereka akan senang.


Tapi begitulah Jordan, darah casanova daddynya sudah mengalir di dalam tubuhnya.