
"Hallo..." ucap suara diseberang.
"Adam, syukurlah kamu mengangkat teleponnya." Hanna sedikit lega karena teleponnya berhasil diangkat setelah kesekian kali.
"Aunty, kenapa telepon malam-malam? ada yang bisa saya bantu?" Adam memasang earset di telinga kanannya. Tangan kirinya masih berada di atas setir mobil.
"Aunty hanya kuatir dengan kondisi gadis itu, Jordan mengatakan kondisinya sedikit lemah." Hanna mendudukkan dirinya di ranjang setelah beberapa lama.
"Aunty tenanglah, sebentar lagi kami akan segera tiba disana. Kebetulan tadi setelah dari kantor Jo, saya langsung kembali kerumah dan menyusul Jo bersama Tony dan juga Zack."
Adam menyetir bergantian dengan Zack dan Tony. Karena mereka ada disana saat Jordan mendapat laporan dari anak buahnya kalau kedua orang tua Jasmine kecelakaan.
Mereka bertiga lalu kembali ke kantor masing-masing dan menyelesaikan pekerjaannya kemudian pulang untuk berpamitan pada keluarganya dan akhirnya berkumpul di depan apartemen Zack.
Mereka lalu menyusul Jordan dan Jasmine ke kota X. Untung saja Adam tidak memiliki jadwal operasi hari ini, jadi dia bisa pergi bersama teman-temannya.
Sebenarnya mereka bisa saja naik pesawat ke kota X tapi akan lebih menyenangkan jika melalui perjalanan darat. Menurut Zack biar bisa sekalian cuci mata, siapa tahu ada gadis cantik yang akan melirik kepadanya.
Si bungsu ini memang selalu punya pikiran yang berbeda dengan teman-temannya. Hidupnya masih seputar kerja dan senang-senang. Karena pekerjaan berat dan menguras tenaga dan pikiran perlu diimbangi dengan sedikit bermain-main.
"Baiklah, hati-hati kalian dan segera kabari kami jika ada sesuatu." Hanna
"Aunty tenang saja, kami akan kabari lagi perkembangannya. Bye." Adam mengakhiri penggilan teleponnya. Dia kembali fokus ke jalanan.
Kedua temannya sudah tertidur, karena tadi mereka sudah bergantian menyetir. Sekarang giliran Adam yang melanjutkan sisanya.
Sesuai sharelock yang diberikan oleh Jordan, Adam lalu membelokkan mobilnya kearah kanan dan terlihat papan tanda rumah sakit yang dimaksud.
Meski kota ini tidak sebesar kota tempat tinggal mereka, tapi rumah sakit yang ada disinu termasuk lengkap fasilitasnya. Memasuki parkiran dan mencari slot parkir yang kosong.
Adam lalu membangunkan kedua temannya setelah berhasil memarkirkan mobilnya. Zack dan Tony merenggangkan otot-ototnya. Sudah lama sekali mereka tidak bepergian bersama seperti ini, jadi badannya terasa sedikit kaku.
Mereka lalu keluar dan menyusul ke ruang perawatan ayah Jasmine. Zack dan Tony langsung masuk kesana, karena Jordan masih terjaga. Sedangkan Adam, sesaat sebelum masuk ke lift melihat salah satu kenalannya di rumah sakit itu.
Adam menanyakan tentang kondisi kedua orang tua Jasmine. Dokter itu lalu menjelaskan kondisinya, kebetulan dialah yang bertanggung jawab atas perawatan kedua orang tua Jasmine.
Adam mengangguk tanda mengerti, kondisi ibu Jasmine memang sedikit mengkuatirkan setelah melihat dari dekat. Adam juga melihat rekam medis yang diberikan oleh dokter rekanannya.
Adam menoleh setelah melihat catatan itu, dan rekanannya hanya mengendikkan bahu. Adam menutup mulut dengan tangan kanannya. Dia sudah tahu jawabannya, tapi sebagai seorang dokter dia tidak mau menyerah begitu saja.
Mungkin hanya keajaiban yang bisa menyembuhkan ibu Jasmine, tapi dia akan terus berusaha melakukan yang terbaik. Setelah dari ruang ICU, Adam langsung mencari Jordan diruangan ayah Jasmine.
Klik...
Pintu kamar terbuka, Adam mendekat kearah teman-temannya. Dia melihat Jasmine dalam dekapan Jordan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Adam pada Jo
"Badannya lemas dan aku rasa dia mulai mengalami mual. Apa tidak sebaiknya kamu periksa keadaannya. Aku sedikit kuatir." Jordan masih setia menemani.
Adam mendekat dan memeriksa Jasmine, benar kata Jo gadis itu mulai terlihat pucat. Adam memencet tombol di atas ranjang pasien.
Tak lama kemudian, dokter jaga yang kebetulan rekanan nya tadi dan seorang perawat datang. Adam pun menceritakan kondisi Jasmine. Jordan akhirnya menyetujui Jasmine harus dibantu cairan infus, agar kondisi tubuhnya kembali segar.
Perawat datang membawa satu brankar dan juga cairan infus. Jasmine berbaring di ranjang di sebelah ayahnya. Setelah melihat kondisi Jasmine yang sudah ditangani, Adam mengajak Jordan keluar dari ruangan.
Mereka melangkah menuju ruang ICU untuk melihat keadaan ibu Jasmine. Adam menjelaskan secara gamblang, karena yang berhak menjelaskan kondisi pasien adalah dokter yang menanganinya.
Tony dan Zack tidak ikut, mereka memilih menjaga pasien yang kini bertambah satu. Mereka yakin ada masalah serius yang perlu dibicarakan, tentu saja agar Jasmine tidak mengetahuinya mengingat kondisinya saat ini.
Jordan menemui dokter yang menangani mereka, dokter menjelaskan kondisi ibu Jasmine dan kemungkinan terburuk yang akan mereka hadapi. Tapi Jordan meminta dokter memberikan perawatan terbaik bagi keduanya.
Jordan melihat dari kaca bagaimana kondisi ibu Jasmine, banyak selang yang terpasang dari beberapa bagian tubuhnya. Jordan tidak menyangka jika harus bertemu dengan calon mertuanya dalam keadaan seperti ini.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana gadis pujaannya jika mengetahui kondisi ibunya sekarang. Tapi dia harus tahu yang sebenarnya.
###
Adam dan Jordan sudah kembali ke ruangan perawatan. Jordan tampak lelah, terlihat jelas di wajahnya.
"Tidurlah, kamu juga butuh tenaga untuk menjaganya." Adam menepuk bahu Jordan.
Jordan yang awalnya menolak, sudah tidak bisa berkutik saat Zack dan Tony memaksanya. Ya, dia juga butuh istirahat. Jordan mendekat ke arah brankar Jasmine, dia memegang tangan gadis itu dan akhirnya terlelap.
Adam dan kedua temannya hanya tersenyum, casanova ini benar-benar sudah tobat pikir mereka. Mereka bertiga juga mengistirahatkan diri setelah menempuh perjalanan jauh.
Keesokan harinya Jasmine sudah bisa membuka mata, tangannya terasa ada yang memegang setelah menoleh kesamping, ternyata Jordan masih tidur sambil menggenggam tangan kanannya.
Tidur dengan posisi duduk dengan kepala telungkup dibrankar pasti tidak nyaman, karena pria itu terbiasa tidur diatas ranjang empuk. Jasmine tersenyum, karena pria itu dia bisa sampai disini bertemu orang tuanya.
Jasmine menoleh kearah kiri dimana ayahnya berbaring. Dia memperhatikan sekelilingnya, ternyata mereka tidak hanya berdua tapi ada tiga pria lain yang juga tertidur di sofa ruangan dengan posisi duduk.
Jasmine tidak mengenal mereka, karena dia baru pertama melihatnya. Tangan kirinya masih tersambung dengan selang infus. Jasmine mengeluarkan napasnya kasar, akhirnya dirinya tumbang juga.
Air matanya menetes disudut matanya, bagaimana dia bisa selemah ini. Bagaimana dengan kondisi ibunya yang sampai detik ini dia belum mengetahui.
Jasmine menutup mulutnya, dia terisak tapi sebisa mungkin mengecilkan suaranya agar tidak mengganggu yang lain. Tapi gerakan tubuhnya justru membuat Jordan terbangun.
Pria itu mengangkat kepalanya dan melihat Jasmine yang sedang menangis. Menegakkan duduknya dan mendekat ke arah Jasmine.
"Hei, ada apa? are you okey" ucap Jordan mencoba menenangkan.
Jasmine tidak menjawab, dia masih terisak. Jordan paham pasti gadis itu merasa terpukul karena kondisinya yang ikut terbaring dengan selang infus yang masih menancap ditangannya.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Jangan takut, aku akan selalu bersamamu." Jordan memeluk gadis itu.
Perasaan nyaman yang Jasmine rasakan saat bersama pria ini membuatnya tenang, pria yang bahkan dulu tidak pernah Jasmine anggap keberadaannya.
Karena bagi Jasmine hidupnya akan lebih mudah jika tidak berhubungan dengan pria manapun. Terlebih setelah kejadian yang sempat membuatnya membenci laki-laki.
###
Terima kasih yang sudah mampir, jangan lupa like, komen dan vote nya ya.